Mafia Psycopath Jatuh Cinta

Mafia Psycopath Jatuh Cinta
22.


__ADS_3

Merendam kakinya dengan ramuan khusus yang telah ia racik sendiri, luka pada kaki itu begitu cepat pulih seperti biasanya. Elvan memulai kembali aktivitas yang biasa ia lakukan sehari-hari, semenjak Ara berada di kamarnya. Ia lebih banyak menghabiskan waktunya di ruang kerja. Sudah dua minggu lamanya ia harus menahan perasaan yang begitu dalam untuk wanitanya. Disaat pagi hari, ia akan berangkat ke perusahaan seperti biasanya.


Berjalan menuju kamarnya dengan membawa baki yang berisikan sarapan, ia mengetuk pintu dengan perlahan.


Tok tok tok...


" Bangunlah, ini ada sarapan untukmu." Ucapnya dari balik pintu.


Tidak ada jawaban sedikitpun yang ia dengar, berjalan kembali menuju meja makan dan membiarkan baki tersebut berada didepan kamar. Semenjak kejadian hari itu, Elvan tidak sedikit pun menyentuh makanan. Ia lebih banyak menghabiskan waktunya dengan melakukan permainan gilanya dan menyibukkan diri dengan bekerja. Jika terdapat kecurangan dan kejanggalan dalam perusahaan, maka dengan tegas ia memberikan hukuman yang cukup keras.


Brak!


" Jika kalian tidak becus mengurus hal kecil seperti ini, lebih baik mengajukan pengunduran diri. Masih banyak orang di luar sana yang bisa bekerja daripada kalian!" Bentakan dan juga gebrakan di atas meja itu menggema di dalam ruangan sang pemilik perusahaan.


Beberapa kepala divisi yang ia panggil tampak bergetar ketakutan, karena pada hari ini bos mereka meminta laporan secara mendadak.


" Hugo! Periksa mereka, jika ada yang berani bermain belakang. Kalian akan tahu akibatnya. Keluar!"


" Baik tuan, kalian semuanya silahkan keluar. Saya tunggu dalam tiga puluh menit untuk memperbaiki semuanya." Ucap Hugo yang sangat mengintimidasi semua kepala divisi.

__ADS_1


Mendengar perintah tersebut, semua berlari kecil untuk keluar dari ruangan. Sungguh mereka menjadi kalang kabut oleh perintah dari pimpinan perusahaan, dan perbaikan harus selesai dalam waktu tiga puluh menit.


" Perhatikan mereka semua, aku tidak mau ada kesalahan sekecil apapun."


" Baik tuan, apa anda baik-baik saja? " Tanya Hugo disaat ia melihat wajah dari tuannya seperti sedang tidak baik-baik saja.


Dengan memijit kening perlahan, Elvan memejamkan matanya sejenak.


" Aku baik-baik saja, keluarlah."


" Baik tuan, jika anda membutuhkan sesuatu. Anda bisa mengandalkan saya." Hugo pamit undur diri dari hadapan tuannya.


Kondisi tubuh kekar itu perlahan merasakan tidak enak, sudah dua minggu pola makan dan istirahatnya Elvan tidak teratur. Mencoba mengalihkan semua persoalan dan amarah yang sedang ia alami dengan sibuk bekerja, bahkan aktivitasnya dalam permainan yang biasa ia lakukan sudah terlupakan.


Ara mulai merasakan ada sesuatu yang hilang dari kesehariannya, dengan berjalan-jalan mengelilingi setiap ruangan pada mansion tersebut. Hanya ada satu ruangan yang belum ia lihat, dan ruangan itu telah diperingatkan oleh Nany untuk tidak memasukinya. Karena sangat penasaran, Ara memberanikan diri untuk membuka pintu dari ruangan itu. Saat ia memasukinya terlihat banyak buku-buku yang tersusun dengan sangat rapi pada lemari besar disana, sangat rapi dan terasa nyaman baginya.


" Ruangan apa ini, sepertinya milik si monster. Tapi, kenapa tidak ada yang bileh memasukinya? Aneh." Ara mulai berjalan menelusuri setiap sudut ruangan disana, berbagai hiasan dinding dan juga pajangan yang berkesan seperti barang antik.


Tanpa disengaja, tangan Ara menyentuh sebuah guci kecil yang sangat unik. Tiba-tiba saja lukisan yang berada pada salah satu dinding disana terbelah, menampakkan sebuah ruangan rahasia dibaliknya. Hal itu membuat Ara takjub dan semakin penasaran akan isinya, perlahan ia berjalan memasukinya. Berbagai senjata yang begitu menyeramkan terpajang disana, alat-alat seperti sarung tangan dan lainnya terkesan sangat menakutkan. Membuat tengkuk Ara merinding melihatnya, Ara tidak berani lagi meneruskan langkah kakinya. Lalu ia bermaksud untuk segera keluar dari sana, namun sesuatu membuatnya kaget seketika.

__ADS_1


" Tidak ada yang boleh memasuki ruanganku!"


Suara yang begitu sangat tegas dan juga menyeramkan, membuat Ara semakin merasakan ketakutan. Apalagi saat matanya menangkap wajah sang pemilik suara itu sudah berdiri dibelakangnya, dengan tubuh yang bergetar. Ara melangkah mundur, guna menghindar dari orang tersebut.


" A a aku." Dengan terbata-bata, Ara mencoba untuk berbicara.


" Keluar! " Sang pemilik suaradan juga ruangan tersebut yang baru saja tiba, yaitu adalah Elvan, dengan begitu lantangnya ia meneriaki Ara.


" Ma ma af, a aku ti..."


" Aku bilang keluar! Keluar!"


Mata yang berubah memerah menatap Ara dengan sangat tajam, suara keretekan dari rahangnya menandakan jika orang tersebut begitu marah.


" Akh!" Teriak Ara disaat Elvan mencengkram lengannya dengan begitu kuat.


" Dasar wanita ja***ng! Wajahmu ini sungguh membuatku terlihat sangat bodoh!"


" Aamp."

__ADS_1


Bugh!


Tubuh Ara terhempas menabrak beberapa pajangan senjata tajam milik Elvan, hingga benda tersebut berjatuhan ke lantai. Melihat Elvan yang berjalan menghampirinya, Ara bergerak menggunakan tangannya untuk mundur. Karena rasa takut itu lebih besar, tangan Ara mengambil salah satu senjata tersebut.


__ADS_2