
" Selamat pagi sayang, apa kau sudah siap?" Elvan memeluk Ara dari belakang, mengenduskan indera penciumannya pada leher halus sang istri.
" Iya Bee, aku sudah siap. Anak-anak bagaimana?" Ara membalikkan tubuhnya untuk berhadapan dengan Elvan.
" Mereka juga akan ikut, namun hanya aku dan kamu yang akan menemui mereka. Anak-anak biarkan saja dulu berada didalam mobil, ada Ezra yang akan menemani baby." Elvan masih melingkarkan kedua tangannya pada pingang Ara.
" Akh!!" Tiba-tiba saja Elvan berteriak dengan cukup kencang.
" Sakit sayang."
" Siapa suruh pagi-pagi ngegombal." Ara berjalan keluar dari kamar setelah mencabut beberapa helai rambut pada tangan suaminya itu.
" Tapi sayang, semuanya itu karena aku benar-benar mencintaimu. Ini sakit sayang, bisakah kau mengobatinya dulu." Elvan mengeluarkan jurus memelasnya.
" Tidak, bisa-bisa nanti aku bakalan lemas dibuatnya. Dasar monster mesum yang sudah berubah menjadi tukang gombal."
Brak!!
Ara menutup pintu kamarnya dengan sangat keras, sehingga menimbulkan suara yang cukup menyakiti telinga. Dengan hal tersebut, Elvan hanya bisa menghembuskan nafas kasarnya.
Selama dalam perjalanan, baby tak henti-hentinya berceloteh bersama Ezra. Bahkan Ara hampir tak bisa mengatasi kedua anaknya saat bermain didalam mobil, semuanya itu tidak menghianati hasilnya. Disaat mereka telah sampai pada tujuannya, baby tertidur dengan nyenyak didalam box kecil yang tersedia didalam mobil.
" Jaga adikmu dengan baik, boy." Titah Elvan kepada Ezra.
" Mommy titip adik sebentar ya nak, jika Ezra merasa lelah. Minta tolong kepada paman Dion untuk membantumu, Mommy percaya padamu."
" Baik Mom, Ezra tidak akan membuat Mommy kecewa."
Kedua pasangan tersebut memberikan kecupan hangat pada kedua putranya, lalu mereka menuju tempat pertemuan yang telah diberitahukan. Menggenggam tangan Ara dan sesekali Elvan mencium punggung tangan istrinya, membuat Ara merona dan tersipu.
" Hentikan Bee, tidak baik mengotori mata orang banyak." Ara merasa jika semua pandangan orang-orang yang berada disekitarnya tertuju padanya.
__ADS_1
" Untuk apa memikirkan orang lain yang tidak kita kenal, bukankah begitu sayang."
" Mulai kambuh." Memutar bola matanya dengan malas, Ara memilih diam untuk sikap suaminya.
Memasuki sebuah ruangan yang cukup tertutup, perasan Ara semakin tidak menentu. Jantungnya berdetak lebih cepat, kedua tangannya menjadi dingin dan berkeringat. Menyadari hal tersebut, Elvan segera melingkarkan salah satu tangannya pada pinggang Ara.
" Jangan larut dalam kecemasan dan ketakutan dalam dirimu sayang, jika hal itu tidak bisa kau atasi. Akan kubawa kau kabur dari disini, dan kita melanjutkan olahraga saja." Bisik Elvan.
Mendengar perkataan Elvan, sontak saja membuat Ara mengalihkan pandangannya kepada Elvan. Akan tetapi, Elvan tidak menanggapinya. Mereka terus melangkah memasuki ruangan tersebut.
" Arabella!"
Telinga Ara mendengar namanya disebut, menghentikan langkah dan mencari sumber suara. Dengan membalikan tubuhnya, Ara melihat seorang wanita paruh baya. Yang dimana usianya tidak jauh berbeda dengan Elliza, orangtua angkatnya. Dan orang tersebut sudah Ara kenali wajahnya, dia adalah Bella.
Dugh!
Langkah kaki Ara mundur ke arah belakang dan menabrak tubuh Elvan, dengan sigap lun Elvan menahan tubuh istrinya agar tidak terjatuh. Tubuh Ara bergetar, dan mata yang mulai berkaca-kaca.
Bella yang sudah tidak bisa menahan dan membendung perasaannya saat itu, ia segera menghampiri Ara yang baru saja tiba. Mendapatkan perlakuan yang mengejutkan seperti itu, membuat Ara menjadi kaget dan juga Elvan yang melebarkan bola matanya mendapati istri kesayangannya itu dipeluk oleh orang lain.
" Bisakah kita mencari tampat terlebih dahulu sebelum melanjutkan pembicaraan kita." Dengan nada yang begitu tegas, Elvan membawa Ara terlebih dahulu sembari membisikkan sesuatu ditelinganya.
"Sayang, jangan sembarangan mau dipeluk-peluk oleh orang lain. Aku tidak suka hal itu, jika masih terjadi lagi. Jangan salahkan aku sayang."
" Bee, tidak baik mengumpat mertuamu sendiri. Dasar monster mesum!" Ara memberikan cubitan kecil pada perut Elvan.
" Auw." Ringgis Elvan.
" Ada apa?" Suara Ray mengagetkan mereka berdua.
Hanya tatapan tajam yamg Elvan berikan kepada Ray, seakan-akan mengatakan jangan mencampurinya.
__ADS_1
Dasar pria posesif, lihat saja nanti. Anakku tidak akan aku biarkan memanjakanmu, awas saja kau. Ray.
Ketika semuanya telah merasakan nyaman, dan saat itu pula Ara yang mendahului untuk membuka ketegangan diantara mereka. Yang awalnya Elvan mengambil alih, namun Ara sudah tahu akan arah dari pembicaraan suaminya itu langsung mendahulinya.
" Ada baiknya, kita langsung saja pada inti dari pertemuan ini. Sebelumnya, aku telah mengetahui semuanya mengenai siapa anda berdua. Suami dan juga anakku yang pertama, telah mengatakannya."
Wajah Bella dan Ray tampak sangat kaget dan juga tegang, namum hal itu tidak berlangsung lama. Ara beranjak dari sisi Elvan, berjalan mendekati Bella dan juga Ray. Menyentuh kedua tangan Bella dengan begitu lembut, dimana kedua mata Bella yang sudah berkaca-kaca menatap Ara.
" Aku tidak menyalahkan kalian berdua atas semuanya ini, kalian mempunyai alasan yang kuat sehingga peristiwa perpisahan ini terjadi diantara kita. Lepas benar atau tidaknya kalian sebagai kedua orangtuaku, kini kepercayaanlah yang aku punya. Dan itu, suamiku lah yang telah membuatnya." Ara menatap Elvan sesaat.
" Nak..." Bella benar-benar dalam keadaan yang begitu bahagia, setelah mendengar perkataan Ara.
" Jangan pergi lagi, Bu." Tanggis Ara pun pecah dengan memeluk Bella.
" A anakku!" Bella membalas pelukan Ara.
Melihat kedua wanita yang menjadi perioritasnya saat ini, membuat Ray juga tidak bisa menahan air matanya. Ia bermaksud untuk ikut bergabung bersama keduanya.
Ssyuut!!
" Walaupun kau berstatus sebagai ayah dan mertua, tapi aku tidak akan membiarkan istriku dipeluk oleh pria lain selain aku." Elvan menghalangi tubuh Ray dari kedua wanita tersebut.
" Hei, tidak bisa seperti itu. Dia anakku, dan juga istriku." Protes Ray.
" Heh! Nikahi dulu ibu mertuaku, baru dia akan berstatus sebagai istrimu, AYAH MERTUA." Elvan menegaskan Ray dengan sebutan seperti itu.
Ucapan Elvan sangat menusuk Ray, walaupun benar adanya. Namun Bella dan Ara hanya tersenyum dengan kelakuan mereka, lalu Ara dan memberitahukan Dion untuk membawa kedua putera kesayangannya untuk dipertemukan. Betapa bahagianya Bella dan Ray bertemu kedua cucunya, namun seringai kecil diberikan Ezra.
Daddy dan kakekku ini, apakah benar mereka menjadi ketua dari kelompoknya? Sepertinya akan lebih seru, jika keduanya dipertemukan. Aku seperti mendapatkan ide yang cemerlang, tapi. Ah, tidak baik merusak kebahagian mereka saat ini. Huh! Ezra.
Terima kasih atas penjelasan dan juga nasihatnya Bee, walaupun kamu seperti itu. Kamu adalah pria yang terbaik aku miliki, tanpamu. Aku tidak yakin akan sekuat ini. Ara.
__ADS_1