Mafia Psycopath Jatuh Cinta

Mafia Psycopath Jatuh Cinta
99.


__ADS_3

Baru saja membereskan perkara penyerangan yang dilakukan oleh pelaku yang sampai saat ini belum diketahui siapa, kini Arion dan yang lainnya dihadapkan dengan amukan dari tuannya.


" Aku merasa pelakunya itu adalah Elvan, pemilik Blade Company. Hanya dia yang memilili kekuasaan lebih dibandingkan dengan rivalku yang lainnya, apalagi kita telah mengusik ketenangan mereka." Ray menggenggam gelas yang kini berada di tangannya dengan begitu kuat.


Cetas!!!


Gelas itu hancur dalam hitungan detik menjadi serpihan kecil, semua orang yang sedang berada bersama Ray menjadi sangat terkejut. Kebenaran akan siapa yang telah melakukan serangan kepada kelompok mereka belum diketahui, tapi Ray sudah mempunyai keyakinan jika yang melakukan hal itu adalah Elvan.


Dari celah-celah jemari tangannya mengeluarkan darah segar, itu terjadi dari pecahan gelas mengenai tangannya. Ray terlihat begitu sangat emosi.


" Tuan, seorang Elvan tidak akan pernah menggunakan cara seperti ini untuk menyerang lawannya. Ia terkenal dengan kekejamannya. Sepertinya ada kelompok lainnya yang ingin menjatuhkan anda, mereka begitu ahli menyabotase seluruh akses jaringan yang kita gunakan."


" Menggunakan akses yang ada maupun yang legal sekalipun, kita tidak dapat mendeteksinya. Bisa anda lihat, jika akses jaringan milik perusahaan mereka juga pernah diretas dan pelakunya pun tidak dapat diketahui." Arion menjelaskan tentang apa yang ia ketahui.


Setelah selesai menjelaskan hal tersebut, terlihat jika Ray tampak sedang mendalami perkataan yang Arion sampaikan kepadanya. Namun karena terlalu rasa emosi itu sudah memenuhi dirinya, ia tetap melanjutkan prasangkanya kepada Elvan.


Tanpa mengucapkan sepatah katapun kepada orang yang berada didekatnya, Ray menyelonong pergi dari sana.

__ADS_1


Mau kemana tuan Ray? Semoga saja dia tidak melakukan hal-hal yang akan menjadi bumerang buat dia sendiri, yang pastinya akan membuatku terlibat. Arion.


......................


Kini Elvan sudah kembali bekerja di perusahaan, jika bukan karena desakan dari sang istri. Elvan lebih memilih untuk bekerja, daripada nanti Ara akan mendiaminya dan tentunya tidak akan bisa untuk berolahraga.


Pintu ruangan Elvan terbuka, terlihat Hugo yang muncul dari balik pintu.


" Maaf tuan, ada tamu yang ingin menemui anda saat ini." Dengan wajah dingin yang Hugo tampakkan pada Elvan, membuatnya mengerti.


" Baik tuan." Hugo berjalan keluar dan menutup kembali pintu ruangan.


Tak lama kemudian pintu itu terbuka kembali, namun bukanlah Hugo yang masuk. Melainkan seseorang yang sebelumnya sudah ia putuskan kontrak kerjasama mereka, dia adalah Arrayan.


" Silahkan masuk, disana anda bisa duduk." Elvan berdiri dari duduknya untuk menyambut tamunya, akan tetapi dengan cara yang berbeda.


Ray yang menatap Elvan dengan begitu tajam, ia memperlihatkan wajah dinginnya.

__ADS_1


" Tidak perlu basa-basi terlalu lama, aku hanya ingin pengakuan darimu." Tegas Ray pada Elvan.


" Pengakuan? Seperti apa itu?" Dengan berpura-pura tidak tahu, Elvan menanggapinya dengan sinis.


Ikut menampakkan wajah datar dan dinginnya, sehingga sangat terasa jika aura Elvan saat itu begitu menyeramkan.


" Kau!!" Ray menggerang dan mengepalkan tangannya, ingin rasanya ia memberikan sapaan dari tangannya.


" Hahaha, jangan sembarangan menuduh orang tanpa bukti bung. Kenapa? Kau merasa terhina, dengan pemutusan kontrak kerjasama itu kepadaku? Heh, kau benar-benar tidak profesional dalam dunia bisnis." Elvan menekan perkataannya yang ia tujukan kepada tamunya.


Hal itu semakin membuat Ray marah, bahkan kehadirannya pun tidak disambut baik oleh Elvan. Namun ia tidak bisa secara langsung menuduh Elvan menjadi pelaku yang menyerang perusahaan dan kelompoknya, karena bukti itu belum ia temukan. Kedatangannya pada saat itu hanya untuk menekan Elvan, agar mengakui jika dialah pelaku utamanya. Namun bukannya mendapatkan apa yang diinginkannya, justri malah dirinya yang tertekan dengan ucapan-ucapan tajam dari Elvan.


" Kau memang manusia tidak punya hati dan kejam Elvan, namun aku sangat percaya jika kaulah yang menjadi dalang dari semuanya ini! Lihat saja nanti, semua perkataanku ini adalah benar."


Memberikan ekpresi wajah yang sangat mengesalkan, Elvan tersenyum penuh kemenangan disaat melihat Ray keluar dari ruangannya dengan penuh kemarahan.


Jika benar istriku adalah puterimu, dengan artian kau menjadi mertuaku. Alangkah malunya, saat kau mengetahui jika yang melakuan ini semua adalah anak kecil yang tak lain adalah cucumu sendiri serta juga bisa membuatmu terkena serangan jantung mendadak. Tapi aku harap semua itu tidak benar, karena aku begitu malas berhadapan dengan mantan klien dan juga rival bisnisku dan menjadi mertuaku.Elvan.

__ADS_1


__ADS_2