
Laporan yang Jack berikan kepada Elvan, tentu saja membuat dirinya menahan amarah yang cukup besar.
Apa maksud mereka mencurigai istriku sebagai anaknya? Jika itu benar, siapa sebenarnya mereka? Elvan.
Elvan berdiam diri di dalam ruang kerjanya, ia tidak ingin Ara mengetahui permasalah ini. Elvan harus memastikan kebenaran yang ada terlebih dahulu, sebelum memberitahukannya kepada Ara.
Tok tok tok...
" Dad, apakah kau di dalam?" Tiba-tiba saja, suara Ezra membuyarkan pikiran Elvan kala itu.
" Masuk saja, boy." Jawab Elvan membenarkan posisinya.
Ezra terlebih dahulu memasukkan kepalanya dari celah pintu, melihat yang Daddy yanh duduk pada kursi kerjanya. Ia pun berjalan mendekatinya, sebelumnya ia menutup pintu itu rapat-rapat.
" Kenapa Daddy tidak bersama Mommy?" Tanya Ezra yang membuat Elvan menaikan salah satu alisnya.
__ADS_1
" Em, Daddy hanya ingin memeriksa beberapa kerjaan saja. Kamu sendiri, kenapa belum tidur? Anak kecil tidak baik tidur terlalu malam, boy." Elvan beranjak dari tempat duduknya dan mendarat tubuhnya bersebelahan dengan Ezra.
" Sekolah itu menyebalkan, banyak yang suka ngajakin Ezra aneh-aneh. Kecil-kecil sudah bilang cinta, rasanya ingin Ezra tendang mereka. Dad, bolehkah Ezra mengakui sesuatu pada Daddy?" Dengan wajah yang menunduk, Ezra memberanikan diri untuk berhadapan dengan Elvan.
Mendengar ucapan dari Ezra, Elvan menjadi semakin penasaran dengan kelakuan puteranya itu. Selama ini, Elvan hanya mengamati keseharian sang putera yang tidak terlalu jauh karakter pribadinya dengan dirinya sendiri.
" Pengakuan? Ucapkan jika itu tidak membuat masalah dikemudian hari, dan simpan saja kalau kau mau membuat Mommy mendiamkanmu dalam waktu yang lama."
Pilihan apa ini, sama saja jatuh pada tempat yang sama. Dasar orang tua, selalu saja maunya menang sendiri, apalagi membawa Mommy dalam setiap kesalahanku. Ezra.
" Kau belum saatnya untuk mengetahui hal-hal seperti itu boy, dunia bisnis yang sesungguhnya itu sangatlah kejam nak. Suatu saat nanti, kau akan menghadapinya juga. Huh, entahlah. Terbuat dari apa mereka, bahkan jejaknya tidak sedikitpun terbaca. "
Tampak mata Elvan terpejam memikirkan apa yang dikatakan oleh sang putera, memang masalah itu masih belum ia temukan. Biasanya ia dan yang lainnya akan dengan sangat mudah menemukan seseorang bahkan dalangnya sekaligus, namun tidak untuk kali ini.
" Jika Ezra mengatakannya, apakah Daddy akan percaya." Sambil memainkan bantal kecil yang berada di dekatnya, Ezra tampak seperti anak kecil yang sedang ingin bermain.
__ADS_1
" Maksudmu boy?"
" Jika pelakunya itu adalah Ezra, apakah Daddy akan percaya?" Ezra kembali meletakkan bantal tersebut, lalu ia menatap Elvan.
Elvan dan Ezra saling bertatapan satu sama lainnya, seperti biasanya Ezra akan menatap dengan wajah dingin dan imutnya. Akan tetapi, Elvan dengan tatapan yang tidak biasanya.
" Mmmpp, hahaha. Kau memang benar-benar pintar bercanda, boy. Hahaha."
Tawa Elvan sungguh pecah, ia tidak tahu harus bagaimana. Merasa tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh anaknya itu, bahkan ia anggap ucapan Ezra adalah lelucon.
Tanpa membalas tawa sang Daddy, Ezra berjalan menuju meja kerja Elvan. Lalu ia mulai menyentuh dan menggerakkan jemarinya pada keyboard, lalu matanya menatap layar datar dihadapannya. Elvan yang masih larut dalam ketidakpercayaan atas ucapan Elvan, tidak menyadari jika anaknya telah meretas jaringan miliknya.
" Daddy lihat saja sendiri." Ezra yang sudah kembali duduk disamping Elvan dengan mengarahkan tangannya kepada layar datar di atas meja kerjanya.
Elvan semakin tergelak tawa atas sikap anaknya saat itu, tidak ingin membuat kecewa. Elvan pun menuruti puteranya itu, saat ia berada di hadapan layar datar miliknya. Seperti terkena serangan tiba-tiba oleh musuhnya, Elvan menatap layar tersebut dengan mata yang tak berkedip. Meletakkan jemari tangannya untuk memeriksa hal tersebut, betapa tidak terduganya. Ia lagi-lagi terpatahkan oleh jaringan pribadinya yang terdeteksi oleh orang lain, betapa kagetnya Elvan saat itu.
__ADS_1