
Dalam perjalanan menuju suatu tempat yang sudah diberitahukan oleh Dion sebelumnya, kini Liam bersama dengan Rara mencoba untuk menyelidiki kasus teror untuk nona mereka. Hingga mobil itu berhenti pada suatu rumah yang sederhana, mereka pun segera turun dari mobil.
" Bener ini tempatnya?" Tanya Rara yang penasaran.
" Alamatnya benar, tidak ada salahnya untuk mencobanya." Liam berjalan mendekati rumah tersebut, mengetuk pintunya perlahan.
Tok tok tok!
Tok tok tok!
Menunggu untuk tanggapan dari sang pemilik rumah, Liam terus mengetuk pintu rumah tersebut. Sedangkan Rara, ia masih mengitari rumah itu dengam matanya.
Klek!
Diantara penghuni rumah yang baru saja membukakan pintu dan juga Liam, mereka hanya bisa saling berpandangan satu sama lain. Liam berusaha menyakini dirinya, atas apa yang ia lihat.
" Tante Elliza?" Tanya Liam untuk menyakinkan dirinya, Rara yang mendengar jika Liam sedang berbicara dengan seseorang. Ia langsung menghampirinya.
" Iya, dengan siapa?" Elliza pun tampak aneh dengan kedatangan orang yang tidak ia kenali.
" Tante, Maminya kak Ara?" Rara begitu penasaran.
Kening Elliza tampak berkerut, ia merasa tidak mengenali kedua orang yang berada dihadapannya. Bergerak untuk segera menutup pintu rumahnya, namun hal itu dicegah oleh Liam dengan menahan pintu itu menggunakan tangannya.
" Kami bawahannya tuan Elvan, tante. Dan ini, dia adalah dokter Rara sekaligus adik dari tuan Elvan."
Mendengar nama 'Elvan', Elliza menghentikan sikapnyadan tubuhnya menjadi kaku. Rara memasuki rumah tersebut dan membawa tubuh Elliza untuk duduk bersama mereka, Liam pun menjelaskan maksud dari tujuan mereka mengunjungi Elliza.
" Tante, sebelumnya suami dan adiknya kak Ara dimana?" Tanya Rara.
Elliza yang semula hanya berdiam diri, dengan mata yang menatap kosong ke bawah. Kini, mata itu mengeluar cairn bening dari sudutnya. Kedua tangan Elliza menutupi wajahnya, kemudian terdengarlah suara isakan tanggis.
__ADS_1
Hiks hiks hiks.
" Tante." Rara meraih tubuh wanita paruh baya itu ke dalam pelukannya.
" Me mereka sangat jahat, mereka jahat." Ucap Elliza.
Liam dan Rara semakin tidak mengerti akan perkataan Elliza pada mereka, mereka akhirnya mengajak Elliza untuk menceritakan semua yang menjadi masalah dalam kehidupannya. Dimana saat ini, ia telah disingkirkan dan juga di asingkan dari kehidupan suami dan anaknnya sendiri.
Rasa sesak yang dirasakan Elliza sebelumnya, kini berubah menjadi perasaan yanh sangat lega. Begitu pun pada Liam dan Rara, mereka juga pada akhirnya mengetahui penyebab terjadinya teror yang ditujukan pada Ara. Tanpa sepengetahuannya, Rara menghubungi Ara untuk mengizinkan Elliza berbicara pada dirinya.
" Tante, ada yang mau bicara. Ini." Rara menyerahkan ponselnya kepada Elliza.
Menghapus air mata yang mengalir diwajahnya, hal itu membuat Elliza menjadi kaget. Ia pun menerima ponsel tersebut, dengan penuj keraguan. Ponsel itu ia letakkan pada telingganya.
" Hal lo."
" Mami! Mami dimana? Mami baik-baik saja kan?" Terdengar suara Ara dari ponsel yang berada di tangan Elliza.
" Ara! Ara, itu kau nak? Mami baik-baik saja, Mami sangat merindukanmu nak." Dengan tubuh bergetar, Elliza sangat bahagia bisa mendengar suara Ara.
" Apa, su ami? Suami siapa nak?"
" Ee, emm. Nanti akan Ara jelasin sama Mami, sekarang Mami ikutin arahan dari mereka ya. Ara tunggu Mami disini." Ara memutuskan pembicaraannya.
Karena sebelumnya, Elliza tidak mengetahui apapun mengenai Ara di mansion milik Elvan. Ia hanya mengetahui, jika Ara menjadi penjamin atas perusahaan suaminya dan bekerja disana. Tiba-tiba saja Ara mengatakan 'suami', hal itu benar-benar membuat Elliza menjadi kaget dan bingung.
Tanpa menunggu lama, Liam dan Rara membawa Elliza untuk ikut dengan mereka. Didalam perjalanannya, Liam memghubungi Jack.
" Seperti yang sudah kita duga, tuan sudah mengatakan untuk memberikannya sedikit pelajaran. Jangan terlalu kau membuatnya hancur, karena nona tidak akan menyuakinya."
......................
__ADS_1
Sementara itu, Dion telah melakukan tindakan yang benar-benar membuat Elvan marah. Tanpa ampun, Elvan menghukum orang-orang yang berada disana.
" Kalian benar-benar bo**h, bagaimana bisa satu orang telah membuat kalian kecolongan seperti ini. Akh!" Elvan menendang sebuah kayu berukuran besar dengan begitu kuat dan hancur.
Hal itu membuat semua orang yang berada disana menelan salivanya dengan kasar, mereka sangat tahu jika tuannya sedang dalam keadaan marah. Tidak ada yang berani untuk mengeluarkan satu kata pun dari mulut mereka, begitu juga Dion. Dia benar-benar sudah membuat kesalahan yang sangat besar.
" Kalian urus orang itu, jika dalam dua puluh empat jam tidak bisa kalian temukan. Bersiaplah untuk menyiapkan liang lahat, untuk diri kalian sendiri. Cepat!" Bentak Elvan, membuat semua bawahannya ketakutan dan segera mengerjakan apa yang telah diperintahkan oleh tuannya.
Tak akan aku biarkan kau lari lagi, Arion! Elvan.
Dalam keadaan emosi yang begitu besar, Elvan memejamkan matanya untuk bisa menetralkan perasaannya. Namun hal itu seakan percuma saja, rasa ketakutannya kana keselamatan istrk dan anaknya adalah hal yang utama dari nyawanya.
Begitupun pada Jack, ia saat ini sedang berkutat dengan beberapa berkas yang sangat tidak sesuai dengan apa yang dilaporkan.
Ddrrttt.
Ddrrttt.
" Hallo." Jack menjawab panggilan dari ponselnya.
" Hallo Jack, kau masih mengenali suaraku kan?"
Suara seorang pria yang terdengar dari balik ponsel miliknya, membuat Jack berpikir dengan sangat keras untuk mengenalinya. Butuh beberapa saat untuk dirinya menganalisa suara tersebut, memejamkan matanya agar lebih fokus.
" Kau!" Jack tiba-tiba teringat akan seseorang yang begitu ia kenali.
" Hahaha, akhirnya. Kau bisa mengenali suaraku, oh ya. Katakan pada tuanmu itu, aku sudah sangat merindukan untuk menjalin kerjasama dengannya. Sudah begitu lama aku tidak berjumpa, apalagi setelah ia menikah dan mempunyai anak. Aku akan mengirimkan kado untuk mereka, sampai berjumpa kembali Jack." Ucal pria itu dengam begitu lantangnya dan memutuskan pembicaraannya secara langsung setelah itu.
Wajah Jack terlihat begitu geram, matanya memerah. Menandakan jika saat itu, ia sedang begitu marahnya dengan apa yang baru saja ia alami.
Bagaimana bisa dia kembali lagi, bukankah waktu itu dia telah dinyatakan tewas dalam kejadian itu? Dasar baji***an! Pasti ini semua sudah menjadi rencananya, tidak bisa dibiarkan. Apalagi dia mengetahui pernikahan dan juga anaknya tuan Elvan, ini tidak bisa dibiarkan! Kali ini, aku tidak akan membiarkan kau untuk hidup lagi. Dasar manusia bre***ek! Jack.
__ADS_1
Ia segera menghubungi ponsel Liam, dimana Liam sedang dalam perjalanan untuk menghantarkan Elliza untuk bertemu dengan Ara. Namun saat Jack memberitahukan tentang apa yang baru saja ia alami, Liam memberikan responnya.
" Kau bersiaplah, keadaan kelompok kita sedang tidam baik. Arion telah kabur, tuan juga sedang berada di markas. Perketat penjagaan pada mansion utama, jika tidak ingin nyawamu sendiri dilenyapkan." Liam memutuskan pembicaraannya, ia tidak ingin membuat Rara dan Elliza memberikan pertanyaan yang tidak ingin ia jawab.