Mafia Psycopath Jatuh Cinta

Mafia Psycopath Jatuh Cinta
30.


__ADS_3

" Permisi." Vivi yang baru saja tiba dengan satu perawat bersamanya, ia menyapa kepada kedua orang yang sedang berhadap-hadapan.


Ni perempuan, baru saja dibilangin sudah main datang saja. Panjang umur dianya, bilang saja kalau mengambil kesempatan buat deketin kak Elvan lagi. Ah, kenapa juga tadi malah cerita sama ni orang. Nyesel gue! Rara.


" Bisa bicara dengan anda, tuan Elvan. Saya akan menjelaskan tentang keadaannya." Vivi sengaja menyembunyikan rahasia yang baru ia dapatkan tadi, bahwa Elvan dan pasiennya itu adalah sepasang suami dan istri.


" Silahkan dokter." Mempersilahkan dokter tersebut untuk memberikan penjelasan tentang keadaan Ara.


" Apakah anda suami dari pasien ini?" Tanya Vivi.


Tampak berpikir, alis mata kanan Elvan naik mendengar ucapan dari dokter itu. Sedangkan Rara, ia sedang mencoba untuk menahan emosinya kepada rekan kerjanya.


Wanita ini, sepertinya aku pernah bertemu. Sebentar, apakah orang ini yang dimaksud oleh Rara tadi? Heh, sepertinya boleh juga mengikuti sedikit permainannya. Elvan.


" Dia hanya seorang pekerja dirumahku, aku bertanggung jawab akan keselamatan darinya."


" Oh begitu, apakah dia sudah menikah?" Vivi seakan-akan sedang memancing keterangan mengenai pasiennya.

__ADS_1


" Sepertinya anda terlalu banyak bertanya dokter, jelaskan saja yang menjadi permasalahannya." Elvan menekankan perkataannya, membuat Vivi menjadi tak berkutik.


Pria ini, masih seperti dulu. Tapi kali ini, terlihat begitu sangat tampan dan lebih dingin dari yang dulu. Vivi.


" Oke, saya akan menjelaskannya. Pasien mengalami tekanan emosi yang cukup berat, sehingga menimbulkan kontraksi pada rahimnya. Dan yang lebih utamanya, pasien saat ini sedang mengandung. Dan kehamilannya sedikit mengalami masalah, kandungan pasien sangat lemah. Diharapkan untuk tidak membuatnya tertekan atau stres, buatkah ia selalu merasa happy dan juga tidak tertekan. Untuk sem..." Penjelasan Vivi terhenti, dikala Elvan memutuskan perkataannya.


" Tunggu! Kau bilang, ha hamil?" Netapa kagetnya Elvan mendapati pernyataan dari dokter yang menangani kondisi Ara.


" Benar tuan, pasien ini dalam keadaan hamil. Apakah ini kejadian diluar sepengetahuan anda atau pasien ini adalah perempuan yang bisa dikatakan tidak baik?" Dengan sengaja, Vivi menyindir pasiennya.


" Oh tidak!" Gumam Rara dengan menepuk jidatnya perlahan, setelah melihat dan mendengar perkataan rekan kerjanya.


" Akh, akh!" Tiba-tiba saja kerongongan miliknya menjadi terasa sangat sakit dan sulit untuk bernafas.


Tangan besar dan kekar itu menekannya dengan begitu kuat, bahkan Rara yang melihat bergidik ngeri. Terlihat jelas rahang wajah itu mengeras, semakin leluasanya ia menekan tangannya agar semakin menampakkan hasilnya.


" Le le pas kan! To to long." mencoba menggapai tangan yang menekan lehernya, Vivi semakin kehilangan nafasnya.

__ADS_1


Perawat yang ikut bersamanya sedang bergetar dan menutup mulutnya dengan menggunakan telapak tangannya, matanya tidak berani melihat kejadian yang terjadi dihadapannya.


" Sebagai dokter, apakah pantas mengucapkan kalimat yang tidak mengenakan pada pasiennya? Benarkah itu dokter Vivi? Bahkan pasien ini lebih pantas disebut wanita berharga daripada anda!"


Brukh!


Dalam satu kali ayunan tangan, tubuh Vivi terlempar dan menabrak lemari yang berada disana. Merintih kesakitan yang juga mencoba untul bernafas dengan baik, Vivi tampak seperti seseorang yang begitu teraniaya.


" Aku peringatkan padamu, jangan pernah menghina wanitaku! Jika aku mendapatimu mengulanginya lagi, kau akan tahu akibatnya berurusan denganku!"


" Kak, ini rumah sakit. Jaga reputasiku, ah kau ini sungguh menyebalkan kak!" Rara menepuk lengan Elvan dengan sangat keras.


" Urus temanmu itu, jangan sampai dia menampakkan wajahnya lagi dihadapanku. Ganti dokter untuk Ara, jangan sampai aku melakukan hal seperti tadi lagi. " Elvan menekan perkataannya, agar tidak ada yang berani mengusik wanitanya.


" What? Ah, sepertinya aku sangat membutuhkan kacamata saat ini. Mataku menjadi minus saat melihat orang yang bermuka dua, sungguh malangnya nasibku." Rara menyindir Vivi yang masih merapikan dirinya dari lemparan Elvan.


" Dan kau Vivi, aku harap kau menyimpan ucapan kakakku didalam otakmu. Keluarlah, kau bukan lagi dokter yang menangani pasien ini. Pergilah, sebelum kakakku memberikan hadiah lagi padamu."

__ADS_1


Rara mengarahkan perawat yang masih dalam ketakutan itu untuk pergi dari sana, dan Vivi pun Rara tarik hingga keluar lalu pintu itu ia tertutup.


Kalian beraninya menghinaku seperti ini, lihat saja nanti. Aku akan membalasnya! Vivi.


__ADS_2