
" Dasar anak kurang ajar! Berani-beraninya kamu melukai anakku, kamu tidak tahu akan berurusan dengan siapa hah!" Hardik Olivia kepada Ezra.
" Sekecil ini sudah berani sekali berbuat seperti itu, apa orangtuamu tidak mendidikmu dengan baik?! Masih kecil sudah bersikap brutal, apalagi besar nanti. Pak kepala sekolah, saya ingin anak ini diberi hukuman yang sepadan dengan perlakuannya pada anak saya. Bila perlu keluarkan dia dari sekolah ini, jika tidak! Saya akan menarik semua saham saya pada sekolah ini!" James meluapkan semua emosinya.
" Tenang dulu pak James, semuanya bisa kita bicarakan dengan tenang. Ezra, kamu duduk disana. " Kepala sekolah mengarahkan Ezra untuk duduk.
Clara menyambut tubuh Ezra yang bergetar, kedua matanya mengisyaratkan kemarahan yang ia tahan.
" Ezra, dengarkan Ibu. Jangan hiraukan mereka, pegang teguh kebenaran dan kejujuran. " Tatapnya kepada Ezra, lalu Clara menepuk-nepuk punggung tangan Ezra dengan tujuan agar anak didiknya itu bisa lebih tenang.
Kedua orang tua Justin terus menghakimi Ezra dengan caranya sendiri, kepala sekolah sampai kewalahan untuk melerainya. Bermaksud untuk tidak melanjutkan kasus tersebut, karena sebelumnya Ezra tidak ingin semuanya mengetahui status dirinya yang merupakan anak dari sang leader. Dan dengan penuh penyesalan, kepala sekolah harus menghubungi orangtua dari Ezra.
......................
Pertemuan yang sedang berlangsung pada sebuah kafe kopi besar, diantara pemilik Blade Company dengan salah satu klien besar mereka. Membahas rencana kerja yang segera mereka jalankan, agar ke depannya tidak terjadi kesalahan maupun penyelewengan.
" Bagaimana tuan Elvan? Apakah anda menyetujuinya?" Tanya sang klien.
" Akan aku pertimbangkan semuanya, untuk kabar selanjutnya, kalian bisa menghubungi Hugo ataupun juga Jack." Dengan begitu santainya, Elvan bersandar pada kursinya dan bertopang dagu.
" Baiklah tuan Elvan, saya berharap hubungan kerjasama ini bisa berjalan dengan baik."
" Hem." Hanya itu jawaban yang Elvan berikan.
Sementara itu, Hugo yang baru saja selesai menerima telfon langsung sedikit bergeser dari tempatnya semula. Agar bisa berbicara pada tuannya secara langsung.
" Maaf tuan, ada sesuatu yang harus saya sampaikan."
" Hem, apa?"
__ADS_1
Kemudian Hugo membisikan sesuatu kepada Elvan, yang tentu jawabannya sudah bisa ia bayangakan. Kedua mata Elvan melebar dan aura yang ditimbulkan, seakan-akan membuat orang lain memilih untuk bersembunyi.
Tanpa mengucapkan sepatah katapun, Elvan langsung saja meninggalkan kliennya tersebut. Dengan langkah yang begitu besar ia menuju mobilnya, Hugo pun menyampaikan kepada kliennya jika tuannya tersebut sedang ada kegiatan yang tidak bisa ditunda. Klien tersebut pun dapat memahami orang seperti Elvan yang super sibuk dan berwajah dingin, selesai menjelaskan kepada kliennya. Hugo dengan berlari mengejar tuannya dan langsung masuk ke dalam mobil. Laju mobil tersebut berjalan dengan cukup cepat, tampak raut wajah Elvan yang begitu menunjukkan jika dirinya sedang menahan amarah.
......................
" Saya ingin anak ini di hukum dengan hukuman yang sebanding dengan perbuatannya kepada anak saya! Jika kalian tidak melajukannya, saya akan menarik semua saham milik saya di sekolah ini." James berkata dengan nada yang cukup tinggi kepada kepala sekolah.
" Maaf sebelumnya, saya tidak bisa menghukum siswa disekolah ini tanpa bukti tuan. Biarkan kami meneliti terlebih dahulu permasalahan ini."
" Saya tidak mau tahu, pokoknya anak ini harus dihukum! Lihat anak saya ini, keningnya terluka! " Istri dari James pun tak mau kalah.
Ezra hanya menatap Justin dengan tatapan yang begitu tajam, ingin rasanya ia memberikan pelajaran kepada temannya yang sedang melakukan drama itu. Namun ia masih bisa menahan semua, tidak ingin merusak kepercayaan yang sudah Mommynya berikan.
" Bisa-bisanya sekolah terbaik seperti ini, menerima siswa nggak jelas. Mau jadi apa nantinya, jangan-jangan orangtuanya juga nggak jelas! Pokoknya saya tidak mau tahu, anak ini harus dihukum dan menganti rugi atas luka yang ia lakukan pada anak saya."
" Maaf nyonya Olivia dan tuan James yang terhormat, sekolah kami bukanlah sekolah sembarangan yang seperti anda bicarakan. Saya harap, anda tidak merendahkan satu sama lainnya dan hendaknya untuk saling menghormati."
" Anak seperti ini memang pantas untuk direndahkan, dasar tidak jelas! Dan gara-gara dia, anakku menjadi terluka! Karena anak ini, kita semuanya menjadi bertengkar. "
Plak!
Olivia kembali memberikan tamparan kepada pada Ezra yang sudah menundukkan kepalanya, Clara yang mendapati hal tersebut langsung memberikan pembelaan.
" Stop nyonya! Anda bisa kami laporkan atas sikap anda ini, salah tidaknya Ezra akan kuta buktikan. Jika tuduhan anda tudak benar, maka kami bisa menuntut anda. Dan satu lagi, anak ini jelas akan statusnya. Seandainya anda tahu siapa orangtuanya, akan saya pastikan hidup anda akan hancur seketika!" Clara sudah tidak bisa lagi menahan emosinya atas sikap wali siswanya tersebut.
" Heh, hancur? Hello. Kami tidak akan pernah takut dengan ancaman seperti itu, jika memang benar orangtua anak ini bisa menghancurkan kami. Buktikan!"
" Ya, buktikan saja perkataan anda. Namun jika itu tidak bisa anda buktikan, saya yang menuntut anda dan sekolah ini." James pun tak mau kalah dari istrinya yang memberikan sedikit ancaman.
__ADS_1
Dibalik peristiwa itu, Ezra berharap jika orangtuanya datang. Ia tidak ingin Mommynya yang hadir, entah siapa pun itu asalkan bukan Ara.
" Akan aku lenyapkan siapa saja yang menyakiti anakku!"
Suara serak itu bergema di dalam ruangan tersebut, mendengarnya saja sudah membuat merinding. Semua perhatian beralih kepada sang pemilik sumber suara, ketika orang tersebut memasuki ruangan. James begitu sangat terkejutkan oleh orang itu, bagaimana tidak. Orang tersebut adalah sang pemiliki perusahaan termegah dan terpandang di negaranya, bahkan dirinya hanya seperti serpihan debu jalanan yang tak berarti.
" Tu tu an Elvan!" Dengan suara bergetar, James menyebutkan nama tersebut.
Kepala sekolah dan Clara menunduk kepalanya ketika Elvan dan Hugo memasuki ruangan dan duduk tepat disamping dirinya, bahkan James pun pada akhirnya ikut menundukkan sebagian tubuhnya. Sedangkan Ezra, ia hanya memutar kedua bola matanya dengan malas saat memgetahui jika Daddynya yang datang.
" Pi, kenapa Papi menunduk begitu? Memangnya siapa sih yang Papi hormati?" Tanya Olivia yang tidak menyukai jika suaminya itu menunduk.
" Aduh Mami, cepat ikut menunduk. Kita harus hormat kepada tuan Elvan. Ayo!"
" Mami tidak mau, kenapa harus tunduk sama orang yang nggak jelas sih Pi. Pokoknya Mami nggak mau!"
James menarik tangan istrinya, namun ia masih saja memberontak.
" Mami dengar, jika Mami masih mau Papi bekerja dan kita hidup. Cepat menunduk dan hormat pada tuan Elvan."
" Hormat? Memangnya dia siapa, hah? Anaknya saja tidak jelas, apalagi orangtuanya." Cibiran Olivia begitu membuat James seakan tak bisa bernafas.
Plak!
Kali ini James yang menampar pipi istrinya, bermaksud membuat istrinya itu sadar.
" Itu Tuan Elvan, pemilik Blade Company dan juga orang terkaya di negara kita Mi. Aduh, tamat sudah hidup Papi ini Mi." James sangat lemas untuk meratapi nasibnya nanti, setelah apa yang ia lakukan pada Ezra yang ia baru ketahui jika ia anak dari seorang Elvan.
" A a pa? Blade Company? Pa pi bohong kan, itu pasti bohong kan?" Olivia menjadi shock akan peristiwa yang baru saja ia alami.
__ADS_1