
Kemudian Elvan mengikuti arah yang diberikan kepadanya, betapa kagetnya ia melihat siapa pelakunya.
" Nany! Kenapa malah memukulku?!" Begitu menahan rasa malunya, Elvan sedikit menegaskan perkataannya agar tidak terlihat Ara.
" Apa? Mau marah? Dasar anak nakal kurang ajar!" Nany melayangkan kembali tongkatnya untuk memukul bahu Elvan pada sisi lainnya.
Bugh!
" Nany! Hentikan."
" Masuklah ke dalam kamar kalian, membuat mataku semakin rusak saja dengan aksimu tadi. Dasar anak muda jaman sekarang, kiss kiss didepan orangtua dan ditempat umum. Aku harus segera mencuci mata ini, kalau tidak virusnya akan selalu hinggap." Nany berceloteh sembari berjalan menjauh.
Dengan sikap yang ditunjukkan oleh Nany, membuat Ara tidak dapat menahan tawanya. Orang yang menurut dirinya adalah monster, tapi tidak untuk saat bersama dirinya.
" Kenapa tertawa?" Tanya Elvan dengan heran.
" Ti tidak apa-apa, bisakah anda menurunkan saya?" Pinta Ara, ia masih merasa tidak enak walaupun kini Elvan telah mengumumkan jika dirinya adalah nyonya di mansion tersebut.
Melanjutkan langkah kakinya dengan menaiki anak tangga satu persatu, hingga kini mereka berdua sudah berada didalam kamar yang Ara tempati.
" Beristirahatlah, jangan memikirkan mereka. Fokus untuk dirimu dan juga calon anak kita, aku masih harus mengerjakan pekerjaan yang tertunda bersama Liam dan Jefri." Elvan segera berjalan keluar dari kamar itu, meninggalkan Ara yang masih terdiam tanpa menjawab perkataannya.
Menuruni anak tangga dengan tergesa-gesa, Jefri dilantai bawah sudah menunggu tuannya.
__ADS_1
" Dimana dia?" Tanya Elvan.
" Di ruang bawah tanah, tuan." Setelah menyampaikan keberadaan tawanannya, mereka melanjutkan langkahnya menuju tempat tersebut.
Dimana ruang bawah tanah, adalah ruang khusus yang biasa digunakan oleh Elvan untuk menjalankan aksi dari permainannya dan juga sebagai tempat untuk menghukum orang-orang yang mencari masalah dengannya. Tidak ada satu pun yang berani memasuki tempat tersebut, terkecuali orang-orang kepercayaannya dan juga dirinya.
" Disana tuan. " Menujukkan ruangan yang cukup gelap dan pencahayaan pun hanya sedikit, dimana didalam sana sudah menunggu Friska dalam keadaan terikat kaki dan tangan yang terikat dengan tali.
Disaat menyadari kedatangan dari tuannya, sekaligus orang yang ia sukai. Friska berharap Elvan datang untuk memaafkan dan menyelamatkannya.
" Tuan, saya tahu anda orang yang sangat baik. Pasti anda akan memaafkan saya, saya berjanji tidak akan mengulanginya lagi tuan." Mulut yang tidak tertutup, membuat Friska dengan leluasa berbicara.
Begitu santainya Elvan berjalan mendekati Friska, sebuah kursi diletakkan dihadapannya. Elvan mendudukinya dan menaikkan salah satu kakinya di atas tumpuan kakinya sendiri.
" Istri? Maksud anda tuan?" Friska begitu tidak percaya dengan apa yang ia dengar saat itu, apalagi kata itu berasal dari mulut tuannya sendiri.
" Kenapa, kaget? Heh!"
Kaki yang sebelumnya disilangkan diatas, kini dengan mudahnya bergerak menendang sesuatu. Akibatnya, terdengar suara yang begitu cukup keras telah hancur. Suaru itu berasal dari sebuah balok kayu berukuran sedang, terlempar begitu terkena tendangan kaki milik Elvan. Tubuh Friska semakin merinding melihatnya, bagaimana bisa balok kayu itu hancur.
" Dengan sengaja kau menyakiti, bahkan melukai istriku. Sama saja kau sedang menyerahkan ajalmu sendiri untuk disegerakan, aku tidak akan sengan melakukan hukuman kepada siapapun juga, walaupun dia adalah seorang wanita. Bahkan wanita sepertimu ini, sangat membuatku ingin mempercepatnya!"
__ADS_1
Perkataan Elvan mulai meninggi, Liam yang baru saja tiba. Berdiri disamping tuannya dan memberikan sesuatu yang telah dibawanya, Elvan mulai memainkan benda tersebut.
Sreep!
Sreep!
" Akh! Ti tidak tuan! Sa sakit!" Friska berteriak dengan sangat keras, saat benda kecil ditangan Elvan yang mulai menyentuh tubuhnya.
" Sakit? Ini belum sebanding dengan apa yang kau lakukan pada istriku, Tapi tenang saja. Kau tidak akan lama merasakannya, aku bisa mengabulkan itu."
" Ti tidak tuan, ampuni saya. Saya tidak tahu jika Ara adalah istri anda, maafkan saya tuan. Jangan siksa saya, saya mohon." Berusaha untuk menarik dirinya dari hadapan Elvan, Friska bahkan tidak menyangka jika Elvan bisa sekejam itu.
" Memaafkanmu? Benda kecil ini akan sangat bersedih, dia sudah lama tersimpan dan tidak bermain. Kau sepertinya cocok sekali untuk menjadi teman bermain baginya."
Sret!
Dalam satu tarikan, terciptalah garis sepanjang sepuluh sentimeter terpampang jelas pada pada lengan Friska. Tentu teriakan yang mengiris hati terdengar, tanggisan memilukan pun turut menyertainya. Seakan-akan dalam keadaan emosi yang sangat besar, Elvan melakukan permainan dengan senjata kecil itu pada tubuh Friska.
Hingga dalam keadaan yang begitu sekarat, mereka semua dikagetkan dengan suara yang membuat Elvan menghentikan permainannya.
Bugh! Kaki Ara tidak sengaja menabrak property kotak yang berada disamping pintu, Ara memundurkan langkah kakinya yang sudah sangat bergetar.
" Ara?" Gumam Elvan saat melihat bayangan istrinya.
__ADS_1
" Nona?!" Liam dan Jefri bersamaan membeo.