Mafia Psycopath Jatuh Cinta

Mafia Psycopath Jatuh Cinta
49.


__ADS_3

" Enak saja bilang pelit, matamu nggak liat apa. Salahkan kakakmu itu atas pekerjaanku ini, dasar cerewet!"


Pertengkaran pun tak terelakan, mereka berdua saling bersitegang mempertahakan egonya masing-masing. Tanpa sengaja, Rara mendorong bahu Jack dengan begitu kuatnya. Disaat Jack terdorong dan akan jatuh, bersamaan dengan itu tangan Jack menarik tangan Rara. Pada akhirnya mereka berdua jatuh bersamaan, dengan posisi dimana Rara berada di atas tubuh Jack yang sudah terlentang di atas lantai. Cukup beberapa saat mereka saling berpandangan satu sama lainnya, dan saat menyadari posisinya.


" Akh! Dasar pria mesum, awas kau ya." Teriak Rara yang menyadari posisi mereka berdua.


Aksi pukul memukul yang dilakukan oleh Rara kepada Jack, begitu cukup lama terjadi. Jack tidak bisa berbuat apa-apa, karena jika ia berani melalukan perlawanan kepada Rara. Maka tamatlah riwayatnya saat itu juga, tuannya tidak akan tinggal diam jika itu terjadi.


" hosh hosh, ternyata capek juga ya berkelahi." Rara mendaratkan tubuhnya pada sofa yang ada.


" Heh, baru begitu saja. Coba kau hubungi Liam. Dia ahlinya dalam menganalisa kasus seperti ini, saat ini pikiranku sedang tidak fokus. Yang ada malah salah tuduh nantinya." Jack kembali membereskan berkas-berkas yang terjatuh, menghela nafas panjang untuk kembali memulai pekerjaannya.


Nampaknya, dia memang sedang sibuk. Otaknya bisa dibilang jenius, pantas saja kakak sangat mengandalkannya dalam setiap urusan perusahaan. Bahkan, jika mereka sedang bertarung. Dia juga akan ikut, wah ni orang terbuat dari apa. Aku saja yang sehari menangani pasien, bisa kelelahan hebat. Lah dia, eh. Kok malah memuji ni orang. Rara.


" Emm, baiklah. Aku akan mencari Liam, kau memang pelit." Mengambil amplop yang ia bawa sebelumnya dan pergi begitu saja dari ruangan Jack.


Menghilangnya bayangan Rara dari pandangannya, membuat dirinya bisa bernafas dengan lega.


" Huh! Nggak adiknya, tidak kakaknya. Menjengkelkan semuanya, kalau memang si tua itu yang melakukannya. Bener-bener bre***ek tu orang, sama istri sendiri seperti itu. Sepertinya, dibuat sedikit drama. Kayaknha seru juga."


Terlintas suatu rencana di dalam pikiran Jack, ia kemudian menghubungi Liam tanpa sepengetahuan dari Rara.


" Hallo, Li. Nanti ada nona Rara mau menemuimu."


" Hem, memangnya ada apa?" Liam yang kaget dengan penuturan dari Jack.

__ADS_1


" Ada yang meneror nona Ara, sebuah amplop yang berisikan beberapa barang. Nanti coba kau selidiki, aku takut akan memancing kemarahan tuan lagi. Kau pahamkan!"


Jack sangat tidak ingin merusak kebahagian dari tuannya, dimana mereka baru saja merasakan kebahagian dengan kelahiran anaknnya dan juga sadarnya Ara dari tidur panjangnya. Begitu pun juga dengan Liam, mereka berdua memiliki pemikiran yang sama.


" Iya, aku mengerti. Kau bagaimana, kenapa jarang sekali ke markas? Apa kau ingin aku acak-acak jaringan disana, baru kau mau kemari." Liam sangat merindukan kebersamaan mereka dalam menjaga dan juga melaksanakan tugas dari tuannya di markas tersebut.


" Kau salahkan tuan saja, kepalaku sudah ingin lepas rasanya. Tidak habis-habis pekerjaan yang dia berikan, bahkan baru-baru ini ada sekelompok orang yang sangat mencurigakan. Mereka sepertinya utusan dari kelompok tertentu, bahkan kasus baru tentang teror pada nona Ara. Akh! Aku rasanya ingin kabur saja dari dunia ini, nanti setelah semuanya mereda. Baru aku kembali, bisa tidak?"


" Dasar manusia berotak segaris! Mana ada main kabur dari dunia dan seenaknya saja balik lagi. Sama saja itu dengan ngayal, sudah dulu ngobrolnya. Lama-lama kau juga membuatku jadi segaris." Liam menyudahi pembicaraannya pada Jack.


......................


Pada suatu rumah, yang terletak cukup jauh dari pemukiman penduduk lainnya. Rumah itu tampak seperti bangunan yang tidak layak untuk dihuni, namun di dalamnya terdapat seorang wanita paruh baya yang sedang terbaring tak berdaya.Semenjak diketahui bermain belakang darinya, dan Elliza tidak dapat melarangnya. Bagas dengan leluasa menjual rumah mereka dan juga menghabiskan uangnya bersama seorang wanita, kini Elliza hidup dalam keprihatinan. Untuk makan sehari-hari, ia harus menghemat pemberian dari Bagas kepadanya. Bisa dikatakan sangat kurang dari kata cukup, bahkan Elliza harus menghematnya agar bisa bertahan hidup.


Disaat pertengkaran hebat dirinya dengan Bagas, Monick lebih memilih diam dan bungkam. Ia tidak ingin hidupnya sengsara bersama Mamynya, ia pun berpihak pada Bagas dan meninggalkan Mamynya seorang diri.


Hidup seorang diri di tempat yang begitu asing baginya, membuat Elliza sangat tertekan dan sering merasakan ketakutan. Dan kini, perutnya telah berbunyi untuk segera di isi. Berjalan perlahan menuju dapur, mengambil sebungkus mie instan dan memasaknya. Menikmati makanan tersebut disaat perut begitu lapar, rasanya sungguh nikmat tiada bandingannya. Hari pun beranjak senja, tanpa sengaja. Sorot mata Elliza menangkap suatu bayangan yang berada di perkarangan rumahnya, dengan mengendap-endap. Elliza mengambil sebuah sapu, sebagai senjata untul menyerang orang tersebut.


Pak!


Pak!


Pak!


" Aaa, sakit! Stop nyonya, sakit!" Suara Erangan pria yang berteriak.

__ADS_1


" Si si apa kamu? Jangan ganggu saya, pergi!" Elliza melayangkan lagi pukulan sapu terbangnya kepada pria itu, yang belum ia ketahui siapa.


Pak!


Pak!


" Aaa duh! Nyonya ampun, saya Dion. Orang suruhan tuan Elvan!" Dion berteriak sambil menghindar dari serangan sapu terbang Elliza.


" Hah! Tu tuan Elvan!" Jawab Elliza yang sangat terkejut atas ucapan Dion.


" Iya benar Nyonya, saya tidak akan berbuat aneh-aneh. Saya hanya mendapat perintah." Dion merapikan pakaiannya yang tampak lusuh dari serangan Elliza.


Masihbada keraguan dari Elliza atas ucapan dan kehadiran Dion yang secara tiba-tiba, namun ada rasa ketenangan dalam dirinya dengan kehadirannya.


" Kalau begitu, masuklah. Lebih baik berbicaranya didalam saja, di luar nanti ada yang melihatnya nak."


Mempersilahaan Dion untuk masuk dan duduk didalam rumahnya, Elliza segera menjamunya walaupun hanya dengan air tawar.


" Silahkan diminum nak, maaf. Disini, hanya ada air saja."


" Em, tidak apa-apa nyonya. Langsung saja, saya hanya menyampaikan pesan dari tuan. Dan saya harap, anda bisa mengabulkannya."


Menyerahkan sebuah kertas yang berisikan pesan dan juga intruksi untuk Elliza, Dion juga memperlihatkan sebuah video dari ponsel miliknya kepada Elliza. Betapa rindu dan begitu inginnya ia menebus segala kesalahannya pada orang yang berada di dalam video tersebut, yang tidak lain adalah Ara.


" Apa yang harus saya lakukan nak? Apakah ini tidak akan membuat suami saya semakin murka, terus terang saja aku tidak akan sanggup untuk melawannya." Elliza menghapus air mata yang telah mengalir dari sudut kedua matanya.

__ADS_1


" Tenang saja nyonya, kami akan menjamin semuanya termasuk keselamatan anda. Dan saya harap, anda bisa bekerjasama untuk hal ini." Dion menyakinkan, jika mereka akan membantu Elliza untuk bisa melawan suaminya yang begitu tamak dan juga licik.


" Baiklah nak, aku akan ikut dengan kalian."


__ADS_2