
Hingga pada suatu malam, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu utama rumah kontrakan yang ditinggali oleh Sri.
"Tok...tok...tokk...!"
"Assalamu'alaikum!" ketukan dan ucap salam dari luar pintu rumah tersebut.
Tak juga mendapat jawaban, terdengar kembali terus mengulanginya kembali.
"Tok..tok...tok..!"
"Assalamu'alaikum!" ucap salam lagi dari depan pintu.
"Wa'alaikumsalam" jawab Sri yang kemudian melangkahkan kakinya menuju ke pintu dan terdengar suara pintu yang dibuka oleh Sri.
"Klek..klek..ceklek..!"
Pintu itu terbuka dan nampaklah seorang wanita tua yang tak lain adalah Bu Karti.
"Bu Karti?" panggil Sri pada saat melihat langsung wajah Bu Karti.
"Iya ini saya, eh kamu hamil?" tanya Bu karti pada Sri yang saat ini perutnya telah membesar.
"Iya, pada waktu bertemu dengan bu Karti beberapa bulan yang lalu, saya sebenarnya sudah hamil empat Minggu dan saya seharusnya pulang ke kampung pada waktu itu." jelas Sri sembari memberi kode pada Bu karti untuk masuk ke rumah.
Bu Karti pun masuk dan Sri menutup lalu mengunci pintu rumah tersebut.
Sri dan Bu Karti kemudian duduk di kursi ruang tamu, dan mereka saling berbincang-bincang. Tapi sebelumnya Sri membuat minuman hangat untuk mereka berdua.
"Nak Sri, bapak sudah tiada. Suami ibu meninggal" ucap lirih Bu Karti seraya menatap Sri
"Inna lillahi wa Innalillahi roji'uun, Sri turut berduka cita. Tepatnya kapan menunggalnya Bu?" tanya Sri yang penasaran.
"Seminggu dari kedatangan kami dari kota, Bapak yang semula kelihatan segar bugar tiba-tiba ambruk dan tak bangun lagi!" jawab Bu Karti yang mulai meneteskan air matanya.
"Ma'af bu, bukan maksud Sri membangkitkan kenangan ibu Karti sama pak Fahrul." ucap Sri yang tak enak hati.
"Oh, nggak apa-apa nak Sri. Ibu sudah ikhlas kok!" ucap Bu Karti.
"Dan mulai sekarang ini akan jualan jamu lagi, karena masih ada anak ibu yang masih harus ibu biayai sekolah." ucap Bu karti yang menyeka air matanya.
"Oh begitu ya Bu, kebetulan saya juga mau pulang kampung Bu. Kandungan saya sudah besar, dan saya ingin melahirkan di kampung biar dekat dengan kedua orang tua saya Bu." ucap Sri yang di mengerti oleh Bu Karti.
"Ibu mengerti, dan kamu mau pulang kapan nak Sri?" tanya ibu Karti yang penasaran.
__ADS_1
"Saya akan balik pulang kampung besok pagi Bu!" jawab Sri sembari mengulas senyumnya.
"Wah cepat sekali?" ucap Bu Karti.
"iya lebih baik pulang kampung, selain rindu kedua orang tua dan juga rindu kerabat handai taulan." jawab Sri yang kemudian meminum mi umannya.
"Sudah larut malam, sebaik ya kita istirahat." ajak Bu Karti.
"Iya Bu, Sri juga sudah lelah.' ucap Sri yang kemudian mereka bangkit dari posisi duduk mereka dan mereka melangkahkan kaki menuju ke kamar tidur masing-masing.
Sri membuka ponselnya dan mendapat kabar kalau Sakti putra dari Bima sedang sakit, dan saat ini dia dirawat di rumah sakit.
"Sakti dirumah sakit?" gumam Sri seraya melihat dan membaca chat dari suaminya.
"Apa sebelum pulang nanti aku ke rumah sakit, menjenguk Sakti terlebih dahulu!" gumam dalam hati Sri.
Setelah memantapkan tekatdan, Sri membaringkan tubuhnya dan mulailah dirinya memejamkan kedua matanya dan terlelap lah dalam tidurnya.
...****...
Pagi harinya Sri bangun dan mendapati Bu karti yang juga sudah bangun.
"Jadi pulang sekarang?" tanya Bu karti pada Sri yang keluar dari kamarnya.
"Iya Bu, tapi saya harus ke rumah sakit terlebih dulu. Karena putra saya sakit dan sekarang berada di rumah sakit, dimana pak Fahrul dirawat kemarin.'' jawab Sri.
"Bu, Sri mau mandi sekalian bawa barang-barang Sri. Ucap Sri yang menatap wajah Bu Katrti.
"Ya sudah, ibu cuma bisa mendoakan yang terbaik untuk semuanya. Aamiin." ucap Bu karti.
"Aamiin ya Robbal alaamiin." balas Sri yang kemudian melangkahkan kakinya menuju ke kamar mandi dan sementara Bu Karti ke luar rumah untuk membeli makanan untuk mereka.
Setelah mandi kemudian berganti pakaian dan juga sholat subuh, Sri membawa tas ranselnya dan bersiap untuk pergi.
Namun bu Karti yang baru datang dari membeli nasi, untuk mereka berdua.
"Nak Sri tunggu sebentar ya!" seru Bu Karti yang datang dengan membawa makanan itu.
"Ada apa Bu?" tanya Sri yang penasaran.
"Kita sarapan dahulu!" jawab Bu Karti seraya meletakkan nasi bungkus dan minuman yang baru dibelinya diatas meja.
"Oiya Bu." jawab Sri seraya meletakkan tasnya diatas kursi dan melangkahkan kakinya mengambil sendok dan piring di dapur.
__ADS_1
Keduanya pun sarapan bersama untuk terakhir kalinya. Dan tak berapa lama akhirnya mereka telah selesai sarapan dan Sri berpamitan untuk meninggalkan rumah kontrakan ibu Karti.
"Sri pergi ya Bu, Assalamu'alaikum!" ucap yang mencium punggung tangan Bu Karti.
"Wa'alaikumsalam, hati-hati ya nak! Kalau ke kota lagi, sempatkan mampir ke kontrakan ibu ini!" balas Ibu Karti yang keduanya saling melempar senyum saat ini.
"In syaa Allah Bu, ibu juga jaga diri ibu baik-baik ya!" ucap Sri seraya tersenyum dan melambaikan tangannya.
"Iya, Salam buat keluarga ya!" seru ibu Karti yang membalas lambaian tangan Sri.
Dan Sri melangkahkan kakinya keluar dari pemukiman padat penduduk itu menuju ke jalan raya, dimana dia akan naik kendaraan umum untuk menuju ke rumah sakit.
Tak berapa lama kendaraan umum yang di tunggu itu telah datang dan Sri naik ke dalam bis tersebut.
Dengan perlahan-lahan sri di beri jalan dan tempat duduk khusus di kendaraan itu, karena Sri dalam keadaan hamil.
Setelah duduk Sri menikmati perjalanan tersebut, yang sering berhenti menaikkan penumpang dan juga menurunkan penumpang.
Dan tak berapa lama akhirnya sampai di depan rumah sakit yang menjadi tujuan Sri.
Setelah membayar dan bus tersebut berhenti, Sri turun dari bus tersebut dan melangkahkan kaki masuk ke halaman rumah sakit.
"Mbok Ni!" batin Sri pada saat melihat sesosok wanita yang dia kenal. Sri mempercepat langkahnya untuk menghampiri wanita setengah baya yang ternyata berjalan bersama mang Ujang, sopir keluarga Bima.
"Mbok Ni, mang Ujang!" panggil Sri pada saat sudah dekat dengan mbok Ni dan juga Mang Ujang.
Kedua orang itu berhenti dan menoleh, mereka melihat perempuan hamil yang menghampiri mereka.
"Nyonya Sri!" seru mbok Ni dan Mang Ujang uang bersamaan.
"Assalamu'alaikum, apa kabarnya kalian semuanya!" ucap salam Sri pada saat sudah sampai dihadapan kedua orang yang pernah dekat dengannya itu.
"Wa'alaikumsalam, kabar kami baik nyonya. Kabar nyonya bagaimana?" tanya balik mbok Ni pada Sri.
"Alhamdulillah Sri juga baik-baik saja." ucap Sri dan mereka kini saling berhadapan dan Sri sempat memeluk mbok Ni. Keduanya sedang melepas kangen mereka.
...~¥~...
...Mohon para Readers untuk memberi like/komvotenyaentar/favorite/rate 5/gift maupun untuk novel MBAK JAMU NAIK LEVEL ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
__ADS_1
...Terima kasih...
...BERSAMBUNG...