Mbak Jamu Naik Level

Mbak Jamu Naik Level
Perjalanan Pulang Kampung


__ADS_3

"Ma'af mas biar Sri saja yang bawa, ini tugas Sri, mas Bima duduk atau lihat televisi dulu. Sri mau mencuci piring ini dulu" ucap Sri.


"Ok, kalau begitu aku mau lihat televisi saja dulu!" ucap Bima yang kemudian melangkahkan kakinya menuju ke ruang tamu.


Sedangkan Sri kembali menuju ke dapur dan dia mulai mencuci piring bekas dia dan Bima sarapan tadi.


Selesai mencuci piring, Sri melangkahkan kakinya menuju ke ruang tamu, dimana Bima melihat televisi.


Namun apa yang dia lihat, ternyata televisi lah yang melihat Bima.


Bima tertidur pulas diatas sofa sedangkan televisinya masih menyala.


Sri kemudian mengambil selimut di dalam kamar tidur dan kemudian menyelimutkannya pada Bima yang masih terbaring nyenyak di atas sofa.


Sri kemudian mematikan televisinya dan melangkahkan kakinya untuk mencuci pakaiannya di mesin cuci yang sudah tersedia dan kemudian menyapu dan mengepel lantai apartemen itu.


Lalu Sri menjemur pakaiannya, setelah selesai Sri kemudian pergi ke dapur untuk mengambil air minum, karena dirinya yang sedang haus.


Sri kemudian melangkahkan kaki menuju ke ruang tamu dan duduk diatas sofa, dan karena kelelahan akhirnya Sri tertidur dalam posisi duduk di atas sofa.


Beberapa jam kemudian Sri bangun dari tidurnya, dan dia tak mendapati Bima di tempatnya semula.


"Mas Bima!" ucap Sri yang kemudian dia mencari sesosok laki-laki yang punya anak satu itu di setiap sudut apartemen.


Mulai ruang makan, dapur dan juga kamar tidur, namun tidak juga dia menemukan sosok Bima itu.


Tiba-tiba Sri mendengar suara dari kamar mandi.


"Oh, rupanya ada di kamar mandi" gumam Sri dari dalam hati.


Kemudian Sri kembali lagi ke ruang tamu dan melipat selimut yang tadi di gunakan ya untuk menyelimuti Bima.


Setelah selesai, Sri membawanya kembali ke kamar tidur.


Bima keluar dari kamar mandi dan kali ini wajahnya begitu fress, dan tak kalah tampan dengan Rafa.


"Mas Bima, tampan juga! Eh, apa sih?" gumam dalam hati Sri .


"Sri, kita berangkat sekarang yuk!" ajak Bima dan Sri dengan apa yang di maksudkan oleh Bima.


"Berangkat, berangkat kemana mas?" tanya Sri yang benar-benar tak tahu maksud dari Bima.


"Perasaan tadi aku bilang mau main ke tempat kamu?" tanya Bima yang kemudian duduk di sofa dimana dia tadi sedang tidur.


"Eh jadi itu beneran mas?" tanya Sri yang penasaran.


"Yaiyalah masak bohongan!" jawab Bima sembari mengulas senyumnya.


"Kalau begitu, Sri berkemas-kemas dulu ya mas!" ucap Sri yang bersemangat.


"Iya, jangan lama-lama ya Sri!" seru Bima yang kemudian mengotak-atik ponselnya.


Seru menganggukkan kepalanya dan bersiap mengambil tas ranselnya dan membawa beberapa barang kebutuhannya,


Setelah selesai, mereka kemudian melangkahkan kaki keluar dari apartemen dan Sri mengunci apartemen Rafa itu.

__ADS_1


Bima dan Sri berjalan beriringan masuk ke dalam lift dan kemudian keluar pada saat sampai di bawah dan mereka melangkahkan kaki menuju ke tempat parkir mobil Bima.


Setelah sampai dia tempat parkir, mereka segera menuju ke mobil dan masuk dengan Bima duduk di belakang kemudi dan Sri duduk disamping Bima di kursi depan.


Mobil itu melaju menyusuri jalan raya arah Pantura.


"Mas niat banget ya refressing di kampungnya Sri?" tanya Sri yang penasaran .


"Iya, kan biasanya di desa kan suasananya damai , dan udaranya yang sejuk" jawab Bima yang sesekali menoleh ke arah Sri.


"Iya sih, beda di kota. Banyak polusi kendaraan dan juga polusi asap pabrik. Kalau di desa asapnya ya dari asap membakar jerami dan membakar batu bata. Itu pun asapnya nggak berhari-hari seoerti di kota" ucap Sri.


"Apa kamu punya pacar Sri di kampung?" tanya Bima penasaran.


"Pacar? Pacar Sri ya baru mas Rafa mas!" jawab Sri sembari menoleh ke arah Bima.


"Masak sih? pacar waktu kamu sekolah?" tanya Bima yang penasaran.


"Tidak, tapi...!" jawab Sri yang mengambang.


"Tapi kenapa Sri?" tanya Bima yang penasaran.


"Waktu di kampung Sri pernah menyukai seseorang, dan seseorang itu kemarin di jodohkan sama Sri" jawab Sri.


"Lantas kenapa tak jadi? apa dia menolak kamu?" tanya Bima yang masih mengemudi.


"Sri yang kabur mas" jawab Sri yang menatap wajah Bima.


"Kenapa kabur Sri?" tanya Bima yqng bertambah penasaran.


"Karena Sri masih ingin sekolah dan Sri ingin menjadi wanita sukses sebelum Sri menikah" ucap Sri yang kemudian dia mengingat saat-saat akan dijodohkan sama Aryo, yang merupakan idola para gadis di desanya.


Tanpa terasa air mata Sri berlinang diantara kelopak matanya, dan Bima mengetahuinya.


Kemudian Bima menepikan mobilnya di pinggir jalan.


Bima segera mengambil tisu yang selalu dia sediakan di dalam mobilnya, dan diberikannya tisu tersebut pada Sri.


"Terima kasih mas" ucap Sri pada saat menerima tisu dari Sri tersebut.


"Teruslah menangis Sri, habiskanlah air mata kamu. Agar kamu bisa lega dalam menjalani kehidupan yang entah apa yang akan di kemudian hari." kata Bima yang memandang Sri dengan tatapan yang menyejukkan bagi Sri.


Sri menuruti apa perkataan dari Bima, dia mengingat kembali saat-saat di desa, main air bersama temannya di kampung.


Perempuan itu perlahan menutup kedua matanya.


🗓️Flashback On


Pagi hari seperti biasa, kegiatan anak gadis di desa Nguter jika tidak sekolah adalah mencuci baju di sungai.


Suara canda anak gadis beriringan dengan suara gemericik aliran sungai.


.


"Sri, sudah punya calon belum?" tanya salah seorang teman Sri yang juga sedang mencuci pakaiannya.

__ADS_1


Sri yang menjawabnya, dia tetap dengan aktifitasnya.


"Sri, Keburu jadi perawan tua baru lho! he..he..!;" seru yang lainnya


Sri tetap saja diam, dan terus dengan pekerjaannya.


"Pasti nggak laku, makanya sampai sekarang belum punya handengan.ha..h..!" ucap salah satu dari mereka dan mereka tertawa.


"Apa sih maksud kalian? Lulus SMP itu masih kecil! Ngapain juga mikir pernikahan!" ucap Sri sebal dan meninggalkan semua orang yang mencibirnya itu.


Tiba-tiba ada suara yang memecahkan keriuhan beberapa anak gadis itu.


Tiba-tiba ada suara yang memecahkan keriuhan beberapa anak gadis itu.


"Yu...mbakyu!" panggil seorang gadis cilik yang baru duduk di bangku kelas lima Sekolah Dasar.


(Mbakyu panggilan untuk kakak perempuan)


"Kae Martani, adikmu Sri! Enek perlu opo yo?" tanya gadis di samping Sri.


(Itu Martani, adikmu Sri! Ada perlu apa ya?)


"Yo embuh, aku Yo Ra ngerti. Ben tekan kene sek, gek di takok'i bocahe!" jawab Sri Sutini yang sebetulnya penasaran.


(Ya entahlah, aku ya tidak tahu. Biar sampai di sini dulu, terus di tanyai anaknya).


"Mbakyu Sri, di timbali Bapak wonten ndalem!" kata Martani adik Sri Sutini.


(Kak Sri, di panggil Ayah di rumah).


"Jan-jane enek opo tho?" tanya Sri sembari membereskan semua cuciannya.


(Sebetulnya ada apa sih?)


"Yo ra ngerti yu, wong aku mung di kengken nggoleki njenengan!" jawab Martani yang membantu membawa sebagian cucian kakaknya.


(Ya tidak tahu kak, orang saya cuma di suruh mencari kamu).


"Yo wes, ayo gek cepet. Mungkin enek hal penting!" ucap Sri pada adiknya.


(Ya sudah, ayo lebih cepat. mungkin ada hal yang penting).


"Iya yu" balas singkat Martani.


(Iya kak)


Dan keduanya mempercepat langkah mereka menuju ke rumah.


...~¥~...


...Mohon dukungan para Readers untuk memberi like/komentar/favorite/rate 5/gift maupun votenya untuk novel MBAK JAMU NAIK LEVEL ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....

__ADS_1


...Terima kasih...


...BERSAMBUNG...


__ADS_2