
Ah, kita pikirkan nanti saja! sekarang mas mau mandi dulu!" Ucap Bima yang kemudian mengambil pakaian gantinya dan masuk ke kamar mandi.
Beberapa menit kemudian, Bima selesai mandi dan sekalian dia berwudlu. Setelah itu Bima dan Sri menunaikan sholat Ashar berjama'ah.
Selesai sholat Ashar, Bima menghubungi beberapa staf karyawannya. Sedangkan Sri mengemas semua barang - barang dan baju - baju mereka.
"Mas, berarti kita masih menginap di hotel ini malam ini?" tanya Sri saat selesai mengemasi pakaiannya.
"Kita berangkat besok pagi setelah sarapan, kalau malam ini juga mas Bima masih capek. Lagi pula mas kan masih ingin bermain lagi sama kamu!" ucap Bima sembari mencium kening istrinya.
"Mas bisa saja!" ucap Sri yang tersipu malu.
Adzan Maghrib berkumandang di tiap - tiap masjid.
"Kita sholat Maghrib, setelah itu cari makan malam buat kita!" ucap Bima seraya menatap istrinya.
"Baik mas, Sri wudlu dulu ya!" Ucap Sri yang kemudian bangkit dari duduknya.
"Iya!" ucap Bima yang membaringkan tubuhnya diatas tempat tidur secara terlentang.
Selesai wudlu, Sri membangunkan suaminya yang masih malas - malasan di atas tempat tidur.
"Mas, giliran kamu untuk Wudlu!" seru Sri seraya mengambil perlengkapan sholat mereka.
"Iya, rasanya kepingin cepat malam saja, he..he..!" canda Bima seraya bangkit dari posisinya yang berbaring.
"Mas Bima!" seru Sri seraya menggelengkan kepalanya dan tersenyum.
"Ha..ha...ha..!" Bima hanya bisa tertawa seraya masuk ke kamar mandi.
Selesai wudlu Bima melangkahkan kaki menghampiri Sri dan mengambil perlengkapan sholatnya.
Kemudian mereka sholat Maghrib berjamaah. Setelah selesai, Sri melipat dan meletakkan perlengkapan sholatnya ke tempatnya.
Mereka kemudian melangkahkan kaki keluar dari kamar, menuju ke restoran hotel untuk makan malam.
"Kemarin sudah menu bebek, kali ini mau menu apa sayang?" tanya Bima yang merangkul istrinya seraya menoleh ke arah istrinya.
"Tiba - tiba Sri kepingin sate mas" jawab Sri.
__ADS_1
"Sate? apa ada menu sate ya disini?" tanya Bima penasaran.
"Biasanya di kawasan karanganya - Tawangmangu, terkenal sate kelinci dan sate landaknya" jawab Sri yang mengingat makanan khas daerah tersebut.
Sate landak dan sate kelinci? bagaimana rasanya ya?" tanya Bima yang semakin penasaran.
"Sri belum pernah makan mas, selain sate ayam, kambing dan sapi. Itu pun kalau hari raya Kurban, hari - hati biasa paling hanya sate kere, he..he..!" jelas Sri sembari mengulas senyumnya.
"Sate Kere? apa pula itu?" tanya Bima yang lagi - lagi penasaran.
"Sate kere itu bahannya tempe gembus atau tempe dari bunga tahu. Yang kemudian dimasak dan dibumbui dengan bumbu sate." jelas Sri.
"Ohw begitu ya" ucap Bima seraya menganggukkan kepalanya.
Tak terasa mereka sudah sampai di restoran hotel, dan Bima memanggil pelayan restoran dan menanyakan menu sate di restoran tersebut.
"Apakah disini ada menu sate?" tanya Bima seraya menatap pelayan restoran itu.
"Ada, tapi sate ayam dan sate kambingnya habis. Tinggal sate kelinci dan sate landak, apakah Tuan mau pesan?" tanya pelayan restoran yang berdiri disamping Bima.
"Bagaimana Sri?" tanya Bima yang melihat ke arah Sri, dan Sri menganggukkan kepalanya.
" Terus minumnya apa tuan?" tanya pelayan itu.
"Teh manis panas saja dua!" sahut Sri sembari mengulas senyumnya.
Bima menoleh ke arah Sri dan kemudian melihat ke arah pelayan dan menyetujui apa yang di pesan Sri.
"Iya itu saja, teh manis panas!" ucap Bima yang kemudian duduk ke kursinya.
"Baik tuan dan nyonya, harap sabar menunggu ya" ucap pelayan itu yang kemudian meninggalkan Bima dan Sri
"Sri, kira - kira daging landak itu haram apa halal?" tanya Bima yang ingin tahu.
"Ada yang bilang haram, dan ada yang bilang halal. Coba Sri cari tahu untuk lebih jelasnya di ponsel" ucap Sri sembari membuka layar ponselnya dan demikian dengan Bima.
Mereka sama - sama mencari informasi tentang daging landak.
Sri membuka artikel di BincangSyariah.Com dan Sri membacanya pelan -pelan dan Bima mendengarkannya.
__ADS_1
Hukum Makan Daging Landak dalam Islam
Di sebagian daerah, termasuk hewan yang ditangkap dan dimakan adalah hewan landak. Pasalnya, hewan landak dimakan karena daging landak diyakini memiliki khasiat menyembuhkan penyakit tertentu, seperti diabetes dan lainnya. Dalam Islam, bagaimana hukum makan daging landak ini?
Dalam kitab-kitab fiqih, landak disebut dengan Al-Qunfudz. Landak ini termasuk jenis hewan pengerat (rodentia) mirip dengan tikus, memiliki rambut tebal, dan bila dirinya merasa terancam, maka dapat mengeras dan menjadi duri yang panjang dan runcing.
Menurut ulama Syafiiyah, landak termasuk hewan yang halal untuk dimakan. Hal ini karena landak termasuk hewan yang thoyyibat atau baik untuk dikonsumsi. Kehalalan makan landak ini ditegaskan oleh Imam Al-Syafi’i dan para pengikut madzhabnya, seperti Imam Laits bin Sa’ad, dan Imam Abu Tsaur dan para ulama Syafiiyah lainnya. Demikian pula menurut sebagian ulama Hanabilah seperti Imam Al-Syaukani, dan Imam Al-Shan’ani.
Akan tetapi, sebagian jenis landak termasuk hewan yang dilindungi, seperti landak Jawa, sebagaimana dilansir Kompas. Oleh karena itu, kita tidak boleh sembarangan memburu hewan yang dilindungi oleh negara.
Dalam Darul Ifta’ Al-Mishriyah juga ditegaskan mengenai kebolehan dan kehalalan makan landak. Ini sebagaimana disebutkan sebagai berikut;
السؤال: ما الحكم الشرعي في أكل لحم كلٍّ من: القنفذ والثعلب والضبع؟
الجواب:لا حرج في مذهبنا في أكل كلٍّ من: القنفذ، والثعلب، والضبع؛ لأنها من الطيبات التي تستطيبها العرب، وقد قال الله تعالى: يَسْأَلُونَكَ مَاذَا أُحِلَّ لَهُمْ قُلْ أُحِلَّ لَكُمُ الطَّيِّبَاتُ. فما استطابته العرب في عادتها كان حلالاً، وما عدوه خبيثاً فهو محرم؛ لأن القرآن نزل بلغتهم، فكان عرفهم في تفسير قوله تعالى: (الطيبات) هو الحكم
Pertanyaan: Bagaimana secara hukum syar’i mengenai hukum makan daging landak, musang dan hiena?
Jawaban: Tidak masalah dalam madzhab kami makan daging landak, musang dan hiena. Hal ini karena hewan-hewan termasuk hewan thoyyibat atau baik untuk dimakan, dan juga telah dianggap baik oleh orang Arab. Allah telah berfirman: Mereka bertanya kepadamu (Muhammad): Apakah yang dihalalkan bagi mereka?.
Katakanlah: Yang dihalalkan bagimu adalah makanan yang baik-baik. Apa yang dianggap baik oleh orang Arab dalam kebiasaannya maka hukumnya halal, dan apa yang dianggap menjijikkan maka hukumnya haram. Ini karena Al-Quran turun dengan bahasa mereka, dan karena itu pengertian mereka dalam menafsirkan firman Allah ‘al-thoyyibat’ adalah hukum.
"Jadi kita boleh memakannya ya?" tanya Bima yang hilang rasa penasarannya.
"Iya mas" jawab Sri sembari tersenyum, karena pada dasarnya Sri sangat menginginkan makan sate landak.
...~¥~...
...Mohon para Readers untuk memberi like/komentar/favorite/rate 5/gift maupun votenya untuk novel MBAK JAMU NAIK LEVEL ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...BERSAMBUNG...
,
__ADS_1