
Mereka bertiga meninggalkan taman dan berjalan menuju arah sebuah rumah di mana Sri kemarin juga sudah pernah ke rumah itu.
"Bukankah ini rumah mas Lee min ho eh mas Rafael ya?" tanya Sri saat masuk ke halaman rumah.
"Lho mbak pernah kesini?" tanya Sakti penasaran dan menegadah ke arah Sri.
"Iya, kemarin mbak di tolong sama mas Rafael saat di ganggu preman." jawab Sri sembari mengusap kepala Sakti.
Sri kemudian menurunkan bakul jamunya, dan baby sister Sakti buru-buru masuk ke dalam rumah.
"Mbak, Sakti mau minum jamunya. Haus dan capek nih habis jalan-jalan!" ucap Sakti dengan sedikit cedal.
"Boleh, mbak ambilkan ya!" ucap Sri yang kemudian mengambilkan jamu sinom untuk sakti.
Pada saat Sakti akan meminum jamu, tiba-tiba ada yang bersuara keras dari belakang Sri.
"Hei keponakanku Sakti, jangan minum sembarangan ya!" ucap seorang gadis dengan gaya kemayunya.
"Apa sih Tante, papa saja tidak melarang!" seru Sakti yang nekat meminum jamu dalam gelas yang ada di tangannya.
"Hei, kamu itu harus nurut sama tante! sebentar lagi kan..!" seru Perempuan itu yang belum selesai.
"Sebentar lagi apa?" tanya Bima yang keluar dari dalam rumah.
"Eh, mas Bima! aku kan mau jaga kesehatan Sakti." ucap Perempuan itu yang pura-pura malu, tapi malah malu-maluin.
"Mbok Ni...!" Bima memanggil salah satu pembantu di rumah ibunya.
Datanglah wanita setengah baya yang menghampiri mereka.
"Iya tuan, ada yang bisa saya bantu?" tanya wanita itu yang tak lain mbok Ni.
"Tolong kamu pindahin jamu yang biasa diminum mama dan Sakti ke dalam botol-botol kita!" perintah Bima pada pembantunya.
"Baik tuan" kata pembantu yang biasa dipanggil mbok Ni itu yang hendak mengangkat bakul dan isinya, namun di cegah oleh Sri.
"Bi..biar Sri yang bawain, berat ini mbok!" ucap Sri yang kemudian mengangkat bakulnya dan mengikuti mbok Ni yang melangkahkan kaki ke dalam rumah.
Bima pun masuk ke dalam dan duduk di sofa ruang tamu dan diikuti oleh Sakti.
"Mas Bima ,Talina bagaimana?" tanya perempuan yang kemayu itu pada Bima.
"Ke laut aja!" jawab Bima dari dalam rumah.
"Wah, bisa berenang sama ikan paus, dan hiu dong! ha..ha..!" seru Sakti yang duduk di samping Bima sambil tertawa.
"Aih, bapak anak sama saja!' gerutu perempuan itu yang masuk ke rumah dan langsung menuju ke kamar neneknya Sakti.
Sementara itu Sri selesai membantu mbok Ni memindahkan jamu ke botol-botol milik tuan rumah, Sri melangkahkan kaki ke ruang tamu dan menemui Bima dan Sakti.
__ADS_1
"Sudah selesai Sri?" tanya Bima saat melihat Sri yang berjalan mendekati sofa tamu.
"Sudah, mas Bima dan Sakti saya mau pulang!" ucap Sri yang sudah menggendong bakulnya.
"Mbak jamu, kenapa buru-buru pulang? Sini temani Sakti belajar!" ucap Sakti yang memang sedang berhadapan dengan buku-buku pelajaran, Crayon dan puzelnya.
"Iya Sri temani sakti dulu ya, jangan khawatir nanti aku antar!" ucap Bima yang selesai menelepon.
"Baiklah, tapi Mas Bima mau ke mana?" tanya Sri yang penasaran.
"Ada janji sebentar sama teman!" ucap Bima yang bersiap-siap untuk pergi.
"Papa lama tidak? bawakan pizza ya pa!" ucap bocah yang duduk di bangku playgroup itu.
"Iya, kamu jangan nakal sama mbak jamu ya!" pesan Bima pada putranya
"Beres pa!" Jawab Sakti seraya menunjukkan dua jari jempol, dan Bima
"Ini uang jamunya" ucap Bima seraya memberikan dua lembar uang ratusan pada Sri.
"Wah ini kebanyakan mas!" ucap Sri yang mengembalikan satu lembar uang ratusan itu pada Bima.
"Sudah itu buat kamu saja!" kata Bima yang kemudian berdiri dari tempat duduknya.
"Oh, terima kasih ya mas!" ucap Sri yang kemudian memasukkan uang tersebut dalam stagennya.
"Oiya, aku titip Sakti sebentar ya!" ucap Bima yang tanpa menunggu jawaban dari Sri, melangkahkan kaki keluar rumah.
"Tapi apa boleh buat, kasihan juga jika pangeran tampan ini aku tinggal sendirian." lanjut batin Sri.
"Mbak jamu, gambar sakti bagus tidak?" tanya Sakti yang menunjukkan hasil gambarnya.
"Bagus kok! rupanya sakti jago menggambar ya?" jawab Sri seraya membelai kepala Sakti.
Tak berapa lama mbok Ni datang membawa sepiring berisi nasi, lauk-pauk dan sayur.
"Tuan muda sakti, makan yuk!" ajak mbok Ni yang menghampiri Sakti.
"Nggak mau, Sakti masih mau belajar!" ucap Sakti dengan gaya khasnya.
"Sedikit saja tuan muda!" rayu mbok Ni.
"Nggak mau, Sakti bilang nggak mau ya nggak mau!" bentak Sakti.
"Mbak suapi ya?" ucap Sri seraya mengambil alih piring yang di bawa mbok Ni.
Sakti tidak menjawab, dia terus dengan aksinya mewarnai gambar.
"Sakti ayo makan" pinta Sri yang mulai menyendok kan nasi dan mengarahkannya pada Sakti.
__ADS_1
Anak itu hanya diam dan tetap tak merespon.
"Tak mau makan ya? kalau begitu mbak pulang saja. Buat apa mbak di sini?" kata Sri yang kemudian meletakkan sendoknya kembali diatas piring.
Sri kemudian bangkit dari duduknya.
"Mbak Sri jangan pergi, Sakti mau kok makan. Asal di suapin ya sama mbak Sri." ucap Sakti yang menghentikan aksinya.
"Anak pintar, makan yang banyak ya!" ucap Sri yang pada akhirnya Sakti mau makan sampai habis.
"Eh sudah sore, Pangeran Tampan mandi ya! biar wangi nggak bau acem! he..he..!" ucap Sri sambil terkekeh.
"Iya dech mbak eh mama Sri!" ucap Sakti yang kemudian mencium pipi kanan Sri dan Sakti melangkah ke arah kamarnya untuk mandi.
Hal itu di saksikan oleh mbok Ni dan perempuan yang tadi masuk ke kamar nenek Sakti.
"Nampaknya tuan muda Sakti menyukaimu nduk Sri!" ucap mbok Ni dengan mengulas senyumnya.
"Masak sih mbok? apa nggak sama saja, sakti melakukannya dengan perempuan yang ada di sini atau di jumpai Sakti?" tanya Sri yang membantu Mbok ni membereskan buku-buku Sakti.
"Tidak juga, kamu ingat dengan perempuan yang di panggil Tante oleh tuan muda tadi?" jawab sekaligus tanya dari mbok Ni.
"Iya, memangnya kenapa?" tanya Sri yang penasaran.
"Dia yang dipilih nyonya buat jadi mamanya tuan muda Sakti. Tapi tuan Bima selalu mengacuhkannya, apalagi tuan muda Sakti yang sangat membenci nona itu!" bisik mbok Ni seraya menerima tumpukan buku dari Sri.
"Oh, jadi begitu ya! kalau boleh tahu siapa nama perempuan tadi mbok?" tanya Sri yang penasaran.
"Nama saya Talina!" sahut perempuan yang merasa dirinya di singgung oleh Sri dan Mbok Ni.
"Oh, saya Sri!" Sri yang memperkenalkan diri seraya mengulurkan tangannya.
Talina menampik tangan Sri dan mendorong Sri hingga gadis itu terjungkal ke belakang.
"Innalillahi wa innalillahi roji'uun..!" ucap Sri saat dia terjatuh.
"Ya Allah nduk Sri! kamu tak apa-apa kan?" tanya mbok Ni yang merasa kasihan pada Sri akibat di dorong oleh Talina.
...~¥~...
...Mohon dukungan para Readers untuk memberi like/komentar/favorite/rate 5/gift maupun votenya untuk novel MBAK JAMU NAIK LEVEL ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...BERSAMBUNG...
__ADS_1
,