Mbak Jamu Naik Level

Mbak Jamu Naik Level
Meminta Ijin Pada Sumilah


__ADS_3


Sri dan Rafael pun makan bakso bersama di dalam mobil.


"Hati-hati Sri, masih panas!" ucap Rafael saat hendak memakan baksonya.


"Iya mas, biasanya kan makannya diatas meja, dan ini harus di pegang. Selain panas ya, harus hati-hati kalau sampai tumpah ke baju." ucap Sri yang saat ini menggunakan selendangnya sebagai alasnya.


"Iya, tapi seru lho makan diatas mobil begini" ucap Rafael sembari mengulas senyumnya yang manis.


"Degh.,!" seperti ada yang menghujam jantung Sri.


Sri dan Rafael kemudian melanjutkan acara makan baksonya.


"Terus kita mulainya kapan ya mas?" tanya Sri yang meminum lemon tea setelah selesai makan baksonya.


"Bagaimana kalau besok pagi, jam sembilan aku jemput ya!" jawab Rafael yang menumpuk mangkok bakso dan membawa dua gelas kosong.


"Jam segitu, berarti jualan jamunya harus libur ya mas?" tanya Sri yang mengingat jam sembilan biasanya dia harus jualan.


"Ya iyalah, kamu harus libur sehari!" ucap Rafael yang membuka pintu dan keluar dari mobil.


Rafael berjalan ke arah lapak bakso, menyerahkan mangkok dan gelas bekas dia pakai pada pelayan lapak bakso. Rafa segera membayar bakso tersebut.


Sementara itu Sri memikirkan keputusannya yang menerima tawaran Rafael sebagai model dia.


Tak berapa lama Rafael telah keluar dari lapak, dan dia melangkahkan kakinya menuju ke mobilnya dimana Sri duduk di dalamnya.


"Kamu kenapa Sri?" tanya Rafael yang melihat Sri yang sedikit bingung.


"Cuma mikir tawaran mas Rafael saja!" ucap Sri seraya membenarkan posisinya duduk.


"Ohw, ini sementara buat sampingan kamu dulu Sri, kamu nanti untuk sementara kan teken kontrak dulu percobaan tiga bulan. Nah kalau bungkus yang ada foto kamu itu dilempar ke pasar dan diminati oleh pembeli, maka nanti akan berlanjut." jelas Rafael seraya masuk ke dalam mobil dan menyalakannya.


"Terus bayarannya bagaimana mas?" tanya Sri yang penasaran.


"Selama tiga bulan ini, sementara kamu di bayar tiap bulannya 20 juta tiap bulan, dan ini tidak musti tiap hari foto. Kamu tidak harus tiap hari foto, karena sekali saja kamu foto dan foto kamu yang ada di bungkus jamu produksi keluarga aku sukses, maka setiap bulannya kamu akan dapat uang dari perusahaan. Sudah jelas Sri?" tanya Rafael yang sekali-kali melihat ke arah Sri.


"Dua puluh juta? itu beneran duit mas?' tanya Sri yang belum percaya.


"Bukan, kertas yang berwarna dan ada angkanya! Ya iyalah uang Sri, bukan daun!" seru Rafael sembari tersenyum.


"He..he..! Sri kan belum pernah lihat uang dalam nominal itu!" ucap Sri dengan polosnya dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Sri..Sri..!" ucap Rafael seraya tersenyum.


Rafa menepikan mobilnya di sebuah masjid di pinggir jalan.


"Kita sholat Maghrib dulu yuk!' ajak Rafa dan Sri menyetujuinya.


Keduanya pun turun, dan untuk menunaikan Ibadah sholat Maghrib di masjid itu.


Beberapa menit kemudian mereka telah selesai menunaikan ibadah sholat Maghrib dan mereka kembali melanjutkan perjalanan menuju ke rumah jamu Sumilah.

__ADS_1


Selama dalam perjalanan, mereka bercanda dan tertawa riang.


Tak berapa lama mereka telah sampai di samping rumah Jamu Sumilah.


"Rumah jamu Sumilah?" ucap Rafael yang seperti mengingat sesuatu.


"Mas Rafa kenapa?" tanya Sri yang penasaran karena melihat ekspresi dari Rafael.


"Eh, enggak apa-apa kok!" ucap Rafael yang menyingkirkan kenangan masa lalunya.


"Jadi besok mas Rafa jemput Sri di sini ya?" ucap Sri yang melepaskan sabuk pengamannya.


"Iya, kamu juga jangan lupa. Kami tidak boleh terlihat capek dan mata tidak boleh jadi mata panda ya!" kata Rafael dan Sri sedikit mengerti.


"Iya mas, makasih ya mas!" ucap Sri yang membuka pintu mobil dan Raga demikian. Mereka keluar dari mobil secara bersamaan.


Rafa melangkahkan kakinya lewat belakang mobil dan kemudian membuka pintu mobil uang bagian belakang, dimana bakul dan ember Sri yang tadi diletakkan oleh Sri.


Bakul itu diangkat dan diserahkan pada Sri.


Gadis itu pun menerimanya, dan menggendong bakulnya.


"Terima kasih ya mas!" ucap Sri yang sudah siap berdiri dengan menggendong bakulnya.


"Iya, jangan lupa besok ya!" ucap Rafa yang kemudian melangkahkan kaki masuk ketempatnya semula.


"Assalamu'alaikum..!" ucap salam Rafa seraya melambaikan tangannya.


Kemudian Rafa menyalakan mobilnya dan perlahan-lahan meninggalkan Sri.


Setelah mobil Rafa menjauh dari hadapannya, Sri melangkahkan kakinya masuk ke halaman rumah Jamu Sumilah.


"Pulang sama siapa lagi Sri?" suara seoaranga laki-laki yang tak lain adalah Karyo yang ternyata mengawasi Sri sejak tadi.


Tidak hanya Karyo yang berada disitu, ternyata Sumilah, mbok Darmi dan juga Ratna putri Sumilah.


"Oh, dia yang kemarin menolong saya waktu jualan di taman dan di ganggu dua preman.


"Jangan-jangan dia preman itu suruhan laki-laki itu, iya supaya bisa berkenalan dengan kamu!" seru Ratna dengan wajah sinis.


"Jika benar begitu, itu tidak baik lho Sri!' ucap Sumilah yang sebetulnya tak percaya dengan dua orang yang ada disampingnya, namun dia penasaran dengan Sri yang pulang dengan laki-laki.


"Ma'af permisi!" ucap Sri yang kemudian masuk ke dalam dapur.


Setelah mencuci botol, Sri segera mandi dan dia menunaikan sholat Isya.


Sri kemudian merebahkan dirinya untuk mengistirahatkan beban berat yang di pikulnya sejak siang tadi.


Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamarnya.


"Tokk... tokk.... tokk...!"


"Ya sebentar!" jawab Sri yang kemudian bangkit dari posisi berbaringnya dan sambil berjalan menuju pintu, diikatnya rambutnya dengan tali rambut membentuk kuncir kuda.

__ADS_1


"Klek... ceklek... klek..!"


Sri membuka pintu kamarnya dan terlihatlah Bu Lik Sulimah yang ada di depan pintu.


"Bu Lik, ada apa?" tanya Sri yang membuka pintu kamarnya lebar-lebar dan mempersilahkan Sumilah untuk masuk kedalam kamar Sri.


"Sri, bisa bicara sebentar!" ucap Similah yang seraya masuk ke dalam kamar Sri.


Setelah Sumilah masuk ke dalam kamar, dia segera duduk di tepi tempat tidur Sri.


"Sri jelaskan pada Bulik, kamu itu diantarkan sama siapa?" tanya Sumilah curiga.


'Oh, tadi itu diantarkan oleh anak pelanggan jamu Sri." jawab Sri apa adanya.


"Kenapa berbeda orang?" tanya Sumilah semakin penasaran.


"Oh mereka saudara kakak beradik. Yang kemarin kakaknya seorang duda, dan tadi sang adik, yang masih single" jelas Sri.


"Semoga saja mereka orang yang baik- baik" ucap Sumilah seraya menatap Sri.


"Aamiin, ibu mereka sedang sakit dan ayah mereka sudah tidak ada, jadi yang menjadi tulang punggung mereka adalah sang kakak!" jelas Sri.


"Ohw, begitu ya!" ucap Sumilah.


"Oiya Bu Lik, besok Sri ijin tidak jualan, Sri ada janji sama yang tadi mengantarkan Sri." kata Sri yang memegang punggung tangan Sumilah, memohon berharap pada Sumilah supaya memberikan ijin untuk libur.


"Memangnya ada perlu apa Sri?" tanya Sumilah penasaran.


"Ada urusan pekerjaan dan Sri ingin membantunya, dan lumayan Sri dapat uang dari kerja sama ini!" ucap Sri yang sengaja tak berterus terang.


"Baiklah, asalkan kamu berhati-hati. Di sini Jakarta, bukan di daerah kita!" pesan Sumilah pada Sri.


"Iya Sri tahu Bu Lik, terima kasih atas ijinnya.!" ucap Sri seraya memeluk Sumilah.


Tak berapa lama, Sumilah pamit untuk meninggalkan Sri sendirian di kamarnya.


Sri mengantarkan Sumilah sampai di pintu kamar dan setelah Sumilah pergi, Sri menutup, lalu mengunci pintu kamarnya dan kembali membaringkan dirinya dan tak berapa lama Sri menutup kedua matanya.


Akhirnya Sri tidur terbuai dalam mimpinya.


...~¥~...


...Mohon dukungan para Readers untuk memberi like/komentar/favorite/rate 5/gift maupun votenya untuk novel MBAK JAMU NAIK LEVEL ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...


...BERSAMBUNG...


,

__ADS_1


__ADS_2