
"Jadi namaku sudah kamu hapus dari dalam hatimu Cher?" gumam dalam hati Rafa yang kemudian bangkit dari duduk berlututnya.
Rafa membalikkan badannya melangkahkan kakinya menuju ke arah sofa, dan dengan emosi dia mengobrak-abrik Sofa dan meja yang ada dihadapannya.
Sri segera mendekap dan menutup mata Sakti, dia tak ingin putra dari Bima itu melihat Om-nya yang sedang meluapkan emosinya itu.
"Aaaaaaaaa....!" Rafa berteriak dan melahkahkan kakinya menuju pintu keluar kamar.
"Dogh...!" tangan kanan Rafa mengepal dan meninju dengan sasaran pintu tersebut.
Sri dan Sakti tersentak kaget, saat mendengar suara keras yang menghantam pintu kamar.
"Sakti, jangan ditiru sifat pemarah om kamu ya! itu tidak baik. Karena akan merugikan yang orang lain." nasehat Sri pada Sakti.
"I...iya ma." jawab Sakti yang masih ketakutan. Sri terus memeluk Sakti dan Sakti merasa nyaman diperlukan Sri.
"Seandainya ada mas Bima, kamu tak akan mengalami hal ini Sakti. Yang diinginkan Rafa adalah aku, dan aku hanya bisa berlindung dibalik Sakti. Jika tidak ada Sakti dan yang lainnya, apakah mas Rafa akan nekat berbuat sesuatu atau bahkan kejadian yang telah terjadi akan terulang kembali?Aku harus bagaimana?" pertanyaan demi pertanyaan salah hati Sri yang saat ini air matanya tak berhenti menetes di pipinya..
Jam dinding menunjukkan pukul tiga sore.
"Sakti, mama Ci sholat Ashar dulu, kamu nonton televisi dulu ya. Setelah itu Sakti mandi lalu makan sore, ya?" ucap Sri pada Sakti.
"Iya Ma.":jawab Sakti yang menurut.
"Bagus, anak pinter. Nanti jangan kemana-mana dulu ya, tunggu mama Ci selesai Sholat." pesan Sri pada Sakti.
"Iya ma, Sakti mau nonton kartun ma!" seru Sakti yang kemudian turun dari tempat tidur, dan Sri bangkit dari duduknya di tempat tidur.
Kemudian Sri melangkahkan kaki bersama Sakti menuju ke Sofa, dan Sri membereskan sofa dan meja yang tadi sempat diobrak-abrik oleh Rafa.
"Nah, sudah selesai, mama nyalakan televisinya ya!" seru Mama Cinya Sakti.
"Iya ma." jawab Sakti sembari duduk di atas sofa.
Setelah itu Sri melangkahkan kakinya menuju ke kamar mandi, Sri berwudlu dan kemudian menunaikan sholat Ashar.
Sementara Sakti sedang menonton televisi yang kebetulan acara di televisi ada kartun kesukaan bocah cilik itu.
Beberapa menit kemudian, Sri telah selesai sholat Ashar dan dia melipat mukenanya seraya sesekali melihat Sakti yang bergaya menirukan adegan film kartun itu.
__ADS_1
Sri kemudian ikut menonton acara televisi tersebut, sambil melihat Sakti yang begitu antusias dan seperti melupakan rasa ketakutannya tadi saat melihat sendiri Om rafanya yang biasanya lembut padanya menjadi tempramental.
Saat melihat acara televisi tersebut, Sri menemukan kata-kata bijak untuk dia pahami.
"Aku tidak suka dengan orang yang membohongi dirinya sendiri ditengah turunnya salju." (Naruto Uzumaki)
"Hmm.... Benar kata Naruto, jangan pernah berbohong dengan apa yang sedang kita rasakan. Entah itu perasaan sedih, senang, marah, dan lain sebagainya." gumam dalam hati Sri yang saat ini duduk di samping Sakti.
Kemudian Sri mendapat kata bijak lagi dari menonton film kartun Naruto itu.
"Tidak semua mimpi dan harapan akan terwujud sesuai dengan keinginan kita." (Orochimaru)
"Mimpi dan juga harapan pasti dimiliki setiap orang. Seperti mimpiku yang apakah dapat terwujud? Namun aku tak akan menyerah dan selalu berusaha walaupun dengan cara yang lain, tentunya masih berada di koridor aturan dan agama." gumam dalam hati Sri yang terus melihat televisi dan sesekali melihat ke arah Sakti.
Dan ada lagi kata-kata bijak yang diambil oleh Sri, yaitu ;
"Untuk mencapai tujuan akhirmu, kamu harus bersabar." (Tobi)
"Jika kita ingin mencapai sesuatu atau mendapatkan sesuatu, kita harus bekerja keras, berusaha, dan bersabar. Karena tidak semuanya mudah didapat, dan pastinya orang yang bersabar tentu disayang Allah." nasihat dalam hati Sri untuk dirinya sendiri.
Tak berapa lama acara televisi tersebut telah selesai, Sakti mematikan televisinya.
"Iya ayo kita turun!" balas Sri dan mereka bangun dari duduk mereka, kemudian melangkahkan kaki keluar dari kamar besar itu. Keduanya menuruni tangga, dan Sri melihat keadaan rumah masih sepi.
"Masih sepi, ini berarti belum ada yang pulang. Lalu mas Rafa, dimana dia?" gumam dalam hati Sri yang menebarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan yang dilewatinya. Dan Sri tak menemukan keberadaan Rafa.
Sri menarik nafasnya lega, karena dia berpikir kalau Rafa tidak ada di dalam rumah. Yang berarti Rafa sudah pergi.
Sakti dan Sri sudah sampai di kamar Sakti, dan Sakti langsung masuk ke kamar mandi. Sementara Sri mengambil pakaian ganti untuk Sakti.
Pada saat Sri sibuk di depan lemari kecil milik Sakti, tiba-tiba ada tangan yang melingkar di perutnya.
"Ah, tangan siapa ini?" tanya Sri dalam hati yang kemudian dia meronta untuk melihat siapakah yang memeluknya dari belakang itu.
"Diamlah sebentar sayang, biar aku menikmati wangi tubuhmu!" bisik seseorang di telinga Sri.
"Ra...Rafa!" panggil Sri dengan berteriak karena terkejut dengan suara yang sangat dia kenal.
"Lepas, lepaskan aku!" seru Sri yang terus meronta-ronta, dan Rafa semakin memperat pelukannya pada Sri.
__ADS_1
"Mas Rafa, Sri mohon lepaskan Sri!" seru Sri yang terus meronta-ronta.
"Tidak akan!" teriak Rafa yang kemudian menciumi rambut dan leher Sri dengan merasakan aroma tubuh Sri yang khas dengan wangi herbal.
"Lepaskan aku mas, aku mohon!" racau Sri yang sudah kelelahan meronta. Namun tetap saja Rafa tak menggubris omongan Sri, dia mendorong Sri ke tempat tidur Sakti.
"Bugh...!" tubuh Sri jatuh ke atas tempat tidur.
"Agh...!" Sri yang mengerang karena hentakan ditubuhnya yang jatuh tepat diatas tempat tidur.
Rafa bersemangat menindih Sri, yang kali ini dalam keadaan tidak mabuk dia memegang kedua tangan Sri
"Lepaskan aku, lepaskan aku Rafa!" seru Sri yang terus berontak dan Rafa semakin beringas.
"Melepaskanmu? tidak akan aku lakukan! ha...ha...!" balas Rafa dengan senyum menyeringainya.
Nafas Sri tersengal-sengal dan menimbulkan gerakan tubuhnya yang naik dan turun, Rafa melihat setiap gerakan tubuh Sri termasuk dua gunung kembar milik Sri.
Adik tiri Bima itu kemudian memandangi wajah pucat dan ketakutan Sri dengan mengulas senyum kemenangannya.
"Om Rafa! jangan sakiti mama Ci!" seru suara kecil bocah laki-laki yang tak lain adalah Sakti, yang tanpa disadari oleh Rafa dan Sri kalau putra Bima itu sudah keluar dari kamar mandi. Dan secara langsung melihat Rafa yang menyakiti mama tirinya.
Rafa yang terkejut, dengan cepat bangkit dan berdiri membelakangi Sakti.
Sementara Sri juga bangkit dari posisinya dan dia melangkahkan kakinya menghampiri Sakti.
"Sakti, terima kasih nak! kamu telah menyelamatkan mama Ci. Kamu seperti Naruto, si pembela kebenaran!" seru Sri yang kemudian memeluk Sakti.
...~¥~...
...Mohon para Readers untuk memberi like/komentar/favorite/rate 5/gift maupun votenya untuk novel JAMU NAIK LEVEL ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...BERSAMBUNG...
__ADS_1