
Malam semakin larut, mereka satu-persatu berangkat ke peraduannya. Termasuk Sri dan Sakti yang tidur di kamar Bima malam ini.
...****...
Dini hari saat jam dinding menunjukkan pukul tiga dini hari, Sri bangun dari tidurnya dan melangkahkan kakinya menuju ke kamar mandi dan kemudian dia berwudlu dan hendak menunaikan ibadah sholat malam.
Setelah keluar dari kamar mandi, Sri mengambi mukenanya dan kemudian menunaikan ibadah sholat malam.
Beberapa menit kemudian Sri selesai mengerjakan ibadah sholat malam, dia kemudian melipat mukenanya. Sri merasakan tenggorokannya yang terasa kering.
"Haus sekali, mana air dalam galon sudah habis. Rasanya ingin sekali ke dapur, tapi masih jam segini. Aku takut kalau tiba-tiba mas Rafa menggodaku seperti kemarin." gumam dalam hati Sri yang menghela nafasnya panjang.
"Ah, lebih baik aku tidur lagi. Dan akan bangun saat mbok Ni sudah bangun. Itu lebih baik dari pada kejadian kemarin akan terulang kembali." kembali kata dalam hati Sri yang meletakkan Mukenanya keatas ranselnya, kemudian dia melangkahkan kakinya kembali baik ke atas tempat tidur. Dimana Sakti masih terlelap dalam tidurnya.
Isteri Bima itu kemudian memejamkan kedua matanya dan dia perlahan larut dalam mimpinya.
Adzan subuh berkumandang, Zulaikha kembali bangun dari tidurnya. Kemudian dia melangkah kakinya menuju ke kamar mandi dan mulailah dia berwudlu.
Selesai wudlu, Zulaikha keluar dari kamar mandi dan kemudian dia mengambil mukenanya yang tadi dia letakkan diatas tas ranselnya.
Zulaikha memakai mukenanya dan mulai dia menunaikan sholat subuh.
Beberapa menit kemudian dia telah selesai menunaikan ibadah sholat Subuh, setelah melipat mukenanya Zulaikha melangkahkan kakinya keluar dari kamarnya dan menuruni tangga.
Langkahnya terhenti pada saat sudah sampai di depan dapur. Zulaikha melihat sesosok wanita setengah baya yang sedang memasak.
"Alhamdulillah mbok Ni sudah bangun, sebaiknya aku hampiri mbok Ni sekarang juga!" gumam dalam hati Sri yang merasa lega, dan kemudian dia melangkahkan kakinya menghampiri mbok Ni yang mencuci beras di tempat pencucian piring.
"Mbok Ni sudah bangun!" ucap Sri pada saat sudah berada di samping mbok Ni.
"Eh iya, tumben saya duluan yang ada di dapur!" seru mbok Ni sembari mengulas senyumnya.
"Sebetulnya tadi sudah bangun mbok Ni, tapi ya gitu balik tidur lagi. Habisnya masih mengantuk! he..he..!' balas Sri yang sedikit berbohong, tapi mbok Ni tak percaya. Karena dia tahu sifat Sri, yang tentunya menutupi sesuatu.
"Mbok Ni tahu, pasti kamu menghindari seseorang karena kejadian yang kemarin. Iya kan?" bisik mbok Ni. dan Sri membalas dengan senyuman dan anggukan kepalanya.
"Sudahlah mbok Ni, mana yang perlu Sri bantu?" tanya Sri mengalihkan pembicaraan.
"Oiya, tolong siangi sayuran itu. Kita sarapan pecel saja, kebetulan kacang goreng dalam toples masih banyak. Mau mbok buat sambel!" seru Mbok Ni seraya menunjuk ke arah sayuran yang ada di meja dapur.
"Ok, siap! tapi Sri mau minum dulu mbok!" seru Sri yang melangkahkan kakinya mengambil gelas. Kemudian Sri melangkahkan kakinya menuju ke dispenser dan menekan kran dispenser tersebut.
__ADS_1
Tiba-tiba Sri mengalami morning Sickness kembali.
"Huekk.... huekkk.... hueekk.!'
Mbok Ni pun terkejut, dan dia menghampiri Sri. Kemudian mbok Ni memijat tengkuk leher belakang Sri.
"Nyonya, apa anda sedang hamil muda?" tanya mbok Ni dengan berbisik.
Sri hanya bisa menganggukkan kepalanya, dan kembali muntah-muntah dengan keluar cairan kuning dari mulutnya.
"Sebaiknya anda jangan pulang kampung nyonya! bahaya buat kandungan anda!" ucap mbok Ni yang masih memijat tengkuk leher Sri.
"Tidak apa-apa mbok! saya masih bisa pulang kampung sendiri, lagi pula mas Bima yang menyuruh saya untuk pulang kampung" ucap Sri setelah mencuci mukanya.
"Ya Mbok cuma bisa bantu doa saja, semoga sampai di kampung dengan selamat." ucap Mbok Ni yang kemudian melanjutkan pekerjaannya.
Sementara Sri yang sudah merasa sudah lebih baik, juga melanjutkan pekerjaannya membantu mbok Ni memasak.
Setelah selesai, seperti biasanya masakan-masakan itu dipindahkan ke meja makan oleh mbok Ni, sementar Sri melangkahkan kaki menuju ke kamarnya dan dia membersihkan dirinya di kamar mandi.
Selesai mandi dan berganti pakaian, Sri membangunkan Sakti yang tumben masih tertidur dengan nyenyak.
Tak berapa lama Sakti bangun dan dia diam menatap ke langit-langit seolah mengumpulkan nyawanya yang terbang melayang keluar dari dunia mimpinya.
"Mandi sayang!" seru Sri sembari mengusap kepala Sakti.
"Iya ma!" balas Sakti yang kemudian bersama Sri melangkahkan kaki keluar dari kamar besar tersebut, tak lupa Sri membawa tas ranselnya.
Setelah menuruni tangga, Sri dan Sakti melangkahkan kakinya menuju ke kamar Sakti.
Kemudian Sakti melangkahkan kaki menuju ke kamar mandi, sedangkan Sri melangkahkan kaki menuju ke lemari Sakti dan mengambilkan pakaian ganti buat bocah kecil itu.
Beberapa menit kemudian Sakti sudah selesai mandi dan mengganti pakaiannya, lalu keduanya melangkahkan kaki menuju ke ruang makan.
Sesampainya di ruang makan, ternyata semuanya sudah berkumpul dan mereka menikmati sarapan bersama.
Sarapan bersama itu dilalui tak sampai setengah jam lamanya, Sri dan Sakti melangkahkan kaki ke luar dari rumah setelah sebelumnya mereka berpamitan pada Marlina dan yang lainnya.
"Mama Ci, kalau sampai di kampung bei kabar sama Sakti ya?" pinta Sakti seraya naik ke dalam mobil.
"In syaa Allah, iya sayang!" balas Sri seraya memakaikan sabuk pengaman pada Sakti.
__ADS_1
"Mang Ujang, yuk berangkat!" seru Sri yang sudah memakaikan sabuk pengaman pada Sakti dan juga dirinya.
"Baik nyonya!" jawab mang Ujang yang kemudian menyalakan mobil dan melakukannya perlahan-lahan ke jalan raya.
Setelah sampai di jalan raya, mang Ujang mengemudikan mobil majikannya itu dengan kecepatan sedang menyusuri jalan raya.
Sesampainya di sekolah, ternyata sudah banyak para ibu-ibu dan teman-teman sakti yang sudah datang ke tempat sekolah Sakti.
Sakti dan Sri melangkahkan kakinya menuju ke tempat sekolah taman kanak-kanak dimana Sakti menimba ilmu.
"Sakti, mama Ci pamit ya. Sakti kan jagoan, jadi pasti berani sendirian!" ucap Sri yang berusaha merayu Sakti yang nampak menekukkan wajahnya.
"Mama Ci...! Baru saja Sakti mendapat kasih sayang dari mama Ci, kenapa sekarang mama Ci harus pergi?" tanya sekaligus racau Sakti yang memeluk Sri.
"Sayang, nanti kalau papa pulang Sakti bisa jemput mama Ci di kampung!" Rayu Sri dan ternyata mampu membuat Sakti kembali menyunggingkan senyumnya.
"Benar Ma?" tanya Sakti yang menyakinkan dirinya.
"Hu-um, papa pasti ajak Sakti ke kampungnya mama Ci. Kita cari ikan di sungai, cari belut, dan nanti mama Ci buatkan mainan dari tempurung kelapa, kulit jeruk Bali dan lain-lainnya!" ucap Sri yang membuat Sakti kembali bersemangat.
"Iya ma?" tanya Sakti yang mendongakkan kepalanya saat dalam pelukan Sri.
"Teet.... teeeet... teeettt....!"
Bunyi bel tanda masuk sekolah terdengar nyaring.
"Daa... Sakti, belajar yang rajin ya!" seru Sri seraya melambaikan tangannya.
"Daaa... mama Ci, Sakti akan selalu merindukan mama Ci!" balas Sakti seraya kiss by ke arah Sri.
...~¥~...
...Mohon para Readers untuk memberi like/komentar/favorite/rate 5/gift maupun votenya untu k novel MBAK JAMU NAIK LEVEL ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...BERSAMBUNG...
__ADS_1