
Setelah selesai dia meletakkan gelasnya dan tiba-tiba saja orang yang mengikuti Sri dari tadi menghampiri istri dari Bima tersebut.
Sesosok orang tersebut tiba-tiba memeluk Sri dari belakang, yang membuat Sri terkejut dan berusaha membuka pelukan orang tersebut.
"Lepas, lepaskan aku!" seru Sri yang terus meronta-ronta. Dan dia seperti mengenal sesosok laki-laki yang saat ini memeluknya dari belakang itu.
"Diam, jangan bersuara! atau kau akan membangunkan semua orang!'' bisik di telinga Sri oleh laki-laki itu yang tak lain adalah Rafa.
"Sudah aku duga pasti kamu Rafa!'' seru Sri dengan geram dan tetap berusaha melepaskan dirinya dari pelukan Rafa.
"Siapa lagi laki-laki yang masih mencintaimu dan berharap mendapatkannya kembali!" bisik Rafa di telinga Sri.
Sri menggunakan sikunya untuk memukul perut Rafa dan dengan cepat menginjak kaki Rafa yang hanya memakai alas sandal jepit itu.
"Bugh..!"
"Aaaghh...!"
Rafa mengerang kesakitan dan reflek melepaskan pelukannya pada Sri.
Sri tak menyia-nyikan kesempatan itu, dia menjauh dari Rafa dan dengan cepat tangannya meraih pisau yang selalu tersedia di dapur.
"Pergi dari sini..!" seru Sri dengan mengancam Rafa dengan pisau yang dibawanya.
"Ha...ha...ha...! kau kira aku takut dengan pisau itu!" seru Rafa yang melangkahkan kakinya maju menghampiri Sri.
"Pergi...! pergi....!" seru Sri yang terus mengarahkan pisaunya ke arah Rafa. Namun tetap saja laki-laki itu tak gentar, dia tetap saja maju dan terus maju. Sedangkan Sri mundur beberapa langkah menghindari Rafa.
"Dia tahu kalau aku tak akan berani melukainya, sebaiknya aku ganti strategi!" seru dalam hati Sri yang mengubah arah posisi pisaunya berbalik ke arahnya.
"Kau, kau mau apa?"tanya Rafa yang melihat Sri mengarahkan pisaunya ke pergelangan tangan Sri sendiri.
"Jika sampai kamu mendekat, aku akan bunuh diri di hadapanmu sekarang juga!" jawab Sri dengan nada tinggi.
"Ba....baik aku akan pergi, jangan sakiti dirimu lagi. Aku tak sanggup untuk melihatnya!" ucap Rafa yang perlahan-lahan mundur dari hadapan Sri dan meninggalkan Sri yang masih berada di dapur.
"Fyuh...! akhirnya, mungkin lebih baik aku pergi dari sini!" gumam dalam hati Sri yang kemudian mengambil kembali air minum untuk mengurangi ketegangan yang dialaminya.
__ADS_1
"Nyonya Sri!" panggil seseorang dari belakang Sri, dan Sri yang terkejut menoleh ke arah sumber suara.
"Mbok Ni!" balas panggil Sri saat mengetahui siapa yang memanggilnya itu.
"Apakah mas Rafa selalu mengganggu anda mama Ci?" tanya mbok Ni yang menirukan Sakti.
"I...iya mbok!" jawab Sri yang berkata jujur.
"Sebaiknya anda adukan saja pada mas Bima Mama Ci!" ucap mbok Ni yang memberi pendapat.
"Walaupun aku menghubungi mas Bima, mana mungkin mas Bima akan langsung pulang mbok Ni?" tanya Sri yang meletakkan gelas yang tadi dia pakai untuk minum.
"Benar juga, ya paling tidak mama ci bisa berhubungan dengan papanya Sakti!" jawab mbok Ni yang menatap wajah Sri.
"Mbok Ni, bagaimana aku bisa menghubungi mas Bima kalau saya tak punya ponsel?" tanya Sri yang menatap Mbok yang berkata yang sejujurnya pada mbok Ni.
"Hadeuh, jaman seperti ini kok nggak punya handphone. Saya kira hanya cuma anda mama Ci!" ucap Mbok Ni yang tersenyum seraya menggelengkan kepalanya.
"He... he...!" ucap Sri yang tersenyum.
"Sebaiknya saya kembali ke kamar Sakti mbok Ni!" ucap Sri yang merasa masih mengantuk.
"Iya mbok Ni" ucap Sri yang yang kemudian melangkahkan kaki menuju ke kamar kamar Sakti.
Kemudian Sri kembali tidur di samping Sakti pagi setelah adzan sholat subuh berkumandang, Sri sudah bangun dan menunaikan ibadah sholat subuh.
Suasana kembali seperti apa adanya, dan berjalan sampai akhirnya mereka berada di satu meja dan sarapan bersama.
"Cher, maksud aku mbak Sri, apa kamu bisa ke studio Rafa hari ini?" tanya Rafa setelah mereka selesai sarapan.
"Ke studio Rafa? tapi ma'af mas Rafa, saya harus ada ijin dari mas Bima. " ucap Sri yang tahu maksud Rafa sebenarnya.
"Mas Bima pasti tahu, karena semua inikan demi perusahaannya mas Bima dan kamu kan masih ada kontrak kerja di studio Rafa!" seru Rafa yang mencoba seribu cara untuk membuat Sri mau mengikuti rencananya ke studio Rafa.
"Kalau buat perusahaan, datang saja Sri. Lagi pula kan bisa buat kesibukan kamu selama menunggu Bima yang pulang dari luar negeri!" seru Marlina yang ikut nimbrung dengan pembicaraan Sri dengan Rafa.
"Ma'af ma, Sri tak berani jika Sri belum mendapat ijin dari suami Sri. Mendingan Mas Rafa mencari model lainnya!" ucap Sri seraya menatap semua orang yang ada di meja makan tersebut.
__ADS_1
"Ya sudahlah, terserah kamu saja!" ucap Marlina yang sudah menyerah dengan sikap keras kepala Sri.
Mbok Ni melihat situasi yang membuat Sri tidak nyaman, segera dia ke dapur dan menulis sesuatu di atas kertas dan kemudian melipatnya.
Tak berapa lama Sri datang dengan membawa piring kotor dan meletakkannya di tempat pencucian piring.
"Mama Ci jangan repot-repot, biar saya kerjakan semuanya ini. Karena ini memang tugas saya" Ucap mbok Ni yang kemudian menghampiri Sri.
"Tidak apa-apa mbok! lagi pula kerjaan inikan ringan." ucap Sri yang telah meletakkan piring bekasnya didalam pencucian piring.
Ketika hendak membalikkan badannya, Mbok Tinah menghadangnya dan membisikkan sesuatu.
"Sebaiknya nanti pulang sekolah anda cepat membeli ponsel, karena penting buat anda." pesan mbok Ni yang mengulas senyumnya dan menepuk pundak Sri dia kali, kemudian meninggalkan Sri yang masih terbengong-bengong.
Sri kemudian membuka dan membaca kertas yang diberikan padanya.
"Mama Ci, pulang sekolah sebaiknya anda segera membeli ponsel. Dibawah ini adalah nomor dari tuan Bima."
"Jadi aku harus membeli ponsel untuk bisa berkomunikasi dengan mas Bima, benar juga aku bisa cerita masalahku yang selalu diganggu oleh Rafa" gumam dalam hati Sri yang kemudian memasukkan kertas yang berisikan nomor telepon suaminya itu.
Setelah itu Sri melangkahkan kakinya menghampiri Sakti dan mereka melangkahkan kaki ke mobil keluarga suaminya, namun sebelumnya Sri dan Sakti berpamitan pada Marlina.
Sri dan Sakti naik dan masuk ke mobil dan mobil itu melaju dengan kecepatan sedang menuju ke tempat sekolah Sakti.
Perjalanan itu di lalui dengan suka cita karena Sakti selalu menyanyi lagu-lagu anak kesukaan Sakti Fu
Tak berapa lama mobil yang membawa Sri dan Bima, sampai di tempat sekolah Sakti. Keluarlah Sakti dan Sri dari dalam mobil dan mereka bergegas melangkahkan kakinya menuju ke tempat sakti menimba ilmu.
Sesampainya disana sudah banyak para ibu-ibu dan teman-teman sakti yang sudah datang ke tempat sekolah Saktj.
...~¥~...
...Mohon para Readers untuk memberi like/komentar/favorite/rate 5/gift maupun votenya untu k novel MBAK JAMU NAIK LEVEL ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
__ADS_1
...Terima kasih...
...BERSAMBUNG...