
"Tidak kami tidak melakukan hal seperti itu! kami hanya foto-foto terus makan di restoran. Setelah itu ya beli martabak manis itu!" jelas Sri yang saat ini merasakan dadanya sesak, karena mendapat fitnahan yang mendadak itu.
"Aku tahu modus kamu, menyuap kami dengan martabak manis ini ya! itu tidak mempan!" seru Ratna geram.
"Sri sebaiknya kamu jauhi Rafa ya!" ucap Sumilah pada Sri.
"Menjauhi? saya ada kontrak kerja sama mas Rafa, jadi mohon ma'af saya tidak bisa. Dan saya besok pagi masih ada janji pergi sama mas Rafa. Permisi, Sri sangat letih, Sri mau sholat dan Istirahat" jelas Sri yang kemudian pergi meninggalkan keempat orang yang dikenalnya itu.
"Sri!" seru Ratna namun Sri tak menggubrisnya.
"Bu, lihat Sri semakin tak tahu diri!" seru Ratna yang jengkel.
"Minah, nanti kamu bilang sama Sri untuk angkat kaki dari rumahku mulai besok pagi. Jadi, malam ini dia bisa berkemas-kemas!" seru Sumilah yang mulai percaya dan terkena bujukan Ratna putrinya.
"Apa tidak diberi kesempatan lagi Ndoro juragan?" ucap Karyo yang sedikit membela Sri.
"Iya Bu Lik, selama disini kan Sri kerjanya lumayan bagus. Pelanggan juga suka dengan Sri!" ucap Minah yang berbicara dari sudut pandangnya.
"Biarlah Sri pergi dari sini dan semoga dia dapat rejeki yang bagus setelah keluar dari sini!" ucap Sumilah yang kemudian melangkah pergi masuk ke rumahnya dan diikuti dengan Ratna yang membawa satu box martabak manis pemberian Rafa.
Minah dan Karyo saling pandang dan mengangkat kedua bahu mereka masing-masing kemudian mereka memakan martabak manis itu.
"Mas Karyo, bagaimana menurutmu tentang Sri?" tanya Minah pada Karyo.
"Kita nggak bisa berbuat apa-apa, kita tak berwenang di sini. Kita juga sama-sama buruh, suatu saat kita juga bisa diusir seperti Sri!" ucap Karyo sembari memakan martabaknya.
"Iya, mas. Mulai sekarang kita harus menabung, nggak mungkinlah kita ikut orang terus, nggak bebas. Kasihan Sri, padahal dia baru libur sehari saja jadi masalah!" bisik Minah pada Karyo.
"Bukan karena Sri libur sehari, tapi orang yang mengajak Sri itu dedemenannya Ratna!" balas Karyo yang juga berbisik.
"Apa? jadi itu ya? kasihan sekali kamu Sri" gumam Minah.
Dan mereka menghabiskan martabak manis itu.
Setelah selasai makan mereka melangkah kan kaki menuju ke kamar mereka masing-masing.
...****...
Pukul dua dini hari, Sri bangun tidur dan hendak sholat malam.
Namun ketika lewat di dapur, dia di berhentikan oleh Sumilah.
__ADS_1
"Sri, Mohon ma'af Sri. Kamu bereskan baju kamu, setelah sarapan kamu harus angkat kaki dari sini!" ucap Sumilah yang kedua matanya sembab.
"Bu Lik, Sri mau kemana lagi? kenapa mendadak sekali Bu lik?" ucap Sri yang tidak habis pikir.
"Terserah kamu Sri, Bu Lik berpesan supaya kamu bisa jaga diri kamu baik-baik. Kamu sudah bu Lik anggap anak Bu Lik!" ucap Sumilah yang memeluk Sri.
"Bu Lik..!" tangis Sri pecah seketika itu disaksikan mbok Darmi.
"Sri, ini dari Bu lik. Walaupun tak seberapa, cukup buat cari kos atau kontrakan. Kamu cari kos atau kontrakan, kalau tak ada kerjaan di foto, belajarlah buat jamu sendiri dan kamu jual sendiri. Kamu bisa kan?" tanya Sumilah yang menyarankan.
"Tapi Sri belum bisa buat jamu Bu Lik?" tanya Sri yang masih bingung, kenapa Sumilah menyarankan dia membuat dan menjual jamu yang sama dengan usaha Sumilah.
"Lambat laun kamu juga bisa Sri, kamu jangan jadi penganggura di kota besar ini. Walaupun kamu cuma SMP, penghasilan kamu harus sama dengan Upah pemerintah dan kalau bisa lebih dari mereka." nasehat Sumilah.
"Iya Bu Lik, terima kasih. Sri mau wudlu dulu Bu lik!" kata Sri.
"Iya, yang semangat ya Sri!" ucap Sumilah.
"Iya Bu Lik, terima kasih" balas Sri yang kemudian berjalan ke arah sumur dekat dengan dapur milik Sumilah.
Setelah berwudlu, Sri menuju ke kamar dan menunaikan ibadah sholat Malam.
Setelah selesai, dia mulai berkemas-kemas memasukkan baju-bajunya dalam tas ranselnya.
"Sri, kami sedang apa?" tanya Minah yang masih bermalas-malasan ditempat tidur.
"Mbak Minah, terima kasih ya selama ini jadi teman tidur sekaligus teman curhat Sri. Bu Lik Sumilah menyuruhku meninggalkan rumah jamu ini" ucap Sri yang kedua netranya berkaca-kaca.
"Sri, simpan selalu nomorku ya. Kalau kamu ada apa-apa hubungi mbak!" ucap Minah yang bangkit dari tidurnya dan memeluk Sri.
Sri menerima pelukan hangat dari Minah dan keduanya saling meneteskan air mata mereka.
Setelah itu, mereka pergi ke dapur dan membantu Sumilah dalam membuat jamu.
"Lho ngapain ke sini Sri? bukanya berkemas-kemas?" tanya Sumilah yang sedang menyaring jamunya.
"Yang Sri kemas cuma baju-baju, yang nggak seberapa banyak. Jadi cepat selesai" ucap Sri yang kemudian memindahkan jamu yang telah disaring Sumilah ke dalam botol.
Mereka pun bekerja dengan suka cita di waktu menjelang subuh itu.
Setelah selesai membuat dan memindahkan jamu ke dalam botol, mereka mandi dan berganti pakaian.
__ADS_1
Dilanjutkan dengan sholat Subuh, setelah itu mereka pun sarapan bersama.
Setelah para penjual jamu berangkat, dan ada yang diantarkan oleh Karyo dan ada yang berangkat sendiri.
Tak berapa lama datang sebuah mobil mewah masuk ke dalam halaman rumah jamu Sumilah.
Ratna yang sedari di dalam rumah depan, kemudian melangkahkan kaki menghampiri ibunya, saat dia melihat Rafa keluar dari mobil mewahnya.
"Apa kamu kenal pemilik mobil itu Sri?" tanya Sumilah yang terkejut dengan mobil mewah yang berhenti dihadapannya.
"I..iya dia mas Rafa Bu Lik!' jawab Sri ketika Rafa keluar dari mobilnya dan melangkahkan kaki dengan santai menghampiri Sri.
"Assalamu'alaikum.. selamat pagi!" ucap sapa Rafa dengan senyum manisnya.
"Wa'alaikumsalam.. pagi juga!" jawab Sri, Sumilah dan Ratna bersamaan.
"Bu lik, dialah mas Rafa yang selama beberapa hari ini saya bekerja distudionya." ucap Sri seraya memperkenalkan Rafa pada Sumilah.
Sumilah mengulurkan tangannya pada Rafa dan Rafa menerimanya.
"Sumilah..!"
"Rafa..!"
Ratna pun ikut mengulurkan tangannya tanpa malu-malu.
"Ratna..!"
Rafa tak menanggapinya, dia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya dan mengajak Sri untuk segera meninggalkan rumah jamu Sumilah.
Ratna yang tak ditanggapi oleh Rafa sangatlah kesal. Dengan wajah yang ditekuk dan kaki yang dihentakan beberapa kali di lantai, pada saat Sri dan Rafa melangkahkan kaki menuju ke mobil Rafa yang terparkir.
"Beruntung sekali Sri bisa bersama Rafa, aku yang mengincar Rafa sejak sekolah tak sedikitpun mendapat perhatian balik dari Rafa!" gumam dalam hati Ratna yang menatap nanar Sri dan Rafa yang sudah masuk dalam mobil dan perlahan meninggalkan Ratna dan Sumilah dengan pikiran masing-masing.
...~¥~...
...Mohon dukungan para Readers untuk memberi like/komentar/favorite/rate 5/gift maupun votenya untuk novel MBAK JAMU NAIK LEVEL ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
__ADS_1
...Terima kasih...
...BERSAMBUNG...