
"Ya Allah nduk Sri! kamu tak apa-apa kan?" tanya mbok Ni yang merasa kasihan pada Sri yang jatuh akibat di dorong oleh Talina.
"Saya tidak apa-apa mbok Ni" ucap Sri yang kemudian bangkit dari terjatuhnya.
"Rasain, dasar udik!" ucap Talina yang bersedekap dan kemudian melangkah kan kaki mendekati Sri.
"Hei, pergi kamu dari sini! Buat kotor saja!" seru Talina seraya mendorong kembali tubuh Sri yang tak sengaja tubuh Sri di tangkap seorang pemuda yang kemarin menolong Sri.
Kedua netra mereka saling beradu dan entah ada semilir angin dari mana, tubuh mereka mendadak dingin.
"Mas Ra..Rafael!" panggil Sri saat tersadar siapa yang juga belum mau melepaskan dekapannya.
"Hm...hm...!" suara deheman dari belakang Rafael.
"Oh, mas Bima.":Rafael kemudian tersadar dan melepaskan dekapannya, saat tersadar ada sosok laki-laki di belakangnya.
Laki-laki itu tak lain adalah Bima, yang ternyata kakak kandung Rafael.
Demikian dengan Sri yang kemudian berdiri dengan tegak.
"Rafa, gadis ini yang aku ceritakan tadi!" ucap Bima saat mereka bertiga saling berhadapan.
"Kalau dia, aku sudah kenal mas!" ucap Rafael yang berlagak cuek melangkahkan kakinya menuju ke sofa di ruang tamu.
"Ayo Sri duduk di sana, ada yang perlu kami bicarakan sama kamu!" ucap Bima seraya mempersilahkan Sri untuk duduk di sofa dimana Rafael duduk.
"Mas Bima, kenapa dekat-deKat dengan gadis udik itu?" tanya Talina s melangkahkan kaki menuju ke ke Sofa dan dia ikut duduk di samping Rafa.
"Bagaimana mau ngomong sama Sri kalau ada Tali-temali disini!" gerutu Rafael yang sedikit menyinggung kepada Talina.
"Hei Apa kamu bilang tadi, Tali temali?" tanya Talina yang melempari Rafael dengan bantal kursi..
"He..he..!" dan Rafael terkekeh.
"Ah, sudahlah! mas Bima, urus Tali-temalimi ya! Ayo Sri aku antar kamu pulang!" seru Rafael seraya mengajak Sri berdiri dan dia melangkahkan kaki menuju keluar rumah.
"Hei, Sri itu kewajiban mas yang mengantarkannya!" ucap Bima yang tak mau di dahului Sri.
"A..apa-apa'an sih? Sri pulang sendiri saja." ucap Sri seraya mengambil bakulnya yang sudah kosong.
"Sri, aku yang tadi janji mau mengantarkan kamu, jadi biar aku yang antar!" ucap Bima yang memohon.
"Maaf mas Bima, kalian selesaikan dulu masalah kalian, Sri pamit sama semuanya' ucap Sri seraya menangkupkan kedua telapak tangannya.
Rafael masih belum menyerah, dan setengah berlari Sri membukakan pintu mobil untuk Sri.
"Sri, anggap saja ini buat rasa terima kasihku. Karena kemarin kan kamu menolongku menemukan dompet aku!" ucap Rafael seraya tersenyum.
__ADS_1
"Baiklah, Sri mau diantarkan mas Rafael. Tapi sekali ini saja!' ucap Sri yang kemudian menaruh bakulnya di kursi belakang dan dan Rafael kemudian membukakan pintu bagian depan mobilnya.
Dan Sri masuk ke dalamnya.
"Sri..!" panggil Bima yang belum menerima kenyataannya.
"Mas Bima, selamat berduaan dengan Tali-temali ya!" seru Rafael yang tertawa penuh kemenangan.
"Sial..!" gerutu Bima yang terus memandangi mobil adiknya yang membawa Sri serta, perlahan keluar meninggalkan dirinya.
"Nah, mas mereka kan sudah pergi! sebaiknya kita pergi juga yuk! ke mall atau ke bioskop" rayu Talina yang memeluk lengan Bima.
"Lepas Talina!" seru Bima ketus, namun tak bisa membuat Talina melepaskan tangan Bima.
Bima kemudian kembali duduk di Sofa seraya mengotak-atik ponselnya dan Talina duduk di samping Bima.
"Mama Sri..!":panggil Sakti yang sudah selesai mandi.
"Sakti, kamu memanggil siapa?" tanya Bima penasaran.
"Mama Sri, buat mbak penjual Jamu Pa!" ucap polos Sakti yang melangkahkan kaki dan duduk di pangkuan Papanya.
"Kok memanggilnya mama?" tanya Bima yang penasaran.
"Iya, Sakti pingin mbak jamu jadi mamanya Sakti. Nyiapin sakti, bermain sampai tidur sama sakti!" ucap polos Sakti yang membuat Bima gemas.
"Sakti, Tante Talina juga bisa jadi mama. Tante mau nyiapin , main bareng Sakti dan bobok sama Sakti dan papa sakti!" rayu Talina seraya mengusap punggung Sakti.
"Sakti, mbak jamu itu kan kotor..!" ucap Talina yang belum selesai namun terpaksa berhenti karena Bima memberi isyarat untuk berhenti.
"Jangan mendoktrin anak saya dengan kebencian kamu! permisi!" ucap Bima yang beberapa saat kemudian dia mendengar suara Adzan sholat Maghrib.
Bima kemudian menggendong Sakti dan mereka masuk ke dalam kamar Sakti untuk menunaikan sholat Maghrib di kamar Sakti.
Talina yang masih duduk di sofa, mendengus dengan kesal.
Sementara itu Sri yang berada satu mobil dengan Rafael, sesekali mencuri pandang pada Rafael.
"Kenapa memandangiku seperti itu?" tanya Rafael dengan tetap mengemudi dan menatap ke arah jalan raya.
"Penasaran saja, tadi kalian mau ngomong apa sama aku?" tanya Sri yang menatap kearah Rafael.
"Oiya! sambil makan bakso ya jelasinnya!" ucap Rafael yang kemudian menepikan mobilnya ke lapak penjaul bakso yang sudah jadi langganannya.
"Makan bakso?" tanya Sri yang melihat lapak tersebut ramai pengunjungnya.
"Kamu jangan turun, kita makan di dalam mobil saja. Aku mau pesan bakso sebentar! Jangan kemana-mana ya!" seru Rafael seraya melepaskan sabuk pengamannya.
__ADS_1
"Iya mas!" ucap Sri yang melihat suasana di sekitar mobil yang dia tumpangi.
Rafael kemudian keluar dari mobil dan berjalan menuju ke lapak bakso itu untuk memesan bakso untuk mereka berdua.
"Bang bakso dua mangkok sama es jeruknya dua ya!" pesan Rafael pada si pelayan bakso.
"Eh, mas Rafael! siap mas, seperti biasakan makan di mobil?" balas sekaligus tanya pelayan bakso itu.
"Iya, jangan lupa diantar ya!" ucap Rafael yang kemudian kembali melangkahkan kaki menuju ke mobilnya.
"Aku kira kamu kabur Sri?" tanya Rafael saat masuk ke dalam mobil.
"Saya kan belum tahu daerah di sini mas, takut hilang! he..he..!" ucap Sri sembari tersenyum.
"Sri, apa kamu mau jadi model?" tanya Rafael lirih namun masih bisa di dengar oleh Sri.
"Model? apa Sri pantas mas?" tanya Sri yang belum yakin akan dirinya.
"Kamu cantik, tubuh kamu proposional untuk seumuran kamu. Jadi, kenapa enggak pantas?" jawab sekaligus tanya Rafael pada Sri.
"Saya kan hanya lulusan SMP mas?" tanya Sri yang merasa tak percaya diri.
"Masalah sekolah, kamu kan bisa home schooling, dan kamu perlu polesan sedikit saja bisa jadi good looking!" ucap Rafael yang menatap Sri dengan pandangannya sendiri.
"Mas Rafa bisa bilang begitu, memangnya mas Rafa profesinya apa sih?" tanya Sri yang penasaran.
"Fotografer, yang kebetulan saat ini dapat tawaran dari perusahaan mas Bima untuk mencari model untuk bungkus kemasan baru produck perusahaan mas Bima." jelas Rafael.
"Oh begitu ya!" ucap Sri yang mulai mengerti.
"Jadi bagaimana, mau tidak jadi modelku?" tanya Rafael seraya mengambil bakso dari nampan pelayan bakso yang baru saja datang.
"Hmm..! tapi Sri di bimbing ya mas!" pinta Sri sembari menerima satu mangkok bakso dari Rafael.
"Oh pastilah!" ucap Rafael yang meyakinkan Sri.
"Kalau begitu mari makan!' ucap Sri dan mereka pun makan bakso bersama di dalam mobil.
...~¥~...
...Mohon dukungan para Readers untuk memberi like/komentar/favorite/rate 5/gift maupun votenya untuk novel MBAK JAMU NAIK LEVEL ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
__ADS_1
...BERSAMBUNG...
,