
Hari - hari Sri setelah ditinggalkan Bima berjalan seperti biasanya, hingga beberapa hari kemudian, Rafa dan Talina pulang dari luar negeri untuk berlibur sekalian melihat usaha studio Rafa yang telah Rafa tinggalkan dua bulan yang lalu.
๐๐๐Happy Reading๐๐๐
Sri yang kelelahan setelah sholat Isya' dia sudah tertidur dengan lelapnya, sampai - sampai dia tak mengetahui kedatangan Rafa dan Talina dari luar negeri.
Rafa, Talina, Martina dan juga Mbok Ni asyik mengobrol sampai tengah malam.
"Ma, katanya aku punya kakak ipar. Kenapa tidak keluar - keluar sih ma?" tanya Rafa yang penasaran dengan keadaan Sri saat ini, mumpung tidak ada Bima itu menurut Rafa.
"Sejak di tinggal kakak kamu Bima, Sri sering mengurung diri di kamarnya." jawab Marlina sembari meminum minumannya.
"Oh, begitu ya? dasar udik, tak tahu bersosialita! kalau aku sih sering - sering ke salon saja, mempercantik diri! iya kan ma? he..he..!" ucap Talina sambil terkekeh.
"Iya, kita sebagai seorang istri CEO, harus pandai merawat diri. Karena bila nanti dalam setiap forum dan bertemu banyak orang, tidak akan memalukan suami" jawab Marlina.
"Sudah - sudah, aku sudah mengantuk, sebaiknya aku tidur saja!" seru Rafa yang kemudian melangkahkan kakinya menuju ke kamarnya.
"Ya sudah, Talina juga mau tidur ma! Selamat malam" ucap Talina seraya cipika dan Cipiki pada mertuanya.
Dan mereka berdua melangkahkan kaki meninggalkan ruang tamu dan menuju ke kamar masing - masing termasuk dengan mbok Ni.
Malam semakin larut, semua orang yang ada dalam rumah Marlina telah terlelap dalam tidur masing - masing. Kecuali dengan Rafa dan juga Talina.
"Mas, apa kamu tidak ingin bercocok tanam malam ini?" tanya Talina secara lirih di telinga Rafa yang sedang membelakanginya.
"Bagaimana aku bisa becocok tanam dengan Talina, jika dalam bayanganku selalu muncul wajah Sri" gumam dalam hati Rafa yang terus membelakangi istrinya.
"Mas, aku rindu belaian kamu. Sejak kita menikah, kita baru dua kali melakukannya" ucap Talina seraya memeluk Rafa dan tangannya selalu menggerayangi tubuh kekar Rafa.
"Sudahlah Talina, aku sedang capek!" gumam Rafa yang tetap dalam posisinya semula.
Mendengar hal itu, Talina mengurungkan niatnya dan dia jaga jarak dengan suaminya. Dia tak mau kejadian yang dulu terulang kembali, Rafa mengamuk dan menamparnya dengan keras.
"Kalau bukan karena aku mencintaimu mas Rafa, aku mungkin akan pergi jauh darimu.":ucap dalam hati Talina yang sesenggukan membelakangi Rafa.
Walaupun Rafa mendengar suara tangisan Talina, namun Rafa tetap tak peduli.
"Sri, aku masih terbayang selalu saat mencumbui kamu, walaupun aku dalam keadaan mabuk, namun aku sangat menikmati setiap gesekan tubuh kita!" gumam dalam hati Rafa.
__ADS_1
Tak berapa lama mereka berdua tidur dengan posisi semula..
Keesokan harinya, Sri sudah bangun dan demikian pula dengan Sakti.
Setelah mandi dan sarapan, Sri dan Sakti melangkahkan kaki keluar dari rumah menuju ke mobil dan mereka mulai naik ke dalam mobil tersebut.
Seperti biasa Sri mengantar Sakti ke sekolah dengan tak lupa membawakan bekal bocah cilik itu.
Tak berapa lama, Marlina keluar dari kamarnya. Demikian pula dengan Talina dan juga Rafa, mereka baru saja bangun tidur.
Ketiga orang itu pun melangkahkan kakinya menuju ke ruang makan dan mereka sarapan bersama.
"Apakah Sri dan Sakti sudah berangkat mbok?" tanya Marlina pada Mbok Ni yang menghidangkan sarapan untuk mereka bertiga.
"Sudah Nyonya, mereka sudah berangkat baru saja bersama mang Ujang." jawab Mbok Ni yang sudah selesai menghidangkan makanan dan minuman menu sarapan mereka.
"Oh, ya sudah! kami nanti mau ke salon. Bilang sama mang Ujang setelah antar pulang Sakti dan mamanya, suruh jemput kami di salon langganan. Karena sehabis dari salon, kami mau shopping ke butik langganan kita. Mang Ujang pasti tahu akan hal itu. Oiya, mbok Nibikut sekalian karena bawaan kami nantinya akan banyak. Dan kami tak mau kecapekan karena barang -batang kami!" perintah Talina setelah menyelesaikan sarapannya.
"Rafa ikut dengan kami ya!" seru Marlina seraya menatap ke arah putranya.
"Oh ma'af ma, Rafa ada kepentingan di Studio Rafa. Rafavkangen dengan alat -alat pemotretan" ucap Rafa seraya menatap satu persatu wanita dihadapannya itu.
Mbok Ni yang mendengarkan percakapan Talina bersama mertuanya Marlina menatap keduanya dari kejauhan seraya menggelengkan kepalanya.
"Bagaikan langit dan Bumi, kedua menantu nyonya Marlina. Yang satu kalem rajin ke dapur, dan juga sangat dekat tuan muda Sakti, sedangkan yang satu ini sama sifatnya dengan mertuanya! suka menghabiskan uang suami!" gumam dalam hati mbok Ni yang kemudian melanjutkan pekerjaannya.
Satu jam kemudian, Marlina dan juga Talina keluar dari rumah dengan menggunakan taksi online menuju ke salon langganan mereka.
Sementara Rafa dengan mengendarai sepeda motor sportnya melaju meninggalkan rumah mewah orang tuanya, menuju ke tempat studio foto miliknya.
Tak berapa lama Mobil yang membawa Sri dan Sakti datang, keduanya kemudian turun dari mobil setelah mobil tersebut berhenti.
"Asyik, akhirnya sudah pulang!" seru Sakti yang menghamburkan dirinya masuk ke rumah. Sedangkan Sri mengikuti Sakti di belakangnya.
"Assalamu'alaikum!" ucap salam Sri saat masuk ke rumah.
"Wa' alaikimsalam!" jawab seseorang wanita paruh baya dari dalam rumah, yang tak lain adalah mbok Ni.
"Mbok Ni, kenapa sepi sekali? mama ada dimana?" tanya Sri yang tak seperti biasanya kalau mamanya tidak menyambut cucunya yang pulang dari sekolah.
__ADS_1
"Nyonya pergi ke salon" jawab Mbok Ni yang mensejajarkan langkahnya dengan langkah Sri.
"Oh, sama siapa mbok?" tanya Sri yang menuju ke dapur untuk mencuci kotak bekal Sakti.
"Sama Nyonya Talina" jawab mbok Ni yang juga masuk ke dapur.
"Nyonya Talina?" tanya Sri yang terkejut.
"Kalau ada Talina, jangan -jangan ada Rafa?" tanya dalam hati Sri yang terus mencuci kotak bekal Sakti.
"Iya, semalam nyonya Talina dan tuan Rafa pulang. Dan saat ini tuan Rafa sedang berada di studio Rafa miliknya!" jelas mbok Ni dan Rafa memanggut - manggutkan kepalanya tanda sudah mengerti apa yang dimaksud oleh mbok Ni.
"Oh begitu ya!" jawab Sri.
"Oiya nyonya, saya disuruh menyusul nyonya Marlina dan juga nyonya Talina. Anda nanti berdua saja dengan Sakti, karena kami sedang keluar rumah" ucap Mbok Ni sembari membantu meletakkan kotak bekal ke tempatnya.
"Iya mbok Ni, semoga tidak ada hal pada kami. Karena kami gmhanya berdua saja." ucap Sri.
"Aamiin ya Robbal alaamiin" ucap mbok Ni.
Kemudian Mbok Ni bersama mang Ujang melaju menuju ke tempat dimana majikan mereka berada.
Sementara Sri menutup semua pintu dan kemudian dia melangkahkan kakinya menuju ke kamar Sakti.
"Kalau melihat Sakti, rasa kangen Sri pada mas Bima bisa terobati." gumam Sri sembari mengulang kembali mata pelajaran sekolah Sakti.
Dan nich cilik itu mendengarkan dan menyimak penjelasan dari mama sambungnya itu.
...~ยฅ~...
...Mohon para Readers untuk memberi like/komentar/favorite/rate 5/gift maupun votenya untuk novel JAMU NAIK LEVEL ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...BERSAMBUNG...
__ADS_1