
"Mas Bima!" Sri menghamburkan diri untuk memeluk Bima. Dan keduanya kini saling berpelukan dengan erat dengan perasaan masing-masing.
"Mas Bima ingin kopi, apa kamu bisa buatkan kopi untuk mas Bima?'' tanya Bima saat melepaskan pelukannya.
"Eh iya, tentu saja mas. Sebentar ya, Sri mau ke dapur. Buatkan mas Bima secangkir kopi" Ucap Sri yang kemudian bangkit dari posisi duduknya.
"Mas ikut ke dapur ya?" ucap Bima yang juga bangkit dari duduknya sembari mengulas senyumnya.
"Boleh" Ucap Sri dengan manja seraya memeluk lengan sebelah kiri suaminya sembari menatap suaminya dengan mengulas senyumnya.
"Nah begitu kalau senyum kan mas semakin sayang" Ucap Bima yang kemudian mengecup kening Sri.
"Iya mas, Sri akan berusaha untuk menjadi istri dan ibu yang baik buat mas Bima dan Sakti" Ucap Sri tetap dengan mengulas senyumnya.
"Sri masalah kamu dengan Rafa, jangan kamu ceritakan sama siapapun ya. Karena aku nggak mau kalau mama dan yang lainnya berpikiran yang buruk dengan kamu." Pesan Bima yang menyempatkan dir untuk berhenti sejenak.
"Iya mas." Ucap Sri yang kemudian mereka melanjutkan langkah mereka keluar dari kamar dan melangkahkan kaki menuju ke dapur.
Sesampainya di dapur Sri memasak air dan melihat bahan apa yang bisa buat sarapan pagi ini.
Sementara Bima duduk di kursi meja makan sibuk dengan ponselnya seraya melihat aktifitas istrinya.
"Mas sedang lihat apa sih?" tanya Sri dengan penasaran.
"Ini mas lihat kinerja para karyawan saat mas tinggalkan kesini." Jawab Bima yang masih melihat ponselnya.
"Begitu ya" ucap Sri seraya membuat kopi untuk suaminya karena air yang direbusnya sudah mendidih.
"Iya, jadi mas masih bisa mengontrol aktifitas karyawan perusahaan." jawab Bima sembari melihat Sri yang membawa dan meletakkan kopi buatannya dihadapan Bima.
"Terima kasih sayang" Ucap Bima seraya mengulas senyum pada Sri.
"Sama-sama mas" jawab Sri yang kemudian duduk disamping suaminya.
Sedangkan Bima masih berkutat dengan ponselnya, dengan sesekali mengernyitkan kedua alisnya.
"Mas, mas Bima mau sarapan nasi goreng?" tanya Sri lirih namun masih bisa didengarkan oleh Bima.
"Tentu mau, apa yang kamu buat mas mau memakannya selama halal untuk dimakan " Ucap Bima yang menyempatkan diri menoleh ke arah istrinya.
"Baiklah, Sri memasak dulu ya!" seru Sri dan Bima menganggukkan kepalanya sembari mengulas senyumnya.
__ADS_1
Sri kemudian memasak nasi goreng dan dia membuat banyak untuk semua anggota keluarganya.
"Sri, rupanya mama pagi ini mau berangkat ke Jakarta." ucap Bima saat membaca chat yang masuk.
" Apa sakti ikut dengan mama Mas?" tanya Sri yang penasaran.
"Belum tahu ya, seperti ya mama tidak rela jika Sakti bersama kita" jawab Bima sembari mengulas senyumnya.
"Sebetulnya Sri kepingin Sakti masih tinggal disini" ucap Sri yang sudah mulai menggoreng nasi gorengnya.
"Nggak apa-apa jika Sakti ikut mama, karena mas ada rencana mengajak kamu jalan-jalan sekalian honeymoon." Ucap Bima.
"Jalan-jalan mas?" tanya Sri dengan semangat.
"Iya, kamu mau kemana? mumpung mas masih cuti libur" jawab Sekaligus tanya Bima.
"Sri belum pernah ke pantai mas, kita ke pantai ya mas!" seru Sri dengan mengulas senyumnya.
"Boleh, deal kita ke pantai ya!" Balas Bima.
"Iya mas!" ucap Sri, dan nasi goreng telah selesai dan Sri mulai membuat minuman untuk semua keluarganya.
Tak berapa lama keluarga Sri, Ayah, ibu, adik dan kerabat-kerabat Sri bangun dari tidur mereka dan mereka segera mandi dan sholat subuh karena waktu masih menunjukkan pukul lima pagi.
Sarapan dengan sedikit candaan dan obrolan yang mengakrabkan Bima dengan keluarga Sri.
Sementara itu di keluarga Bima uang menginap di rumah saudara Sri. Keluarga Sri sengaja menyuruh beberapa orang warga untuk memasak untuk rombongan dari Jakarta itu.
Satu jam kemudian, semuanya telah selesai sarapan, dan rombongan dari Jakarta itu pun berencana balik ke Jakarta dan mereka datang ke rumah Sri untuk berpamitan.
"Ma'af kami tidak bisa berlama-lama berada di sini, karena banyak pekerjaan yang harus kami lakukan di Jakarta nanti" Ucap pamit Mama Marlina pada keluarga Sri.
"Kami mengerti, apa tidak ada perayaan lagi di keluarga besan?" tanya Hardi ayah Sri.
"Maaf berhubung pernikahan teguh yang terdahulu sudah kami rayakan dengan besar-besaran, untuk kali ini tidak kami lakukan. Mohon untuk tidak berkeberatan" ucap Marlina sedikit merendahkan suaranya.
"Oh, baiklah tidak apa-apa. Yang terpenting Sribsudah sah di mata negara dan agama" Ucap Hardi sedikit mawas diri.
"Nek, Sakti ke Jakarta bareng sama Papa dan mama Sri!" Seru Sakti yang tiba-tiba memeluk Sri.
Sri mengusap kepala Sakti dengan lembut.
__ADS_1
"Kamu harus sekolah Sakti, lagi pula siapa yang akan menemani nenek jika kamu ikut papa dan mama Sri?" tanya Marlina dengan wajah sendu yang membuat Sakti melohat ke arah Bima dan juga ke arah Sri.
"Sakti, kamu ikut nenek dulu ya. Papa masih lama pulang ke Jakartanya. Papa janji nanti papa belikan oleh-oleh" Ucap Bima yang mencoba merayu putranya.
"Nggak mau, Sakti mau sama mama Sri!" seru Sakti dan Sri memandang ke arah Bima.
"Usahakan Sakti mau ke Jakarta!" bisik Bima di telinga Sri dan Sri mengangguk, mengerti maksud dari suaminya.
Sri kemudian duduk berlutut mensejajarkan dirinya pada Sakti.
"Sakti sayang ikut nenek dulu ya, mama Sri janji nanti sesampainya mama Sri sampai ke Jakarta mama Sri akan selalu bersama Sakti. Supaya sakti tak kesepian, dan mama akan selalu antar jemput sakti sekolah" Ucap Sri seraya memebelai kepala Sakti dengan lembut.
"Yang benar ya ma!" seru Sakti sembari mengulas senyumnya dengan riang.
"Iya mama Sri janji" Ucap Sri sembari menunjukkan jari kelingkingnya di depan Sakti dan Sakti juga menunjukkan jari kelinggingnya dan kemudian mereka saling mengaitkannya.
"Janji ya mama Sri!" seru Sakti seraya menatap Sri dengan wajah polosnya
"Janji" Ucap Sri yang kemudian mengulas senyum yang menyakinkan.
Sakti kemudian memeluk Sri dengan eratnya. Dan Sri menerima dan membalas pelukan Sakti dengan erat.
Suasana haru meliputi mereka, dan Bima ikut berjongkok mensejajarkan dirinya dengan putranya.
"Sakti, papa bangga padamu. Sekarang cium mama Sri!" Seru Bima dan Sakti mengikuti perintah papanya.
Sakti mencium pipi Sri dan Sri juga demikian. Terulaslah senyum diantara mereka.
"Jagoan papa, sini papa peluk!'' seru Bima yang kemudian Sakti memeluk papanya.
Tak berapa lama, Marlina beserta Sakti dan rombongannya meninggalkan rumah kedua orang tua Sri itu dengan mobil mereka masing - masing.
...~¥~...
...Mohon q para Readers untuk memberi like/komentar/favorite/rate 5/gift maupun votenya untuk novel MBAK JAMU NAIK LEVEL ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
__ADS_1
...BERSAMBUNG...
,