
Setelah masuk ke mobil, dan kemudian mobil bergerak pelan-pelan meninggalkan rumah Bima.
"Apa yang akan mas Bima lakukan setelah ini?" tanya Sri yang penasaran.
"Belum tahu. Kalau kita jual aset-aset Rafa serta koleksi kendaraanku, itu belum juga mencukupi untuk melunasi hutang saham Talina.
"Mas, bagaimana kalau kita jual saja pada Talina, kemudian kita pindah ke desa. Kita bangun dari nol, mulai dari home industri dulu. Bagaimana mas?" Usul Sri seraya menatap suaminya Bima.
"Kalau kita pindah ke desa, bagaimana dengan rumah dan aset-aset lainnya?" tanya Bima seraya menebarkan pandangannya ke setiap sudut rumah peninggalan orang tuanya.
"Sayang sih!" ucap Sri yang ikut menebarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan.
"Kita pikirkan lagi nanti, sekarang kita fokus dulu untuk pengajuan tujuh hari meninggalnya Mama dan Rafa!" ucap Bima yang mengingatkan Sri.
"Oiya mas, Sri mau bantu-bantu mbok Ni dulu!" ucap Sri yang kemudian melangkahkan kakinya ke dapur. Dan Bima mengulas senyum karena tingkah Sri.
"Jangan capek-caoek ya sayang, ingat kamu sedang hamil!" seru Bima yang masih duduk di tempatnya.
"Iya mas!" seru Sri yang sudah sampai di ruang tamu.
Tak berapa lama datanglah sebuah mobil yang membawa rombongan.
"Itu seperti mobilnya Karyo?" gumam dalam hati Bima yang melihat sebuah mobil yang berhenti didepan rumahnya.
Beberapa saat kemudian, penumpang mobil itu keluar dan melangkahkan kaki menghampiri Bima. Mereka adalah Sumilah dan para karyawannya.
"Assalamu'alaikum!" ucap salam Sumilah pada Bima.
"Wa'alaikumsalam! eh, mari masuk." balas Bima dengan ramah dan menyalami semua yang datang bertamu.
"Terima kasih" ucap Sumilah seraya membalas uluran tangan Bima.
Sumilah, Ratna, Karyo, Minah, mbok Darmi dan Bima masuk ke ruang tamu. Kemudian mereka duduk di kursi tamu dan mulai perbincangan mereka.
Tak berapa lama Sri dan mbok Ni datang dengan membawa nampan yang diatasnya terdapat air minuman yang telah dibuat dan juga makanan kecil.
"Eh, rupanya ada tamu!" ucap Sri seraya menghidangkan minuman dan makanan kecil itu bersama Mbok Ni.
"Iya, kedatangan kami kemari yang pertama itu silaturahmi, yang kedua mau menghadiri tujuh hari meninggalnya nyonya Marlina dan Mas Rafa serta yang ketiga kami minta bantuan pada kalian. Itu kalau kalian Sudi membantu kami terutama saya." ucap Sumilah yang mengawali pembicaraan mereka.
"Bantuan? apa yang bisa kami bantu Bu Lik?" tanya Sri yang penasaran, kemudian memposisikan dirinya duduk di samping Bima.
__ADS_1
"Sri, seminggu lagi Ratna mau bekerja ke Jepang, dan Bu Lik mau menikah dan menetap di kampung. Karena itulah kami butuh banyak biaya dan lagi suami Bu Lik melarang Bulik untuk bekerja lagi." ucap Sumilah seraya menatap Sri.
"Oh ya? selamat menempuh hidup baru ya Bu Lik!" ucap Sri sembari mengulas senyumnya.
"Makasih Sri, dan Bu Lik mau minta bantuan kamu." ucap Sumilah.
"Dari tadi minta bantuan, bantuan apa yang Bu Lik inginkan?" tanya Sri yang semakin penasaran.
"Bisakah kamu membeli usaha Bu Lik?" tanya Sumilah pelan namun bisa didengarkan oleh Sri dan yang lainnya.
"A...apa? membeli usaha yang bilik rintis?" tanya Sri yang sangat terkejut dengan ucapan dari Sumilah.
"Iya, sebetulnya mau Minah. Berhubung dana dan Minah tak punya kemampuan membuat jamu seperti kamu Sri." ucap Minah yang menyahut obrolan mereka.
"Sebentar, saya mau berdiskusi sama suami saya sebentar ya." pinta Sri seraya menatap Bima.
"Iya, silahkan!" ucap Sumilah, kemudian Sri dan Bima melangkahkan kakinya menuju ke kamar Sakti, dimana sakti sedang bermain dengan mainannya di dalam kamar.
"Mama, papa!" panggil Sakti, Sri dan Bima mengulas senyumnya.
"Mas, bagaimana menurut mas Bima?" tanya Sri yang menatap suaminya dengan penuh tanda tanya.
"Kita beli saja, kamu tadi kan bilang mulai dari nol lagi. Mas pikir kalau inilah saatnya mas akan mulai dari nol, tentunya dengan bantuan kamu sayang!" ucap Bima yang menatap istrinya.
"Iya, dan nanti mas akan cari bahan-bahannya serta akan memperluas jaringan pelanggannya." ucap Bima dengan semangat.
"Iya mas, dan satu lagi. Mas juga belajar buat jamu ya, nanti kalau Sri melahirkan siapa yang akan buat jamunya?" ucap Sri dan di iyakan oleh Bima.
"Jadi sepakat kita beli ya!" seru Bima.
"Iya mas!" ucap Sri. Dan mereka kemudian keluar dari kamar Sakti dan melangkahkan kaki kembali ke ruang tamu menemui Sumilah dan yang lainnya.
"Bagaimana Sri, dan Mas Bima? apa kalian setuju untuk membeli semua usaha saya?" tanya Sumilah yang penasaran.
Sri memandang Bima dan Bima menganggukkan kepalanya.
"Iya kami setuju untuk mengambil alih rumah jamu Sumilah!" ucap Sri.
"Alhamdulillah aku bisa ke Jepang!' seru Ratna dengan senangnya.
"Masalah harga jangan khawatir, kita sesuaikan dengan harga pada umumnya saja!" ucap Sumilah.
__ADS_1
"Terima kasih, saya dan Sri akan memulai usaha baru. Dan mungkin inilah jalan kami untuk memulai dari nol!" ucap Bima dan semuanya sama-sama berkata, "aamiin ya Robbal alaamiin."
Setelah dicapai kesepakatan, kemudian semuanya membantu Sri dan mbok ni untuk mempersiapkan acara pengajian tujuh hari meninggalnya Rafa dan juga Marlina.
...****...
Keesokan harinya, perusahaan yang dibangun oleh Bima dengan terpaksa Bima jual untuk menutup utang-utang perusahaan, dan Bima menjual aset Studio dan koleksi mobil dan sepeda motor milik Rafa dan bisa yang uangnya sebagian digunakan untuk membeli rumah jamu Sumilah dan sebagian lagi untuk modal usaha.
Usaha Jamu itu kemudian di beri nama Rumah Jamu Sri Bima yang dimana Sri yang membuat jamu, Bima mencari pemasok bahan-bahan jamu.
Aryo mau menjadi pemasok jahe, kunyit, asam Jawa dan yang lainnya dari hasil kebunnya.
Sementara, Minah dan para mbak jamu lainnya ikut bekerja menjajakan jamu buatan Sri ke pelanggan-pelanggan mereka.
Dan hasilnya semua menerima jamu buatan Sri, walaupun masih ada yang setia dengan buatan Sumilah.
Dua bulan usaha mereka di bangun, walaupun dengan terseok-seok. Bima sedikit demi sedikit belajar membuat jamu.
Tiba saatnya perut Sri yang merasakan sakit yang luar biasa.
"Mas punggung Sri sakit dan perut Ario serasa mulas sekali, apakah ini pertanda Sri mau melahirkan ya?" tanya Sri pada pagi hari saat keduanya bangun tidur.
"Sebaiknya kita ke dokter sekarang, ini kan waktunya lahir!" seru Bima yang bergegas ke kamar mandi dan kemudian mengganti pakaiannya. Demikian pula dengan Sri yang tertatih-tatih di bantu oleh Bima ke kamar mandi dan mengganti pakaiannya.
Keduanya melangkahkan kaki keluar dari kamar dan menuju ke ruang tamu.
"Mang Ujang!" panggil Bima pada Sopirnya.
"Iya tuan!" sahut mang Ujang, yang menghampiri Bima dan Sri. Demikian pula dengan mbok Ni yang melihat Sri dituntun oleh Bima.
"Mbok Ni, tolong jaga Sakti ya! Saya mau ke rumah sakit!' perintah Bima pada mbok Ni.
...~¥~...
...Mohon para Readers untuk memberi like/komentar/favorite/rate 5/gift maupun untuk novel MBAK JAMU NAIK LEVEL ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
__ADS_1
...BERSAMBUNG...