
Setelah membayar, keduanya melangkahkan kaki kembali menyusuri lorong rumah sakit dan menuju ke ruangan dimana bapak, ibu dan adiknya Sri berada.
"Tokk...tokk..tokk...!"
"Assalamu'alaikum..!" ucap sapa Sribsaatvberada di depan pintu ruangan dimana bapaknya dirawat.
"Wa'alaikumsalam.." jawab dari dalam ruangan rawat kelas 1 tersebut.
"Ibu dan adikku yang paling cantik, ini makanannya!" ucap Sri yang memberikan makanan yang tadi di belinya pada adiknya Martani.
"Terima kasih mbakku yang baik hati dan tidak sombong." balas Martani.
Kemudian keduanya makan bersama sedangkan Sri dan Bima menghampiri Pak Hardi yang terbaring di atas tempat tidur.
Tak berapa lama ada seorang dokter bersama seorang perawat, masuk untuk memeriksa kondisi pak Hardi.
"Permisi, ma'af saya cek kondisi pasien terlebih dahulu" ucap dokter laki-laki yang wajahnya lumayan tampan itu.
"Oiya silahkan" ucap Bima dan kemudian dia serta Sri menyingkir dan membiarkan dokter itu memeriksa Pak Hardi.
Beberapa menit kemudian pemeriksaan telah selesai, dan dokter tampan itu memberikan resep serta pesan-pesan pada Sri dan Bima.
"Pasien yang bernama Pak Hardi ini nanti sore bisa pulang, tapi masih harus ikut terapi yang diadakan di rumah sakit ini" ucap Dokter tampan itu.
"Jadi bapak bisa pulang ya dok?" tanya Sri yang belum percaya.
"Iya, pasien bisa pulang. Karena kondisinya sudah membaik" ucap dokter tampan itu.
Setelah itu dokter pergi meninggalkan Sri dan Bima.
"Bapak, Alhamdulillah kalau bapak sudah bisa pulang" ucap Sri yang kemudian memeluk bapaknya dengan erat.
"Putriku, cepatlah kamu menikah. Sebelum bapak pergi!" ucap lirih bapaknya Sri.
"Bapak, bicara apa sih? kamu akan menikah secepatnya dan bapak jangan khawatirkah" ucap Sri yang melepaskan pelukannya dan menatap bapaknya.
"Aku sehat ini karena ingin melihat putriku hidup bahagia. Sri, bapak ingin melihat kamu cepat menikah." ucap pak Hardi bapaknya Sri dengan lirih.
"Iya pak" ucap Sri untuk membuat perasaan lega dihati bapaknya.
"Nak Bima, saya titip putriku. Didik dan bimbinglah dia ke surganya Allah, bapak percaya padamu kalau kamu akan menjadi suami yang baik dan tepat untuk Sri." ucap bapaknya Sri.
__ADS_1
"In syaa Allah pak, saya berjanji akan menjadi suami yang baik dantepan untuk Sri dan membawanya dan anak-anak kami kelak ke surganya Allah." ucap Bima.
"Aamiin ya Robbal alaamiin.' ucap semuanya.
Beberapa jam kemudian, Bima melunasi administrasi di rumah sakit sebelum Bapaknya Sri pulang bersama dengan yang lainya.
Mereka kembali naik mobil mewah milik Bima, untuk pulang ke rumah orang tua Sri.
Sesampainya di rumah, mereka membahas pernikahan Sri dan Bima.
Aryo datang karena sekarang telah menjadi bagian dari keluarga Sri.
"Mas Aryo!' panggil sri yang terkejut pada saat melihat Aryo yang ada dihadapannya.
"Sri, ternyata kita tak berjodoh ya!" ucap Aryo yang sedikit kecewa.
"Iya mas, tapi mas Aryo menjadi adik Sri sekarang" ucap Sri dan mereka saling mengulas senyum karena tahu apa yang dimaksudkan oleh Sri.
"Sri, siapa dia?" tanya Bima yang menghampiri Sri, karena sedikit ada kecemburuan saat Sri berbicara dengan Aryo.
"Eh, mas Bima. Dia mas Aryo, laki-laki yang mau dijodohkan pada Sri tempo hari. Dan dia sekarang mengulurkan tangannya dan sekarang mereka saling berjabat tangan dan saling berpelukkan.
Tak berapa lama mereka membahas pernikahan Sri dan bima. Dan akhirnya di capailah suatu kesepakatan untuk menjadikan sepasang sejoli ini menjadi suami dan istri.
"Iya, dan saya sudah tahu itu. Saya tak permasalahkan status mas Bima yang duda beranak satu, saya hanya ingin meminta restu dari bapak dan ibu, serta Martani dan juga mas Aryo." ucap Sri.
Kedua orang tua Sri saling pandang dan akhirnya bapaknya Sri memberi penjelasan.
"Kami sebagai orang tua dari srimembebaskan Sri mau menikah sesuai pilihan kamu Sri" ucap Pahg
Satu bulan lagi mereka akan menikah, dan Bima kembali ke Jakarta untuk membereskan surat-surat yang di butuhkan dan juga perjuangannya merayu sang ibu untuk merestui pernikahan Bima dengan Sri.
Sementara Sri selain sibuk persiapan untuk pernikahan juga sibuk mengantarkan bapaknya terapi ke rumah sakit.
Dan saat ini bapaknya Sri sudah sembuh walaupun tidak seratus persen.
Hari bergantl hari, dirumah pak Hardi semuanya sibuk untuk mengurusi acara pernikahan itu sulung keluarga pak Hardi itu.
"Alhamdulillah., bapak sudah sembuh dan bisa bisa berjalan. Sehingga bisa melihat dan mendengarkan Sri menikah nanti" ucap Sri pada saat mereka bersantai menikmati cuaca sore hari hari yang sedang mendayu-dayu mengikuti alunan lagu dan musik dari tetangga yang sedang hajatan.
"Sri, kamu itu seharusnya jangan keluar rumah. Karena kamu seharusnya melakukan ritual pingit dan puasa." ucap Bu Parni ibunda Zulaika.
__ADS_1
"Oiya Bu, besok saja ya. karena hari ini Sri kan tidak puasa" ucap Sri yang menatap ibunya dan juga pak Hardi bapak Sri dan Martani.
"Iya yang penting kamu puasa dan jangan keluar rumah ya!" seru Ibunda Sri.
"iya Bu," ucap Sri dan hari-hari yang di jalani oleh sri hanya di dalam rumah puasa dan luluran, yang menurut cerita biar nanti ketika di pelaminan bisa manglingi, membuat orang terkesima/terpesona pada si pengantin wanita.
Hari pernikahan kurang delapan hari, dirumah orang tua Sri sudah banyak para tetangga yang rewang.
Ada yang menggoreng, menanak nasi, sampai yang melipat kardus.
Karena tradisi siangnya ater-ater dan malamnya Rubukan.
Rubukan adalah acaravseminggu sebelum hari pernikahan, dimana mengumpulkan warga baik bapak-bapak, ibu-ibu dan pemuda-pemudi.
Di dalam acara rubukan itu dibentuklah tugas tiap warganya demi terlaksananya acara pernikahan.
Untuk para pemuda, biasanya diberi tugas membagikan surat undangan atau Ulem ke sanak saudara dari yang punya hajatan maupun pengantin.
Di desa semua dilakukan dengan gotong royong, bapak-bapak sibuk membuat kajang atau rumah-rumahan untuk para tamu dan ibu-ibu sibuk memasak di dapur.
"Saya tidak mengira kalau Sri pulang dan dapat jodoh orang kaya!" ucap para tetangga pada saat rewang.
"Alhamdulillah tho, masih ingat kampung halaman. He..he..!" ucap tetangga yang lainnya.
Walaupun sibuk dengan pekerjaan masing-masing para warga kompak dan bekerja dengan diselingi canda dan tawa.
Dan tibalah satu hari sebelum hari pernikahan, keluarga dari Bima sudah datang dari Jakarta. Mereka adalah keluarga daridi tempatkan di rumah saudara Sri yang ditinggalkan pemiliknya merantau.
Mereka datang sebelum hari pernikahan, karena mengikuti proses midodareni atau pengharib-harib.
...~¥~...
...Mohon dukungan para Readers untuk memberi like/komentar/favorite/rate 5/gift maupun votenya untuk novel MBAK JAMU NAIK LEVEL ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...BERSAMBUNG...
__ADS_1
,