
Bu Karti melangkahkan kakinya meninggalkan Sri, dan Sri kembali melayani pembeli satu persatu dan tak terasa hari sudah menjelang siang.
Jamu yang Sri bawa masih lumayan banyak, tiba-tiba perut Sri keroncongan. Sri kemudian memakan dengan lahap bekal yang tadi dibelikan oleh ibu Karti.
"Sepertinya aku harus pulang dulu, karena aku khawatir cita rasa jamu akan berkurang." gumam dalam hati Sri yang kemudian mempercepat makannya.
Setelah selesai makan, Sri melayani satu sampai dua orang pelanggan. Dan setelah itu dia mendorong gerobaknya melangkah keluar dari pasar.
Sepanjang jalan dia melihat-lihat kanan dan kiri untuk menghafalkan jalan yang menuju ke kontrakan Bu Karti.
Pada saat hendak mendorong gerobak jamunya ke jalan dimana kemarin terjadi kecelakaan antara mobil Bima yang dikendarai Mang Ujang dengan Gerobak dorong Bu Karti, Sri melihat sosok anak kecil dan dua orang laki-laki yang dia kenali.
"Sa...sakti, dia bersama mang Ujang dan siapa? apa, Rafa! Gawat, jika Rafa tahu aku di sini?" gumam Sri dalam hati.
Ah, sebaiknya aku mampir ke rumah pak RT. Iya aku ke sana saja, walaupun penampilanku berubah siapa tahu mereka masih mengenaliku. Terutama dengan sakti!" gumam dalam hati Sri yang mempercepat langkahnya menuju ke rumah pak RT.
Sesampainya di rumah pak RT, nampak pak RT berada di teras dan sedang bersantai dengan ditemani secangkir kopi dan juga makanan ringan.
"Lho, apa ada yang masih rusak nak Sri?" tanya pak RT yang terkejut atas kedatangan Sri dengan gerobak dorongnya.
"Tidak pak, sudah bagus kok!" jawab Sri sembari memberhentikan gerobak dorong itu.
"Lantas kenapa nak?" tanya pak RT itu dengan penasaran.
"Begini pak, saya mau supaya bapak mengganti cat-cat pada gerobak dorong ini. Tujuannya supaya bisa ganti suasana dan bisa menarik perhatian para pelanggan!" jawab Sri yang menunjukkan bagian-bagian cat di gerobak itu yang terkelupas.
"Baiklah nak, akan saya cat gerobaknya. Kebetulan bapak masih punya cat kayu, dan masih bisa untuk digunakan." Ucap pak RT itu. Sri mengangguk dan mengulas senyumnya.
Pak RT itu kemudian masuk ke rumah dan mengambil beberapa peralatan untuk mengecatnya.
Sementara itu Sri menurunkan botol dan jerigen-jerigennya, seraya melihat ke arah dimana Sakti, mang Ujang dan juga Rafa yang berada di tepi jalan. Mereka nampak kebingungan.
Situasi dimana Rafa kesal dan memarahi mang Ujang.
__ADS_1
"Mang Ujang! kenapa juga kamu tinggalin nyonya kami di sini? kalau dia kenapa-kenapa bagaimana!" seru Rafa yang dengan berkacak pinggang mondar-mandir di sekitar tempat itu.
"Ma'af tuan!" ucap Mang Ujang
"Ma'af kemarin karena nyonya yang menyuruh saya untuk segera menjemput mas Sakti." lanjut mang Ujang yang memberi alasan pada putra majikannya itu.
"Aaaghh, kamu kan bisa telepon gurunya Sakti untuk menahan sakti dulu? Dan kamu tega meninggalkan nyoya kamu dengan orang-orang yang tidak dia kenal!" seru Rafa yang marah-marah pada Mang Ujang.
"Ma'af, ma'afkan saya tuan. Saya juga tidak tahu akan jadi seperti ini!" ucap Mang Ujang seraya menundukkan kepalanya.
"Sudah Om, om jangan marahin mang Ujang! kalau saja om tidak jahat sama mama Ci, mama Ci mungkin masih bersama Sakti sampai saat ini!" ucap Sakti yang diantara Isak tangisnya.
Baru di tinggal sehari oleh Sri, bocah kecil itu merasakan kangen yang luar biasa.
"Mama Ci, mama Ci dimana kamu? Sakti kangen mama Ci!'" Isak tangis Sakti dan Rafa menghela nafasnya yang kemudian dia menghampiri Sakti dan membelai Bocah kecil itu.
"Apa tidak ada yang punya nomor teleponnya?" tanya Rafa pada mang Ujang.
"Ma'af tuan, kemarin memang nyonya membeli ponselnya bersama saya, tapi saya belum sempat save nomor nyonya. Kalau di ponsel nyonya kemarin sudah saya save nomor-nomor kita semuanya." balas Mang Ujang.
"Sudah-sudahlah, sebaiknya kita kembali pulang saja! mungkin saja dia sudah sampai di kampungnya!" seru Rafa yang menuntun Sakti mendekati mobil dan membuka pintu nya.
Sakti pun naik dan demikian pula dengan Rafa, sementara mang Ujang juga demikian.
Mang Ujang menyalakan mobil dan kemudian melakukannya kembali menyusuri jalan raya, yang mengarah ke kediaman mereka.
Sementara itu Sri, yang berada di rumah pak RT, melihat aktifitas pak RT yang mengecat gerobak dorong jamu Bu Karti.
"Nak Sri, di minum dan dimakan dulu teh sama kuenya!" seru wanita paruh baya yang tak lain istri dari pak RT.
"Oiya, terima kasih." ucap Sri sambil mengulas senyumnya dan di temani sama Bu RT, mereka saling berbincang-bincang seraya memperhatikan pak RT yang mengecat gerobak dorong jamu Bu Karti.
Tak berapa lama pak RT telah menyelesaikan mengecatnya dan membiarkan gerobak itu di bawah terik matahari.
__ADS_1
Sambil menunggu catnya kering, mereka bertiga saling bertukar cerita. Dan Sri memanfaatkan untuk bertanya tentang lokasi-lokasi yang strategis untuk berjualan di sekitar kontrakan Bu Karti.
Matahari bergulir ke barat, dan cat pada gerobak dorong itu sudah mengering. Sri dibantu pak RT dan Bu RT memasang kembali botol dan jerigen yang sudah kosong serta masih ada isinya ke dalam dan juga ke atas gerobak dorong tersebut.
"Pak RT, ini ada sedikit buat beli cat lagi untuk bapak. Terima kasih pak, gerobaknya nampak baru lagi!' ucap Sri seraya memberikan beberapa lembar uang pada pak RT.
"Apa ini? makasih lho nak Sri. Catnya kan hanya cat sisa saja." ucap pak RT sembari menatap ke arah Sri.
"Nggak apa-apa yang penting gerobaknya sudah ganti baju! he...he...!' ucap Sri dan semuanya tertawa.
"Assalamu'alaikum!" ucap salam pamit Sri yang diiringi dengan mengulurkan tangannya pada pak RT dan juga Bu RT.
"Wa'alaikumsalam, hati-hati ya nak Sri!" balas kedua suami istri itu seraya melambaikan tangan kanan mereka ke atas.
"Iya." jawab Sri seraya menganggukkan kepala dan mengulas senyumnya.
Sri kembali mendorong gerobak dorong yang telah di cat itu menuju ke kontrakan Bu Karti.
Lumayan lama juga Sri mendorong gerobak tersebut dan pada akhirnya dia sudah sampai di kontrakan Bu Karti.
Sri segera membuka pintu kontrakan dan kemudiang memasukkan botol-botol serta jerigen-jerigen yang ada di atas dan di gerobak dorong tersebut.
Sri menuang jamu yang masih ada ke dalam panci-panci yang sesuai dengan jamu tersebut. Setelah itu Sri merebus satu persatu panci yang berisikan jamu itu.
Setelah selesai, Sri menutup pintu dan mengunci pintu depan rumah. Kemudian Sri melangkahkan kakinya menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan berwudlu.
...~¥~...
...Mohon para Readers untuk memberi like/komentar/favorite/rate 5/gift maupun votenya untuk novel MBAK JAMU NAIK LEVEL ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
__ADS_1
...Terima kasih...
...BERSAMBUNG...