Mbak Jamu Naik Level

Mbak Jamu Naik Level
Melanjutkan Perjalanan Wisata


__ADS_3

Dan tak berapa lama pesanan mereka datang juga. Nasi putih, sup Iga dan juga Susu jahe panas sudah dihidangkan oleh pelayan restoran tepat dihadapan mereka.


"Ayo makan Sayang" Ajak Bima yang sudah tak sabar memakannya.


"Iya, mas. Berdoa dulu" ucap Sri yang mengingatkan.


Dan mereka makan - makanan yang ada dihadapan mereka, namun sebelumnya mereka berdoa terlebih dahulu.


Kemudian mereka menyelesaikan sarapan mereka, dan sedikit berbincang - bincang tentang tempat lokasi yang akan dituju esok hari.


"Kita akan kemana ya mas?" tanya Sri yang penasaran.


"Candi Cetho, bagus sepertinya pemandangannya" jawab Bima seraya menunjukan foto berikut artikel tentang Candi Cetho.


"Asal usul dari nama candi yang berdiri di atas ketinggian 1496 mdpl ini, diambil dari nama desa yang menjadi tempat berdirinya bangunan tersebut, yaitu Desa Cetho. Kata “Cetho” sendiri berasal dari bahasa Jawa yang artinya “Terlihat dengan jelas”":Ucap Sri yang membacakan artikel yang dia baca di ponselnya, dan Bima mendengarkannya.


"Kenapa bisa dinamakan Desa Ceto?” tanya Bima penasaran.


"Karena di desa ini, siapapun akan dapat melihat dengan jelas keindahan pemandangan yang terhampar di bawahnya dan di kejauhan berupa hamparan Perkebunan Teh Kemuning yang hijau, persawahan milik penduduk setempat dan pemandangan indah berlatarbelakangkan Gunung Merapi, Gunung Merbabu, Gunung Sumbing, Punggung Gunung Lawu dan sejumlah perbukitan serta anak gunung lainnya." jawab Sri yang kemudian kembali membaca artikel tersebut.


"Pemandangan yang indah dengan udara sejuk khas daerah pegunungan inilah yang bakal membuat betah wisatawan untuk berlama-lama di tempat ini. Apalagi lingkungan di kawasan kompleks candi juga menghadirkan panorama yang instagenic, membuat banyak spot yang menarik untuk dijadikan latar belakang foto."Ucap Sri.


"Selain keindahan panorama yang disajikan, misteri yang menyelimuti kawasan kompleks candi serta mitos-mitos yang berkembang di tengah-tengah masyarakat juga menjadi daya tarik tersendiri. Hal tersebut tidak lepas dari keberadaan candi yang hingga kini masih dimanfaatkan sebagai tempat ibadah dan tempat berziarah oleh Umat Hindu, digunakan untuk tempat bertapa atau bersemedi oleh penganut aliran kepercayaan, serta dipakai untuk menggelar upacara rutin setiap tanggal 1 Syuro serta setiap 6 bulan sekali pada peringatan Wuku Medangsia." Lanjut ucap Sri yang masih membaca artikel Candi Cetho.


"Berbagai aktifitas spiritual tersebut dilakukan di kompleks wisata, karena candi ini konon dibangun dengan tujuan untuk dipakai sebagai tempat Upacara Ruwatan, yaitu upacara adat untuk penyucian diri dari kehinaan disebabkan karena penyakit, perbudakan, kutukan, kesengsaraan hidup serta lainnya. Jadi misteri yang menyelimuti kawasan ini tidak ada kaitannya dengan cerita hantu, melainkan lebih kepada suasana magis yang dipancarkan oleh aura bangunan." lanjut Sri.


"Jadi semacam tempat sembahyang ya?" ucap Bima.

__ADS_1


"Iya, dan karena terletak di kaki Gunung Lawu, membuat Cetho juga kerap dikunjungi para pendaki, karena tidak jauh dari kompleks candi terdapat basecamp bagi para pendaki yang ingin menuju ke Puncak Gunung Lawu. Jalur dan map menuju Puncak Lawu via Cetho ini memang lebih jauh, yang mana memiliki jarak sekitar 10 km. Jika dibandingkan dengan jalur Cemoro Sewu dan Cemoro Kandang yang hanya berjarak sekitar 6 km. Namun bagi pendaki yang ingin menikmati suasana yang berbeda, jalur Cetho ini kerap dijadikan sebagai pilihan." Jawab Sri.


"Diantara berbagai aktifitas menarik yang dapat dilakukan di kompleks wisata, aktifitas utama yang tidak boleh dilewatkan adalah belajar tentang sejarah masa lalu lewat relief-relief, arca-arca, ornamen-ornamen dan berbagai hal yang menyelimuti bangunan." Ucap Sri yang melanjutkan membaca artikelnya.


'Trus?" tanya Bima seraya meminum susu jahenya.


"Teras di Candi Cetho berjumlah tujuh buah teras yang melambangkan kehidupan manusia, yang dalam kepercayaan Hindu memiliki tujuh tingkatan. Ketujuh tingkatan tersebut meliputi Bhurloka, Bhuvarloka, Svarloka, Caturloka serta Janaloka, Tapaloka dan Saptaloka." lanjut Sri.


"Antara teras yang satu dengan yang lain dihubungkan oleh dua jalan dan satu pintu masuk. Teras terendah melambangkan derajat manusia yang masih rendah karena dikuasai oleh hawa nafsu sedang teras tertinggi dianggap suci dan paling penting karena melambangkan manusia yang sudah terbebas dari hawa nafsu sehingga dapat terlepas dari hukum karma." Ucap Sri yang berhenti sebentar untuk minum, minumannya.


"Pada pintu gerbang sebelah Timur, dapat dijumpai gapura berhiaskan arca batu bernama Arca Nyai Gemang Arum, pada sisi Selatan teras pertama terdapat bangunan tanpa dinding atau hanya pondasi dengan ketinggian 2 meter. Di dalamnya terdapat susunan batu-batu dan bekas sesajian yang menandakan kalau tempat ini masih digunakan sebagai tempat berziarah dan pemujaan.' lanjut Sri yang membaca artikel tersebut.


"Di dalam kompleks bangunan, pengunjung juga dapat menjumpai beberapa arca yang sebagian besar kondisinya sudah tidak utuh lagi serta relief-relief yang mengusung kisah Sudamala dan Garudeya. Kisah tersebut mengandung makna tentang semangat manusia untuk dapat membebaskan diri dari malapetaka yang dialaminya."Ucap Sri.


"Apakah ada pantangan atau larangannya? " Tanya Bima yang penasaran.


"Tunggu apa lagi, ayo kita kesana!" ajak Bima yang penasaran dengan tempat wisata itu.


"Iya, oiya sebaiknya kita pakai jaket yang lebih tebal mas. Karena hawa disana lebih dingin dari pada di hotel ini" Ucap Sri yang memberitahukan.


"Oh, ok!" jawab Bima yang kemudian bangkit dari duduknya dan memanggil pelayan restoran.


"Pelayan!" teriak Bima, dan pelayang yang tadi melayani Bima dan Sri datang menghampiri keduanya.


"Ada yang bisa saya bantu?" tanya pelayan itu.


"Berapa makanan dan minuman yang kami pesan ini" jawab Bima dan pelayan itu segera menghitung dan memberitahukan pada Bima.

__ADS_1


Setelah membayarnya, Bima dan Sri. melangkahkan kakinya kembali ke kamar dan mempersiapkan sedala sesuatu untuk pergi jalan-jalannya.


Bima menyewa sepeda motor yang disediakan hotel tersebut. Namun sebelumnya karyawan hotel memperingati Bima untuk berhati - hati, karena perjalanan ke Candi Cetho berliku dan menanjak.


Setelah itu Bima menyewa sepeda motor untuk perjalanan mereka yang tentunya akan menegangkan, karena jalannya menanjak.


Dan perjalanan mereka dengan sepeda motor pun dimulai. Dengan kecepatan sedang, Bima mengendarai sepeda motor tersebut meninggalkan hotel.


Dan benar seperti yang dijelaskan karyawan hotel, kalau perjalanan ke Candi Ceto sangat menanjak dan berliku. Namun menjadi tantangan tersendiri bagi Bima dan juga Sri.


Tak lama kemudian mereka telah sampai di depan kawasan Candi Cetho. Dan usaha tak menghianati hasil, terbayar sudah kesulitan dan kelelahan pada saat berangkat tadi..


Mereka disuguhkan pemandangan yang begitu menakjubkan.


...~¥~...


...Mohon para Readers untuk memberi like/komentar/favorite/rate 5/gift maupun votenya untuk novel MBAK JAMU NAIK LEVEL ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...


...BERSAMBUNG...


,

__ADS_1


__ADS_2