
"Bang beli beras 25kg, gula pasir 2kg, gula Jawa satu kg, terigu yang kemasan dua bungkus, sama telur dua kilo dan juga minyak goreng dua liter" pesan Sri pada pedagang sembako itu.
"Cukupkah belanjaan ini buat satu bulan?" tanya Rafa yang melihat belanjaan mereka.
...💗💗HAPPY READING💗💗...
"Cukup nggak cukup ya di cukup-cukupin mas" jawab Sri yang mengulas senyum.
Kini Rafa dan Sri sudah membawa semua barang belanjaannya, dan melangkahkan kaki menuju ke mobil sport yang terparkir diantara mobil pick up dan mobil lainnya yang kelasnya di bawah mobil sport milik Rafa.
Mereka melaju menuju ke tempat apartemen dimana Sri saat ini tinggal.
Setelah memarkirkan mobil, mereka segera turun dan mengambil semua belanjaan.
Kemudian mereka melangkahkan kaki menuju ke apartemen Rafa.
Tak berapa lama mereka telah sampai di depan apartemen dan mereka masuk ke Apartemen itu.
Sri kemudian memasukan semua sayuran ke lemari es, sedangkan Rafa mendapat telepon dari mamanya dan Sri tak sengaja memperhatikan perbincangan Rafa saat menerima telepon.
"Apa yang mama mas Rafa bicarakan?" tanya dalam hati Sri yang merasa akan terjadi sesuatu.
Selesai menerima telepon itu, Rafa menghampiri Sri dan berpamitan untuk pulang.
"Cherr, mas Rafa pamit mau pulang ya!" ucap pamit Rafa.
"Oh iya mas, mas kapan nikahi Sri?" tanya Sri yang sangat berharap.
"Belum tahu, aku harus minta restu mamaku dulu!" ucap Rafa uang sebetulnya sangat khawatir.
"Baiklah demi restu orang tua, Cherry mau menunggu sampai hubungan kita direstui mama, kalau kedua orang tua Sri pastinya akan setuju dan paham" ucap Sri yang mengulas senyumnya, namun dalam hati sampai kapan Restu itu akan di peroleh.
"Mas Rafa pulang ya Cher" pamit Rafa yang memegang tangan Sri.
"Iya mas, hati-hati dan beri kabar kalau sudah sampai di rumah ya!" pesan Sri.
"Iya sayang, bolehkah mas Rafa mengecup kening kamu sayang?" pinta Rafa.
Sri mengangguk karena yakin kalau Rafa akan menikahinya.
Bak kucing yang mendapat ikan asin, Rafa mencium kening Rafa dengan lembut.
Sri tak menyadari kalau malam ini adalah pertemuan terakhirnya dengan Rafa.
Sri dan Rafa melangkahkan kaki sampai di depan pintu,
"Assalamu'alaikum Cherr..!' ucap salam pamit Rafa sambil melambaikan tangannya.
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam hati-hati ya mas!" jawab Sri seraya membalas lambaian tangan Rafa.
Rafa perlahan meninggalkan Sri, dan Sri menunggu sampai Rafa masuk lift baru Sri masuk ke apartemen.
Sri masuk dan mengunci apartemennya, kemudian dia melangkahkan kaki menuju ke dapur untuk memasak.
Sementara itu Rafa terus melajukan mobilnya hingga tak terasa sampai di depan rumah kedua orang tua Rafa dan Bima.
Sesampainya di rumah, ternyata sudah banyak keluarga dan kerabat yang berkumpul dan mereka berpakaian rapi dan kebanyakan memakai baju kebayak dan batik yang rata-rata sarimbitan atau couplean.
RaFa sangatlah terkejut melihat hal itu, dia mencari kakaknya Bima dan bertanya tentang apa yang terjadi di rumah mereka.
"Kak Bima, apa yang terjadi?" tanya Rafa yang bingung sembari melihat kesekitarnya.
"Kamu cepat berganti pakaian Tuxido, ijab kabul kamu di percepat.!" jawab Bima yang sudah memakai stelan jas berwena hitam dan dia melangkahkan kakinya mencari keberadaan Sakti putranya.
"A..apa di percepat? aku nggak mau!"" seru Rafa yang kesal.
"Mau tak mau kamu harus mau Rafa! Ayah Talina mendadak sakit dan kalian harus menikah di rumah sakit sekarang ini juga!" jawab Bima yang sebetulnya merasa kasihan pada adiknya, tapi bagaimana lagi, ini karena amanat kedua orang tuan yang ada janji di masa lalu,
Rafa terdiam merenungkan apa yang terjadi padanya nanti dan bagaimana dengan Sri.
"Kamu kenapa Rafa?" tanya Bima yang penasaran.
"Mas boleh bicara sebentar?" tanya Rafa sembari melihat ke sekitarnya.
Dan saat ini mereka sudah berada di depan pintu kamar Rafa,dan mereka bergegas masuk dan mengunci pintu kamar tersebut.
"Mas, apa menikahnya nggak bisa diundur?" tanya Rafa yang saat ini sedang kacau.
"Tidak bisa, ini karena kita semua khawatir jika papa Talina tidak ada kesempatan lagi untuk meminta restu."jelas Bima seraya memandang Rafa dengan penasaran.
Rafa duduk di sofanya dengan kesal, dia mengusap wajahnya secara kasar.
Tiba-tiba dia berlutut di depan kakaknya, dan mulai meracau.
"Ma'afkan Rafa kak! Rafa khilaf, Rafa khilaf!" racau Rafa diantara Isak tangisnya.
Bima berusaha membuat Rafa bangkit dan mengajaknya untuk duduk kembali di sofa.
"Kamu kenapa Fa? nggak biasa-biasanya kamu seperti ini?" tanya Bima yang penasaran.
"Rafa tahu kalau mas Bima menyukai Cherry maksud aku Sri sejak lama" kata Rafa yang berusaha mengatur nafasnya.
"Iya terus kenapa?" tanya Bima yang penasaran.
"Rafa juga menyukainya, dan Sri menyukai Rafa juga" jawab Rafa yang terbata-bata
__ADS_1
"Sri menyukaimu?" tanya Bima yang sangat kecewa, ternyata gadis pujaannya menyukai adiknya bukan dirinya.
"Iya, Sri saat ini berada di apartemen dan semalam aku tidak pulang karena diajak party sama teman-teman Rafa." ucap Rafa dengan hati-hati.
"Iya terus?" tanya Bima yang penasaran dan terus menatap adiknya dengan mengernyitkan kedua alisnya.
"Aku mabuk, dan sama teman Rafa, Rafa dinawa pulang ke Apartemen. Dan kakak tahukan Sri disana sedang tidur dan Rafa dalam keadaan mabuk. Rafa khilaf, Rafa....!" nafas Rafa sesak tak bisa berkata-kata lagi dan Rafa berusaha mengatur nafasnya kembali.
"Kamu khilaf? apa kamu berbuat sesuatu sama Sri? katakan Rafa...katakan!" seru Bima yang sangat terkejut dengan ucapan dari adiknya Rafa.
"Iya, Rafa memaksanya semalam" ucap Rafa lirih seraya menganggukkan kepalanya perlahan.
Wajah Bima seketika itu juga memerah karena marah.
"Kalau tak ingat hari ini kamu berjuang memenuhi amanat Papa, aku akan buat kedua pipimu itu Fa!" seru Bima dengan geram dan kesal.
"Ma'afkan aku mas!" racau Rafa sembari memeluk kaki kakaknya dengan erat.
Bima menghela nafasnya dengan panjang dan mengusap wajahnya dengan kasar.
"Sekarang kamu tetap jalankan amanat Papa, masalah Sri biar aku yang tangani" ucap Bima yang sedikit tenang.
"Tapi mas?" tanya Rafa yang masih bingung.
"Sudah, percayakan sama mas kamu ini. Sekarang cepat cuci muka atau mandi sana dan ganti baju kamu. Semua sudah menunggu kamu dari tadi!" ucap Bima yang mengingatkan adiknya.
"I..iya mas!" balas Rafa yang kemudian bangkit dari duduknya berlututnya dan melangkahkan kakinya menuju ke kamar mandi.
Setelah selesai mandi dan mengganti pakaiannya, Rafa mulai berhias tipis agar wajahnya tak terlihat pucat.
"Mas Bima mau apa selanjutnya?" tanya Rafa saat sudah siap untuk berangkat ke rumah sakit dimana Papanya Talina di rawat.
"Belum mas pikirkan, sekarang ayo kita berangkat" ajak Bima dan Mereka melangkahkan kakinya keluar dari kamar dan bergabung dengan yang lainnya di ruang tamu.
...~Â¥~...
...Mohon dukungan para Readers untuk memberi like/komentar/favorite/rate 5/gift maupun votenya untuk Novel MBAK JAMU NAIK LEVEL ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...BERSAMBUNG...
"
__ADS_1