
"Mas..!" panggil Sri yang tak dihiraukan oleh Bima yang terus memainkan satu persatu gundukan kembar Sri bak permen lollipop.
"Mas..!" panggil Sri sekali lagi yang masih tak dihiraukan oleh Bima.
Suami Sri itu menikmati aksinya, dan terdengar Sri kembali memanggil suaminya.
"Mas, mas Bima..!" panggil Sri dan Bima tetap tak menghiraukannya, dia melanjutkan ciumannya dengan kembali memainkan bibir istrinya dan tangannya bermain di dua gundukan kembar istrinya.
"Mas Bima...!" panggil Sri yang kali ini dengan menepuk bahu bagian belakang Bima.
...ðŸ’ðŸ’ðŸ’ðŸ’...
"Mas Bima!" panggil Sri yang terus menepuk bahu Bima suaminya yang tampak aneh cara memeluk guling menurut Sri.
Kali ini Bima merasakan nyata tepukan dan suara istrinya dan perlahan dirinya membuka kedua matanya dan mengingat apa yang telah terjadi.
"Mas, mas Bima tidak apa - apa kan?" tanya Sri saat melihat Bima yang telah bangun dari tidurnya dan memposisikan dirinya untuk duduk.
Sri kemudian mensejajarkan dirinya dengan posisi duduk pula d samping suaminya.
"Ma'af sayang, apa akubsedang bermimpi ya?" tanya Bima yang berkali - kali mengusap wajahnya dengan kasar.
"Iya, mas Bima sedang bermimpi. Sampai - sampai melu gulingnya begitu? mas mimpi apabsih?" tanya Sri yang penasaran.
"Mimpiin kamu Sri" kata dalam hati Bima yang tak berani dia ucapkan.
Sri kemudian mengambilkan satu gelas air putih yang selalu dia sediakan di meja samping tempat tidurnya.
"Mas Bima minum dulu biar tenang" Ucap Sri seraya menyodorkan air putih itu pada suaminya, dan Bima menerima air putih dari tangan Sri.
Bima kemudian meminum air putih pemberian istrinya itu, dan dia merasakan kelegaan di bagian tenggorokannya.
"Terima kasih sayang" Ucap Bima seraya memberikan gelas kosong itu pada Sri, dan Sri menerimanya kemudian meletakkannya pada tempatnya.
"Mas, tidur lagi. Masih malam, baru jam dua belas malam" Ucap Sri seraya membenarkan posisi selimut mereka.
"Iya, kamu juga tidur ya." pinta Bima dan Sri mengulas senyumnya.
"Iya mas" jawab Sri yang kemudian memposisikan dirinya kembali berbaring.
Bima memandang Sri dan kemudian mencium kening pujaan hatinya itu.
Dan keduanya kembali memejamkan mata mereka dan masuk ke dalam mimpi mereka.
Beberapa jam kemudian Adzan subuh telah berkumandang di setiap masjid di tiap-tiap desa di kampung halaman Sri.
__ADS_1
Banyak warga terutama laki-laki yang berbondong-bondong memenuhi masjid - masjid di tiap kampung mereka.
Demikian pula dengan Bima yang sudah bangun dan bersama mertuanya melangkahkan kaki ke Masjid.
Sementara Sri dan ibundanya menunaikan sholat Subuh di rumah dan setelah itu mereka memasak.
Sri memasak untuk sarapan sekaligus untuk bekal dia nanti dalam perjalanannya berlibur nanti.
Setelah memasak, Sri menyapu selurxh Danuh rumah dan halaman depan rumah.
"Sri, Sri..!" panggil ibunya Sri yang keluar rumah dan mencari keberadaan putri sulungnya Sri.
"Ada apa Bu?" tanya Sri yang sedang menyalakan api untuk membakar sampah yang menggunung.
"Kenapa Bapak dan suami kamu belum juga datang ya Sri? Seharusnya mereka sudah pulang sedari tadi?" tanya ibunya Sri yang di bahu sebelah kanannya ada serbet, karena ibunya Sri baru saja mencuci piring dan menyiapkan piring - piring untuk tempat sarapan mereka.
Baru saja ibunya Sri berhenti bicara, pak Hardi dan Bima masuk ke pekarangan mereka.
"Itu bapak dan mas Bima Bu." jawab Sri yang melihat ke arah Pak Hardi dan juga Bima yang melangkahkan kaki menghampiri mereka.
"Assalamu'alaikum?" Ucap salam Bima dan pak Hardi yang hampir bersamaan.
"Wa'alaikumsalam" jawab Sri dan juga ibunya yang hampir bersamaan.
"Hei ada apa nih, kenapa pada kumpul di halaman?" tanya pak Hardi pada saat sudah berada di depan Sri dan ibunya Sri.
"Oh, tadi jalan - jalan sebentar sama nak Bima. Kita sempat lihat dan bantu Aryo yang memanen sayuran dan dia bawa ke pasar tadi" jawab Bapaknya Sri.
"Mas Bima bisa bantu memanen sayuran?" tanya Sri yang penasaran.
"Hanya bantu angkat sayuran saja, kan ringan. Sepertinya lebih berat angkat kamu yang! he..he..!" goda Bima seraya mencubit pipi kiri istrinya.
"Aagh mas Bima sakit!" seru Sri seraya memegang pipi kirinya dengan telapak tangan kirinya.
"Sini mas obatin!" balas Bima seraya mendekatkan wajahnya pada Sri.
"Apa sih mas? kan malu sama bapak dan ibu!" seru Sri yang wajahnya memerah mana kala melihat kedua orang tuanya yang menggelengkan kepalanya sembari tersenyum.
"Kalau begitu ke kamar yuk!" ajak Bima yang kemudian menarik tangan kiri istrinya dan masuk ke dalam rumah.
"Mereka seperti waktu kita muda ya pak!" ucap Ibunya Sri sembari mengulas senyumnya.
Dan pada akhirnya semua masuk ke rumah meninggalkan api yang membakar sampah, yang kini telah padam.
Setelah semuanya mandi dan mengganti pakaian, mereka sarapan bersama.
__ADS_1
Sri menata piring dan meletakkan satu - persatu piring dihadapan keluarganya.
Kemudian ibunda Sri mengambilkan nasi, dan sayur beserta lauk - pauknya untuk pak Hardi suaminya setelah itu mengambil nasi, sayur dan lauk - pauk untuknya sendiri.
Sedangkan Sri mengambilkan nasi dan sayur beserta lauk - pauknya pada Bima suami Sri, setelah itu Sri mengambil nasi, sayur dan lauk pauk untuk dirinya sendiri.
Dan sarapan dimulai setelah mereka berdo'a bersama.
"Jadi kalian berliburnya?" tanya pak Hardi, bapaknya Sri yang menyelesaikan sarapannya.
"Iya pak, nanti sekalian balik ke Jakarta " Jawab Bima saat mereka telah selesai sarapan.
"Kemana saja tujuan kalian?" tanya Ibunya Sri yang penasaran.
"Rencananya sih ke Karanganyar Bu" jawab Sri seraya menumpuk piring kotor yang habis buat tempat mereka sarapan.
"Disana dingin, cocok buat pengantin baru" goda pak Hardi sambil tersenyum.
"Ah bapak bisa saja!" ucap Bima yang melirik ke arah Sri. Dan Sri membalas dengan senyuman.
Selesai mencuci piring, Sri dan Bima berpamitan untuk pegi berlibur dan sekalian berangkat ke Jakarta.
"Bapak dan Ibu, Bima dan Sri berangkat ya!" ucap pamit Sri saraya mencium punggung tangan kanan satu - persatu mencium punggung tangan kanan bapak dan ibunya.
Demikian pula dengan Bima yang juga mencium punggung tangan mertuanya.
"Assalamu'alaikum" Salam pamit Bima dan Sri yang bersamaan.
"Wa'alaikumsalam" balasan dari kedua orang tua Sri.
Sri dan Bima masuk ke mobil, dan Bima mengemudikannya pelan - pelan keluar dari halaman rumah keluarga Sri, diiringi lambaian tangan kedua orang tua Sri dan Sri membalas lambaian tangan mereka.
"Sering - sering kasih kabar ya!' seru ibunya Sri.
'Iya Bu!" balas Sri sambil berteriak, karena dia dan suaminya sudah menjauh dari rumah tersebut.
...~Â¥~...
...Mohon para Readers untuk memberi like/komentar/favorite/rate 5/gift maupun votenya untuk novel MBAK JAMU NAIK LEVEL ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
__ADS_1
...BERSAMBUNG...
,