Mbak Jamu Naik Level

Mbak Jamu Naik Level
Bima yang mengantarkan Sri


__ADS_3

"Tentunya ingin mengenalmu lebih jauh mbak Jamu!" jawab Bima yang menatap Sri intens.


"Hmm...hmm...!"


"Eh, Sri Sutini. Panggil saja Sri!" kata Sri yang sedikit menunduk karena rona merah di wajahnya.


"Ok Sri, boleh saya antar kamu pulang?' tanya Bima yang to the point.


"Eh, baru kenal kok mau antar pulang?" Sri yang membatin.


"Ma..ma'af, saya sudah ada yang jemput. Dan sebentar lagi dia datang." ucap Sri jujur.


"Oh baiklah!" kata Bima yang sedikit kecewa.


"Kita di sini saja Pa, sambil nunggu jemputannya mbak Jamu" ucap Sakti yang duduk di samping Sri.


"Iya, kita temani Mbak Sri sampai jemputannya datang" kata Bima yang menyanggupinya.


"Sri ndak mau merepotkan kalian!" ucap Sri yang tak enak hati.


"Nggak apa-apa, lagian aku sedang libur hari ini, mau jenguk neneknya Sakti di Perumahan Indah selalu" ucap Bima seraya tersenyum.


"Oh begitu ya? ndak apa-apa kalau nggak merepotkan."kata Sri sembari memberi tempat duduk pada Bima di samping sisi lain Sakti.


"Makasih Sri!" ucap Bima yang kemudian duduk di samping Sakti dan di samping lainnya sakti ada Sri.


"Tadi bilang perumahan Indah selalu?" tanya Sri penasaran.


"Iya, memangnya kamu pernah ke sana?" tanya Bima yang penasaran.


"Iya, kemarin aku jualan di tamannya!" jawab Sri yang memang benar adanya.


"Benarkah mbak?" tanya Sakti yang penasaran.


"Iya!" jawab Sri sembari menganggukkan kepala.


"Horeee...! nanti ke sana ya pa!" seru Sakti dengan senangnya.


"Ok-ok, tapi nanti bilang sama nenek dulu ya!" ucap Bima pada putranya.


Karena dia tahu sifat anaknya itu, yang semua keinginannya selalu di turuti.


"Kamu mau apa? mau main di taman atau mau borong jamu mbak?" tanya Sri yang menggoda Sakti.


.


"Emmm....! Ya tiga-tiganya mbak!" ucap Sakti seraya menunjukkan giginya yang putih pada Sri.


"Kok tiga?" tanya Sri dan Bima yang kompakan.


"Ya, main di taman sambil minum jamu dan juga sambil ketemuan sama mbak Jamu!" ucap Sakti yang polos.


"Dasar kamu ya!" ucap Sri seraya mengusap kepala Sakti dengan lembut.


"Ting!" Suara chat yang masuk di ponsel Sri.


Sri kemudian membuka dan membaca isi chat tersebut, yang ternyata dari Karyo.

__ADS_1


📩"Assalamu'alaikum..


Dik Sri, mohon ma'af mas Karyo tidak bisa jemput"


📩"Ban mobil sedang dalam kondisi pecah saat ini. Jadi kami naik angkutan umum saja ya!"


Dan Sri pun menjawab,.


^^^📩"Iya mas, Ndak apa-apa!"^^^


Kemudian Sri menghela nafasnya.


"Kamu kenapa Sri?" tanya Bima yang sedikit penasaran dengan raut wajah Sri.


"Sopir yang biasa mengantar dan menjemput, tidak bisa jemput karena mobilnya sedang pecah ban." ucap Sri perlahan.


"Papa antar mbak Sri saja, pa!" ucap Sakti dengan polosnya.


"Bagaimana Sri?" tanya Bima sembari tersenyum.


"Ehmm..! baiklah Sri terima tawarannya!" jawab Sri.


"Kalau begitu tunggu apa lagi!" ucap Bima yang kemudian membawa bakul jamu Sri dan melangkahkan kakinya menuju ke mobil.


Sakti dan Sri pun mengikutinya dari belakang.


"Sakti, bukakan pintu belakang untuk papa!" pinta Bima pada putranya.


"Iya pa!" balas Sakti yang kemudian membukakan pintu untuk papanya.


"Sri, bakul dan ember kamu biarkan di sini dan kamu duduk di depan bersama Sakti." ucap Bima sesudah memasukkan bakul dan ember Sri, yang kemudian dia menutupnya.


"Tapi tuan?"'kata Sri yang tak enak hati.


"Sudah, kamu pangku saja Sakti. Kamu nggak keberatan kan?" tanya Bima seraya menatap Sri yang masih berdiri terpaku di tempatnya.


"Sri..!" panggil Bima.


"Eh iya tuan!" balas Sri yang terkejut, dan bergegas masuk ke dalam mobil.


"Jangan panggil aku tuan lagi ya! kamu kan bukan bawahanku!" ucap Bima seraya menutup mobil dan melangkahkan kakinya melewati bagian depan mobil, menuju ke tempat kemudi di samping Sri dan Sakti.


"Kalau tidak boleh panggil Tuan, terus saya panggil apa tuan?" tanya Sri bingung.


"Mas saja, lebih luwes!" jawab Bima seraya menyalakan mesin mobilnya.


"Baik tu...eh mas Bima" ucap Sri dan itu membuat Sakti dan Bima mengulas senyumnya.


Kemudian Sri memberikan petunjuk alamat rumah jamu Sumilah.


Mereka saling bercerita tentang hal ringan, dan tanpa di sadari oleh mereka, ternyata Sakti sudah terlelap dalam pangkuan Sri.


"Nampaknya Sakti nyaman sama kamu Sri!" ucap Bima seraya melihat Sakti yang tertidur pulas.


"He .he..! padahal baru pertama kali bertemu ya!" ucap Sri seraya mengusap kepala Sakti dengan lembut.


"Itu karena sejak lahir dia tidak di asuh ibunya. Ibunya pergi dengan laki-laki lain!" kata Bima dengan tetap memandang ke depan, namun aliran nafasnya yang sedikit merendah.

__ADS_1


"Oh Sakti, kasihan sekali kamu!' ucap Sri yang menatap Sakti dengan iba.


"Dulu kalau aku sesukses sekarang, mungkin ibunya Sakti tidak akan pergi!" ucap Bima yang sesekali memandang Sri.


"Memangnya apa profesi mas Bima dulu?" tanya Sri penasaran.


"Fotografer keliling!" ucap Bima sembari tersenyum kecut mengingat masa pahitnya dulu.


"Fotografer keliling?" tanya Sri yang penasaran.


"Iya, bantu-bantu adikku saja." jawab Bima dengan masih mengemudi mobilnya.


"Terus sekarang profesi mas Bima apa?" tanya Sri yang sebetulnya tak enak namun dia sangat penasaran.


"Aku bagian marketing dari perusahaan keluarga yang di rintis oleh adikku!" jawab Bima sembari tersenyum.


"Oh begitu rupanya!" ucap Sri seraya menganggukkan kepalanya.


Tak berapa lama mobil itu telah sampai dia kawasan perkampungan di dekat rumah jamu Sumilah.


"Itu mas rumahnya!" ucap Sri seraya tangan kanannya menunjuk ke arah rumah jamu Sumilah.


"Oh yang halamannya luas itu ya?" tanya Bima yang memperhatikan tempat yang di tunjuk Sri.


"Iya,itu dia rumahnya!" jawab Sri sembari mengangguk.


Bima perlahan-lahan menepikan mobilnya tepat di depan rumah yang berhalaman luas itu.


"Sri aku tidak turun ya, karena sudah kesiangan. Takut di marahin neneknya Sakti uang sedang kangen sama cucunya!" ucap Bima yang tidak enak hati.


"Iya mas, makasih ya sudah diantarkan sampai di sini!" ucap Sri yang kemudian turun dari mobil dengan meninggalkan Sakti yang masih di kursi mobil dan memasangkan sabuk pengaman untuk bocah kecil itu


Sri kemudian turun dari mobil dan mengambil bakul jamunya yang ada di kursi belakang.


"Makasih ya mas!" ucap Sri seraya melambaikan tangannya.


"Sama-sama Sri, In syaa Allah nanti nanti jumpa lagi ya!" ucap Bima yang membalas lambaian tangan Sri.


"Iya," jawab Sri seraya menganggukkan kepalanya.


"Assalamu'alaikum..!' ucap pamit Bima.


"Wa'alaikumsalam..!" balas Sri yang terus melambaikan tangannya saat Bima mengemudikaan mobil menjauh dari tempat Sri berdiri.


Setelah mobil Bima hilang dari pandangan mata, Sri melangkahkan kaki masuk ke halaman rumah jamu Sumilah.


...~Â¥~...


...Mohon dukungan para Readers untuk memberi like/komentar/favorite/rate 5/gift maupun votenya untuk novel MBAK JAMU NAIK LEVEL ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...


...BERSAMBUNG...

__ADS_1


,


'


__ADS_2