
"Pak, nanti bapak dibawa ke rumah sakit ya. Biar bapak cepat sembuh dan bisa merestui pernikahan putri kita Sri dengan Nak Bima" ucap Ibunda Sri yang berdiri disamping Bima dan dekat dengan suaminya yang terbaring.
Pak Hardi hanya terdiam dan mengedipkan kedua kelopak matanya, seolah memberi isyarat kalau dia menyetujuinya.
Setelah mendapatkan persetujuan dari semuanya, Bima mengangkat tubuh Pak Hardi ke mobilnya dan dibantu oleh Sri.
Sri duduk di samping Bima yang mengemudi, sedangkan Ibunda Sri duduk di belakang Bima dan bersama Martani, keduanya mengapit pak Hardi.
Mobil itu melaju ke jalan raya menuju ke rumah sakit favorit di kota kelahiran Sri dengan keceoatan sedang.
Tak berapa lama mereka telah sampai di depan tempat parkir rumah sakit dan pak Hardi dibawa ke ruang IGD dengan bantuan kursi roda.
"Dokter tolong tangani calon mertua saya dengan fasilitas terbaik di rumah sakit ini, berapapun biayanya akan aku tanggung semuanya!" seru Bima pada dokter yang menangani pak Hardi.
"Baik, akan kami usahakan. Untuk pertama kali tangani adalah penyakit jantung beliau, setelah itu beliau bisa terapi dan berobat jalan" ucap dokter pada Bima.
"Saya percaya kalau dokter akan menangani beliau dengan baik dan benar" ucap Bima yang kemudian berlalu menemui Sri dan keluarganya yang sedang menunggui pak Hardi yang sedang beristirahat.
"Tokk...tokk...tok...!"
"Assalamu 'Alaikum..!" ucap Salam Bima pada saat akan masuk ke ruangan dimana Pak Hardi dirawat, dan Sri, Ibundanya serta Martani yang sedang menunggu di ruangan tersebut.
"Wa'alaikumsalam..!" jawab semua yang mendengarkan ucap salam dari Bima dan menoleh ke arah Bima.
Sementara itu Bima melangkahkan kakinya masuk dan menghampiri semuanya.
"Sri, kita makan siang yuk!" ajak Bima.
"Boleh!" balas Sri.
"Ibunda dan Martani bagaimana?" tanya Sri yang tak enak hati.
"Sudah kalian saja lebih dulu makan, kami nanti setelah kalian saja. Takutnya nanti pas kita tinggal, bapak siuman dan mencari kita" ucap ibunda Sri yang apa adanya.
"Iya mbak, Mar di sini saja jaga bapak dan ibu dulu. Atau mbak Sri belikan saja buat kami ya" ucap Martani seraya menatap Sri.
"Iya deh kalau begitu, nanti mbak bungkusan buat kalian berdua. Kami makan dulu ya Bu, Martani" ucap pamit Sri.
"Iya" jawab Ibunda Sri dan Martani kompak.
"Mari" ucap Bima Rama sambil menundukkan kepalanya.
__ADS_1
Sri dan Bima melangkahkan kaki menuju keluar dari ruangan rawat bapaknya Sri dan melangkah menyusuri lorong rumah sakit dan sesekali bertanya pada orang yang menunggu pasien maupun perawat yang di temui, untuk sekedar bertanya dimanakah letak kantin rumah sakit berada.
Setelah jelas dalam mendapatkan petunjuk, mereka melanjutkan perjalanan untuk sampai ke kantin rumah sakit.
"Akhirnya sampai juga kita, mas Bima mau makan apa?" tanya Sri pada saat sampai di depan kantin rumah sakit dan mereka sibuk membaca daftar menu warung-warung kantin.
Bima dan Sri mencari menu yang cocok dengan keinginan mereka saat ini.
"Makan bakso saja ya Sri? kayaknya cocok untuk suasana siang ini." jawab Bima seraya menunjuk pada warung Bakso.
"Boleh juga, ayo mas kita kesana! Perut Sri Sri tadi minta diisi" ucap Sri yang mengajak Bima.
"Ayo!" ucap Bima yang kemudian keduanya melangkahkan kaki menuju ke warung bakso tersebut.
"Pak bakso dua dan minumnya jeruk hangat dua ya" ucap pesan Bima pada pedagang bakso itu.
"Baik akan saya buatkan, silahkan duduk dulu!' ucap si penjual bakso itu.
"Terima kasih" ucap Bima ramah dan mereka mencari tempat duduk yang nyaman buat mereka di warung tersebut.
"Mas, bapak apa bisa sembuh ya?" tanya Sri yang khawatir.
"Sudahlah kita pasrahkan saja pada yang Maha kuasa, karena kita hanya bisa berusaha dan berdoa. saat ini kita obatin sakit jantung pak Hardi untuk mengurangi rasa sakitnya dan setelah itu di terapi, untuk menyembuhkan sakit stroke yang dialami bapak kamu Sri." jelas Bima dan Sri memandangi Bima, berusaha menerima hati Bima.
"Sri, kamu kenapa?" tanya Bima yang khawatir dengan apa yang terjadi pada Sri.
"Sri berusaha melupakannya, kenapa dia selalu muncul!" jawab Sri yang merasa risau.
"Apakah dia Rafa?" tanya Bima yang menatap Sri dengan sedikit kecewa, namun dia menahannya.
"Iya, bantu aku untuk melupakannya mas":ucap pinta Sri seraya menatap laki-laki beranak satu itu dalam-dalam.
"Kita menikah secepatnya Sri, agar kamu bisa lupa dan tahu siapa yang benar-benar mencintaimu" ucap Bima yang menatap wajah Sri dalam-dalam di posisi mereka yang saling berhadapan.
Tanpa mereka sadari, pesanan mereka telah disajikan oleh pemilik warung kantin. Baik jeruk hangat maupun baksonya.
"Silahkan menikmati" ucap si pemilik bakso setelah menghidangkan bakso pesanan Sri dan Bima.
"Eh iya, terima kasih pak!" ucap Bima yang sedikit terkejut.
Penjual bakso itupun segera berlalu, Bima dan Sri setelah berdoa mereka segera memakan hidangan bakso yang ada dihadapan mereka itu.
__ADS_1
Tak berapa lama mereka menyelesaikan acara makan siang mereka dengan makan bakso di kantin rumah sakit, dengan saling bercerita ringan untuk saling mengakrabkan diri mereka.
Setelah membayar, Bima dan Sri keluar dari warung bakso dan mencari menu makanan yang untuk ibunya Sri dan juga Adik ya Sri.
"Yang jelas bukan yang ada kuahnya ya mas, kan nggak bawa mangkok tadi. He. he. !" ucap Sri seraya tertawa kecil.
"Iya, apa itu saja! Nasi komplit itu!" seru Bima seraya menunjuk ke arah warung yang menyediakan menu nasi komplit itu.
"Iya ayo kita kesana mas!" ajak Sri dan mereka bergegas melangkahkan kaki menuju ke warung yang di maksudkan.
"Bu nasi komplit dua satu lauk ayam goreng dan satu telur dadar, dan teh hangat dua ya" pesan Sri pada saat sudah sampai di warung yang menyediakan nasi komplit itu.
"Dimakan disini atau dibungkus Mbak?"tanya si pemilik warung pada Sri.
"Dibungkus semuanya" jawab Sri.
"Baik akan saya buatkan, silahkan duduk dulu ya!" ucap pemilik warung dengan ramah seraya menunjukkan tempat duduk untuk Sri dan Bima yang sudah disediakan di warung tersebut.
Sri dan Bima segera duduk dan kembali berbincang-bincang ringan seraya menunggu pesanan mereka di buatkan oleh pemilik warung.
"Sri kenapa lauknya berbeda?" tanya Bima yang penasaran.
"Sejak dulu ibu tak suka ayam mas, sejak beliau pernah tersedak tulang ayam lebih tepatnya." jawab Sri.
"Oh begitu ya!" balas Bima yang mengerti maksud Sri.
Tak berapa lama pesanan mereka telah selesai dibuatkan oleh pemilik warung.
Setelah membayar, keduanya melangkahkan kaki kembali menyusuri lorong rumah sakit dan menuju ke ruangan dimana bapak, ibu dan adiknya Sri berada.
...~¥~...
...Mohon dukungan para Readers untuk memberi like/komentar/favorite/rate 5/gift maupun votenya untuk novel MBAK JAMU NAIK LEVEL ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...BERSAMBUNG...
__ADS_1
,