Mbak Jamu Naik Level

Mbak Jamu Naik Level
Cerita Rafael


__ADS_3

Hal itu membuat Sri semakin diam, dia juga merasakan hal yang sama.


"Oh, apa besok kamu bisa menjawabnya?" tanya Rafa yang penasaran.


"Saya belum bisa memastikannya mas!" uca Sri yang menundukkan kepalanya.


"Ohw!" ucap Rafa yang kemudian melajukan kendaraannya.


Rafa hanya terdiam saja, dan tiba-tiba dia menepikan kendaraannya lalu mematikan mesinnya tepat disamping gerobak penjual Martabak.


"Mas kenapa berhenti?" tanya Sri penasaran.


"Mau beli Camilan dulu" ucap Rafa yang kemudian keluar dari mobil dan melangkahkan kaki menuju ke penjual martabak itu.


"Bang, martabak manisnya empat ya, ini depenya. Kurangannya nanti kalau sudah selesai dan diantarkan di mobil itu ya" ucap Rafa seraya menunjuk kearah mobilnya.


"Oh, baik. Pakai toping apa mas?" tanya penjual martabak itu dengan ramah.


"Campur saja ya!" jawab Rafa yang kemudian meninggalkan lapak martabak itu dan menuju ke mobilnya.


"Kamu suka martabak manis?" tanya Rafa saat masuk ke mobilnya.


"Suka, suka banget malah!" ucap Sri sembari tersenyum.


"Sambil menunggu martabaknya selesai dibuat aku mau cerita, apa kamu mau mendengarkannya?" tanya Rafa seraya menatap Sri dengan sendu.


"Cerita apa ya mas? cerita saja mungkin Sri bisa bantu!" ucap Sri yang menatap Rafa penasaran.


"Aku dan Mas Bima memang kakak beradik, walaupun sepertinya kita bahagia tapi tidak seperti kelihatannya." kata Rafa yang masih pasang wajah sendu.


"Maksud mas Rafa?" tanya Sri yang sebetulnya tak mau ikut campur, namun dia penasaran.


"Kemarin aku baru tahu kenapa semua fasilitas nomor satu selalu di berikan pada mas Bima" jawab Rafa sembari menghela nafasnya.


"Memangnya ada apa mas? bukankah kalian saudara kandung?" tanya Sri yang penasaran.


"Satu ayah lebih tepatnya!" ucap Rafa yang menatap kearah depan.


"Pantas saja kalian sangat mirip! lantas ibu kamu siapa?" tanya Sri yang penasaran.


Tak berapa lama martabak manis atau terang bulan pesanan Rafa telah selesai dan pedagang martabak manis itu mengantarkannya pada Rafa yang masih berada di mobil bersama Sri.


"Ini pesanannya mas!" seru penjual martabak itu pada Rafa.


"Terima kasih, dan ini setengah dari depenya tadi." ucap Rafa yang memberikan sejumlah uang pada penjual martabak manis itu.


" Wah, masih ada lebihnya mas!" ucap penjual martabak itu.


"Sudah, buat kamu saja!" ucap Rafa yang membuka satu kota martabak manis itu.

__ADS_1


"Terima kasih-terima kasih ya mas!" ucap penjual itu yang beberapa kali menundukkan kepalanya.


"Iya, sudah sana di tunggu pelanggannya lho!" seru Rafa yang disambut senyuman dan anggukan dari penjual martabak itu.


Setelah penjual martabak itu berlalu, Rafa dan Sri makan satu porsi martabak manis itu di dalam mobil.


"Enak ya Cher kalau masih panas begini!" ucap Rafa pada saat menikmati martabak yang ada di tangannya itu.


"Iya mas, coklatnya lumer dan ada kres-kresnya dari kacangnya." balas Sri yang juga menikmati martabak manis itu.


"Oiya, aku lanjutkan bicaraku. Tadi sampai dimana?" tanya Rafa yang lupa dengan topik bicaranya tadi.


"Mas Rafa dan mas Bima ternyata bukan saudara kandung seibu." Jawab Sri yang tatap asyik makan martabak manisnya.


"Oiya, yang ada di rumah itu bukanlah ibu kandungku.Ibuku adalah pembantu di rumah papaku. Dulu sebelum papa meninggal, aku diperlakukan sama dengan mas Bima. Tapi setelah papa meninggal dan perlakuan mama berbanding terbalik kepadaku. Semua harta kekayaan di atas namakan mas Bima. Dan aku baru tahu kalau aku bukan anak kandung mama, setelah mbok Ni menceritakan apa yang terjadi." cerita Rafa.


"Tapi aku tak patah semangat, dan aku membuktikan bahwa tanpa harta dari mama, aku juga bisa maju. Akhirnya dengan sisa tabungan yang diberikan papa semasa hidup, aku gunakan untuk kuliah dan membeli peralatan foto. Sebelum punya studio, aku dulu keliling mencari pelanggan. Ya seperti kamu Sri menjajakan jamu!" ucap Rafa.


"Begitu ya, terus ibu kamu sekarang ada dimana?" tanya Sri yang penasaran.


"Kata mbok Ni, ibu di kirim ke Taiwan. Dan saat ini kami pindah kota. Mungkin tujuan mama, agar Ibuku tak bisa mencariku!" jawab Rafa.


Rona wajah tampan Rafa kini berubah menjadi sedih.


Rafa berusaha untuk mendapat simpati dari Sri dari kisah masa hidupnya. Karena dia tahu kalau Sri itu lugu dan mudah terbawa suasana.


"Semoga kalian bisa dipertemukan ya mas!" ucap Sri.


Kemudian Rafa menyalakan mobilnya dan melaju meninggalkan gerobak martabak itu.


Tak selang berapa lama mereka telah sampai di depan halaman rumah Jamu Sumilah.


"Mas Rafa terima kasih ya sudah dianterin sampai disini." ucap Sri yang membuka pintu mobilnya.


"Iya Sri, jangan lupa besok pagi jam delapan kita ketemuan lagi!"'Ucap Rafa dan Sri menganggukkan kepalanya seraya mengulas senyumnya.


"Iya mas, jangan lupa sampai rumah sholat Isya' ya!" pesan Sri seraya melambaikan tangannya.


"Ok, Cheriafa!" balas Rafa dengan lambaian tangannya.


"Eh, kok Cheriafa sih?" tanya Sri yang penasaran.


"Iya, kan Cherry nya Rafa!" jawab Rafa seraya mengulas senyumnya.


"Kita kan belum ada ikatan mas, lagian Cherry kan belum memberi jawaban pada mas Rafa" kata Sri dengan mengulas senyum.


"Nggak apa-apa, anggap saja untuk sepenggal rasa cintaku untuk kamu Cherr!" ucap Rafa yang membalas senyuman Sri.


"Ya Sudah, terserah mas Rafa saja!" ucap Sri.

__ADS_1


"Oiya Sri yang dua kantong ini tolong nanti berikan pada Sumilah dan putrinya' ucap Rafa sembari menyerahkan dua kardus yang masing-masing berisi martabak manis itu.


"Banyak sekali mas!" ucap Sri yang menatap kedua kardus itu.


"Itu buat Bu Lik dan anaknya satu dan satunya buat teman-teman kamu" balas Rafa.


"Oh, makasih ya mas!" ucap Sri sembari mengulas senyumnya.


"Assalamu'alaikum Cherryafa!" ucap salam Rafa pada Sri seraya melambaikan tangannya.


"Wa'alaikumsalam mas Rafa!" balas Sri yang membalas lambaian tangan Rafa.


Pemilik studio Rafa itu kemudian mengemudi meninggalka Sri yang masih berdiri di tempat semula.


Setelah mobil yang dikendarai Rafa menghilang dari pandangan mata Sri, gadis itu melangkahkan kaki masuk ke halaman rumah jamu Sumilah.


Jam dinding rumah jamu Sumilah menunjukkan pukul sembilan malam.


Nampak Sumilah,Ratna, Karyo dan juga Minah sedang duduk-duduk di teras rumah.


"Assalamu'alaikum..!" ucap salam Sri saat menghampiri mereka berempat.


"Wa'alaikumsalam..!" jawab ke empat orang itu.


"Sudah pulang Sri?" tanya Sumilah yang curiga.


"Iya Bu Lik!" jawab Sri yang memberikan satu kardus martabak manis pada Sumilah dan satu kardus buat Minah dan Karyo.


"Kamu pergi sama siapa Sri?" tanya Sumilah yang menerima martabak manis dari tangan Sri.


"Sama mas Rafa mbak!" ucap Sri setelah memberikan satu lagi kardus martabak manis pada Minah.


"Sri, kamu itu cuma gadis desa, dan baru kemarin tinggal di kota. Kok mas Rafa bisa dekat sama kamu! Jangan-jangan kamu sudah tidur ya sama dia!" celetuk Ratna pada Sri yang membuat Sri tersentak kaget.


"Astaghfirullah! aku bukan cewek begituan!" ucap Sri yang membela diri.


"Alah, aku kenal siapa Rafa. Dia itu playboy waktu di sekolah. Sudah banyak perempuan yang jadi pacarnya!" seru Ratna yang memang tidak senang Sri jalan dengan Rafa.


Rafa adalah kakak kelas Ratna dan Ratna sejak dulu menyukainya.


Setelah tahu kalau Rafa mempunyai studio sendiri, berkali-kali Ratna melamar sebagai model Rafa namun tak juga diterima oleh Rafa.


...~¥~...


...Mohon dukungan para Readers untuk memberi like/komentar/favorite/rate 5/gift maupun votenya untuk novel MBAK JAMU NAIK LEVEL ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....

__ADS_1


...Terima kasih...


...BERSAMBUNG...


__ADS_2