Mbak Jamu Naik Level

Mbak Jamu Naik Level
Tiba di Rumah keluarga Bima


__ADS_3

"Iya mungkin ibu bisa mengenal beliau, yang tadi bersama ibu" jawab dokter wanita itu di samping Sri.


Tak berapa lama Bima masuk bersama perawat ke ruangan dimana Sri bersama dokter wanita itu.


"Bagaimana dengan istri saya dokter?'' tanya Bima yang khawatir.


"Istri anda tidak apa - apa tuan. Selamat anda akan menjadi seorang ayah, istri anda saat ini sedang berbadan dua" jawab Dokter wanita itu.


"Ha..hamil?'' tanya Bima yang meminta kejelasan dari pendengarannya.


"Iya, untuk lebih jelasnya bisa anda cek dengan testpack atau periksa langsung ke dokter kandungan" jawab dokter wanita itu sembari menatap Bima dan Sri yang sedang terkejut secara bergantian.


Bima yang sedikit mengetahui tentang masa kehamilan pada saat istrinya dulu mengandung Sakti, mengusap wajahnya secara kasar.


"Kalau begitu, ibu Sri bisa pulang dan silahkan anda ambil vitamin di apotik sekalian bayar administrasi di kasir" ucap dokter wanita itu yang menjelaskan.


"Ba..baik dokter, terima kasih" ucap Bima dengan sopan.


Dokter wanita dan perawat itu melangkahkan kakinya keluar dari ruangan dimana Sri dan Bima berada.


Bima tiba - tiba mengepalkan tangannya dan dia mendesis kesal.


"Rafa..! bayi dalam kandungan Sri, pasti bayi Rafa. Aku melakukannya dengan Sri baru kemarin, mana mungkin Sri langsung hamil?" gumam dalam hati Bima.


"Mas, masa Sri langsung hamil? apa dokternya yang salah analisa ya? kita kan baru kemarin melakukan itu?" tanya Sri yang penasaran.


"Dokter tidak salah analisa Sri" jawab Bima seraya melangkahkan kakinya menghampiri Sri.


"Maksud mas Bima apa?" tanya Sri yang kebingungan.


"Kamu ingat apa yang dilakukan Rafa padamu?" tanya Bima seraya membalas tatapan kedua mata Sri yang kebingungan.


"Mas Rafa? Oh, tidak!" ucap Sri yang baru menyadari apa yang telah terjadi padanya.


Sri memegang perutnya dan Isak tangisnya pun terdengar oleh Bima.


"Cup..cup..cup..! jangan menangis sayang. Bayi ini tak berdosa. Bila ada yang bertanya dan mengulik tentang kehamilan kamu ini, bilang saja aku bapaknya. Kamu mengerti kan sayang?" ucap Bima yang kemudian menyeka air mata dan mencium kening istrinya yang masih terisak itu.


"Mas Bima" panggil Sri lirih dan menatap intens suaminya.


"Aku tak mau karena bayi ini kita berpisah. Kamu cinta terakhirku Sri, aku ingin menua denganmu. Kita besarkan anak - anak kita bersama." bisik Bima yang membuat Sri trenyuh dan seketika itu juga dia memeluk suaminya dengan erat.

__ADS_1


Bima menarik nafasnya dalam -dalam dan mengeluarkannya pelan - pelan. Berkali - kali Bima mencium kening istrinya dengan menumpahkan kasih sayangnya. Dan Sri semakin merasakan kehangatan dan ketulusan cinta suaminya.


"Ayo kita lanjutkan perjalanan kita" ajak Bima dan Sri mengangguk tanda menyetujuinya.


"Iya mas, dan Sri sudah bisa jalan sendiri mas" ucap Sri yang mengulas senyumnya.


"Oiya, mas bantu ya!'' balas Bima yang tidak tega jika Sri berjalan sendirian.


Bima menuntun dan mendampingi istrinya sampai keluar dari ruangan dimana Sri dirawat dan melangkahkan kaki menuju ke apotik. Kemudian mereka menuju ke bagian administrasi.


Selesai dengan urusan administrasinya, Bima dan Sri melangkahkan kakinya keluar dari klinik menuju ke tempat dimana mobil mewah Bima terparkir.


Bima membukakan pintu mobil untuk Sri, dan Sri masuk di posisi depan dmseperti biasanya. Setelah itu Bima menutup pintu mobilnya dan berjalan memutar menuju ke pintu mobil dimana ada kemudi yang biasa dia tempati.


Bima masuk dan menutup pintu mobil tersebut, kemudian menyalakan mobilnya dan mengemudi perlahan-lahan keluar dari area klinik menuju ke jalan raya.


Sesampainya dijalan raya, Bima mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang menyusuri jalan raya yang menuju ke arah Jakarta.


Keduanya kembali melakukan perjalanan jauh mereka dengan suka cita dan sesekali berhenti di Masjid untuk beribadah dan membersihkan diri mereka. Dan juga berhenti di restoran maupun warung makan, disaat - saat mereka lapar.


Akhirnya hampir tengah malam, mereka telah sampai di kediaman Marlina mamanya Bima.


Keduanya masuk ke rumah melalui pintu garasi, hal itu sering Bima lakukan jika pulang kemalaman. Karena dia tidak mau membangunkan itunya dan juga para pembantunya.


Bima mengunci pintu dan mengajak Sri masuk ke kamarnya.


"Sayang kalau mau membersihkan diri, kamar mandinya sebelah sana" ucap Bima seraya menunjuk ke arah yang dimaksudkan.


"I..iya mas!" balas Sri seraya menebarkan pandangannya ke setiap sudut kamar suaminya. Karena ini pertama kalinya dia berada di dalam kamar suaminya yang lumayan luas dan semua isi kamarnya adalah barang - barang nomor satu, yang tak mungkin bisa Sri dan keluarganya jangkau.


Bima menutup dan mengunci pintu kamarnya, kemudian dia ke lemari pakaiannya. Papanya Sakti itu mengambil satu lembar pakaian tidur yang tipis dan memberikannya pada Sri.


"Pakailah ini" ucap Bima saat menyodorkan lingerie itu pada Sri yang sedan membongkar kopernya, untuk mengambil pakaian gantinya.


"A..aku pakaian ini?" tanya Sri yang terkejut.


"Kenapa?" tanya Bima yang penasaran.


"Tipis, Sri nggak pernah pakai pakaian seperti ini." jawab Sri dengan polosnya. Hal itu membuat Bima semakin gemas.


"Mulai sekarang biasakan ya, tapi aku lebih suka kalau kamu nggak pakai baju! he..he..!" goda Bima sembari tersenyum.

__ADS_1


"Mas Bima, ih...!" panggil Sri yang geregetan, namun dia membalas senyum suaminya dengan manja.


"Sudah cepat pakai saja sana!" seru Bima yang mengambil piyamanya yang senada dengan warna lingerie istrinya.


"I..iya mas" jawab Sri yang kemudian masuk ke kamar mandi dan mengganti pakaiannya dengan lingerie. Sementara Bima mengganti pakaiannya dengan piyamanya.


Tak berapa lama, Sri keluar dari kamar mandi dan Bima juga sudah selesai dengan mengganti pakaiannya dengan piyama.


"Ve..Veny!" panggil Bima yang terkejut saat melihat penampilan Sri yang memakai pakaian tidur yang tipis itu.


"Mas bilang apa tadi, Veny? siapakah Veny itu mas?" tanya Sri yang terkejut saat suaminya menyebut nama perempuan lain yang asing baginya itu.


"Di..dia ibunya Sakti, sayang" jawab Bima yang menatap Sri seolah tak mau lepas dari pandangan kedua matanya.


"Ibunya Sakti?" tanya Sri yang penasaran, kemudian dia menghampiri suaminya.


"Iya, Veny meninggal dunia pada saat melahirkan Sakti." jawab Bima yang kemudian mengambil sebuah album kenangan dia bersama istri pertamanya.


"Apa itu mas?" tanya Sri pada Bima dan Bima membuka lalu menyodorkannya pada Sri. Kemudian Sri menerimanya.


"Ini ibunya Sakti" jawab Bima seraya menunjuk pada foto perempuan yang selalu bersama Bima waktu masih muda.


Sri melihat wajah Veny, dan dia memberikan pendapat dia.


"Dia cantik sekali, dan dia ibu uang hebat buat Sakti. Berkorban demi buah hatinya, Semoga ditempatkan di surganya Allah nantinya. Aamiin ya Robbal alaamiin.


"Aamiin Allahuma Aamiin, makasih do'anya sayang" ucap Bima sembari tersenyum dan kemudian mengecup kening istrinya.


...~¥~...


...Mohon para Readers untuk memberi like/komentar/favorite/rate 5/gift maupun votenya untuk novel JAMU NAIK LEVEL ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...


...BERSAMBUNG...


,

__ADS_1


__ADS_2