Mbak Jamu Naik Level

Mbak Jamu Naik Level
Berangkat Mendaftar Sekolah


__ADS_3

Setelah para perempuan yang memakai pakaian khas penjual jamu pergi bersama bakul-bakul mereka, Sri dan Bu Lik Sumilah bersiap-siap mencari sekolah untuk Sri.


"Sri, apa semua berkas-berkasnya sudah kamu persiapkan?" tanya Bu Lik Sumi saat sudah ada di teras.


"Sudah Bu Lik" jawab Sri yang menghampiri Bu Lik Sumilah dengan seragam SMP nya dan menenteng tas sekolah yang di srempangkan di bahunya.


"Bagus, kita tunggu Karyo sebentar ya, dia sedang dalam perjalanan kembali kesini setelah mengantarkan Ijah dan Yati ke lokasi mereka," jelas Bu Lik Sumilah.


"Iya Bu Lik!" balas Sri yang kemudian duduk di kursi yang terdapat di teras itu.


Tak berapa lama mobil pick Up yang di kemudikan Karyo sudah terlihat masuk ke dalam halaman.


"Jadi kita on the way-nya?" tanya Karyo yang masih berada di dalam mobil pick up.


"Ya jadilah, kita kan dah cantik seperti bidadari dari pabrik jamu, he..he..!" canda Bu Lik Sumilah yang kemudian masuk ke dalam pick Up dan di ikuti dengan Sri.


Karyo dan Sri pun tertawa, karena candaan Bos mereka.


"Sri, kayaknya kamu tak bisa masuk di SMK atau SMA negeri. Kita langsung ke sekolah Swasta saja ya! karena pendaftaran kamu saat ini sudah telat dari hari dan tanggalnya." ucap Bu Lik Sumilah saat mobil sudah meninggalkan rumahnya.


"Sebaiknya kita coba di negeri dulu dik Sri, karena aku pernah dengar ada sekolah terbuka. Siapa tahu bisa sekolah di negeri tanpa harus masuk ke kelas!" ucap Karyo yang sekali-kali menatap ke arah Sri.


"Boleh juga, kalau gratiskan lumayan. Uangnya buat lainnya." ucap Sri yang juga menatap Karyo dan Bu Lik Sumilah secara bergantian.


"Iya, kita coba dulu!"' ucap Bu Lik Sumilah yang juga setuju.


"Jadi kita ke sekolah mana?" tanya Karyo yang menepikan kendaraannya.


"Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 5758, kamu tahu kan alamatnya?" tanya Bu Lik Sumilah pada Karyo yang penasaran.


"Ya tahulah, Karyo..!" canda Karyo yang membanggakan dirinya sendiri.


Sri dan Bu Lik Sumilah pun tertawa dengan candaan Karyo.


Saat melewati aliran sungai, tiba-tiba Sri mengingat kedua orang tua, adikknya Martani dan para teman-temannya yang sebel sama Sri.


📆Flashback on.


Pagi hari seperti biasa, kegiatan anak gadis di desa Nguter jika tidak sekolah adalah mencuci baju di sungai.


Suara canda anak gadis beriringan dengan suara gemericik aliran sungai.


"Sri, sudah punya calon belum?" tanya salah seorang teman Sri yang juga sedang mencuci pakaiannya.


Sri yang menjawabnya, dia tetap dengan aktifitasnya.


"Sri, Keburu jadi perawan tua baru lho! he..he..!;" seru yang lainnya


Sri tetap saja diam, dan terus dengan pekerjaannya.


"Pasti nggak laku, makanya sampai sekarang belum punya handengan.ha..h..!" ucap salah satu dari mereka dan mereka tertawa.


"Apa sih maksud kalian? Lulus SMP itu masih kecil! Ngapain juga mikir pernikahan!" ucap Sri sebal dan meninggalkan semua orang yang mencibirnya itu.


Tiba-tiba ada suara yang memecahkan keriuhan beberapa anak gadis itu.


"Yu...mbakyu!" panggil seorang gadis cilik yang baru duduk di bangku kelas lima Sekolah Dasar.


(Mbakyu panggilan untuk kakak perempuan)


"Kae Martani, adikmu Sri! Enek perlu opo yo?" tanya gadis di samping Sri.


(Itu Martani, adikmu Sri! Ada perlu apa ya?)

__ADS_1


"Yo embuh, aku Yo Ra ngerti. Ben tekan kene sek, gek di takok'i bocahe!" jawab Sri Sutini yang sebetulnya penasaran.


(Ya entahlah, aku ya tidak tahu. Biar sampai di sini dulu, terus di tanyai anaknya).


"Mbakyu Sri, di timbali Bapak wonten ndalem!" kata Martani adik Sri Sutini.


(Kak Sri, di panggil Ayah di rumah).


"Jan-jane enek opo tho?" tanya Sri sembari membereskan semua cuciannya.


(Sebetulnya ada apa sih?)


"Yo ra ngerti yu, wong aku mung di kengken nggoleki njenengan!" jawab Martani yang membantu membawa sebagian cucian kakaknya.


(Ya tidak tahu kak, orang saya cuma di suruh mencari kamu).


"Yo wes, ayo gek cepet. Mungkin enek hal penting!" ucap Sri pada adiknya.


(Ya sudah, ayo lebih cepat. mungkin ada hal yang penting).


"Iya yu" balas singkat Martani.


(Iya kak)


Dan keduanya mempercepat langkah mereka menuju ke rumah.


"Pemenen ya Ni. Aku tak lewat mburi, arep salin disek!" ucap Sri yang kemudian masuk ke rumah lewat pintu belakang.


(Jemurlah, aku mau lewat belakang, mau ganti baju dulu).


Sri menuju ke kamarnya dan memakai pakaian yang pantas untuk menerima tamu.


Gadis itu kemudian keluar dari kamarnya dan ternyata ibunya sudah menunggunya.


(Sri bawa minuman itu buat semua tamu).


Sri melaksanakan perintah ibunya, dia membawa minuman untuk para tamu ayahnya.


Di letakkan ya minuman-minuman itu diatas meja di depan para tamu ayahnya.


Tanpa di sadari Sri, para tamu itu memperhatikan gerak-gerik Sri.


"Sri, lungguho neng kene sedelo" ucap ayahnya Sri.


(Sri duduk di sini sebentar)


"Inggih pak" jawab Sri yang kemudian duduk di samping ayahnya.


(Ya yah)


"Sri, kedatangan Pak Bayu ini ingin menjadikan kamu anak menantunya" kata Ayah/bapak-nya Sri.


Sri sangat terkejut, Pak Bayu adalah kepala desa di desanya. Dan anaknya bernama Aryo adalah Insinyur pertanian yang menjadi pembimbing para petani di desa dimana mereka tinggal.


Banyak home industri yang di didikannya, karena itulah Aryo banyak di sukai para gadis di desanya.


Sri tak berani membantah, karena sejak dulu bapaknya sangat menginginkan Sri menikah dengan Aryo.


Sri diam dan tertunduk, bingung jika menolak pasti bapaknya akan marah besar padanya dan jika menerima lamaran itu, tak ada lagi kesempatan dirinya untuk sekolah lagi.


Sedangkan dirinya ingin merasakan belajar di bangku Sekolah menengah atas dan juga kuliah.


Karena cita-cita Sri ingin menjadi wanita karier sebelum menjadi ibu rumah tangga.

__ADS_1


"Kalian sebaiknya kenalan dulu, sana kalian main-main saja dulu!" ucap Bapaknya Sri.


"Inggih pak!" balas Aryo.


"Ayo dik Sri, kita cari angin sebentar!" lanjut Aryo yang kemudian bangkit dari duduknya.


Sri juga bangkit dan menatap wajah Aryo, dan Sri pun mengangguk tanda mau diajak Aryo.


Aryo pun tersenyum, setelah itu mereka berpamitan dengan orang tua masing-masing.


Keduanya naik sepeda motor dan melaju di sepanjang jalan desa.


Banyak diantara warga yang memperhatikan mereka, namun mereka tetap tak perduli.


Aryo mengajak Sri ke tempat wisata pemancingan yang terkenal di daerahnya.


Keduanya sangat menikmati saat memancing ikan di kolam yang tersedia.


"Mas Aryo, mata pancing mu di tarik ikan itu!" seru Sri yang melihat pancingan Aryo bergerak di tarik ikan


"Ya dapat!" seru Aryo yang sudah menarik mata pancingnya dan muncullah ikan patin sebesar lengan Arya yang menggelepar-gelepar.


"Alhamdulillah dapat ya mas!" ucap Sri yang ikut senang.


Arya memasukan ikannya dalam wadah.


Tak berapa lama, mata pancing Sri juga bergerak-gerak.


"Sri tarik mata pancing kamu!" seru Aryo dan Sri berusaha menariknya namun sedikit kewalahan.


"Mas Aryo bantuin ya!" seru Sri dan Aryo ikut menarik mata pancing kepunyaan Sri.


Dan tanpa sengaja tangan Aryo memegang punggung tangan Sri.


Sri hanya melihatnya dan melihat ke arah Aryo, karena saat ini sedang sibuk menarik ikan yang kena mata pancingnya.


"Ayo tarik lagi yang kuat Dik Sri!" seru Arya, dan Sri menurutinya.


Dada Arya bergemuruh saat berada di samping Sri, dan Sri merasakan ada hembusan semilir angin, padahal tak ada udara yang bergerak di sekitar pemancingan.


"Mas Arya, kamu ganteng dan juga sosok yang mengayomi." Sri yang membatin.


"Sri, sejak dulu aku sudah menyukaimu. Kamu manis dan humbel serta kamu itu cerdas!" ucap dalam hati Aryo.


"A..akhirnya dapat juga!" seru Aryo dengan kelegaan.


"Lumayan besar ya mas!" kata Sri seraya melihat ikan tangkapannya.


"Iya, lapar kan?" tanya Aryo.


'He..em!" jawab Sri seraya menganggukkan kepalanya.


...~¥~...


...Mohon dukungan para Readers untuk memberi like/komentar/favorite/rate 5/gift maupun votenya untuk novel MBAK JAMU NAIK LEVEL ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...


...BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2