Mbak Jamu Naik Level

Mbak Jamu Naik Level
Mengingat Awal Jumpa


__ADS_3

Keduanya mengingat kembali saat awal mereka berjumpa.


"Kau perlu tahu Sri, kalau aku menyukaimu sejak pertama kali kita jumpa di sekolahnya Sakti dulu" jawab Bima yang sangat ingat dengan kisah dimana dia masih berjualan jamu gendong Sumilah.


🗓️Flashback on


Tak berapa lama, waktu istirahat untuk para murid playgroup.


Saat itulah Sri kewalahan menghadapi balita-balita yang merengek-rengek pada ibu mereka untuk membeli jamu Sinom dan beras kencur.


"Mbak, mbak jamu..! sakti mau beli jamunya ya!" pinta seorang anak laki-laki yang berusia empat tahun bernama Sakti.


"Iyaa, sebentar ya!" jawab Sri seraya melayani pembeli kecil lainnya.


"Mau beli Jamu apa sayang?" tanya Sri setelah menyelesaikan melayani pembeli cilik lainnya.


"Jamu acem mbak, satu gelas saja!" jawab Sakti dengan senyum manjanya.


"Iya, mbak buatkan khusus buat adik ganteng!" ucap Sri seraya menuangkan jamu sinomnya di dalam gelas dan di serahkan pada anak kecil yang bernama sakti itu.


"Pangeran ganteng, namanya siapa?" tanya Sri yang penasaran dengan ketampanan bocah kecil itu.


"Sakti mbak!" jawab Sakti yang sudah menghabiskan jamu sinomnya.


"Enak jamunya?"tanya Sri yang menatap anak kecil di depannya.


Satu jam lamanya Sri melayani pembeli kecilnya, dan kamu yang di bawanya tinggallah sedikit.


"Mbak beli jamunya!" seru seorang wanita yang keluar dari playgroup itu, bersama dua orang wanita lainnya.


Ketiganya memakai seragam sama, seragam seragam yayasan playgroup itu.


Tanpa Sri ketahui, ada seseorang yang telah mengawasinya sedari tadi.


Nama orang itu adalah Bima, duda anak satu yang bernama Sakti itu, sedang menunggui putranya yang sedang sekolah di playgroup itu.


"Gadis penjual jamu itu, mirip dengan Lastri, siapa ya namanya?"tanya dalam hati bima yang terus mengawasi gerak-gerik Sri.


Tiba-tiba dia kehilangan Sri, karena Sri telah meninggalkan play group itu dan dia berjalan menyusuri jalan tiap gang di perkampungan itu.


"Jamu...jamu...! jamune Bu,mbak adik! jamu...jamu...!"


"Jamu...jamu...! jamune Bu,mbak adik! jamu...jamu...!"


"Jamu...jamu...! jamune Bu,mbak adik! jamu...jamu...!"


"Jamu...jamu...! jamune Bu,mbak adik! jamu...jamu...!"


Dengan gigih Sri menawarkan jamu dagangannya pada para warga.


Tak kunjung jua Sri mendapatkan pembeli lagi.


Satu orang ibu hamil yang memborong jamunya.


"Beneran ini mbak? mbak mau borong jamu saya?"tanya Sri yang Sumringah.

__ADS_1


"iya, aku beli semuanya buat persediaan." ucap Wanita itu yang mengulurkan uang kepada Sri setelah Sri memindah semua jamunya ke dalam botol yang si sediakan oleh wanita hamil itu.


"Terima kasih ya mbak!" ucap Sri yang kemudian meninggalkan tempat itu.


"Aku telpon mas Karyo saja, buat jemput di tempat tadi!" ucap Sri yang kemudian menelepon Karyo.


^^^📱"Assalamu'alaikum.. Mas Karyo, jemput Sri ke tempat tadi ya!"^^^


📱"Wa'alaikumsalam...Oiya dik Sri! Otewe.."


Karyo menutup ponselnya dan demikian dengan Sri yang juga menutup ponselnya dan memasukkan kembali ke dalam tasnya.


Sri melangkahkan kakinya menuju ke jalan raya dengan jalan lain.


Tak berapa lama Sri sudah sampai di jalan raya. Cukup lama juga Sri menunggu mobil pick up Karyo muncul.


Muncullah sebuah mobil sedan yang di kemudikan oleh duda beranak satu Bima dengan putranya Sakti.


"Pa, itu mbak Jamu!" seru Sakti serya menunjuk ke arah Sri yang duduk di halte seraya memainkan ponselnya.


"Oiya, kita tanya yuk! mungkin butuh tumpangan!" ucap Bima yang menepikan kendaraannya.


"Ayo pa!" ucap Sakti yang melepaskan sabuk pengamannya dan keluar dari mobil, dan Bima juga melakukan hal yang sama.


"Mbak Jamu!" panggil Sakti saat dia berlari menghampiri Sri.


Sementara Bima menutup mobil dan berjalan menghampiri Sri dan Sakti yang sudah berada di samping Sri.


"Eh, pangeran tampan! kamu sama siapa?" sapa Sri seraya bertanya pada Sakti.


"Papa?" Sri sedikit terkejut, karena bayangan wajah tampan dari ayah Sakti si pangeran tampan itu.


"Halo apa kabar!" sapa Bima seraya mengulurkan tangannya.


"Ba..baik!" balas Sri yang menoleh ke arah sumber suara.


Wajah tampan seperti yang di bayangkan ya ada di depannya saat ini.


Wajah itu mengingatkannya pada seseorang, tapi dia lupa sang pemilik wajah itu.


Bima merebut ponsel Sri dan mengetik beberapa angka di ponsel itu.


"Eh, tuan!" seru Sri yang terkejut, karena secara tiba-tiba ponselnya berpindah tangan.


"Nama kamu siapa?" tanya Bima seraya mengembalikan ponsel Sri.


"Terima kasih! Buat apa anda ingin tahu nama saya?" tanya Sri penasaran.


"Tentunya ingin mengenalmu lebih jauh mbak Jamu!" jawab Bima yang menatap Sri intens.


"Hmm...hmm...!"


Eh, Sri Sutini. Panggil saja Sri!" kata Sri yang sedikit menunduk karena rona merah di wajahnya.


"Ok Sri, boleh saya antar kamu pulang?' tanya Bima yang to the point.

__ADS_1


"Eh, baru kenal kok mau antar pulang?" Sri yang membatin.


"Ma..ma'af, saya sudah ada yang jemput. Dan sebentar lagi dia datang." ucap Sri jujur.


"Oh baiklah!" kata Bima yang sedikit kecewa.


"Kita di sini saja Pa, sambil nunggu jemputannya mbak Jamu" ucap Sakti yang duduk di samping Sri.


"Iya, kita temani Mbak Sri sampai jemputannya datang" kata Bima yang menyanggupinya.


"Sri ndak mau merepotkan kalian!" ucap Sri yang tak enak hati.


"Nggak apa-apa, lagian aku sedang libur hari ini, mau jenguk neneknya Sakti di Perumahan Indah selalu" ucap Bima seraya tersenyum.


"Oh begitu ya? ndak apa-apa kalau nggak merepotkan."kata Sri sembari memberi tempat duduk pada Bima di samping sisi lain Sakti.


"Makasih Sri!" ucap Bima yang kemudian duduk di samping Sakti dan di samping lainnya sakti ada Sri.


"Tadi bilang perumahan Indah selalu?" tanya Sri penasaran.


"Iya, memangnya kamu pernah ke sana?" tanya Bima yang penasaran.


"Iya, kemarin aku jualan di tamannya!" jawab Sri yang memang benar adanya.


"Benarkah mbak?" tanya Sakti yang penasaran.


"Iya!" jawab Sri sembari menganggukkan kepala.


"Horeee...! nanti ke sana ya pa!" seru Sakti dengan senangnya.


"Ok-ok, tapi nanti bilang sama nenek dulu ya!" ucap Bima pada putranya.


Karena dia tahu sifat anaknya itu, yang semua keinginannya selalu di turuti.


"Kamu mau apa? mau main di taman atau mau borong jamu mbak?" tanya Sri yang menggoda Sakti.


.


"Emmm....! Ya tiga-tiganya mbak!" ucap Sakti seraya menunjukkan giginya yang putih pada Sri.


"Kok tiga?" tanya Sri dan Bima yang kompakan.


"Ya, main di taman sambil minum jamu dan juga sambil ketemuan sama mbak Jamu!" ucap Sakti yang polos.


...~¥~...


...Mohon dukungan para Readers untuk memberi like/komentar/favorite/rate 5/gift maupun votenya untuk Novel MBAK JAMU NAIK LEVEL ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...


...BERSAMBUNG...

__ADS_1


"


__ADS_2