
"Iya, ayo pa!" sahut Sakti yang kemudian menggandeng mama dan papanya, sedangkan dia berada di tengah antara kedua orang tuanya.
"Hati - hati ya!" seru Marlina dan mbok Ni seraya melambaikan tangan mereka.
"Iya, jawab Sakti dan mereka keluar dari ruang makan dan saat ini berada di garasi.
Sakti dan Bima masuk ke mobil sedangkan Sri membuka pintu garasi dan berikut pintu pagar rumah.
Setelah mobil keluar dari rumah, Sri menutup garasi dan juga pintu pagarnya. Kemudian dia masuk ke mobil dengan posisi dirinya di samping Bima yang mengemudi dan Sri memangku putranya Bima yang baru berusia enam tahun yaitu Sakti.
Bima melajukan mobilnya dengan perlahan dan mengarah ke jalan raya yang menuju ketempat sekolah Sakti.
"Sakti, selama di sekolah ibu guru mengajari Sakti apa saja?" tanya Sri untuk membuat suasana tidak canggung.
"Menyanyi ma!" jawab Sakti dengan lucunya.
"Menyanyinya apa saja? mama mau dengar nih, siapa tahu mama bisa nyanyi" ucap Sri.
"Baik Sakti mau nyanyi, mama nyanyi juga dong!" seru Sakti dan Bima yang melihat apa yang dilakukan putra dan istrinya membuatnya mengulas senyum.
"Iya, mama akan ikut menyanyi kalau mama tahu lagu - lagunya" ucap Sri.
"Mudah kok ma!" seru Sakti uang kemudian mulai menyanyikan satu - persatu lagu anak - anak yang dia pelajari di sekolahnya.
Pelangi
Pelangi pelangi
Alangkah Indahmu
Merah kuning hijau
Di langit yang biru
Pelukismu agung
Siapa gerangan
Pelangi pelangi
Ciptaan Tuhan
***
Balonku Ada Lima
Balonku ada lima
Rupa-rupa warnanya
Hijau kuning kelabu
Merah muda dan biru
Meletus balon hijau DOOOR
Hatiku sangat kacau
Balonku tinggal empat
Kupegang erat-erat
***
Bintang Kecil
Bintang kecil
Di langit yang biru / tinggi
Amat banyak
Menghias angkasa
Aku ingin
Terbang dan menari
Jauh tinggi
Ke tempat kau berada
***
Bangun Tidur
Bangun tidur kuterus mandi
Tidak lupa menggosok gigi
Habis mandi kutolong ibu
Membersihkan tempat tidurku
***
Bunda Piara
Bila kuingat lelah ayah bunda
Bunda piara piara akan daku
sehingga aku besarlah
Waktuku kecil hidupku amatlah senang
senang dipangku dipangku dipeluknya
serta dicium dicium dimanjakan
namanya kesayangan
***
Burung Kakaktua
Burung kakaktua
hinggap di jendela
Nenek sudah tua
giginya tinggal dua
Tekdung tekdung tekdung la la la
Tekdung tekdung tekdung la la la
Tekdung tekdung tekdung la la la
Burung kakaktua
***
Dua Mata Saya
Dua mata saya
Hidung saya satu
Dua kaki saya
Pakai sepatu baru
Dua telinga saya
__ADS_1
Yang kiri dan kanan
Satu mulut saya
Tidak berhenti makan
***
Gelang Sipaku Gelang
gelang sipaku gelang
gelang si rama rama
mari pulang
marilah pulang
marilah pulang
bersama-sama
mari pulang
marilah pulang
marilah pulang
bersama-sama
***
Ibu Pertiwi
Kulihat ibu pertiwi
Sedang bersusah hati
Air matamu berlinang
Mas intanmu terkenang
Hutan gunung sawah lautan
Simpanan kekayaan
Kini ibu sedang susah
Merintih dan berdoa
***
Kasih Ibu
Kasih ibu kepada beta
Tak terhingga sepanjang masa
Hanya memberi tak harap kembali
Bagai sang surya menyinari dunia
***
Kebunku
Lihat kebunku penuh dengan bunga
Ada yang putih dan ada yang merah
setiap hari kusiram semua
Mawar melati semuanya indah
***
Pada Hari Minggu ku turut ayah kota
Naik delman istimewa kududuk di muka
Kududuk samping pak kusir yang sedang bekerja
Mengendarai kuda supaya baik jalannya
Tuk tik tak tik tuk tik tak tik tuk tik tak tik tuk
Tuk tik tak tik tuk tik tak suara sepatu kuda
***
Naik Gunung
d
Naik naik ke puncak gunung
Tinggi tinggi sekali
Naik naik ke puncak gunung
Tinggi tinggi sekali
Kiri kanan kulihat saja
Banyak pohon cemara
Kiri kanan kulihat saja
Banyak pohon cemara
***
Naik Kereta Api
Naik kereta api tut tut tut
Siapa hendak turut
Ke Bandung Surabaya
Bolehlah naik dengan percuma
Ayo temanku lekas naik
Keretaku tak berhenti lama Cepat keretaku jalan tut tut tut
**
Pergi Belajar
Oh ibu dan ayah selamat pagi
Kupergi sekolah sampai kan nanti
Selamat belajar nak penuh semangat
Rajinlah selalu tentu kau dapat
Hormati gurumu sayangi teman
Itulah tandanya kau murid budiman
***
Satu Satu Aku Sayang Ibu
__ADS_1
Satu satu aku sayang ibu
Dua dua aku sayang ayah
Tiga tiga sayang adik kakak
Satu dua tiga sayang semuanya
***
Soleram
Soleram soleram soleram anak yang manis
Anak manis janganlah dicium sayang
Kalau dicium merahlah pipinya
Anak manis janganlah dicium sayang
Kalau dicium marahlah pipinya
***
Topi Saya Bundar
Topi saya bundar
Bundar topi saya
Kalau tidak bundar
Bukan topi saya
***
Anjing kecil / Helly / Heli
Aku punya anjing kecil kuberi nama Helly
Dia senang bermain-main sambil berlari-lari
Helly Guk Guk Guk kemari Guk Guk Guk
Ayo lari-lari
Helly Guk Guk Guk kemari Guk Guk Guk
Ayo lari-lari
***
Burung Hantu
Matahari terbenam
Hari mulai malam
Terdengar burung hantu
Suaranya merdu
Kukuk Kukuk Kukuk Kukuk Kukuk
Kukuk Kukuk Kukuk Kukuk Kukuk
***
Pelaut
Nenek moyangku orang pelaut
Gemar mengarung luas samudera
Menerjang ombak tiada takut
Menempuh badai sudah biasa
***
Hujan
Tik tik tik bunyi hujan di atas genting
Airnya turun tidak terkira
Cobalah tengok dahan dan ranting
Pohon dan kebun basah semua
***
Kutilang
Di pucuk pohon cempaka
Burung kutilang berbunyi
Bersiul-siul sepanjang hari
Dengan tak jemu-jemu
Mengangguk-angguk sambil bernyanyi
Tri li li li li li li li li....
Dan Sri ikut bernyanyi sampai tak terasa mereka telah sampai di sekolah dimana Sakti menimba ilmunya.
"Nah akhirnya kita sampai juga, Sakti jaga mama Ci ya! Dan kamu jangan nakal sama mama Ci!" pesan Bima pada putranya.
"Siap pak boss!" seru Sakti yang membalas pesan suaminya.
"Oiya nama Ci, bawa ini ya!' ucap Bima seraya menyerahkan ATM dan sejumlah uang tunai pada Sri.
"A..apa ini mas?" tanya Sri yang heran dengan tingkah suaminya.
"Anggap saja aku sedang menafkahimu!" ucap Bima sembari mengulas senyumnya.
"Sudah terima saja mama Ci, kita nanti bisa jalan - jalan ke tempat kita suka." ucap Sakti sambil tersenyum.
"Baiklah mas Bima, Sri terima." Ucap Sri sembari menerima uang cash dan juga ATM dari tangan Bima. Dan kemudian Sri memasukkannya dalam tas kecilnya.
Tak berapa lama mereka telah sampai di sekolah TK dimana Sakti menimba ilmu.
Bima menepikan kendaraannya, dan kemudian berhenti di tepi jalan tepat disamping sekolah Sakti.
"Nah, kita sudah sampai!" seru Bima yang menatap putranya Sakti.
"Sakti salim dulu sama papa!" seru Sri yang mengingatkan pada Sakti.
"Iya ma" jawab Sakti yang kemudian mencium punggung tangan kanan papanya. Dan Bima mengecup kening putranya.
...~¥~...
...Mohon para Readers untuk memberi like/komentar/favorite/rate 5/gift maupun votenya untuk novel JAMU NAIK LEVEL ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...BERSAMBUNG...
,
__ADS_1