
Keesokan paginya suasana di Rumah jamu Sumilah, aktifitasnya seperti biasa.
Setelah Sholat Subuh, Sri membantu Sumilah mengisi botol-botol dengan Jamu.
"Sri jadi kamu nanti perginya?" tanya Sumilah di sela-sela aktifitasnya membuat jamu.
"Iya Bu Lik!" jawab Sri seraya memindahkan botol yang sudah terisi jamu.
Beberapa jam kemudian mereka telah selesai membuat jamu dan semua botol telah terisi jamu.
Sri melangkahkan kakinya ke kamar dan dia segera membersihkan diri untuk mandi dan berganti pakaian yang pantas.
Kemudian Sri melangkahkan kaki keluar dari kamarnya dan menuju ke ruang makan.
Dan pagi ini semuanya sarapan secara bersamaan.
"Sri, kenapa tak pakai pakaian dinas tukang jamu?" tanya Titik saat melihat Sri memakai pakaian biasa.
"Saya hari ini libur dulu, karena ada janji sama teman untuk membantu usaha teman saya!" jawab Sri sembari minum teh yang tadi dibuatnya.
"Oh begitu? hati-hati ya, kalau kenal dengan orang baru." pesan Titik pada Sri yang sudah menyelesaikan sarapan mereka.
"Makasih ya mbak Titik!" ucap Sri yang kemudian membereskan semua piring kotor yang ada di meja.
Tak berapa lama semua yang mau jualan jamu, membawa bakul mereka yang yang berisi jamu ke dalam bak mobil pick up Karyo.
"Lho dik Sri nggak jualan hari ini?" tanya Karyo penasaran.
"Hari ini Sri libur mas, mau ada acara" jawab Sri.
"Dia mau kencan, mas Karyo!" seru Ratna yang tiba-tiba datang.
"Lho, dik Sri mau selingkuh dari mas Karyo ya?" goda Karyo sembil tertawa walau sebenarnya dalam hatinya ada rasa sedikit Cemburu.
"Selingkuh? katanya mas itu kakak Sri, jadi ya nggak selingkuh donk?" ucap Sri sembari tersenyum.
"Sudah-sudah, cepat berangkat sana, keburu siang nanti!" seru Sumilah saat penjual jamunya yang lain sudah berangkat dan tinggal rombongan Karyo.
"Siap Bu bos!" seru Karyo yang kemudian melangkahkan kakinya menuju mobil pick upnya.
Dan tak berapa lama, dia berangkat meninggalkan rumah Jamu Sumilah.
Kini tinggal Sumilah, Ratna, mbok Darmi dan Sri yang ada di rumah.
Sri kemudian membantu mbok Darmi mencuci piring dan membersihkan dapur.
Beberapa menit kemudian datanglah sebuah mobil mewah yang menepi di depan pagar rumah jamu Sumilah.
Dan keluarlah seorang laki-laki tampan yang berusia kurang lebih dua puluh tahunan, dengan langkah tegap laki-laki itu masuk ke dalam halaman rumah jamu Sumilah.
"Eh, Siapa anak muda itu?" bisik Sumilah putrinya Ratna.
"Bukankah itu mas Rafa kakak kelasku dulu dan sekarang diabjadi fotografer yang sedang naik daun?" balas Ratna yang terus memperhatikan gerak langkah laki-laki yang akan menghampiri mereka.
"Assalamu'alaikum...!" salam Rafael saat sudah berada di hadapan kedua ibu dan anak itu.
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam..!" jawab Sumilah dan Ratna bersamaan.
"Ma'af, Sri-nya ada?" lanjut tanya Rafael.
Sumilah dan Ratna sangat terkejut saat mendengar siapa yang di cari Rafael dan keduanya saling pandang.
"Sri, a..ada! sebentar ya" jawab Ratna yang bergegas mencari Sri di kamarnya.
"Oh ya, silahkan duduk nak!" ucap Sumila seraya mempersilahkan Rafael untuk duduk di kursi teras dapan rumahanya.
"Terima kasih Tante!" balas Rafael.Yang kemudian dia melangkahkan kaki menuju kearah kursi tersebut.
"Kalau boleh tahu, anak ini bisa kenal Sri. Itu dari mana ya?" tanya Sumilah yang juga duduk di kursi dekat dengan Rafael.
"Saya kenal Sri karena jualan jamu kok Tante!" jawab Rafael ramah.
Dan mereka pun terlibat dalam pembicaraan ringan.
Sementara itu Ratna yang mencari Sri di kamar gadis yang baru lulus SMP itu di kamarnya.
"Tokk...tokk..tokk..!"
Ratna mengetuk pintu kamar Sri.
"Ya sebentar!" jawab Sri yang kemudian membuka pintu kamarnya.
"Klek... klek.. ceklek..!"
"Oh Mbak Ratna! ada apa mbak?" tanya Sri yang tahu siapa yang mengetuk pintu kamarnya.
"Mas Rafael? oh, dia kan yang tadi aku bicarakan sama Bu lik. Dia pelanggan jamu, mas Rafa minta saya untuk membantu pekerjaan dia" jawab Sri yang sudah selesai berdandan.
"Bisakah kamu kenalkan aku sama dia?" tanya Ratna lirih pada Sri.
Sri sedikit terkejut, "Oh, bisa saja. Kenapa enggak? kita kan hanya berteman saja!" ucap Sri yang kemudian menggandeng tangan Ratna dan mereka segera keluar dari kamar, namun sebelumnya Sri mengambil tas kecilnya.
"Terima kasih ya Sri!" ucap Ratna dengan senyum penuh makna.
Keduanya melangkahkan kaki menuju ke teras rumah Sumilah dan menemui Sumilah dan Rafael yang sedang asyik berbincang-bincang.
Saat melihat ke arah Sri, kedua netra Rafa tak berkedip.
Sri berbeda jika berpakaian biasa, seperti anak usia lima belas tahunan.
"Mas, mas Rafa sudah lama datangnya?" tanya Sri yang penasaran.
"Ya lumayanlah!" ucap Rafa sembari tersenyum.
Ratna menyenggol Sri, seolah memberi kode.
"Oiya mas Rafa, kenalin ini Ratna!" ucap Sri yang memperkenalkan Ratna pada Rafa.
Keduanya saling mengulurkan tangan dan menyebut nama masing-masing.
"Boleh tidak aku ajak mbak Ratna sekalian?" tanya Sri memohon.
__ADS_1
"Ma'af Sri, aku tidak bisa. Ini urusan pekerjaan, bukan pergi bermain!" ucap Rafael secara halus.
"Oh, ma'af ya mbak Ratna. Keputusan hanya ada pada mas Rafa" ucap Sri liri seraya menepuk punggung tangan Ratna.
"Iya nggak apa-apa" jawab Ratna dengan suara serak, karena dalam hatinya dia sangatlah kecewa.
"Rupanya mas Rafael melupakan aku?" kata dalam hati Ratna.
"Ayo Sri, nanti kita kesiangan!" ucap Rafael dan Sri mengangguk menjawab " iya".
"Sri pergi dulu ya bu Lik, mbak Ratna!" ucap Sri seraya melambaikan tangan kanannya.
"Iya, hati-hatii!" balas Sumilah dan Ratna tetap diam dengan kedongkolannya.
"Assalamu'alaikum.." ucap salam Sri dan Rafael bersamaan.
"Wa'alaikumsalam..!" balas Sumilah secara bersamaan.
Sri dan Rafael melangkahkan kaki mereka menuju ke arah dimana mobil mewah Rafael terparkir.
Setelah membukakan pintu untuk Sri, Rafael melangkahkan kaki menuju pintu mobil yang ada di sisi lainnya.
"Sri, aku nggak nyangka kalau kamu ternyata masih imut ya kalau tidak pakai pakaian kebaya!" seru Rafael seraya mengemudikan mobilnya perlahan menusuri jalan raya.
"Ya memang aslinya aku begini mas!" balas Sri seraya tersenyum.
Rafael ikut tersenyum dengan balasan Sri.
"Sri, kenapa kamu bisa ada di rumah Jamu Sumilah?" tanya Rafael yang sekali-kali melihat ke arah Sri.
"Karena kenekatanku, Bu Lik Sumilah menolongku!" jawab Sri yang mengingat masa lalunya.
"Nekat?" tanya Rafael yang penasaran.
"Iya, gara-garanya kedua orang tuaku mau menjodohkan aku sama putra dari kepala desa di desaku." jawab Sri yang juga sesekali memandang lelaki tampan yang ada disampingnya itu.
"Di jodohkan? kok masih ada ya jaman sekarang model dijodohkan segala! lagi pula kamu kan masih kecil!" ucap Rafa terkejut, namun masih tetap bisa mengemudi.
"Ya buktinya kan ada, ya kisah aku ini, he..he..!" balas Sri seraya membenarkan posisi duduknya.
Rafael melirik Sri dan terus mengemudi sampai di tempat tujuannya.
...~¥~...
...Mohon dukungan para Readers untuk memberi like/komentar/favorite/rate 5/gift maupun votenya untuk novel MBAK JAMU NAIK LEVEL ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...BERSAMBUNG...
,
__ADS_1
"