Mbak Jamu Naik Level

Mbak Jamu Naik Level
Sampai di Kampung Halaman


__ADS_3

Oh jadi begitu ya!" ucap Bima seraya menganggukkan kepalanya karena telah mengerti manfaat minuman-minuman herbal itu.


"Air rebusan serai dan jahe saja tentu kurang sedap untuk dikonsumsi. Karenanya, bisa kita menambahkan sedikit gula merah sebagai penambah rasa. Gula merah dinilai sedikit lebih sehat dibanding dengan gula putih. Sebab, gula ini memiliki indeks glikemik yang lebih rendah daripada gula putih.  Indeks glikemik adalah perhitungan kemampuan suatu makanan atau minuman dalam menaikkan kadar gula dalam darah setelah dikonsumsi." jelas Sri.


"Kamu tahu banyak ya Sri?" tanya Bima yang terus memperhatikan Sri dan semakin kagum akan kecerdasan perempuan dihadapannya itu.


"Sri hanya banyak baca saja mas. Semakin rendah indeks glikemik makanan, maka semakin baik. Meski begitu, bukan berarti kita bisa mengonsumsi gula merah sebanyak-banyaknya. Sebab biar bagaimanapun, gula ini tetap bisa menaikkan kadar gula darah. Jika mempunyai riwayat diabetes, sebaiknya hindari konsumsi gula merah layaknya pantang mengonsumsi gula putih."jelas Sri.


"Apakah mengonsumsi air rebusan jahe, sereh, dan gula merah ada resikonya?" tanya Bima yang penasaran.


"Walaupun keduanya adalah bahan alami dan sudah sering digunakan sebagai obat herbal, bukan berarti jahe dan serai tidak memiliki efek samping yang perlu diwaspadai. 


Jika dikonsumsi terlalu banyak, jahe bisa memicu nyeri ulu hati, gas, sakit perut, dan panas di mulut.


Sehingga disarankan untuk tidak mengonsumsi lebih dari 4 gram jahe per hari." jelas Sri.


"Apakah ada efek sampingnya jika kita meminumnya terlalu banyak?" tanya Bima seraya menghabiskan kopinya yang hampir dingin.


"Apabila dikonsumsi terlalu banyak, serai pun dapat memicu beberapa efek samping, seperti: Pusing, mulut kering, meningkatkan keinginan buang air kecil, lemas.Perhatikan juga apabila ada tanda-tanda alergi yang muncul setelah menngonsumsi minuman ini. Jika muncul ruam merah, bengkak, hingga sesak napas, segera berkonsultasi dengan dokter untuk mendapatkan perawatan alergi" jelas Sri yang juga menghabiskan minumannya.


"Satu lagi, Ibu hamil serta orang yang punya riwayat penyakit kronis, sebaiknya berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu sebelum mengonsumsi air rebusan jahe dan sereh sebagai suplemen herbal" lanjut Sri.


"Ok Sri, mas sudah jelas apa yang kamu maksudkan. Sekarang kita lanjutkan perjalanan kita!" ucap Bima yang kemudian bangkit dari duduknya dan diikuti oleh Sri.


Setelah membayar makanan dan minuman, mereka melangkahkan kaki menuju ke mobil mewah milik Bima dan kemudian melanjutkan perjalanan ke kampung halaman Sri.


Selama di dalam mobil, Sri membayangkan apa yang akan terjadi jika mereka sampai di rumah nantinya.


"Kamu kenapa Sri?" tanya Bima yang penasaran melihat Sri yang gelisah.


"Aku tak tahu apa yang akan terjadi dan apa yang dikatakan kedua orang tuaku nantinya, mas" jawab Sri dengan jujur.


"Mas Bima kan sudah katakan kalau kamu tenang saja, biar mas yang atasi semuanya." ucap Bima dengan sepenuh hati dan tesenyum melihat Sri.


Sri sedikit lega melihat senyum manis Bima dan kemudian mengarahkan pandangannya ke jalan raya di depannya.


"Seandainya saja mas Bima ini mas Rafa" ucap dalam hati Sri yang berandai-andai.


Matahari terlihat masih malu-malu untuk berannjak dari peraduannya.


Tak berapa lama mobil yang di tumpangi Sri itu memasuki kota kelahiran Sri.


Sri melihat ke jalanan dan memberikan petunjuk pada Bima jalan yang menuju ke kampung halamannya.


Tak berapa lama mereka telah sampai di depan sebuah rumah yang sebagian dindingnya masih terbuat dari bambu. Orang Jawa bilangnya Gedhek.


Ada beberapa orang yang hendak ke sawah dan ladang, lewat di depan rumah Sri dan mereka melihat Sri yang keluar dari mobil mewah yang belum pernah mereka lihat.

__ADS_1


"Bukankah itu Sri ya?"


"Iya itu Sri"


"Wah, ada kemajuannya dia minggat dari rumah!"


"Iya, dapat orang kaya. Cakep juga!"


Ucap mereka yang saling berbisik.


Walaupun Sri tahu apa yang mereka omongkan, namun dia pura-pura tak tahu dan mengajak Bima masuk ke teras rumah.


"Tokk... tokk...tokk...!" Sri mengetuk pintu.


"Assalamu'alaikum...! Assalamu'alaikum bapak, ibu dik Mar!" Sri mengucap salam,


"Wa'alaikumsalam..!''


Tak berapa lama mendapat jawaban dari dalam rumah.


"Klek...klek...ceklek...!"


Suara pintu yang ada membukanya dari dalam rumah.


Saat pintu terbuka, "Ibu..!" panggil Sri yang buru-buru mencium punggung tangan wanita separuh baya yang banyak tempelan koyok dipelipis matanya dan juga leher bagian belakangnya.


"Sri, ini kamu nak?" ucap tanya Ibunda dari Sri.


"Nggih Bu, puniko dalem Sri" ucap Sri yang meneteskan air matanya.


(Iya Bu, ini memang Sri)


"Ayo mlebu, ora ilok neng tengah Lawang!" seru Ibunda Sri.


(Ayo masuk, tidak pantas di tengah pintu)


"Nggih Bu" jawab Sri.


(Iya Bu)


"Ayo kita masuk mas!" seru Sri pada Bima dan mereka masuk ke rumah dan Sri menutup pintu rumahnya.


"Hukk..hukk...! Piye kabarmu saiki Nduk?" tanya Ibunda Sri dengan terbatuk-batuk menahan rasa gatal di lehernya.


(Hukk...hukk...! Bagaimana kabar kamu sekarang nak?)


"Alhamdulillah sae Bu, wartosipun ibu kalian bapak pripun? sae ugi nggih Bu?" jawab sekalian tanya Sri.

__ADS_1


(Alhamdulillah baik Bu, kabarnya ibu dan bapak bagaimana? Baik juga ya Bu?')


Mereka kemudian duduk di kursi yang terbilang sangat sederhana, karena terbuat dari kayu. Tanpa adanya bisa maupun bantal yang empuk.


"Yo koyo ngene ikilah Nduk! bapak lan ibu gantian masuk nyang rumah sakit" jawab Ibunda Sri.


(Ya seperti inilah nak! Bapak dan ibu bergantian masuk ke rumah sakit)


"Ya Allah" ucap Sri yang merasakan penyesalannya kabur dari rumah.


"Sri, ibu kamu bicara apa sih? aku tidak mengerti!" bisik Bima yang kebingungan menanggapi omongan dari ibunda Sri dan juga Sri yang sedang berbicara itu.


"Oh saling tanya kabar" jawab Sri yang kemudian melihat Ibunya yang melihat Bima dengan rasa penasaran.


"Kui sopomu Sri?" tanya Ibunda Sri.


(Itu siapa kamu Sri?)


"Oh, ini mas Bima Bu. Dia bosnya Sri'' jawab Sri yang sedikit berbohong.


Bima yang tahu maksud Sri segera mengulurkan tangannya pada ibunda Sri dan Ibunda Sri membalasnya.


"Bima Bu"


"Saya Parni, ibundanya Sri" balas Ibunda Sri yang juga menerima uluran tangan dari Bima.


"Ibu, mohon pakai bahasa Indonesia ya. Biar Bima mengerti perkataan ibu" pinta Sri dengan memohon.


"Oh iya" jawab Ibunda Sri yang mengerti maksud dari Sri.


"Terima kasih Bu" ucap Sri.


"Lantas kenapa kamu pulang setelah kabur dari rumah Sri? dan sekarang pulang-pulang bawa laki-laki!" ucap ibunda Sri yang mulai naik nada tingginya.


...~¥~...


...Mohon dukungan para Readers untuk memberi like/komentar/favorite/rate 5/gift maupun votenya untuk novel MBAK JAMU NAIK LEVEL ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...


...BERSAMBUNG...


,

__ADS_1


__ADS_2