Mbak Jamu Naik Level

Mbak Jamu Naik Level
Dua kali air mata Jatuh di pipi


__ADS_3

"Kami keluarganya suster, apa ada sesuatu tentang mama saya?" tanya Bima yang melangkah maju membelakangi Sri dan kedua bodyguard Talina.


"Silahkan masuk ke dalam, ada yang ingin dijelaskan oleh dokter pada anda." jawab perawat itu yang mempersilahkan Bima dan Sri untuk masuk ke ruangan dimana Marlina di rawat.


"Ada apa ya mas?" tanya Sri dengan berbisik.


"Entahlah, lebih baik kita masuk saja!" balas Bima yang juga berbisik.


Sepasang suami istri itu pun segera masuk dan melihat apa yang terjadi pada orang tua mereka.


"Dokter, apa yang terjadi dengan mamaku?" tanya Bima yang langsung menuju ke samping mamanya yang masih terbaring lemas.


"Anda berdua tetaplah disamping nyonya Marlina, dengarkan apa yang ingin beliau sampaikan." ucap dokter yang saat ini berada disamping lainnya dari posisi Marlina.


Bima menggenggam erat tangan mamanya dan mendekatkan telinganya di mulut mamanya.


"Bi...Bima putraku, mama minta ma'af. Mama selama ini bukan mama yang baik bagi kamu dan Rafa. Rafa bukan anak mama, tapi anak papa kamu dengan selingkuhannya. Tapi mama sudah menganggapnya seperti anak mama sendiri. Jaga Rafa, walaupun mama tahu dia sering membuatmu kesal." ucap Marlina yang kemudian berhenti berucap.


"Iya mama, aku sudah tahu sejak dulu. Bima tetap menganggapnya adik ma!' balas Bima yang mengusap air matanya.


Bima kemudian memberi kesempatan pada Sri, untuk mendekat pada mamanya.


Sri menggenggam erat tangan kanan Marlina. Mama mertua Sri itu melihat ke arah Sri dan kedua matanya berkaca-kaca.


"Sri, jaga suami kamu dan anak-anak kamu ya. Mama minta ma'af atas semua perlakuan Rafa padamu. Ma'afkan mama jika selama ini mama selalu membanding-bandingkan dirimu dengan Talina. Kamu memang menantu terbaik mama!" ucap lirih Marlina yang kemudian diam kembali.


"Iya ma, Sri janji akan menjaga suami dan anak-anak Sri nantinya. Dan Sri sudah mema'afkan semuanya." ucap Sri dan meneteskan air mata Marlina.


Sri dengan telaten menyeka air mata mama mertuanya dengan tisu, dan Marlina menatap Sri yang kemudian mengulas senyumnya.


"Sampaikan salam ku untuk Sakti dan lainnya, Selamat tinggal." ucap lirih Marlina.


"Mama ucapkan  La Ilaha Illallah,  La Ilaha Illallah,  La Ilaha Illallah...!" ucap Sri yang membimbing mama mertuanya di detik-detik terakhirnya.

__ADS_1


"Mama ucapkan  La Ilaha Illallah,  La Ilaha Illallah,  La Ilaha Illallah...!" demikian pula dengan Bima, walaupun dadanya terasa sesak jika mamanya benar-benar meninggal dunia.


 "La Ilaha Illallah....!" ucap Marlina walau pelan, Bima dan Sri masih bisa mendengarkannya.


Dan terdengarlah hembusan nafas terakhir Marlina.


"Innalillahi wa Innalillahi roji'uun...!" ucap Bima dan Sri yang hampir bersamaan.


"Mama...!" jerit Bima seketika itu juga dan Isak tangis Bima dan Sri pun pecah.


"Mama, kami ikhlas mama telah dipanggil yang maha kuasa. Semoga mama ditempatkan di tempat terindah di sisi Allah Subhana wa Ta'alla. Aamiin ya Robbal alaamiin." kata Sri seraya menyeka air matanya.


"Innalillahi wa Innalillahi roji'uun...! Kami mewakili rumah sakit, turut berbela sungkawa yang sebesar-besarnya atas meninggalnya nyonya Marlina. Semoga Husnul khatimah." ucap dokter pada Bima dan juga Sri, yang saat ini sudah bisa mengontrol emosi mereka.


"Aamiin ya Robbal alaamiin. Terima kasih dokter, terima kasih semuanya!" ucap Bima yang tak bisa berkata banyak, karena dirinya masih berusaha untuk kuat dan tidak menangis lagi.


Kemudian Bima mengajak Sri untuk keluar, dan duduk di ruang tunggu.


"Sayang, kamu istirahat dulu. Biar mas yang urus semuanya!" bisik Bima yang menuntun Sri untuk duduk di kursi ruang tunggu.


"Tuan Bima!" panggil seseorang yang tak lain adalah bodyguard dua yang menjaga Rafa.


"Ada apa bodyguard dua?" tanya Bima yang penasaran.


"Tuan mohon lihat rekaman ini!" ucap bodyguard itu seraya menunjukkan rekaman video di ponselnya.


"Rekaman apa?" tanya Bima yang penasaran dan kemudian melihat video itu. Dan betapa terkejutnya Bima saat melihat wajah Rafa yang ada perban di kepalanya.


"Video apa sih mas?" tanya Sri yang meminta supaya Bima juga menunjukkan videonya.


Terlihat bahwa Rafa yang membuka mata dan bersuara pelan, berbicara sesuatu. Bima dan Sri kemudian diam memperhatikan.


"Mas Bima, saya minta ma'af jika selama ini selalu menyusahkan mas Bima. Rafa titip dan bayi Rafa uang kelak lahir dari rahim Sri , didiklah seperti mas Bima mendidik Sakti. Rafa sudah ikhlas jika mas Bima bersama Sri. Untuk Sri, ma'afkan saya. Bukan maksud mas Rafa mengkhianatimu, mas Rafa sangat mencintaimu. Sri andai waktu berputar kembali, mas selalu ingin bersama kamu! Rafa akan bertemu papa, selamat tinggal semuanya. La illaha ilallah....!" ucap Rafa uang kemudian menghembuskan nafasnya yang terakhir.

__ADS_1


"Rafa!" panggil Bima uang memegang ponsel dengan gemetaran.


"Innalillahi wa Innalillahi roji'uun...! mas Rafa, terima kasih atas rasa cinta kamu. Kami ikhlas mas Rafa telah dipanggil yang maha kuasa. Semoga mas Rafa ditempatkan di tempat terindah di sisi Allah Subhana wa Ta'alla. Aamiin ya Robbal alaamiin." kata Sri seraya menyeka air matanya dan kembali dia terduduk lemas karena hati ini melihat kedua anggota keluarga suaminya yang telah tiada.


"Aku ingin lihat Rafa untuk terakhir kalinya!" seru Bima yang bangkit dari duduknya, Sri memegang tangan suaminya.


"Sri ikut mas!" seru Sri dan keduanya melihat Rafa untuk terakhir kalinya sebelum di bawa ambulan pulang ke rumah mereka, untuk di makamkan di makam warga di perumahan itu.


Beberapa jam kemudian dua ambulan yang membawa jenasah Marlina dan juga Rafa keluar dari rumah sakit dan diikuti sebuah mobil yang dikemudikan oleh mang Ujang dengan disampingnya mbok Ni yang memangku Sakti yang baru sembuh dari sakitnya, dan di kursi belakang Sri yang bersandar dengan lemas di bahu Bima.


Ketiga mobil itu melaju dengan kecepatan sedang menuju ke arah perumahan dimana Keluarga Bima tinggal.


Tak berapa lama mereka telah sampai dan mereka berhenti di tepi jalan yang ada di depan rumah Keluarga Bima tinggal tersebut.


"Banyak warga yang sudah berdatangan dan membukakan jalan, supaya jenasah bisa masuk ke rumah.


Jenazah siap dimandikan dan dikafani, dan setelah itu banyak yang mengerjakan sholat Jenazah berjama'ah.


Kedua jenazah itu dimakamkan sore itu juga di pemakaman warga. Dan banyak warga yang membantu, karena keluarga Bima terkenal dengan sosialnya pada masyarakat di perumahan sekitar mereka.


Bima, Sakti dan Mang Ujang yang ikut mengantarkan jenazah Marlina dan juga Rafa ke peristirahatan terakhir mereka di pemakaman.


Sementara Sri di temani mbok Ni tetap di rumah karena selain kondisi fisik Sri yang sudah letih, juga menjaga rumah. Jika semua ikut ke pemakaman, maka kondisi rumah akan kosong. Karena itulah Sri tetap di rumah dan Mbok Ni menemani Sri.


...~¥~...


...Mohon para Readers untuk memberi like/komentar/favorite/rate 5/gift maupun untuk novel MBAK JAMU NAIK LEVEL ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...

__ADS_1


...BERSAMBUNG...


__ADS_2