Mbak Jamu Naik Level

Mbak Jamu Naik Level
Kepergian Bima


__ADS_3

Setengah jam kemudian, Sakti bangun dan membuka kedua matanya. Dan dia melihat ke arah kanan dan kirinya, kedua orang tua Sakti sedang tidur dan memeluknya.


"Mama Ci, papa!'' panggil Sakti yang kemudian mencium kedua pipi kedua orang tuanya.


Sri membuka kedua matanya dan memandang ke arah bocah laki - laki kecil yang berada di hadapannya, sedang tersenyum padanya.


Bima juga membuka kedua matanya dan bersama Sri, mereka sama - sama mencium pipi kanan dan kiri Sakti secara bersamaan.


Terlihat bahagia sekali mereka dan Bima mengabadikannya dalam ponselnya. Dan cukup lama Bima memotret kebahagiaan mereka yang sedang bangun tidur.


"Sudah ah, Sakti ayo lekas mandi dan berganti pakaian. Kita berangkat sekolah sama - sama!" ucap Bima sembari mengusap lembut kepala putranya.


"Iya pa!" ucap Sakti yang kemudian melompat kecil turun dari tempat tidurnya, Sri dan Bima tersenyum melihat putranya yang sedang aktif - aktifnya itu.


"Aku mau ke kamar dulu ya!" ucap Bima yang kemudian turun dari tempat tidur Sakti.


"Iya mas, Sri mau menyiapkan pakaian sekolah Sakti berikut dengan buku - buku yang akan dibawa oleh sakti" ucap Sri yang juga turun dari tempat tidur Sakti dtai sisi lain.


"Iya, dan jangan lupa nanti kita sarapan bersama!" seru Bima seraya melangkahkan kaki menuju ke pintu keluar di kamar Sakti.


"Ok!" jawab Sri sembari mengulas senyumnya.


Sri mempersiapkan segala kebutuhan Sakti, setelah itu dia melangkahkan kakinya menuju ke kamar dan mendapati Bima sudah berganti pakaian dan nampaklah ketampanannya yang membuat Sri begitu terpesona dengan suaminya yang sedang menyisir rambutnya itu.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Bima yang sempat melihat ke arah Sri yang masih terbengong - bengong saat masuk ke kamarnya.


"Ti..tidak a..apa - apa" jawab Sri dengan rona wajah yang memerah.


Sri kemudian mengambil pakaian gantinya dan masuk ke kamar mandi.


Bima mengambil tas dan kopernya yang sebelumnya sudah disiapkan oleh Sri.


"Sayang, kamu sudah siap ya?" tanya Sri saat dia membuka pintu kamar mandi dan melihat suaminya sudah siap dengan tas dan kopernya.


'Iya, tinggal menunggu kamu saja!" " ucap Bima sembari mengulas senyumnya.


"Tunggu sebentar ya mas, Sri mau berdandan dulu" ucap Sri yang kemudian mempersiapkan dirinya untuk berhias.


Tak butuh lama Sri sudah berhias diri dan mereka sepakat meninggalkan kamar dan menuju ke ruang makan.


Sesampainya di ruang makan, nampak Sakti dan mamanya Bima sudah berada disana dan mbok Tinah sedang menyuapi Sakti


"Selamat pagi!" ucap salam Bima saat menghampiri mamanya dan memeluk serta mengecup pipi kanan mamanya dan kemudian mengusap kepala Sakti dengan lembut.


Sementara itu Sri mengambil nasi beserta lauk - pauk serta minuman untuk suaminya. Setelah meletakkan piring yang berisi nasi dan lauk - pauknya itu beserta minumannya ke hadapan Bima yang sudah duduk di tempatnya, Sri baru mengambil nasi dan lauk - pauk untuk dirinya beserta minumannya.

__ADS_1


Keempat orang itu segera sarapan dan sebelumnya mereka berdo'a terlebih dulu.


"Kamu jadi berangkat sekarang, Bima?" tanya Marlina yang sudah menghabiskan sarapannya.


"Iya ma, Bima titip istri dan anak Bima ya ma!" ucap Bima yang juga telah selesai sarapan dan melangkahkan kakinya menghampiri mamanya.


Diciumnya punggung tangan kanan mamanya dan juga kening mamanya. Kemudian mereka saling berpelukan.


"Pasti akan mama jaga dengan baik. Dan mama akan merindukanmu, putraku!" ucap Marlina yang diiringi Isak tangisnya.


"Bima juga akan selalu merindukan mama!" balas Bima yang kali ini mamanya yang mencium kening Bima.


"Papa, kapan giliran Sakti? Sakti kan juga mau pamit sama Oma!" seru Sakti yang berada di belakang Bima.


"Iya-iya cucu kesayangan Oma!" canda Bima sembari mengusap kepala Sakti.


"Sakti belajar yang rajin ya!" seru Marlina sembari mengusap kepala Sakti saat Sakti mencium punggung tangannya.


"Iya Oma!" ucap Sakti ya mendongak seraya mengulas senyumnya.


Setelah Sakti, kemudian Sri ikut mencium punggung tangan kanan Marlina.


"Mama, Sri temani Sakti sekolah ya!'' ucap Sri setelah melepas tangan Ibu mertuanya.


"Iya, jaga Sakti baik - baik ya!" pesan Marlina sembari mengulas senyumnya.


Setelah masuk ke dalam mobil, dengan posisi Bima, Sakti dan Sri di kursi belakang dengan Sakti di tengah .


Mobil itu melaju dengan kecepatan sedang menyusuri jalan raya.


"Sakti selama papa tinggal, belajar yang rajin dan ikuti nasehat mama Ci ya!" pesan Bima sambil menatap putranya.


"Iya pa!" jawab Sakti sembari mengulas senyumnya. Dan Bima membalas senyuman putranya.


Tak berapa lama mereka telah sampai di tempat dimana Sakti menimba ilmu.


"Pak, tolong antarkan putraku sampai di sekolah ya! ada hal yang harus saya sampaikan pada istriku!" ucap Bima sembari membantu Sakti untuk turun dengan melewati istrinya.


"Baik tuan" jawab sopir pribadi keluarga Bima, yang kemudian mereka turun meninggalkan Bima dan Sri yang masih di dalam mobil.


"Sayang, jaga bayi ini dan juga jaga kesehatan kamu. Mas menginginkan bayi ini lahir dan jadi adiknya Sakti." pesan Bima pada istrinya.


"Iya mas Sri akan ingat itu selalu." ucap Sri seraya menatap ke arah suaminya dan kemudian tersenyum.


"Kapan - kapan belilah handphone pakai kartu ATM yang mas berikan kemarin. Biar kita bisa saling berkomunikasi" pesan Bima sembari membelai lembut rambut istrinya.

__ADS_1


"Iya mas, ma'af ponsel lama Sri rusak kemarin" ucap Sri yang tak enak hati.


"Sudah tidak apa - apa!" ucap Bima yang kemudian dia menekan sebuah tombol di dalam mobilnya.Dan dalam sekejap semua kaca mobil tersebut menjadi gelap. Sehingga tak nampak dari luar jendela.


"Mas Bima mau apa?" tanya Sri yang penasaran, dan menebarkan pandangannya ke setiap sudut dalam mobil tersebut.


Tangan Bima memegang tengkuk leher Sri, langsung menariknya ke hadapannya dan Bima siap bermain bibir dengan istrinya.


Sri yang mendapat serangan mendadak itu menerima begitu saja, karena ini cumbuan suaminya sebelum mereka berpisah.


Bima terus mengulumm bibir merah istrinya dan terus melakukannya, sampai - sampai Sri sedikit kewalahan.


Tiba - tiba Bima menghentikan aksi mencium bibir istrinya.


"Gawat!" seru Bima yang kebingungan dan membuat Sri khawatir.


"Apa mas?" tanya Sri yang penasaran.


"Batang singkongku berdiri!" bisik Bima yang kebingungan.


"Apa batang singkong?" tanya sri polos yang tak tahu maksud dari suaminya.


Mengetahui istrinya yang tak tahu maksudnya, Bima menggerakkan kedua matanya ke arah resleting celananya yang seolah memberi kode pada Sri.


"A..apa?" bisik Sri sembari membelalakkan kedua matanya saat tahu maksud dari suaminya itu.


"Trus bagaimana ini sayang?" tanya Bima yang masih bingung.


"Sri juga tidak tahu mas? masak melakukannya di sini?" jawab Sri sembari bertanya.


Tiba - tiba Bima menatap Sri penuh harap.


"Bantu mas ya!" seru Bima yang tetap menatap istrinya dengan intens.


"Ba..bantu apa mas?" tanya Sri yang penasaran apa yang akan dilakukan oleh suaminya.


...~¥~...


...Mohon para Readers untuk memberi like/komentar/favorite/rate 5/gift maupun votenya untuk novel JAMU NAIK LEVEL ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...

__ADS_1


...BERSAMBUNG...


,


__ADS_2