
Sri dan yang lainnya terkejut dengan sikap Sakti yang terkesan mendadak itu. Sri menarik nafasnya dan menerima paper bag milik Talina yang ada di tangan Sakti itu.
"Mama Ci terima paper bag ini" ucap Sri yang menerima paper bag dari tangan Sakti.
Marlina, Talina dan Sakti memandang ke arah Sri.
"Tapi mama Ci mau kemba
likan pada yang punya." lanjut Sri yang kemudian memberikan paper bag dari Sakti tadi kembali ke Talina. Dan Talina menerimanya dengan senang hati.
"Mama Ci kenapa begitu? Kan itu kan usaha Sakti agar mama Ci! juga punya baju baru!'' seru Sakti yang penasaran.
"Sakti sayang, Mama Ci ini istri siapa?" tanya Sri pada Sakti, y popang kemudian Sri mengajak Sakti untuk duduk di pangkuannya.
"Istri papa!" jawab Sakti dengan lantang, karena tahu jawaban dari pertanyaan mama tirinya itu.
"Nah, karena itulah mama Ci hanya mau baju baru dari papanya Sakti. Karena semua yang mama pakai dan terima itu harus seiijin papanya Sakti. Mama Ci nggak mau kalau papanya Sakti akan marah sama Mama Ci, karena mama Ci menerima atau memakai benda-benda tanpa seijin papanya Sakti. Sakti mengeti kan?" tanya Sri yang menatap Sakti dengan penuh kasih sayang.
Sakti yang masih bocah itu menggelengkan kepalanya dengan pelan, yang menandakan dirinya memang belum mengerti maksud dari mama tirinya itu.
"Sakti, nggak mengerti ya? Ya sudah, ayo kita ke dapur dan Sakti makan dulu!" ajak Sri seraya menggandeng Sakti dan melangkahkan kaki menuju ke dapur.
Sesampainya di dapur, Sri menghampiri mbok Ni dan mereka mempersiapkan masakan untuk mereka masak. Tak lupa Sri menyiapkan makanan buat Sakti.
"Sakti ini makanan buat kamu sayang, dimakan ya!" pinta Sri yang meletakkan sepiring nasi beserta sayur dan lauk pauknya.
"Makasih mama Ci." balas Sakti yang kemudian makan makanan yang telah disiapkan oleh Sri. Sementara Sri membantu mbok Ni memasak dengan menyiangi sayuran yang telah disiapkan oleh mbok Ni.
Tak berapa lama masakan telah selesai, dan adzan Maghrib pun berkumandang. Sri menunaikan sholat Maghrib di kamarnya masih di temani oleh Sakti.
Setelah itu Sri membantu mbok Ni menyiapkan makan malam keluarga mereka, dan saatnya mereka makan malam bersama.
Sri merata tidak nyaman karena Rafa juga ikut makan malam dan satu meja dengan mereka.
"Kenapa perasaanku tak enak ya? mas Rafa melihat ke arahku menerus!" gumam dalam hati Sri yang melihat Rafa yang melihat ke arahnya.
__ADS_1
Berulang kali Sri berupaya menghindari tatapan mata Rafa, karena dia tak mau jika Rafa mengira kalau Sri masih mengharapkannya.
"Mama Ci.... mama Ci...!" panggil Sakti yang menghampiri Sri.
"Ada apa sayang?" tanya Sri yang menoleh ke arah Sakti yang ada disampingnya.
"Sakti mau makan lagi! he...he...!" jawab Sakti sambil mengulas senyumnya.
"Oh, masih lapar ya? sini mama Ci suapin" ucap Sri yang menyuapi Sakti dengan lemah lembut dan telaten.
Rafa yang melihatnya pun dengan berbinar-binar, dan dia mengulas senyum karenanya.
"Cherr, kamu tambah cantik dengan sifat keibuan kamu." gumam dalam hati Rafa yang memuji Sri.
"Kenapa kamu tak mau kembali padaku? aku lebih tampan dari kak Bima, dan aku belum punya anak!" kata dalam hati Rafa yang melihat ke arah Sri dan terus mengaduk-aduk nasi yang ada di hadapannya.
Hal itu dilihat oleh Talina dan Marlina, mereka melihat tingkah Rafa yang aneh. Talina dan Marlina saling berpandangan.
"Apa istimewanya Sri? hingga mas Rahmfa melihat Sri seperti itu? apa mas Rafa nggak lihat apa perbandingan aku dengan Sri yang sangat jauh, seperti bumi dan juga langit!" gumam dalam hati Talina yang mulai kesal.
Cukup lama kejadian itu berlangsung, Mbok Ni yang sedang menuang minuman untuk Marlina itu pun membatin dalam hatinya menyadari apa yang terjadi.
"Jika ini berlangsung lama, akan terjadi perang dunia ke tiga!" gumam dalam hati Mbok Ni yang merasa kasihan pada Sri.
"Aku tahu sifat mas Rafa sejak kecil, dia tak mau mengalah pada Bima. Dan Bima selalu menutupi kesalahan Rafa yang sejak kecil selalu ingin mengalahkan Bima." gumam dalam hati Mbok Ni yang menelaah sifat dan sikap Bima dan juga Sakti.
Acara makan yang masih berlangsung, namun Sri dan Sakti sudah mendahului mereka ke kamar tidur. Karena Sakti yang sudah mengantuk.
Kali ini Sri dan Sakti berada di kamar sakti, dan Sri sudah menidurkan Sakti. Setelah Sakti tidur, Sri perlahan-lahan keluar dari kamar Sakti dan melangkahkan kakinya menuju ke kamarnya.
Sri melewati ruang keluarga dimana Rafa, Talina, Marlina dan mbok Ni yang bercengkrama. Dan Rafa sesekali melihat ke arah Sri seraya memperhatikan acara televisi.
"Nyonya Sri mau kemana?" sapa mbok Ni saat melihat Sri.
"Saya mau sholat Isya' dulu mbok Ni, nanti kembali lagi tidur bersama Sakti!" ucap Sri seraya mengulas senyumnya dan terus melangkahkan kakinya menuju ke anak tangga yang mengarah ke lantai atas menuju ke kamarnya.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian Sri sudah turun lagi dari lantai atas kamarnya, kembali Sri melewati ruang keluarga dimana keluarga dari suaminya masih menonton televisi bersama.
Rafa pun masih menyempatkan dirinya melihat ke arah Sri dan sesekali membuang mukanya untk megelabui Talina yang melihat ke arahnya.
Sri sudah masuk ke dalam kamar Sakti, dia sengaja tidak ikut nimbrung di ruang keluarga tersebut. Karena tidak mau kontak mata langsung dengan Rafa.
Malam semakin larut, dan semuda penghuni rumah itu sudah masuk ke alam mimpi mereka masing-masing.
Jam dinding menunjukkan jam tiga dini hari, tiba-tiba Sri merasakan rasa mual yang luar biasa. Sri bangun dari tidurnya dan bergegas melangkahkan kakinya menuju ke kamar mandi.
"Hoekk.... howekk.... hoeeekk...!"
Sri muntah-muntah dengan mengeluarkan cairan berwarna kuning. Dan badan Sri mulai lemas.
Istri Bima mengalami muntah-muntah lumayan lama, dan perlahan dia keluar dari kamar mandi.
Ada dorongan rasa haus di tenggorokannya, Sri memberanikan diri keluar dari kamar dan melangkahkan kakinya menuju ke dapur.
Sesampainya di dapur, Sri bergegas mengambil gelas dan menghampiri dispenser kemudian menekan kran yang terdapat di Dispenser tersebut.
Setelah penuh, Sri meminum air putih tersebut dan tak menyadari ada seseorang yang mengikutinya saat keluar dari kamar Sakti sampai ke dapur.
Karena masih haus, Sri kembali menekan kran dispenser dan meminum kembali air putih tersebut.
Setelah selesai dia meletakkan gelasnya dan tiba-tiba saja orang yang mengikuti Sri dari tadi menghampiri istri dari Bima tersebut.
...~¥~...
...Mohon para Readers untuk memberi like/komentar/favorite/rate 5/gift maupun votenya untuk novel MBAK JAMU NAIK LEVEL ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
__ADS_1
...BERSAMBUNG...