
Sesampainya di sekolah, yernyat sudah banyak para ibu-ibu dan teman-teman sakti yang sudah datang ke tempat sekolah Sakti.
Sakti dan Sri melangkahkan kakinya menuju ke tempat sekolah taman kanak-kanak dimana Sakti menimba ilmu.
Sri kemudian duduk bergabung dengan ibu - ibu yang sedang menunggui anak mereka sekolah.
Dan terjadilah obrolan antara ibu - ibu yang sebetulnya Sri malas mendengarkannya, namun terpaksa karena mengingat dia tak ada pilihan lain selain tetap bersama mereka.
Tak berapa lama seperti biasa terdengar suara seorang perempuan yang menjajakan dagangannya.
"Jamu, jamu....!" seru suara perempuan yang dikenal oleh Sri dan yang lainnya.
"Eh, itu mbak jamu sudah datang!" seru yang lainnya.
Sri ingat kalau itu suara Minah yang sedang berjualan jamu.
"Jamu...jamu! jamunya Bu!" seru tukang jamu itu yang memang tak salah lagi kalau itu Minah.
Minah meletakkan bakul jamunya di tempat biasanya dia berhenti untuk melayani pembeli.
"Mbak jamu, aku seperti biasanya ya!" seru beberapa ibu - ibu yang menghampiri Minah, dan Minah melayaninya dengan sabar dan telaten.
"Iya, iya sabar - sabar ya ibu - ibu!" seru Minah yang melayani satu persatu ibu - ibu yang mengantri membeli jamu.
Sri masih diam di tempatnya, karena tidak mau mengganggu Minah yang sedang mengais rejeki itu.
"Eh, mbak jamu!" panggil salah satu ibu - ibu yang membeli jamu.
"Ada apa Bu?" tanya Minah sembari menuangkan jamu beras kencur ke dalam gelas.
"Saya pesan satu botol kunyit asam ya, buat dibawa pulang!" ucap seorang ibu yang ada dihadapan Minah.
"Oiya Bu, saya tuangkan sebentar ya!' ucap Minah dengan ramah melayani pembelinya.
"Teett...!"
Tak berapa lama bel istirahat berbunyi, para siswa yang membawa bekal ada yang memakan bekalnya dan yang tidak membawa bekal ada yang jajan di warung dekat tempat mereka menimba ilmu itu.
Dan ada diantara mereka yang juga membeli jamu dagangan Minah, tanpa terkecuali dengan Sakti.
Bocah cilik putra Bima itu membeli jamu juga walaupun dari rimah mbok Ni sudah membawakannya bekal.
"Mama Ci, Sakti beli jamu dulu ya!" ucap Sakti yang kemudian Sri memberinya selembar uang lima ribuan pada Bima.
__ADS_1
"Iya, sana pergi dan bilang sama mbak jamu kalau beli jamu seperti biasanya ya!" ucap Sri pada Sakti.
Setelah menerima uang tersebut, Sakti melangkahkan kakinya menghampiri Minah dan membeli jamu untuknya.
Minah pun melayani Sakti dengan sedikit candaan yang membuat Sakti mengulas senyumnya. Setelah Minah memberikan jamu pesanan Sakti, sakti melangkahkan kakinya menghampiri ibu tirinya.
"Mama Ci, ini jamunya!" ucap Sakti sambil mengulas senyumnya.
"Makan bekalnya dulu baru minum jamunya ya!" seru Sri dan Bima pun menganggukkan kepalanya. Dengan lahap Sakti menerima setiap suapan nasi bekal dari Sri. Dan tak berapa lama nasi itu telah habis.
"Nah sekarang baru boleh minum jamunya!" ucap Sri seraya mengusap lembut kepala Sakti dan beberapa saat kemudian bel masuk pun berbunyi.
"Teett...!"
"Nah, bel sudah berbunyi. Sakti masuk dulu ya!" seru Sri pada Sakti seraya membereskan peralatan bekal Sakti.
"Iya mama Ci. Mama Ci tetap disini ya!'" pinta Sakti dengan memohon.
"Iya sayang, mama Ci masih berada di sini!" ucap Sri yang mengulas senyumnya dan mencium kening Sakti.
Dan Sakti membalas dengan senyuman manis pula pada mama barunya.
Kemudian sakti melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruang kelasnya dan memulai pelajaran barunya.
"Sri, apa kabar?" tanya sapa Minah saat menghampiri Sri.
"Eh, mbak Minah. Alhamdulillah Sri baik-baik saja." jawab Sri dan nampak kedua mata Sri yang berkaca-kaca.
"Kamu kenapa Sri?" tanya Minah yang biasanya jika sahabatnya itu menangis, pasti dia sedang dalam masalah yang berat.
"Minah, ternyata kalau ditinggal suami itu godaannya banyak ya? selain rindu ada juga yang menggangu. Apa lagi gangguannya ada dari dalam rumah." curahan hati Sri pada Minah, dan Minah mencoba mendengarkan keluhan dari sahabatnya itu.
"Memang begitulah kalau sedang LDR, memangnya gangguan apa Sri? apakah segawat itu, hingga kamu menumpahkan air mata?" tanya Minah yang penasaran.
"Iya, kamu tahu Rafa adik tiri suamiku yang dulu sempat menjadi kekasihku?" tanya Sri pada sahabatnya Minah.
"Iya, memangnya kenapa?" tanya Minah yang masih penasaran.
"Dia mengganggu aku dan selalu meminta untuk balikan. Tentu saja aku tidak mau, dia sudah beristri dan aku juga bersuami. Tapi dia masih mengeyel juga, selalu mengganggu aku saat aku sendirian. Aku selalu membuat diriku selalu bersama orang-orang yang berada di dalam rumah. Sampai aku mangancam membunuhnya, namun dia tak menggubris ancaman aku dariku itu, sampai-sampai aku mengancam membunuh diriku sendiri." jelas Sri yang menyeka air matanya.
"Apakah Suami kamu Bima tahu tentang hal ini?" tanya Minah yang penasaran. Dan Sri menggelengkan kepalanya dengan pelan-pelan.
"Terus apa kamu tak menghubungi suami kamu?" tanya Minah yang penasaran.
__ADS_1
"Tidak, karena selama ini aku tidak punya ponsel dan tak tahu nomor ponsel suamiku." ucap lirih Sri yang membuat Minah sangat terkejut.
"Apa Sri? tak punya ponsel dan nomor ponsel suamimu? kamu ini istri macam apa! jika suami kamu disana kenapa-kenapa, belum lagi kalau selingkuh bagaimana?" pertanyaan beruntun dari Minah untuk Sri.
"Jadi ponsel sangat penting ya?" tanya Sri yang menyeka air matanya.
"Ya iya sayangku cintaku kasihku menggebu! sekarang ini jamannya sudah serba internet, kamu masih dengan jaman batu!" seru Minah yang gemas dengan perilaku sahabatnya itu.
"Iya, aku juga disarankan oleh mbok Ni. Asisten pembantu rumah tangga di rumah kami." jawab Sri seraya menatap ke arah Minah.
"Nah, tunggu apa lagi! pulang sekolah nanti mampir beli ponsel berikut kartu SIM dan memory ya!" seru Minah seraya menepuk punggung tangan sahabatnya itu.
"Teet..... teeeet....!"
Bunyi bel tanda pulang sekolah berbunyi, Minah undur diri dan melangkahkan kakinya meninggalkan Sri dan sekolah dimana Sakti menimba ilmu.
"Mama Ci!" panggil Sakti yang menghamburkan dirinya memeluk Sri.
"Eh, si ganteng dan selesai sekolahnya. Yuk kita pulang ya!" ajak Sri seraya membelai lembut kepala Sakti.
"Ayo Ma!" sahut Sakti dan keduanya pun melangkahkan kaki mereka menuju ke mobil yang sedari tadi terparkir agak jauh dari sekolah Sakti.
Sakti dan Sri kemudian naik ke mobil, kemudian mang Ujang melajukan mobil keluar dari kawasan sekolah Sakti menuju ke jalan raya,
"Mang Ujang, nanti mampir ke counter handphone sebentar ya!" pinta Sri saat mobil keluar dari kawasan sekolah Sakti dan melewati gapura perkampungan.
Tak berapa lama mang Ujang menepikan kendaraannya dan kemudian menghentikannya dan mematikan mesin mobil mewah tersebut.
"Mang Ujang bantu Sri memilih ponsel ya, karena aku masih awam dengan ponsel" ucap jujur Sri sebelum ketiganya turun dari mobil.
"Iya nyonya, sebaiknya kita turun dari mobil sekarang juga." ucap mang Ujang dan ketiganya pun turun dari mobil dan melangkahkan kakinya menuju ke tempat jual-beli ponsel itu.
...~¥~...
...Mohon para Readers untuk memberi like/komentar/favorite/rate 5/gift maupun votenya untu k novel MBAK JAMU NAIK LEVEL ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...BERSAMBUNG...
__ADS_1