
Namun sebelumnya Sri membersihkannya, karena lama tak di tempati oleh pemiliknya.
"Nah, sudah selesai Sri membersihkan kamar Sri. Mas Rafa bisa tidur sekarang. Sri mau bantu ibu memasak buat sarapan kita!" ucap Sri sembari mengulas senyumnya.
"Yang kamu bilang siapa tadi?" tanya Bima yang sedikit cemburu.
"Bilang apa sih mas?" tanya Sri yang bingung.
"Tadi kamu sebut-sebut Rafa segala!" jawab Bima yang kemudian masuk ke kamar dan menebarkan. pandangannya ke setiap sudut kamar Sri.
"Masak Sri sebut-sebut mas Rafa?" tanya Sri yang penasaran.
"Iya kamu sebut-sebut laki-laki yang meninggalkan kamu, dan menikah dengan orang lain itu! He .he..kalau bukan adik tiri ku yang kesayangan papaku, aku hajar dia sampai rumah sakit!" gerutu Bima yang kemudian duduk di tepi tempat tidur yang ada di kamar Sri itu.
"Ma'afkan Sri ya mas, bukan maksud Sri untuk membuat mas Bima kesal" ucap Sri yang merasa bersalah.
"Iya sudah mas Bima ma'afkan. Sekarang cepat bantu ibu masak, kasihan kalau ibu sampai kelelahan!" seru Bima seraya mengulas senyumnya.
"Makasih mas, selamat istirahat!" ucap Sri dengan senyum mengembangnya.
"Iya sama-sama Sri" balas Bima yang kemudian dia merebahkan dirinya diatas tempat tidur dan memejamkan kedua matanya.
Sri keluar dari kamar dan menutup pintu kamarnya, kemudian dia melangkahkan kakinya menuju ke dapur.
Dilihatnya sang ibu yang sedang menanak nasi dan merebus air untuk membuat minuman teh.
"Sri kamu lanjutkan memasaknya, ibu mau membersihkan seluruh badan bapak kamu!" seru ibu Parni ibunda Sri.
"Iya Bu" ucap Sri yang mengambil tempe dan hendak mengirisnya.
Ibu Parni melangkahkan kakinya untuk mengambil ember kecil dan juga handuk kecil. Kemudian dituangnya air panas di ember tersebut dan kemudian memberinya air dingin agar air hangat suam-suam kuku saja.
Lalu ibunda Sri itu melangkahkan kakinya menuju ke kamar dimana bapaknya Sri terbaring di tempat tidur di sana.
Sementara itu Sri sibuk dengan memasak dan juga mencuci piring serta menyapu lantai dapur.
Setelah selesai Sri menyapu dan membersihkan setiap sudut rumah dan juga halaman rumah.
Nampak para tetangga yang bergerombol pada saat melihat Sri.
Sri tahu apa yang dilakukan para tetangganya itu, namun dia hanya diam dan tetap dalam aktifitasnya yang menyapu halaman dan membakar sampah-sampah yang menggunung.
Setelah selesai Sri mulai melangkahkan kakinya ke kamar mandi dan Sri melakukan ritual mandinya.
Bima tebangun dari tidurnya dan dia melangkahkan kakinya keluar dari kamar dan menghampiri Ibunda Sri yang sudah membersihkan tubuh bapaknya Sri, dan saat ini ibunda Sri itu sedang mengambilkan sarapan untuk bapaknya Sri.
__ADS_1
"Ibu, Sri ada dimana?" tanya Bima pada saat menghadiri ibunda Sri.
"Sri sedang mandi, tunggulah sebentar. Pasti sebentar lagi dia selesai mandinya" jawab ibunya sri Sri yang kemudian melangkahkan kakinya menuju ke kamarnya.
Tak berapa lama Sri keluar dari kamar mandi dan melangkahkan kakinya menghampiri Bima.
"Mas Bima mau mandi?" tanya Sri yang melihat Bima menghampirinya.
"Iya Sri" jawab Bima tanpa ragu.
"Oh, mandinya ditempat dimana tadi kita wudlu" ucap Sri yang kemudian mengantarkan Bima menuju ke sumur yang memang ada kamar mandinya.
Bima mandi dan Sri menyiapkan sarapan ke meja makan.
Beberapa menit kemudian mereka berkumpul di meja makan dan sarapan bersama, Sri, Bima dan juga ibunya Sri.
Disaat mereka sedang asyik sarapan, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu depan rumah itu.
"Tokk...tok...tok...!"
"Assalamu'alaikum .!" suara salam dari luar pintu rumah.
"Siapa Bu pagi-pagi bertamu?" tanya Sri yang seperti ingat suara itu namun masih ragu untuk menjawabnya.
"Itu pasti adik kamu Martani, biasanya dia mengantar sayur dan lauk untuk ibu dan bapak." jawab Ibunda Sri.
Sri melangkahkan kakinya menuju ke arah pintu dan kemudian membuka pintu depan rumah tersebut.
"Klek...klek...ceklek...!"
"Wa'alaikumsalam..!" jawab Sri yang seraya membuka pintu dan melihat siapa yang bertamu di pagi hari itu.
"Mbakyu..!" seru seorang perempuan yang sangat dikangenin oleh Sri.
"Dek Mar, Martani adikku..!" balas Sri yang kemudian mereka saling berpelukan untuk melepas kerinduan mereka.
"Kapan mbakyu pulang?" tanya Martani pada saat mereka melepaskan pelukan mereka.
"Subuh tadi, ayo kita sarapan bersama!" ajak Sri yang kemudian merangkul Martani dan Martani mengikut saja.
"Mbak, mbak bawa mobil. Apa mbak sudah sukses di kota?"tanya Martani yang penasaran.
"Oh, itu mobilnya calon suami mbak. Itu dia sedang sarapan sama ibu dan mbak!" jawab Sri yang menunjuk pada Bima yang sedang menikmati hidangan masakan Sri itu.
"Mbakyu ganteng banget calon mas iparku!" bisik Martani di telinga Sri.
__ADS_1
"Hm..!" Sri berdehem seraya mengulas senyumnya.
"Eh, Mar kenalan sama nak Bima dulu!" seru Ibunda Sri yang melihat Martani bersama Sri.
"E..iya Bu!" jawab Martani yang menghampiri Bima dan mengulurkan tangannya.
"Ma'af mengganggu sebentar, saya Martani" ucap Martani seraya mengulurkan tangannya dan Bima menyambut uluran tangan Martani.
"Saya Bima, adiknya Sri ya?" balas Bima seraya bertanya.
"Oh iya mas Bima. Saya adiknya mbak Sri" jawab Martani.
"Ayo kamu sarapan sekalian, tambah ramai tambah semangat sarapannya!" seru Ibunda Sri .
"Iya Bu, tapi ini Martani bawa lauk dan sayur juga buat ibu dan bapak." ucap Martani.
"Bapak sudah makan tadi, biar ibu dan mbak kamu yang makan. Kamu makan sayur masakan mbak kamu. Pasti kamu kangen ya makan masakan mbak kamu, Sri?" ucap dan tanya Ibunda Sri.
"He. he..!:Iya Bu" ucap Martani yang kemudian mengambil piring dan juga nasi berserta sayur dan lauknya.
Kemudian mereka sarapan bersama menikmati makanan yang ada diatas meja.
"Masakan kamu tambah enak Mar!" seru Sri yang menikmati sayur dari Martani.
"Masakan mbak Sri juga ia the best!'' balas Martani, dan mereka saling lempar pujian dan juga senyuman.
Dan mereka menyelesaikan sarapan mereka, setelah itu Martani membantu Sri membereskan bekas sarapan mereka.
Sedangkan Bima dan Ibunda Sri menuju ke kamar menemui bapaknya Sri.
"Pak Hardi, saya Bima. Saya bermaksud mau menikahi putri bapak. Dan kami memohon restu dari bapak untuk kami bisa menikah dengan secepatnya" ucap Bima pada saat berada di tepi tempat tidur dimana bapak Sri terbaring seraya memegang tangan bapaknya Sri.
Pak Hardi diam dan menatap wajah Bima dengan penasaran.
"Pak, nanti bapak dibawa ke rumah sakit ya. Biar bapak cepat sembuh dan bisa merestui pernikahan putri kita Sri dengan Nak Bima" ucap Ibunda Sri yang berdiri disamping Bima dan dekat dengan suaminya yang terbaring.
...~¥~...
...Mohon dukungan para Readers untuk memberi like/komentar/favorite/rate 5/gift maupun votenya untuk novel MBAK JAMU NAIK LEVEL ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
__ADS_1
...BERSAMBUNG...
,