
"Alhamdulillah Sri juga baik-baik saja." ucap Sri dan mereka kini saling berhadapan dan Sri sempat memeluk mbok Ni. Keduanya sedang melepas kangen mereka.
"Nyonya, banyak yang ingin mbok Ni sampaikan selama nyonya tinggalkan." ucap mbok Ni yang tiba-tiba, membuat langkah Sri terhenti.
"Apa yang mbok Ni ingin sampaikan?" tanya Sri yang penasaran.
Mbok Ni melihat ke arah mang Ujang, dan mang Ujang menganggukkan kepalanya memberi persetujuan pada mbok Ni untuk menyampaikan apa yang selama ini telah terjadi.
"Tuan Bima telah kembali dari luar negeri nyonya!" ucap mbok Ni dengan raut wajah yang sedih.
"Mas Bima pulang? kenapa tak memberitahukan padaku?" tanya Sri yang penasaran.
"Beliau ada di rumah sakit ini juga, tapi ada di di ruang gawat darurat." jawab Mang Ujang yang ikut dalam pembicaraan itu.
"Ruang gawat darurat? apa yang terjadi dengan mas Bima?" tanya Sri yang perasaannya mulai tak menentu.
"Bukan tuan Bima yang sakit, tapi nyonya Marlina yang sakit!" jawab mbok Ni yang memandang ke arah Sri.
"Ibu mertua?" tanya Sri lagi yang mengulas perutnya.
"Nyonya terkena serangan jantung, saat mendengar dan melihat pertengkaran tuan Bima dan tuan Rafa." jawab mbok Ni.
"Mas Bima bertengkar dengan Mas Rafa? Ya Allah, apa karena aku ya?" kata dalam hati Sri yang badannya mendadak gemetaran dan duduk lemas di kursi ruang tunggu.
"Nyonya, nyonya tidak apa-apa?" tanya Mbok Ni yang khawatir karena melihat wajah pucat majikan perempuannya.
"Aku belikan minum ya mbok!" seru mang Ujang yang ikut khawatir.
"I....iya Mang Ujang!" jawab mbok Ni yang kemudian mengipasi Sri.
"Mbok, Sakti sakit. Neneknya juga sakit, sedangkan papanya dan omnya bertengkar! Bagaimana ini mbok?" ucap Sri yang kedua matanya berkaca-kaca.
"Nyonya yang tenang ya, kasihan bayi yang ada dalam kandungan nyonya!" ucap Mbok Ni yang terus mengipasi Sri untuk memberikan udara pada Sri yang seakan-akan udara di ruang tunggu itu terasa pengap.
Tak berapa lama mang Ujang datang dengan membawa tiga botol air mineral botol tanggung, dang menyerahkan satu botol untuk Sri.
Mbok Ni membantu membukakan tutup botol air mineral itu dan kemudian Sri meminumnya.
Hampir setengahnya Sri meminum air mineral tersebut. Dan Sri kini lebih tenang dan terlihat lebih segar.
__ADS_1
"Terima kasih mbok Ni, mang Ujang. Sri sudah mendingan, lebih baik kita menjenguk Sakti terlebih dulu!" ucap Sri yang kemudian bangkit dari duduknya.
"Iya nyonya, tapi apa nyonya sudah dalam keadaan baik-baik saja?" tanya mbok Ni yang juga bangkit dari duduknya.
"Aku sudah tidak apa-apa, aku ingin lihat kondisi Sakti saat ini." jawab Sri dan mereka melangkahkan kaki mereka menuju ke ruang rawat dimana Sakti berada.
"Assalamu'alaikum!" ucap salam Sri saat melihat sakti yang membuka kedua matanya dan terlihat masih lemas.
"Wa'alaikumsalam! Mama Ci...!" jawab sekaligus panggil Sakti saat melihat perempuan yang baru saja mengucap salam.
"Sayang ku Sakti, apa kabar nak?" sapa Sri yang menghamburkan diri menghampiri Sakti dan memeluk bocah yang sedang berusaha untuk duduk itu.
"Mama Ci, mama Ci kemana saja? Sakti sangat rindu mama Ci!" racau Sakti dengan isak tangisnya.
"Mama Ci juga rindu sama jagoan papa Bima!" balas Sri yang terus memeluk Sakti dengan eratnya. Keduanya menumpahkan rasa rindu mereka yang sudah tak bisa di bendung lagi.
"Mama Ci, jangan pergi lagi. Sakti janji tidak akan sakit, kalau mama Ci tidak pergi lagi!'' racau Sakti yang kemudian melepaskan pelukan mereka.
"Mama Ci tidak akan pergi lagi, mama Ci akan bersama sakti dan Dede bayi nantinya!" ucap Sri seraya mengusap perutnya.
"Adek bayi?" tanya Sakti yang masih bingung dan melihat perut Sri.
"Benarkah?" tanya Sakti yang bersemangat.
"Iya benar, makanya mas Sakti jangan nakal dan jangan rewel ya! Biar dedek bayi nggak ditiruin sama Adek bayi nanti!" jawab sekaligus pesan Sri.
"Iya ma, Sakti janji deh nggak akan nakal dan rewel lagi! kan sudah jadi kakak!" ucap polos Sakti. Sri, mbok Ni dan Mang Ujang tersenyum karenanya.
"Mama Ci sudah ketemu Sakti, sekarang mama Ci pingin ketemu papa Bima. Kata ya papa Bima sudah pulang ya?" tanya Sri seraya menatap wajah polos Sakti.
"Iya, ma. Papa sudah pulang, tadi pagi jenguk Sakti. Kata papa, Oma juga dirawat di rumah sakit ini. Jadi bareng sama Sakti!" jelas Sakti dan Sri mengangguk tanda mengerti.
"Oh, jadi Oma juga sakit ya? kalau begitu mama Ci juga mau jenguk Oma sekalian ya!" ucap Sri yang pura-pura baru tahu, untuk membesarkan hati Sakti.
"Iya, ma. Sampaikan salam Sakti sama Oma.Bilang sama Oma kalau Sakti sudah baikan, malah lebih baik!" seru Sakti sambil mengulas senyumnya.
"Ok, anak jagoan mama Ci tak kenal rasa sakit! mantap!" seru Sri seraya menunjukkan dua jari jempol tangannya pada Sakti yang tentu saja hal itu membuat sakti merasa bangga dan semangat.
"Makasih Mama Ci!" ucap Sakti.
__ADS_1
"Kalau begitu mama Ci mau bertemu papa dulu ya!" ucap Sri seraya mengecup kening Sakti.
"Iya mama Ci!" jawab Sakti yang mengulas senyumnya.
"Assalamu'alaikum!" ucap salam Sri seraya melambaikan tangannya dan bangkit dari duduknya yang sebelumnya duduk di tepi tempat tidur Sakti.
"Wa'alaikumsalam!" balas Sakti yang juga melambaikan tangannya.
"Nyonya, biar saya antar ke ruangan Nyonya Marlina! Biar mang Ujang yang jaga mas Sakti!" ucap Mbok Ni yang menawarkan dirinya.
"Iya nyonya, mas Sakti biar saya yang jaga!" ucap Mang Ujang saat Sri menatap ke arahnya.
"Oh, baik mbok!" ucap Sri seraya menganggukkan kepalanya.
Kedua wanita beda usia itu melangkahkan kaki mereka menyusuri lorong-lorong rumah sakit.
"Sakti sebenarnya sakit apa mbok?" tanya Sri yang mensejajarkan langkahnya dengan langkah mbok Ni.
"Gejala tipes nyonya, itu yang saya dengar dari dokter kemarin!" jawab Mbok Ni dan Sri paham apa yang dikatakan oleh mbok Ni tersebut.
"Tanda-tandanya bagaimana mbok?" tanya Sri yang ingin mengetahuinya.
"Mas Sakti mengalami demam lebih dari seminggu dan tidak mereda dengan penggunaan obat penurun panas. Demamnya makin tinggi secara bertahap setiap harinya, dan berlangsung hingga 3 minggu. Tubuh mas Sakti mengalami lemas, nyeri kepala, nyeri pada persendian, nyeri pada otot-otot tubuh, perut terasa kembung atau nyeri, diare atau sulit buang air besar, mual dan muntah
batuk, penurunan berat badan atau nafsu makan, tampak gelisah." jelas Mbok Ni yang disimak oleh Sri.
"Sakti, Ma'afkan mama Ci!" gumam Sri yang merasa bersalah meninggalkan Sakti. Sri menarik nafasnya panjang dan menghembuskannya secara pelan-pelan.
...~¥~...
...Mohon para Readers untuk memberi like/komvotenyaentar/favorite/rate 5/gift maupun untuk novel MBAK JAMU NAIK LEVEL ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...BERSAMBUNG...
__ADS_1