
"Sri...!" panggil Karyo yang turun dari pick up nya dan langsung menghampiri Sri yang melenggang masuk ke halaman rumah Jamu Sumilah.
"Eh, mas Karyo!" jawab Sri saat berbalik dan melihat karyobyang ada di belakangnya.
"Kamu diantar siapa tadi?" tanya Karyo yang penasaran.
"Oh, sama langganan jamu. Tadibtahu mas Karyo nggak bisa jemput, jadi dia menawarkan diri untuk mengantarkan Sri pulang.
"Oh, begitu!' kata Karyo yang kemudian berjalan mensejajarkan dirinya dengan Sri.
Keduanya kemudian masuk ke rumah bagian dapur, dimana Sumilah dan mbok Darmi sedang sibuk menyiapkan jamu buat di jual siang hingga sore hari.
"Assalamu'alaikum..!"salam Sri waktu masuk bersamaan dengan Karyo.
"Wa'alaikumsalam .!" jawab Sumilah dan Mbok Darmi bersamaan.
"Eh Yo, kamu jemput Ratna bareng sekalian jemput Sri. Ratna katanya pulang sekolah main ke rumah temannya. Yang juga satu perumahan dengan tempat Sri berjualan." kata Sumilah menjelaskan.
"Baik Juragan!" ucap Karyo seraya menundukkan kepalanya sebentar.
"Kemarin Nyonya, trus Ndoro, sekarang Juragan, besok pasti Bos!" celetuk Sri masalah panggilan Karyo pada Sumilah.
"Aku itu bingung manggilnya juragan Sumilah! Soalnya masih muda dan cantik walau pun sudah punya anak yang duduk di bangku SMA!" jelas Karyo.
"Haiyah tanda-tanda minta gaji naik!" seru mbok Darmi.
"Yo, rayuanmu itu tak mempan untukku!" ucap Sumilah sembari tertawa dan diikuti yang lainnya.
"Ya namanya usaha, nggak salah kan?" ucap Karyo yang kemudian pergi ke kamar mandi, untuk buang hajatnya.
Setelah Sri memberikan hasil penjualan jamu pada Sumilah, dia mencuci botol-botolnya agar nanti bisa di gunakan jualan lagi nanti siang.
"Kalau sudah selesai, istirahat saja dulu Sri. Yang buat jamu biar aku dan di bantuin sama mbok Darmi!" ucap Sumilah pada Sri.
"Iya Bulik" jawab Sri yang kemudian melangkahkan kakinya menuju ke kamarnya dan jam menunjukan pukul sebelas siang.
Sesampainya di kamar, Sri membersihkan diri dan mencoba memejamkan kedua matanya.
"Bima..seperti pernah ketemu, tapi dimana?" tanya di benak Sri yang selalu berkecamuk.
Dan akhrnya Sri terlelap dalam mimpinya.
Dua jam kemudian Sri keluar dari kamarnya.
Nampak Sumilah dan mbok Darmi sudah menyelesaikan tugas mereka.
"Sri makan dulu sebelum berangkat jualan!' seru Sumilah saat Sri menghampirinya.
"Iya Bu Lik!" jawab Sri yang kemudian melangkahkan kaki ke ruang makan, untuk makan siang.
Nampak di ruang makan ada Karyo dan dua perempuan yang sama-sama jualan jamu.
"Mas Karyo, Rahayu, dan Titik, kalian ternyata dah di sini?" tanya Sri seraya mengambil piring dan kemudian mengambil nasi di dalam magic com.
__ADS_1
"Iya, habisnya lapar banget!' jawab Rahayu yang apa adanya.
"Iya, lapar sekali!" ucap Titik yang tidak mau kalah.
"Sri,kamu nanti tetap di tempat jualan Minah kan?" tanya Karyo sembari makan.
"Iya, aku juga ada janji sama pangeran tampan!' jawab Sri yang telah mengambil nasi bersama lauknya itu, kemudian mencari kursi untuk duduk saat akan makan.
"Pangeran tampan?" tanya Rahayu dan Titik bersamaan.
"He..he..! anak kecil yang baru sekolah di Playgroup, tampan sekali anaknya. Seperti bapaknya, he..he..!' jawab Sri yang kemudian mulai menyendok nasi beserta lauk dan sayur dari atas piring dan masuk ke mulutnya.
"Ohw, pantesan kok pangeran!" ucap Rahayu.
Dan mereka berempat menyelesaikan acara makan mereka.
Setelah itu Sri, Rahayu dan Titik mempersiapkan bakul dan jamu-jamu yang akan dia jual nantinya.
"Kalau sudah selesai, cepat kalian ganti baju. Dan Karyo! bantu angkat bakul-bakul ini ke bak mobil!" perintah Sumilah.
"Iya Bulik!" jawab Sri, Titik dan Rahayu bersamaan.
"Iya Juragan!" balas Karyo yang mengangkat satu persatu bakul yang ada isi jamunya itu.
Tak berapa lama Sri, Rahayu dan Titik keluar dari kamar mereka masing-masing.
"Hai ladies, sudah siap semuanya?" ucap Karyo yang ada di dalam mobil.
"Sudah..!" jawab ketiga gadis itu saat menuju ke mobil pick up warna hitam itu.
"Ndak apa-apa Sri, aku turunnya dekat kok!" ucap Titik yang membuka pintu mobil.
"Iya, kan yang paling jauh kamu, lagian kita kan satu lidi-satu lidi. Pasti muatnya.!" ucap Rahayu sembari tersenyum.
"Baiklah! kalau begitu aku naik duluan!" ucap Sri yang kemudian dia naik dan masuk ke mobil pick up itu.
Di lanjut dengan Rahayu dan juga Titik yang juga masuk ke dalam mobil.
Mobil itu pun melaju dengan kecepatan sedang.
"Sri, kamu kerasan ya kerja di jamu Sumilah?" tanya Titik penasaran.
"Ya kalau ramai terus sih kerasan-kerasan saja!" ucap Sri yang menatap ke depan.
"Kalau aku saranin ya, kalian cari modal, lalu buat dan jual sendiri!" ucap Karo serius.
"Tumben mas Karyo serius?" tanya Rahayu penasaran.
"Kamu kira aku tipikal nggak seriusan begitu?" ucap Karyo yang mengulas senyum miringnya.
"He..he... kirain saja begitu! habisnya mas Karyo tiada hari tanpa bercanda!" ucap Titik sembari mengulas senyumnya.
"Kalau pas serius ya serius, pas bercanda ya bercanda! biar nggak monoton" ucap Karyo yang tersenyum lagi.
__ADS_1
"Iya-iya deh pak Karyo!" goda Rahayu yang membuat semuanya tertawa.
"Aduh, memangnya aku setua itu sampai kalian panggil pak?" tanya Karyo yang tetap melihat ke arah depan.
"Sudah sadar diri mas Karyo! diantara kami, maskaryo yang paling tua! he .he..!" seru Rahayu yang memang ada benarnya juga.
"Iya-iya, habisnya aku nunggu jodohku. Iya kan dik Sri, mau tidak jadi pendamping mas Karyo?" goda Karyo.
Orang yang seumuran Karyo, seharusnya sudah mempunyai satu atau dua orang anak.
"Hm..hm...!" Rahayu dan Titik yang berdeham, kemudian mereka saling tertawa.
"Apa sih mas Karyo! Sri kan masing ingin sekolah dan kerja!" ucap Sri yang risih dengan candaan Karyo.
"Ya mas Karyo tunggu!" ucap Karyo seraya melirik Sri.
"Tunggu? memangnya metromini!" seru Sri geram.
"Stop...stop....stop...! sudah sampai nihh..!" seru Titik yang memberi kode pada Karyo.
"Okey!" balas Karyo seraya menepikan mobil pick upnya.
Setelah berhenti, Titik segera membuka pintu dan turun dari mobil.
Titik berjalan ke belakang dan untuk mengambil bakul jamunya beserta embernya.
"Daa... Titik!" seru Rahayu dan Sri dengan di iringi lambaian tangannya.
"Daa... semuanya!" balas Titik yang juga melambaikan tangannya.
Titik melangkahkan kakinya menuju ke perkampungan tempat biasa berjualan jamu, sedangkan mobil pick up itu melaju dengan kecepatan sedang meninggalkan Titik sendirian.
Tak berapa lama, Rahayu yang turun dari mobil Pick up.
"Akhirnya, tinggal kita berdua ya dik !" ucap Karyo seraya mengulas senyumnya.
"Iya, trus ngapain kalau tinggal berdua?"tanya Sri sedikit ketus tanpa memandang Karyo.
"Jangan begitu donk dik Sri? kamu marah ya sama mas Karyo?" tanya Karyo sesekali memandang Sri.
Sri hanya diam tak menjawab pertanyaan Karyo.
Karyo merasa tak enak hati, dia jadi salah tingkah karena Sri.
...~¥~...
...Mohon dukungan para Readers untuk memberi like/komentar/favorite/rate 5/gift maupun votenya untuk novel MBAK JAMU NAIK LEVEL ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
__ADS_1
...BERSAMBUNG...
,