
Sementara Sri di temani mbok Ni tetap di rumah karena selain kondisi fisik Sri yang sudah letih, juga menjaga rumah. Jika semua ikut ke pemakaman, maka kondisi rumah akan kosong. Karena itulah Sri tetap di rumah dan Mbok Ni menemani Sri.
Datang rombongan satu mobil yang berhenti di tepi jalan depan rumah keluarga Bima.
"Assalamu'alaikum!" ucap salam beberapa orang yang sangat di kenal oleh Sri.
"Wa'alaikumsalam!" jawab Sri dan mbok Ni yang kemudian menoleh ke sumber suara dan ternyata semua taman-tamannya di rumah jamu Sumillah.
"Sri..!" Panggil Minah dan yang lainnya.
"Yang tabah ya Sri, pada dasarnya kita semua juga akan begitu." ucap Minah yang kemudian semuanya saling cerita dan tertawa bersama.
Kemudian para sahabat Sri dari rumah jamu Sumilah itu mengundurkan diri berpamitan untuk kembali ke rumah jamu Sumilah.
Setelah rombongan rumah jamu Sumilah pergi, Bima dan Sakti seta rombongang yang pergi ke makam sudah kembali dan mereka segera membersihkan diri.
Lalu mereka bergabung dengan Sri yang masih melayani tamu-tamu yang datang untuk turut berbela sungkawa.
Tak berapa lama keluarga Sri datang dari kampung untuk berta'ziah, walaupun telat mereka ingin menghibur putrinya dan juga Bima serta Sakti.
"Assalamu'alaikum!" ucap salam dari teras rumah.
"Wa'alaikumsalam! Bapak, ibu, Martina, dari Arya! kalian bisa sampai disini?" tanya Sri yang penasaran sekaligus senang, karena selama ini keluarganya belum pernah ke rumah besannya di Jakarta.
"Iya ma'af kami datang terlambat. Maklumlah perjalanan yang jauh dan ini karena setelah mbak Sri beri alamat kemarin, mas Arya banyak tanya arah ke Jakarta. Dan ini kami dengan modal nekat datang kemari! he..he..!" ucap Martani adik Sri, setelah semuanya mengulurkan tangan pada Sri dan yang lainnya.
Mereka kemudian terlibat dalam pembicaraan yang ringan-ringan.
...****...
Seminggu sudah setelah duka yang dialami keluarga Bima. Dan tiap malam di gelar pengajian bersama di kediaman Bima.
Di saat Sri dan Bima sedang bersantai di teras , tiba-tiba datang sebuah mobil mewah yang sangat di kenal oleh Bima dan Sri.
"Bukankah itu mobilnya Talina?" bisik Sri pada suaminya.
"Iya, apakah dia sudah sembuh?" balas sekaligus tanya Bima yang juga dengan berbisik.
"Sepertinya, lihat dia kemari!" seru Sri yang melihat Talina yang turun dari mobilnya dan dikawal dengan dua bodyguardnya dan bersama pengacaranya.
"Assalamu'alaikum!" ucap salam Talina dan yang lainnya pada saat menghampiri tuan rumah.
"Wa'alaikumsalam!" balas Bima dan juga Sri yang bangkit dari duduknya.
Mereka saling bersalaman dan bertanya kabar masing-masing.
__ADS_1
"Kak Bima, dan kak Sri!" ucap Talina seraya tersenyum tipis, sementara Bima dan Sri juga membalas dengan senyuman pula.
"Talina, saya selaku kakak dari almarhum Rafa meminta ma'af sebesar-besarnya atas perlakuan Rafa terhadapmu, Talina." ucap Bima yang mengawali pembicaraan.
"Iya, dan karena saya tidak terima dengan apa yang dilakukan oleh mas Rafa terhadap saya!" seru Talina.
"Saya mengerti, lantas apa mau kamu?" tanya Bima yang berusaha menengahi.
"Lima puluh persen dari saham perusahaan keluarga kamu adalah milik papa aku yang secara otomatis itu akan menjadi milikku, dan aku sendiri punya sepuluh persen saham di perusahaan itu. Maka aku bisa saja mengambil alih perusahaan kamu itu, atau dengan mudahnya aku bisa menarik semua sahamku dan jika aku sudah menarik saham aku, kamu akan tahu sendiri! semua perusahaan kecil yang mendukung produk perusahaan kalian akan memboikot dan tidak akan menyuplai bahan baku lagi pada perusahaan kalian!" jelas Talina.
"Apa yang kau bilang?" tanya Bima yang merasa Talina sengaja akan membuat bangkrut dirinya.
"Aku akan tarik semua sahamku dan juga perusahaan penyuplai bahan baku secara otomatis akan berhenti menyuplai di perusahaan kami!" seru Talina dengan menatap tajam.
"Apa kamu tidak akan memberikan waktu padaku, sampai aku mendapatkan pengganti kalian?" tanya Bima yang tetap berusaha tenang, walaupun tahu kalau apa yang dilakukan Talina akan menghancurkan perusahaan yang telah dibangun oleh papanya.
"Tidak! karena mas Rafa begitu kejamnya padaku. Hal ini sudah Talina ucapkan pada saat sebelum mas Rafa mencekik dan membantingku!" jawab Talina dengan senyum sinisnya.
Masih terbayang jelas pertengkaran hebat dia dengan mendiang Rafa.
...☁️☁️☁️☁️...
Rafa, di satu sisi dia ingin kembali pada Sri, disisi lain dia tak ingin Rafa tak ingin perusahaan papanya akan hancur begitu saja.
"Akan aku lakukan! karena aku sudah kamu bohongi, aku sudah kamu khianati sampai detik ini! Aku mencintaimu dan sangat berharap jika mas Rafa bisa mencintaiku dengan tulus, aku akan buat perusahaan keluarga mas Rafa terus meningkat. Tapi jika mas Rafa berpaling dariku! akan aku buat semua pemasok menghentikan pasokannya, dan kalian pasti akan bangkrut!" ancam Talina dan hal itu membuat Rafa yang sudah geram semakin kalap.
"Bugh...!"
"Agh....!" Talina yang mengerang kesakitan itu kembali melawan Rafa dengan berusaha menendang milik Rafa.
"Dugh...!"
"Aaaghh...!" Spontan Rafa memegang miliknya yang sakit karena tendangan Rafa.
Talina berusaha bangkit dan hendak melangkah keluar menjauh dari Rafa.
Namun Rafa menarik lengan Talina dan mendorong Talina ke atas Sofa.
Entah setan apa yang merasuki Rafa, dia mencekik Talina, dan Talina dengan sekuat tenaga memegang tangan Rafa untuk membuka cekikan tangan Rafa.
"To...tolong....!" dengan sisa-sisa tenaganya, Talina berusaha meminta pertolongan.
Tiba-tiba saja ada yang mendobrak pintu utama rumah besar Marlina itu.
"Brakk...!" pintu terbuka lebar.
__ADS_1
Nampak dua lelaki dengan tubuh kekar berlari masuk dan menghampiri Rafa yang sedang mencekik Talina di sofa.
Salah satu dari laki-laki itu memukul Rata dari belakang.
"Dugh...!"
"Aaaghh...!" Rafa mengerang kesakitan.
"Brugh...!" suami Talina jatuh tersungkur di atas lantai.
Dua orang itu adalah bodyguard kepercayaan keluarga Talina, yang selama ini selalu melindungi Talina.
Keduanya berbagi tugas, satu orang membawa Talina ke rumah sakit dan satu orang membawa Rafa ke kantor polisi.
...☁️☁️☁️☁️☁️...
"Jika tidak ada kedua bodyguardku, entah akan jadi apa aku ini!" seru Talina.
"Sekali lagi saya minta ma'af dengan apa yang dilakukan Rafa pada kamu. Sekali lagi, berikan saya waktu untuk mengembalikan saham-saham kamu." pinta Bima.
"Hmm, atau begini saja! aku akan membeli perusahaan kamu dengan setwngah harga! Bagaimana, apakah kamu setuju?" ucap Talina yang tentu saja memberikan keputusan yang sulit buat Bima.
Bima menarik nafasnya panjang, bernegosiasi dengan Talina percuma juga.
"Berikanlah aku waktu satu hari untuk memutuskannya!" ucap Bima.
"Baiklah saya tunggu keputusan kamu sampai besok malam!" seru Talina.
"Terima kasih Talina!" balas Bima yang kemudian menatap Sri, yang seolah meminta pertimbangan pada istrinya.
"Assalamu'alaikum, permisi!" ucap salam Talina.
"Wa'alaikumsalam!" balas Bima dan juga Sri.
Talina kemudian melangkahkan kakinya kembali menuju ke mobilnya dan diikuti kedua bodyguardnya.
Setelah masuk ke mobil, dan kemudian mobil bergerak pelan-pelan meninggalkan rumah Bima.
...~¥~...
...Mohon para Readers untuk memberi like/komentar/favorite/rate 5/gift maupun untuk novel MBAK JAMU NAIK LEVEL ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
__ADS_1
...Terima kasih...
...BERSAMBUNG...