
Sri menerimanya dan kemudian mengisinya ke botol-botol tersebut satu persatu, sampai habis satu ember jamu itu.
Dan tak berapa lama mereka telah selesai dalam membuat dan mengisi jamu ke botol-botol sampai ke jerigen-jerigennya.
"Nak Sri, nanti saya akan menemani kamu sampai ke pasar ya. Biar kamu kenal sama pelanggan-pelanggan ibu yang dari rumah ke rumah dan setelah itu ke pasar." Ucap ibu Karti saat membereskan peralatan membuat jamunya.
"Iya Bu, biar Sri bereskan ibu segera bersiap saja!" ucap Sri as eranya mencuci semua peralannya.
"Baiklah, habis itu kamu juga ya, cepat mandi dan sholat Subuh. Setelah itu kita sarapan!" seru Bu Karti seraya bangkit dari duduknya yang sejak tadi.
Sri menganggukkan kepalanya dan juga mengulas senyumnya.
Setelah itu ibu Karti melangkahkan kakinya meninggalkan Sri dan menuju ke kamarnya, untuk mengambil handuk dan juga baju gantinya.
Tak berapa lama Sri juga sudah selesai dan dia juga mengambil handuk dan juga pakaian gantinya.
Setelah ibu Karti selesai dari kamar mandi, sekarang ganti Sri yang ke kamar mandi.
Selesai sholat subuh, ibu Karti membeli empat bungkus nasi untuk mereka berdua.
Sementara Sri yang selesai mandi dan berganti pakaian, kemudian sholat subuh. Setelah sholat subuh, Sri kemudian membuat dua gelas minuman untuk Sri dan Bu Karti.
Tak berapa lama bu Karti pulang dengan membawa satu kantong plastik nasi bungkus.
Kemudian Sri menghampiri ibu Karti yang masih membawa satu kantung plastik yang berisikan empat bungkus nasi yang telah dia beli tadi di warung nasi.
"Bu Karti, kenapa nasi bungkusnya ada empat? buat siapa sajakah semua nasi ini?" tanya Sri yang sangat terkejut.
"Iya kan kita berdua, sarapan dan makan siang!" jawab Bu karti dengan tersenyum.
"Kenapa buat nanti siang tidak beli nanti siang saja?" tanya Sri seraya menerima nasi bungkus dari Bu karti.
"Nantikan ibu langsung ke rumah sakit, dan kamu kan masih baru disini. Jadi ya sekalian beli." jawab Bu karti seraya membuka nasi bungkusnya.
"Oh, begitu ya!" seru Sri.
"Ayo sarapan dulu!" ajak Bu Karti dan mereka pun sarapan bersama.
Setelah selesai sarapan, Bu karti dan Sri berbincang-bincang sebentar supaya makanan yang di perut mereka tercerna sempurna.
"Nak Sri, kamu kalau punya niat jualan jamu. Ibu sarankan untuk banyak tanya, banyak baca buku tentang ramuan-ramuan herbal. Karena apa? kebanyakan para pelanggan kita suka mengeluh ini dan itu. Kalau kita bisa mengobati mereka dengan ramuan herbal, pastinya para pelanggan akan lebih tertarik dan tetap setia pada jamu kita!" saran dari Bu Karti.
"Maksudnya buat menarik pembeli ya Bu?" tanya Sri yang menyimpulkannya.
"Ya kurang lebihnya begitu." balas Bu Karti seraya menghabiskan minumannya.
"Sri akan banyak cari informasi nanti Bu." ucap Sri sembari tersenyum.
__ADS_1
"Bagus, ayo kita siap-siap untuk jualan. Matahari sudah terlihat dari timur sana!" seru Bu Karti.
"Eh, iya Bu!" jawab Sri dan mereka menyiapkan diri untuk berjualan.
Bu karti tampil dengan pakaian gamis nya dan memakai jilbab. Sedangkan Sri pakai celana panjang dan juga pakaian berwarna coklat dan panjang pula.
"Ayo Bu Karti, kita berangkat sekarang juga!" Seru Sri, tapi Bu Karti memandang Sri sambil berpikir.
"Tunggu Sri, sepertinya ada yang kurang dari kamu!" seru Bu Sri yang kemudian dia kembali ke kamarnya dan kembali dari kamarnya dengan membawa sesuatu di tangannya.
"Bu Karti bawa apa?" tanya Sri yang penasaran.
"Pakailah ini!" seru Bu Karti seraya memberikan sebuah jilbab warna coklat pada Sri, dan Sri menerimanya dengan sedikit bertanya karena penasaran.
"Jilbab? kenapa pakai jilbab Bu?" tanya Sri yang melihat ke jilbab yang diberikan ibu Karti tadi padanya.
"Selain untuk melindungi kamu dari panas, juga melindungi dari laki-laki yang tak beradap!" bisik Bu karti seraya mengulas senyumnya.
"Maksud dari Bu karti apa?" tanya Sri yang penasaran.
"Kita buat jamu susah payah dengan keringat, tujuan dari awal jualan kita halal. Jangan sampai menjadi haram karena pakaian kita!" jelas Bu Karti sambil mengulas senyumnya.
Lagi pula kamu lebih manis kalau memakai jilbab." lanjut Bu Karti yang membawa Sri melangkah ke cermin kaca yang menempel di dinding.
Sri melihat wajahnya dan juga wajah Bu Karti, dan dia mengulas senyum saat melihat perubahan wajah dia.
"Iya, selain adem juga Sri seperti beda dari sribyang tidak pakai jilbab!" seru Sri yang berkali-kali melihat wajahnya di cermin itu.
Mereka kemudian berangkat dengan tak lupa menutup dan mengunci semua pintu dan jendela. Dan mereka melangkahkan kaki mulai menjajakan kami berkeliling tiap kamung.
"Jamu.... jamu.... jamunya jamu Bu!"
"Jamu dorong sudah siap....!"
Seru Bu Karti yang selalu dia lakukan secara berulang-ulang.
"Jamu.... jamu.... jamunya jamu Bu!"
"Jamu dorong sudah siap....!"
"Jamu.... jamu.... jamunya jamu Bu!"
Cukup lama mereka berjalan, belum ada satu orang pun yang mau membeli jamu buatan Bu karti.
"Bu, kenapa belum ada yang beli ya?" tanya Sri seraya menebarkan pandangannya ke rumah-rumah yang ada di sebelah kanan dan kirinya.
"Iya, kenapa ya?"tanya ibu Karti yang juga penasaran.
__ADS_1
"Bu Karti, lihat disana!" seru Sri yang menunjuk ke araj tukang jamu dorong yang sama warnanya dengan gerobak milik Bu Karti.
"Rupanya ada yang mulai bersaing tak sehat!" seru Bu Karti yang melihat ke arah yang ditunjukkan oleh Sri.
"Jangan khawatir Bu, rejeki Allah yang mengatur. Bukan mereka." ucap Sri sembari mengulas senyumnya dan membuat Bu karti kembali bersemangat.
"Coba kamu yang menjajakan jamu!" seru Bu Karti yang mencoba memberi peluang pada Sri.
Sri mengangguk dan mulailah dia menjajakan jamu seperti dulu dia menjajakan jamu untuk juamu buatan Bulik Sumilah.
"Jamu...jamu...jamunya Bu,mbak, adik, Mbah Putri, jamu...jamu...!" seru Sri dengan suara tinggi.
"Jamu..!" seru seseorang yang rumahnya telah terlewati.
"Bu Karti, ada yang beli" seru Sri yang mendengar seseorang memanggil jamu.
'Oh iya, dimana?" tanya Bu Karti seraya menoleh ke belakang.
"Itu di sana!' ucap Sri seraya menunjuk ke arah orang yang memanggil mereka.
"Iya mbak kami akan ke sana!' seru Bu Karti yang kemudian bersama Sri memutar kembali melangkahkan kaki mereka, untuk menghampiri ibu-ibu yang memanggi jamu tadi.
"Beli jamu ya mbak?" tanya Bu Karti saat sudah berada di depan orang yang memanggil mereka tadi.
"Iya bu, jamu yang biasanya ya, kunyit sirih ya!" pesan si mbak-mbak itu.
"Iya baik" ucap Bu karti yang kemudian menuangkan jamu kunyit setengah gelas dan jamu sirihnya yang setengah gelas, lalu Bu karti memberikannya pada si mbak-mbak tadi.
Selama si mbak-mbak tadi meminum jamunya, Bu karti sudah menyiapkan jamu untuk menawar rasa pahitnya yaitu jamu Sinom.
Si mbak-mbak tadi telah selesai meminum semua jamunya.
"Berapa bu?" tanya si mbak-mbak tadi.
"Tiga ribu Bu!" jawab Bu karti sembari mengulas senyumnya..
Si mbak-mbak itu mengeluarkan uang kertas dua ribu rupiah dan seribu rupiah.
Tak berapa lama ada seorang ibu datang menghampiri gerobak dorong jamu Bu Karti.
...~¥~...
...Mohon para Readers untuk memberi like/komentar/favorite/rate 5/gift maupun votenya untuk novel MBAK JAMU NAIK LEVEL ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
__ADS_1
...Terima kasih...
...BERSAMBUNG...