
Tiba - tiba saja ada yang datang dan menyapa sepasang pengantin baru itu.
"Mas Bima, mbak Sri? kapan pulangnya?" tanya wanita paruh baya yang menghampiri Bima dan juga Sri.
"Semalam mbok" jawab Bima yang tetap fokus sama pekerjaannya.
"Oh, Alhamdulillah kalau kalian pulang dengan selamat" ucap Mbok Ni seraya tersenyum.
"Iya mbok Alhamdulillah" ucap Sri dan Bima yang hampir bersamaan.
"Nyonya baru sedang masak apa?" goda mbok Ni sembari tersenyum.
"Nyonya baru?" tanya Sri yang merasakan asing dengan panggilan itu.
"Iya anda ini, nyonya Bima" jelas mbok Ni yang masih tersenyum.
"Mbok Ni bisa saja" ucap Sri dan Bima ikut tersenyum dengan tinggal pembantu dan istrinya yang sedang akrab.
"Masak nasi goreng ya nyonya?" tanya Mbok Ni saat membuka bakul yang masih ada sisan nasi gorengnya.
"Iya mbok, dan saya sudah memasak nasi putihnya di penanak nasi" jawab Sri dan tak berapa lama seorang bocah laki - laki yang baru berumur enam tahun, baru saja bangun dari tidurnya dan melangkahkan kakinya ke dapur.
"Papa..!" panggil bocah laki - laki itu pada Bima yang menutup laptopnya karena sudah selesai dengan urusannya yang bersangkutan dengan laptopnya.
"Hai Sakti jagoan papa!" seri Bima yang kemudian memangku putranya Sakti.
"Selamat pagi Sakti!" sapa Sri yang menghampiri ayah dan anak itu.
"Agi juga mama Ci!' jawab Sakti seraya mengulas senyumnya.
"Mama Ci?" tanya Bima yang heran.
"Iya,kan mama Sri jadi mama Ci!' jawab Sakti sembari tersenyum. Dan semuanya tertawa karenanya.
Sri yang mendekati Sakti membisikkan sesuatu, " Sakti sarapan ya? mama Ci buat nasi goreng tadi" ucap Sri yang membuat raut muka Sakti sumringah.
"Nasi goreng! ye...Sakti suka mama Ci, mama Ci suapin Sakti ya!' seru sakti yang mengulas senyumnya.
"Iya, mama Ci ambil nasi gorengnya sebentar ya! nanti mama Ci suapin Sakti.' ucap Sri yang tanpa menunggu jawaban dari Sakti, melangkahkan kakinya menuju ke dapur dan dengan segera mengambil piring lalu diisikan nasi goreng yang dia masak tadi.
Sri juga membuat minuman teh manis juga buat sakti. Setelah selesai mengambilkannya, Sri melangkahkan kakinya kembali menghampiri Bima dan Sakti yang sedang bercengkrama.
Sri duduk disamping Sakti, dan dia mulai menyuapi sakti perlahan - lahan dan sesuap demi sesuap nasi goreng masuk kedalam mulut Sakti.
__ADS_1
Sakti dengan sikapnya yang masih lucu selalu membawa keceriaan pada mereka.
"Mama dan papa antar Sakti sekolah ya!" pinta Sakti yang telah meyelesaikan makannya.
"Iya, habis ini kamu mandi ya!" ucap Bima seraya mengusap kepala putranya.
"Yeee...! asyik sakti diantar papa dan mama!" seru Sakti yang berlari menuju ke kamarnya. Sri dan Bima menggelengkan kepalanya karena gemas dengan tingkah putranya.
"Sekarang giliran kita yang mengganti pakaian" ajak Bima yang bangkit dari duduknya.
"Iya, tapi mas Bima bukannya mau bekerja ya?" tanya Sri yang mengikuti langkah Bima yang sudah melangkahkan kakinya kembali menuju ke kamarnya.
"Iya, nanti aku antar kamu di sampai di sekolah Sakti, setelah itu aku tinggal kerja. Nanti pulangnya kamu kalian naik taksi online saja ya!" pinta Bima pada saat langkah kaki mereka berhenti sampai di depan pintu kamarnya.
"Iya, begitu juga tidak apa- apa mas" ucap Sri dan mereka masuk ke kamar dan memakai pakaian yang pantas untuk tujuan mereka masing - masing.
Setelah Sakti mandi dan berganti pakaian dengan dibantu oleh mbok Ni, melangkahkan kaki kecilnya kebruang tamu. Sedangkan Sri dan Bima juga demikian.
Di saat mereka berkumpul, ada seorang wanita yang menghampiri mereka.
"Bima, Sri!" panggil wanita itu yang datang menghampiri mereka.
"Mama!" panggil Bima memanggil wanita itu yang tak lain adalah mamanya Marlina.
Bima langsung mencium punggung tangan kanan Marlina dan juga memeluk mamanya dengan erat.
"Kalian pulangnya kapan? kenapa mama didak di beri kabar sih?" tanya Marlina yang menatap satu - persatu anak dan menantunya itu.
"Maaf ma, kami sudah sampai di Jakarta tadi malam, dan sekarang ini Bima mau kembali kerja dan sekalian mengantar Sakti dan Sri sekolah." jelas Bima.
"Jadi sakti mau diantar sama mama barunya ya? tidak sama nenek lagi?" tanya Marlina sembari mengusap kepala Sakti.
"Iya, nek! Sakti mau kenalkan sama teman - teman Sakti. Kalau sekarang Sakti punya mama yang juga cantik dan baik sama Sakti, seperti mama - mamanya teman - teman Sakti" jawan Sakti dengan gayanya yang menggemaskan, membuat Marlina berkali - kali menciumi cucu pertamanya itu.
"Kamu ini ya, tahu saja kalau mama kamu ini cantik dan baik hati!" seru Bima yang mencubit pipi Sakti, dan membekas kemerahan di pipi mungil itu.
"Papa sakit nih!" seru Sakti seraya mengusap pipinya yang merasakan panas.
"Mas Bima, kasihan kan Sakti. Sakit pastinya, sampai memerah begini!" ucap Sri yang duduk berlutut mensejajarkan dirinya dengan bocah cilik itu.
"Iya nih papa, mama sakit" rengek sakti yang memeluk Sri. Dan Sri menerima dengan senang hati pelukan bocah cilik itu.
"Yah, mulai manja sama mama Ci!" celetuk Bima gemas dan demikian pula dengan Marlina yang menggelengkan kepalanya sembari mengulas senyumnya.
__ADS_1
"Sini mama Ci obatin" ucap Sri yang melepaskan pelukannya dan kemudian mencium pipi mungil yang memerah karena bekas cubitan Bima.
"Muach...muach...muach...muachh..!"
.Sri mencium pipi Sakti' dengan gemas, dan membuat Bima sedikit geram.
"Mama Ci, ciuman kamu hanya untuk papa Bima. Bukan untuk Sakti!" seru Bima yang pura - pura marah.
"Untuk papa malam saja, dan sekarang untuk sakti. Iya kan sayang?" ucap Sri sembari merangkul Sakti dan Sakti senang akan hal itu.
Bocah Cilik itu seolah hidupnya kini sudah lengkap adanya, dengan kehadiran seorang ibu.
" Sudah - sudah, bercandanya di lanjutkan nanti malam. Bisa terlambat kalian nanti!" seru Marlina pada Bima, Sri dan Sakti.
"Baik Bu kami berangkat, ayo sakti pamit sama nenek!" ucap Bima yang menggandeng putranya untuk berpamitan sama neneknya.
Satu -peraatu mereka berpamitan dengan Marlina, dan setelah itu mereka melangkahkan kaki meningggalkan Marlina.
"Tuan dan nyonya tunggu sebentar!" seru mbok Ni yang tergopoh - gopong setengah berlari mendekati Bima, Sri dan Sakti.
"Ada apa mbok?" tanya Bima yang penasaran.
"Ini ada bekal buat tuan muda Sakti!" jawab Mbok Ni seraya memberikan bekal pada Sakti.
"Oh, jadi sakti bawa bekal kalau sekolah ya?" ucap tanya Sri yang merasa hal ini akan menjadi tanggung jawabnya.
"Iya mama Ci, besok buatkan Sakti bekal ya! seperti nasi goreng tadi juga enak!" ucap Sakti seraya tersenyum.
"Iya, nanti akan mama buatkan. Yuk sekarang kita berangkat!" seru Sri.
"Iya, ayo pa!" sahut Sakti yang kemudian menggandeng mama dan papanya, sedangkan dia berada di tengah antara kedua orang tuanya.
"
...~¥~...
...Mohon para Readers untuk memberi like/komentar/favorite/rate 5/gift maupun votenya untuk novel JAMU NAIK LEVEL ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
__ADS_1
...BERSAMBUNG...
,