
"Sakti, terima kasih nak! kamu telah menyelamatkan mama Ci. Kamu seperti Naruto, si pembela kebenaran!" seru Sri yang kemudian memeluk Sakti.
"Sakti tidak akan membiarkan mama Ci disakiti, walaupun iyang menyakiti itu om Sakti!" ucap Sakti yang geram dan sedikit bangga karena bisa menggagalkan tindak kejahatan yang terjadi di depannya.
Sementara itu Rafa yang sebelumnya sudah ada hasrat menggebu untuk bermain dengan Sri, terpaksa dua urungkan kembali karena ada Sakti.
Walaupun Rafa ada perasaan kesal pada Bima, namun tidak dengan Sakti. Sejak Sakti bayi, Rafa selalu bermain dengan Sakti.
Setelah menguasai dirinya, dan kemudian membalikkan badannya dan mulai dengan akting memohonnya dan merasa kalah.
"Sasuke Uchiha, mengaku kalah dengan Naruto Uzumaki. Mohon beri kesempatan hidup untuk Sasuke ini!" seru Rafa dengan bahasa dalam film kartun, yang mengikuti suasana hati Sakti.
"Ingat Sasuke, jangan pernah ganggu lagi Hinata hyuuga, mengerti!" seru Sakti dengan tatapan tajamnya.
"Sasuke mengerti, Sasuke mohon diri!" ucap Rafa seraya menundukkan kepalanya dan kemudian melangkahkan kakinya untuk pergi meninggalkan Sakti dan Sri.
"Apa yang mereka katakan? apa mereka bermain layaknya adegan film kartun Naruto?" gumam dalam hati Sri yang sedikit bingung tapi juga lega karena Rafa telah keluar dari kamar Sakti.
"Naruto eh Sakti, mama Ci sekali lagi mengucapkan terima kasih ya! Sakti sudah menolong mama Ci. Sekarang Sakti bisa tolong mama Ci lagi ya!" pinta Sri yang mensejajarkan dirinya dengan tubuh kecil Sakti.
"Tentu saja Sakti akan tolong mama Ci. Sakti sayang sama mama Ci!" ucap polos bocah kecil itu.
"Mama Ci kan mau mandi, Sakti ke kamar papa untuk bantu jaga mama Ci yang sedang mandi ya!" seru Sri sembari mengulas senyumnya.
"Oke, tentu saja! yuk...yuk...!" jawab Sakti sembari menarik tangan Sri keluar dari kamarnya, dan Sri menurut saja tangannya ditarik oleh Sakti.
Tak berapa lama mereka telah sampai di kamar Bima dan Sri. Seperti yang telah mereka bicarakan tadi, Sakti menjaga Sri yang sedang mandi di kamar mandi dalam kamar tidurnya.
Sementara itu ada sebuah mobil yang masuk di halaman rumah besar itu. Mobil itu yang tak lain mobil yang biasa antar jemput Sakti ke sekolah.
Setelah berhenti, keluarlah Marlina,Talina dan mbok Ni dari dalam mobil dengan membawa begitu banyak belanjaan.
"Mbok Ni bawa belanjaan yang untuk kita makan sehari-hari, Mang Ujang bantu mbok Ni juga!" perintah Marlina pada para pembantunya.
"Baik nyonya!" jawab Mbok Ni dan juga Mang Ujang yang bersamaan.
__ADS_1
Mang Ujang segera membuka bagasi mobil, dan mengambil satu karung beras dan kemudian memanggulnya . Sementara mbok Ni membawa sembako lainnya, dan keduanya melangkahkan kaki menuju ke dapur.
Sedangkan Marlina dan Talina membawa paper bag-paper bag yang berisi belanjaan mereka, yang kemudian melangkahkan kakinya menuju masuk ke rumah mewah itu.
Rafa yang melihat kedatangan mereka bukannya menyapa maupun membantu membawakan belanjaan istri maupun ibu tirinya, dia mempercepat langkahnya menuju ke kamarnya.
Dan Rafa menuju ke tempat tidur yang biasa dia tidur bersama Talina istrinya, Adik tiri sakti itu berpura-pura kalau dia sedang tidur.
Walaupun dia bergelut dalam bidang fashion dan fotografer, tapi kalau masalah belanjaan isteri dan ibu tirinya itu dia angkat tangan.
Sesampainya di ruang tamu, Talina dan Marlina sibuk membagi belanjaan mereka.
Tak berapa lama Sri yang sudah mandi, keluar dari kamar bersama Sakti. Mereka hendak ke dapur karena waktunya Sakti untuk makan.
"Oma dan Tante Tali-temali sudah pulang!" seru Sakti sembari mendongak ke arah Sri.
"Sakti, mama pesan kamu jangan cerita tentang om Rafa yang berbuat jahat pada mama ke Oma, mbok Ni dan yang terpenting jangan cerita sama Tante Talina ya!" bisik Sri di telinga Sakti.
"Kenapa ma?" tanya Sakti yang penasaran.
"Tentu saja tidak mau ma! walau pun om Sakti jahatin mama Ci, Sakti tetap sayang sama om Rafa." jawab Sakti yang tetap dengan gaya anak kecil dan menggemaskannya.
"Bagus sayang , Sakti sudah jadi anak hebat!" seru Sri sembari menunjukkan dua jari jempolnya. Dan Sakti mengulas senyum manisnya.
"Ayo kita turun!" lanjut seru Sri yang kemudian mereka melanjutkan langkah kaki mereka menuju ke dapur, namun sebelumnya mereka melewati ruang tamu dimana Talina dan Marlina yang masih sibuk membagi belanjaan mereka.
"Eh Sakti, kesini nak!" panggil Marlina yang melihat keberadaan Sakti dan Sri.
"Iya Oma!" jawab Sakti sembari tersenyum.
"Sakti, ingat jangan bicara apapun tentang om Rafa. Sakti mengerti kan?" bisik Sri yang sedikit takut Ika Sakti keceplosan bicara, karena bisa menghancurkan hubungan kekeluargaan mereka.
"Iya ma, percayalah pada Sakti!" seru Sakti seraya menunjukkan dua jari jempolnya. Lalu keduanya melangkahkan kaki menghampiri Oma dan tantenya.
"Oma beli banyak baju buat kamu! lucu-lucu lagi!" seru Marlina seraya menunjukkan paper bag yang berisi baju-baju anak kecil seusia Sakti.
__ADS_1
Sakti menerima dan membukanya, dan dia sedikit kecewa dengan pemberian Omanya itu.
"Yah, Oma! Mana Narutonya? Sakti nggak mau kalau nggak ada Narutonya!'' seru sakti yang menghempaskan begitu saja baju-baju pemberian Marlina.
"Eh, Sakti nggak boleh begitu ya! Oma sudah capek-capek belikan ini semua buat Sakti. Dan ini semua keluar uang yang nggak sedikit, lihat diluar sana yang nasibnya nggak seberuntung Sakti. Beli baju barunya hanya kalau tiap hari raya, kadang malah hanya pakaian bekas dari saudara mereka." ucap Sri seraya memunguti baju-baju yang dihempaskan oleh Sakti.
"Ma'af mama Ci, kalau begitu Sakti akan menerima baju-baju ini" ucap Sakti yang kemudian mengambil baju-baju dari tangan Sri dan memasukkannya kembali dalam paper bag.
"Untunglah ada kamu Sri, nggak tahulah cara mama akan menjawab apa yang dikatakan cucu mama yang satu ini." ucap Marlina yang sedikit memuji Sri, namun hal itu yang tidak disukai oleh Talina. Istri Rafa itu sedikit cemberut melihat keakraban Sri pada Sakti dan Marlina.
"Oma, untuk Mama Ci mana?" tanya Sakti yang tiba-tiba menatap Omanya dengan penuh harap.
"Ma'af Sakti, Oma lupa belikan baju buat mama kamu!" balas Marrlina seraya melihat kearah Sri.
Tiba-tiba Sakti melangkahkan kakinya menghampiri tantenya, Talina.
Bocah itu meminta satu paper bag diantara paper bag-paper bag yang lainnya di tangan Talina.
"Hei, kamu mau apa bocah!?" seru Talina yang sangat terkejut dengan tingkah Sakti.
"Belanjaan Tante kan banyak! nah satu paper bag saja buat mama Ci!" ucap Sakti seraya mengulurkan tangannya untuk memberikan paper bag yang berisi satu stel gaun malam itu pada Sri.
Sri dan yang lainnya terkejut dengan sikap Sakti yang terkesan mendadak itu. Sri menarik nafasnya dan menerima paper bag milik Talina yang ada di tangan Sakti itu.
...~¥~...
...Mohon para Readers untuk memberi like/komentar/favorite/rate 5/gift maupun votenya untuk novel JAMU NAIK LEVEL ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...BERSAMBUNG...
__ADS_1