Mbak Jamu Naik Level

Mbak Jamu Naik Level
Bertemu Minah


__ADS_3

"Iya ma" jawab Sakti yang kemudian mencium punggung tangan kanan papanya. Dan Bima mengecup kening putranya.


"Sekolah yang rajin, jangan rewel dan jangan nakal ya! Sakti kan jagoan, nanti jagain mama Ci ya?" ucap Bima sembari mengusap kepala putranya dengan lembut.


"Iya pa!" jawab Sakti sambil mengulas senyumnya.


"Mas, hati - hati di jalan ya!" ucap Sri seraya mencium punggung tangan suaminya.


"Iya sayang, titip sakti ya!" ucap Bima yang kemudian mengecup kening istrinya.


"Iya mas, Sri akan jaga amanat dari mas Bima" ucap Sri yang kemudian dia dan Sakti turun dari mobil, setelah membuka pintunya.


Kemudian Sri menutupnya kembali setelah dia dan Sakti turun dari mobil.


"Daaa... papa!" seru Sakti seraya melambaikan tangannya.


"Daa.. Jagoan papa!" balas Bima sembari mengulas senyumnya.


"Daaa.. suamiku!" seru Sri yang juga melambaikan tangannya dan juga mengulas senyumnya.


"Daa...istriku!" balas Bima yang membalas lambaian tangan serta senyuman istrinya.


"Assalamu'alaikum!" lanjut salam pamit Bima.


"Wa 'alaikumsalam!" balas Sri dan Sakti, dan Bima melajukan kendaraannya menyusuri jalan perkampungan itu.


Setelah mobil Bima berlalu, Sri mengajak Sakti untuk menyebrang agar sampai di sekolahnya.


Tak berapa lama mereka telah sampai di depan sekolah Sakti, dan sakti berpamitan dengan Sri untuk masuk ke kelasnya.


"Mama Ci disini ya, seperti mama - mama yang lainnya!" seru Sakti seraya menunjukkan bangku kosong pada Sri,


"Iya sayang, mama akan tunggu sampai kamu selesai ya!" jawab Sr sembari mengecup kening Sakti.


"Daa..mama Ci!" seru Sakti seraya melambaikan tangannya pada Sri dengan setengah berlari.


"Daa Sayang!" balas Sri yang membalas lambaian tangan Sakti dan mengulas senyumnya.


Setelah itu Sri melangkahkan kaki ke bangku kosong yang ditunjukan oleh Sakti tadi.


"Bukan kah anda mbak jamu yang dulu gantikan mbak Mirna ya?" tanya salah satu ibu -ibu yang juga sedang menunggui putra dan putri mereka.


"Iya, masih ingat saya ya Bu?" tanya Sri dengan ramah.


"Ya ingatlah,tambah cantik sekarang mbak!" seru ibu - ibu itu pada saat melihat dengan teliti wajah Sri.


"Ah, sama saja kok Bu" ucap Sri yang sedikit memerah rona pipinya.

__ADS_1


"Beneran kok, iya kan bu - ibu?" jawab si ibu itu sembari minta pendapat ibu - ibu yang lainnya.


"Iya, bener tambah seger!" jawab ibu - ibu yang lainnya.


"Kok bisa sama papanya Sakti, dan Sakti tadi panggil Mama Ci? kalian ada hubungan apa?" tanya salah satu ibu - ibu yang ingin tahu hubungan sri dengan papanya Sakti.


"Apa kalian sudah menikah?" tanya ibu - ibu yang berada disamping Sri.


"Iya, kami memang sudah menikah kemarin di desa" jawab Sri sembari tersenyum.


"Wah, beruntungnya bisa menikah dengan duren sawit! he..he..!" celetuk salah satu ibu - ibu yang mengerti maksud dari perkataan si ibu itu, semuanya tertawa.


"Duren sawit? apa sih Bu?" tanya Sri yang belum tahu maksud dari perkataan dari si ibu tadi.


"Duren sawit, Duda keren sarang duwit! he..he...!" balas ibu - ibu tadi.


"Ah ibu bisa saja!" sahut Sri sembari mengulas senyumnya.


"Tapi benarkan? bos perusahaan jamu masak bukan sarang duit!" seru salah satu ibu - ibu yang ada dihadapan Sri.


"Ha..ha..ha..!" semuanya tertawa karena hal itu.


"Jamu, jamu....!" seru suara perempuan yang dikenal oleh Sri dan yang lainnya.


"Eh, itu mbak jamu sudah datang!" seru yang lainnya.


"Kamu...jamu! jamunya Bu!" seru tukang jamu itu yang memang tak salah lagi kalau itu Minah.


Mirna meletakkan bakul jamunya di tempat biasanya dia berhenti untuk melayani pembeli.


"Mbak jamu! aku seperti biasanya ya!" seru beberapa ibu - ibu yang menghampiri Minah, dan Minah melayaninya dengan sabat dan telaten.


"Iya, iya sabar - sabar ya ibu - ibu!" seru Minah yang melayani satu persatu ibu - ibu yang mengantri membeli jamu.


Sri sebetulnya sangat rindu dengan teman sekamarnya itu, namun dia tidak mau mengganggu Minah yang sedang mengais rejeki itu.


"Eh, mbak jamu!" panggil salah satu ibu - ibu yang membeli jamu.


"Ada apa Bu?" tanya Minah sembari menuangkan jamu kunyit asam ke dalam gelas.


"Itu ada teman kamu, dia sekarang jadi istrinya bos kamu. Papanya Sakti!' bisik salah satu ibu - ini pada Minah


"Temanku? siapa ya?" tanya Minah yang terkejut dengan ucapan ibu itu.


Kemudian ibu itu menunjuk pada Sri yang sudah bangkit dari duduknya dan sekarang ini menghadap ke arah Mirna.


"Sri!" panggil Minah yang terkejut, dan buru - buru memberikan jamu yang dipegangnya pada ibu - ibu yang memesan jamunya.

__ADS_1


Sementara Sri melangkahkan kakinya menghampiri temannya itu, dan keduanya saling berpelukan.


"Sri, aku kangen sekali!" seru Minah saat mereka masih dalam keadaan berpelukan.


"Sri juga mbak, Mbak Minah bagaimana keadaannya?'' tanya Sri pada Minah saat mereka melepas pelukan mereka.


"Mbak ya begini, Alhamdulillah baik - baik saja." jawab Minah seraya mengulas senyumnya.


"Alhamdulillah, Sri senang dengarnya" ucap Sri yang juga mengulas senyumnya.


"Sri, kamu benar sudah menikah?" tanya Minah yang penasaran.


"Iya mbak, ma'af kalau tidak memberi kabar. Kami menikahnya di desa" jawab Sri yang kemudian duduk dan diikuti dengan Minah dan mereka diduduk berdampingan dengan saling memegang tangan.


"Apa benar kamu menikah dengan papanya Sakti?" tanya Minah lagi.


Sri menarik nafasnya dalam - dalam karena dia tahu kalau Minah sempat menaruh hati pada Bima, seperti yang pernah dia ucapkan dulu.


"Iya mbak!" jawab Sri lirih karena tak enak hati pada Minah.


"Aku sudah menikah Sri, jadi jangan mereasa tidak enak! Mungkin jodoh papanya Sakti memang kamu Sri" ucap Minah sembari tersenyum.


"Iya Sri juga tidak menyangka, trus suami mbak Minah sekarang ada dimana?" tanya Sri yang penasaran.


"Suamiku, buka bengkel disamping rumah jamu Sumilah. mulai sepeda ontel sampai mobil Sri. Saat ini kamu mau tambah usaha cuci motor dan mobil, jadi aku masih kerja di rumah jamu Sumilah . Nanti kalau cuci cuci motor dan mobilnya ramai, aku mau berhenti jualan jamunya" ucap Minah sembari tersenyum.


"Wah, padahal langganan mbak Minah disini banyak lho! apa nggak sayang tuh?" tanya Sri yang penasaran.


"Iya, tapi apa boleh buat!" ucap Minah sembari tersenyum.


"Oiya, setahu aku kekasih kamu adalah Rafa, benar tidak? Dan Rafa kan yang di sukai oleh Ratna, putri Bu Lik Sumilah, kok bisa menikah dengan ayahnya Sakti?" pertanyaan demi pertanyaan dari mulut Minah.


"Iya, ceritanya panjang. Kapan - kapan akan Sri ceritakan!" jawab Sri yang sembari tersenyum.


...~¥~...


...Mohon para Readers untuk memberi like/komentar/favorite/rate 5/gift maupun votenya untuk novel JAMU NAIK LEVEL ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...


...BERSAMBUNG...


,

__ADS_1


__ADS_2