
Sementara itu Marlina tiba-tiba ambruk, dan Bima yang melihat hal itu bergegas menangkap dan memposisikan tubuh Mamanya dengan benar.
🗓️Flashback off
"Kemudian aku membawa mama ke rumah sakit ini. Dan mama didiagnosa terkena serangan jantung!" ucap Bima yang tak terasa air matanya berlinang di pipinya.
"Mas Bima, mas yang kuat ya. Semoga semuanya akan baik-baik saja." ucap Sri dengan mengusap bahu suaminya dengan lembut.
Tak berapa lama mereka telah sampai di kantin rumah sakit. Keduanya segera memesan makanan dan minuman yang akan mereka makan. Tak lupa juga Bima memesankan makanan dan minuman untuk mbok Ni dan Mang Ujang.
Keduanya makan dan sesekali bercerita, dan kali ini Sri yang bercerita kejadian Rafa yang selalu menggodanya dan sampai disituasi Sri yang berjualan jamu dengan memakai jilbab. Dan keterusan sampai ada dihadapan Bima.
"Oiya, ternyata kamu tambah cantik kalau pakai Jilbab." ucap Bima yang mulai mengulas senyumnya.
"Ah, masak sih mas? apa nggak seperti ibu-ibu?" tanya Sri yang tersipu malu.
"Ibu-ibu? kamu kan memang akan menjadi seorang ibu, tapi menurut kamu seperti bidadari surga." ucap Bima yang tentu saja semakin memerahlah kedua pipi Sri.
Walaupun Sri pernah cinta dengan Rafa, tapi perasaannya kali ini untuk Bima seperti menenggelamkan rasa cinta Sri pada Rafa.
Bima mampu membuatnya tersipu, terpesona dan tersanjung. Setelah ini entah apa lagi, Sri merasakan kebahagiaan jika berada disisi Bima.
Keduanya pun saling bercerita dan bercanda hingga tak terasa makanan mereka telah habis karena keasyikan mereka.
Selesai makan Sri dan Bima meninggalkan warung makan yang berada di kantin rumah sakit itu, tapi sebelumnya mereka membayar makanan mereka ditambah dua bungkus nasi bungkus yang dipesan Mbok Ni.
Sri dan Bima menyusuri lorong-lorong rumah sakit dan akhirnya mereka sampai di ruangan dimana Marlina dirawat.
"Mbok Ni, ini nasi bungkusnya. Tolong yang satu mbok Ni berikan buat mang Ujang. Biar kamu yang menjaga Mama disini." ucap Bima seraya memberikan dua bungkus nasi bungkusnya pada pembantunya.
"Baik Tuan." jawab pembantu itu pada majikannya. Kemudian mbok Ni melangkahkan kakinya meninggalkan dua majikannya itu.
Dan kini tinggal Sri dan Bima yang duduk di kursi ruang tunggu di depan ruang gawat darurat.
...****...
Sementara itu, kita lihat bagaimana kondisi Rafa setelah dipukuli oleh Bima.
"Kalau saja aku tak memenuhi wasiat papa, aku yang akan menikahi Sri! Aku minta mas Bima ceraikan Sri, agar kami bisa bersatu kembali! Kami saling mencintai mas Bima!" seru Rafa dengan suara keras.
"Mencintai? Rasakan ini pembalasan Sri untukmu!" seru Bima yang bersiap memberikan bogem mentah pada adik tirinya itu.
"Dugh...!" sebuah pukulan dari kepalan tangan kanan Bima yang melayang di pipi kiri Rafa.
__ADS_1
"Ugh...!"
"Dugh....!" kembali pukulan dari kepalan tangan kiri Bima yang melayang di pipi kanan Rafa.
"Ugh...!"
"Bugh...! bugh....!" kemudian kepalan tangan kanan Bima mendarat di perut Rafa.
"Aaaugh....!" Rafa mengerang kesakitan yang terhuyun-huyun yang tangan kirinya memegang perutnya dan tangan kanannya memegang pipi kanannya.
Darah segar di sudut bibir suami Talina itu.
"Setelah kamu menyakiti dan membuat Sri hamil, kemudian meninggalkannya begitu saja! masih berani kamu mau balikan padanya!" seru Bima dengan terengah-engah hal itu membuat Marlina yang mendengarkan pertengkaran keduan putranya itu sangat terkejut.
"A....apa yang kamu bilang Bima?" tanya Marlina yang tak percaya dengan ucapan Bima.
"Apa? Sri hamil anakku?" tanya Rafa yang tubuhnya gemetaran dan terduduk dengan lemas di lantai.
Bima segera membopong mamanya si Marlina menuju keluar rumah dan menuju ke mobilnya.
Sementara itu Rafa yang terduduk lemas itu, tiba-tiba ada yang menghampiri.
"Oh, tak ku kira! jadi kejadian yang dulu itu mas Rafa benar-benar sudah begituan dengan wanita murahan itu!" seru sesosok perempuan yang mendekati Rafa.
Dia dan Kakak iparnya Bima, berusaha mencari keberadaan Rafa laki-laki yang baru menikah dengannya.
Waktu itu Talina dan Bima mengetuk pintu apartemen Rafa dan setelah pintu itu terbuka, dan Talina melihat Sri yang membukakan pintu apartemen tersebut.
Talina yang merasa yakin kalau Rafa ada didalam apartemen tersebut, langsung menerobos masuk tanpa melihat Sri.
Gadis itu kemudian melihat Rafa yang terbaring karena teler.
Perempuan itu kemudian melihat ke arah Sri dengan wajah memerah karena emosi.
"Kau coba rayu suamiku ya!' seru Talina yang mendorong Sri dengan kasar.
"Apa suami? apa maksud kamu?" tanya Sri yang penasaran.
"Rafa sudah jadi suamiku! dan kamu mau merusak malam pertamaku rupanya!" seru Talina yang menarik rambut Sri.
"Aagh....lepaskan!" jerit Sri, namun tak dihiraukan oleh Talian yang sudah dalam keadaan marah karena cemburu berusaha memukul menarik rambut Sri sekenanya.
Bima melerai dengan membelakangi Sri.
__ADS_1
"Kamu jangan asal tuduh Talina!" kita kan tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya!" seru Bima yang membuat Talina menghentikan aksinya.
"Baiklah, penjual jamu! ngapain kamu di Apartemen Rafa dan berdua lagi dengan Rafa?" seru Talina yang penasaran dan menatap tajam Sri.
Sri yang masih terkejut dengan apa yang dia dengar dari mulut Talina, kalau Rafa telah menikah tiba-tiba meneteskan air matanya.
Bima tak tega melihat hal itu, menyuruh Talina dan dua bodyguardnya untuk pulang dengan membawa Rafa.
"Kalian cepat bawa Rafa pulang, dan kamu Talina! bersiaplah dengan sifat bandel Rafa! Jaga suamimu baik-baik agar dia tak lepas darimu!" seru Bima yang dengan sifat sebagai seorang kakak.
"Tapi dia kan!" seru Talina yang kemudian Bima memberi kode untuk berhenti.
"Sri ini sebagai model untuk produk jamu perusahaan keluargaku, selama beberapa hari ini Rafa tinggal di rumah karena Apartemennya dipakai oleh Sri. Dan saat ini Rafa pasti sedang mabuk, jadi dia tidak sadar. kalau pulang ke Apartemennya bukan ke rumah!" jelas Bima yang tahu pasti kalau Rafa sedang mabuk.
"Baiklah kalau begitu!" ucap Talina yang kemudian dia keluar dari apartemen menyusul dua bodyguardnya yang sudah membawa Rafa.
Talina kemudian tersadar dari lamunannya.
"Kenapa kamu sebelum menikah tak bilang saja kalau kamu sudah punya pacar? jadi pasti tidak akan terjadi pernikahan ini!" racau Talina yang terduduk lemas di samping Rafa.
"Kau, akhirnya sudah tahu kalau aku sudah bersama Sri sebelum dengan mu, jadi aku ingin kita bercerai!" ucap Rafa yang menatap ke arah Talina.
"Apa cerai? aku tidak mau! walaupun aku tahu kamu pernah bersama penjual jamu itu, tapi kita sudah terlanjur menikah! aku tidak mau kamu pergi dariku, kamu tak boleh meninggalkan aku!" balas Talina dengan racauannya.
"Pokoknya kita bercerai!" seru Rafa dengan menatap Talina tajam.
"Tidak! kalau sampai mas Rafa menceraikan aku, akan aku buat perusahaan dan keluarga ini hancur seketika!" ancam Talina yang juga menatap tajam ke arah Rafa.
"Apa maksud dari ancaman kamu itu?" tanya Rafa yang penasaran.
"Lima puluh persen dari saham perusahaan keluarga kamu adalah milik papa aku yang secara otomatis itu akan menjadi milikku, dan aku sendiri punya sepuluh persen saham di perusahaan itu. Maka aku bisa saja mengambil alih perusahaan kamu itu, atau dengan mudahnya aku bisa menarik semua sahamku dan jika aku sudah menarik saham aku, kamu akan tahu sendiri! semua perusahaan kecil yang mendukung produk perusahaan kalian akan memboikot dan tidak akan menyuplai bahan baku lagi pada perusahaan kalian!" ancam Talina.
...~¥~...
...Mohon para Readers untuk memberi like/komvotenyaentar/favorite/rate 5/gift maupun untuk novel MBAK JAMU NAIK LEVEL ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...BERSAMBUNG...
__ADS_1