
Baru saja Sri selesai melipat mukena dan hendak meletakkan Mukenanya itu ketempatnya, tiba-tiba dia dikejutkan oleh seseorang yang sudah duduk di sofa dalam kamarnya itu.
"Ka...kau! bagaimana bisa masuk ke kamar ini?" tanya Sri dengan terkejut.
"Ini rumahku, tentu saja aku tahu kunci cadangannya!" seru laki-laki itu yang tak lain adalah Rafa seraya memainkan kunci di jari tangannya.
"Apa mau kamu hah!" seru Sri dengan geram dan sesekali melihat ke arah Sakti yang tertidur pulas.
"Aku mau kamu!" jawab Rafa yang menghentikan aksinya memainkan kunci cadangan kamar Bima itu, dan dia menatap Sri dengan tajam.
Sri sangat terkejut dengan tatapan tajam adik tiri suaminya, yang dulu pernah menjadi pacarnya itu.
"Aku? kita sudah punya kehidupan sendiri-sendiri Rafa!" seru Sri yang duduk di tepi tempat tidur, disamping Sakti.
"Apa kamu sudah tidak menyukaiku lagu?" tanya Rafa yang bangkit dari duduknya dan melangkahkan kakinya mendekati Sri.
Sri menggeser duduknya menjauhi Rafa dan mendekati Sakti yang masih tertidur dengan pulas.
Rafa meraih tangan Sri dan menggenggamnya dengan erat.
"Lepas, lepaskan!" seru Sri yang merusaha melepaskan tangan Rafa yang terus menggenggamnya dengan erat.
"Jawab pertanyaanku Cher!" bentak Rafa yang membuat Sakti mengubah posisi tidurnya.
Sri melihat Sakti yang pastinya akan terganggu dengan pertengkaran mereka, bangkit dari duduknya dan tangannya yang masih digenggam oleh Rafa menarik laki-laki itu untuk ikut serta mengikuti langkah Sri yang menuju ke sofa.
"Kau mau tahu jawabanku? jawabannya adalah sudah tidak ada rasa cinta lagi untukmu!" seru Sri yang menatap Rafa tajam.
"Tapi bukankah aku cinta pertama kamu Cher?" tanya Rafa yang penasaran.
"Cinta pertama tak selamanya indah, memang benar kamu cinta pertama bahkan kekasih pertama-ku. Tapi kamulah yang yang menghancurkan aku sampai berkeping-keping. Dan mas Bima-lah yang berusaha menyusunnya kembali, hingga aku punya semangat lagi untuk melanjutkan hidupku." jelas Sri yang kedua matanya mulai basah oleh air matanya.
"Apa maksud kamu? aku tak mengerti!" seru Rafa yang tak merasa bersalah.
"Tidak mengerti? kamu itu waktu sekolah, belajar atau tidur. Hah!" seru Sri dengan kesal.
__ADS_1
"Kau!" Rafa yang terkejut dengan seruan dari Sri tersebut, Sri yang hanya lulusan SMP mampu berseru padanya.
"Begini ya tuan Rafa yang sok benar sendiri. Beberapa bulan yang lalu kita memang telah menjalin kasih, tapi kenapa kamu merusak pagar Ayuku. Bukan itu saja, di hari kita jadian kamu malah menikah dengan perempuan lain tanpa sepengetahuanku. Kamu tahu, betapa hancurnya aku saat itu. Kamu khianati aku, khianati cinta suciku. Aku dari relung hatiku aku sangat membencimu!" jelas Sri.
Rafa yang mulai paham, terdiam dan tak mampu berkata-kata lagi.
"Waktu itu aku seperti wanita kotor, tak sanggup lagi aku bertemu dengan kedua orang tuaku. Kamu hancurkan impian-ku, aku masih ingin menimba ilmu dan ingin bekerja untuk menghasilkan uang serta bisa membantu kedua orang tua-ku di desa. Semua sirna seketika itu juga saat kamu ambil pagar ayuku!" ucap Sri dengan penuh penekanan dan isak tangisnya tak terbendung lagi.
"Cher, ma'afkan aku! aku tak tahu dampaknya sangat dalam pada kamu. Karena itulah, bolehkah aku memperbaiki semua keadaan untuk kembali seperti yang kita inginkan dulu. Kita bercerai dengan pasangan kita sebelumnya, kemudian kita wujudkan cita-cita kamu dan cita-cita kita" ucap Rafa yang tangannya berusaha menyeka air mata Sri.
"Cherry sudah mati, dan saat ini yang ada dihadapan kamu adalah Sri. Istri dari kakak kamu! Dan aku sudah mendapatkan cinta yang sesungguhnya dari mas Bima. Dia tulus mencintaiku, dan aku aku butuh dicintai dari pada mencintai orang yang telah merusak arti cintaku!" ucap Sri yang menohok untuk didengarkan oleh Rafa.
Rafa yang tak terima dengan ucapan Sri, berusaha menarik Sri dalam pelukannya. Dan Sri meronta dengan sekuat tenaga dia.
"Lepas, lepaskan!" seru Sri dengan tatapan memohon.
"Aku ingin kau kembali padaku, Cher!" seru Rafa dengan geram.
"Aku tidak mau!" seru Sri yang kemudian menginjak kaki Rafa dengan keras.
"Auh...!" Rafa mengerang kesakitan dan memegang kakinya yang diinjak oleh Sri dan tidak memakai alas kaki.
Kesempatan itu digunakan oleh Sri untuk menjauh dari Rafa, namun tangan kiri Rafa menarik tangan kanan Sri yang mengakibatkan langkah Sri tertahan.
Dua buah pukulan melayang ke arah Sri, "Plakk...! plakk...!"
Dan kedua pipi mulus Sri tergambar warna merah yang membuat Sri meringis karena kesakitan.
"Aaarghh....!" Sri yang mengerang kesakitan dan kedua telapak tangannya ditangkupkan di kedua pipinya guna meredakan rasa perih yang dia rasakan, akibat dari tamparan Rafa.
Aira mata Sri mengalir deras dan Isak tangisnya mampu membangunkan Sakti dari tidurnya.
"Mama...mama Ci!" panggil Sakti yang bangun dari tidurnya seraya mengusap kedua kelopak matanya.
Sri yang mendengar suara Sakti, dengan cepat menghampiri bocah cilik itu. Tapi sebelumnya dia menyeka air matanya dengan jari-jari tangannya.
__ADS_1
"Cherry, ma'afkan aku!" gumam Rafa yang melihat kedua telapak tangannya yang telah menampar kedua pipi perempuan yang dia cintai.
"Mama Ci habis menangis ya? kenapa pipi mama Ci merah?" rentetan pertanyaan dari Sakti yang masih polos itu.
"Mama Ci tidak apa-apa sayang, tadi mama Ci sempat kelilipan." jawab Sri yang menutupi hal sebenarnya dari putra semata wayang Bima itu.
"Terus kenapa pipi mama Ci memerah?" tanya Sakti yang melihat ke wajah Sri.
"Oh, tadi mama Ci habis mencoba kosmetik yang baru mama Ci beli" jawab Sri yang masih menutupi hal yang sebenarnya dari bocah yang ada dihadapannya itu. Kemudian Sri memeluk Sakti dengan erat, guna menutupi air matanya yang kembali jatuh ke pipi.
"Ya Allah, apa yang harus hamba lakukan?" do'a dalam hati Sri sembari menyeka air matanya yang jatuh berkali-kali.
"Cher, ma'afkan aku. Bukan maksud aku melukaimu. Tapi seandainya kamu menerimaku, tak mungkin akan terjadi hal seperti ini!" seru Rafa yang menghampiri Sri dan berusaha memegang bahu Sri, namun Sri selalu mengelak.
"Pergi...! pergi...!" bentak Sri yang membuat Sakti mendongak ke arah mama Ci-nya.
"Ku mohon Sri!" seru Rafa yang kemudian berlutut di tepi tempat tidur dan menghadap ke arah istri kakak tiri Rafa itu.
Sri yang tak tahu harus berbuat apa, terus menangis memeluk Sakti. Dalam bayangannya selalu ada Bima disisinya saat ini.
"Mas Bima, mas Bima! tolong Sri, pulanglah" racau Sri diantara tangisnya yang didengarkan oleh Sakti dan juga Rafa.
Kedua telapak tangan Rafa mengepal mendengar Sri menyebut nama Bima. Karena saat ini hatinya diliputi rasa cemburu yang amat sangat pada kakak tirinya, Bima.
"Jadi namaku sudah kamu hapus dari dalam hatimu Cher?" gumam dalam hati Rafa yang kemudian bangkit dari duduk berlututnya.
...~¥~...
...Mohon para Readers untuk memberi like/komentar/favorite/rate 5/gift maupun votenya untuk novel JAMU NAIK LEVEL ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
__ADS_1
...BERSAMBUNG...